Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH ANGGUN MENUJU TAHTA
Di tengah kekacauan, kepanikan, dan kilatan kamera yang membabi buta, Kirana berdiri dari kursinya. Ia merapikan lipatan gaun biru safirnya dengan gerakan yang sangat tenang, lalu melangkah maju menuju panggung utama.
Langkah kaki high heels-nya berbunyi ketukan ritmis yang anggun di atas lantai marmer, membelah kehebohan di dalam ballroom. Ratusan mata kini beralih menatapnya dengan pandangan penuh simpati—mereka mengira Kirana adalah korban yang malang, istri sah yang terzalimi dan akan menangis histeris di atas panggung.
Kirana menaiki anak tangga panggung satu per satu dengan kepala tegak. Ia berjalan menuju podium utama, mengambil mikrofon nirkabel yang tergeletak di sana, lalu berbalik menghadap ke arah hadirin.
"Selamat malam, para hadirin yang terhormat, rekan-rekan media, dan para kolega bisnis yang saya hormati," suara Kirana terdengar begitu stabil, jernih, dan penuh wibawa melalui pengeras suara. Tidak ada getaran kesedihan, tidak ada nada histeria. Suaranya adalah suara seorang penguasa yang sedang membacakan dekret.
"Pertama-tama, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan visual dan audio yang baru saja Anda saksikan," Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menawan namun terasa sangat dingin. "Namun, seperti yang kita tahu dalam dunia bisnis properti, sebuah bangunan tidak akan pernah bisa berdiri kokoh jika fondasinya dibangun di atas tanah yang busuk dan penuh kebohongan."
Aris menatap Kirana dari bawah panggung dengan mata terbelalak. "Kirana... apa yang kamu lakukan? Turun dari sana!" teriak Aris, mencoba berjalan mendekati panggung, namun langkahnya langsung dihalangi oleh dua orang petugas keamanan berbadan tegap yang mengenakan jas hitam—petugas keamanan yang disewa khusus oleh Bimo hari ini.
"Hari ini, PT Utama Karya Propertindo merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh," lanjut Kirana, mengabaikan teriakan suaminya. "Dan malam ini, saya, Kirana Kirani, selaku istri sah dari Aris Utama, ingin mengumumkan beberapa restrukturisasi penting yang menyangkut masa depan perusahaan ini."
Kirana menoleh ke arah samping panggung. Bimo melangkah maju membawa selembar map kulit berwarna hitam tipis, menyerahkannya kepada Kirana dengan membungkuk hormat, sebelum berdiri tegap di samping wanita itu.
"Aris Utama..." Kirana mengarahkan pandangannya tepat ke arah suaminya yang berdiri di bawah panggung dengan tubuh lemas. "Kamu baru saja mengatakan dalam rekaman suara tadi bahwa aku adalah istri bodoh yang tidak memiliki kuasa apa-apa di perusahaanmu, bukan?"
Kirana membuka map hitam tersebut, mengeluarkan selembar dokumen tebal dengan logo segel hukum resmi negara.
"Saya ingin mengumumkan kepada seluruh investor dan media yang hadir di sini, bahwa per hari ini, masa tenggang 90 hari atas penggadaian saham mayoritas yang dilakukan oleh Aris Utama kepada Aegis Capital Ltd di Singapura telah resmi berakhir pukul 17.00 sore tadi. Dan karena PT Utama Karya Propertindo tidak mampu melunasi pinjaman pokok beserta bunganya sebesar 20 miliar rupiah, maka 35% saham pengendali milik Aris Utama secara hukum telah hangus dan berpindah tangan secara mutlak kepada pemilik modal utama Aegis Capital."
Kirana mengangkat dokumen tersebut tinggi-tinggi agar bisa ditangkap oleh kamera para wartawan.
"Dan pemilik modal utama dari Aegis Capital Ltd... adalah saya sendiri, Kirana Kirani. Ditambah dengan 20% saham warisan keluarga yang memang sudah atas nama saya sejak awal, per malam ini, saya resmi memegang 55% saham mayoritas mutlak atas PT Utama Karya Propertindo!"
Suasana ballroom kembali riuh rendah bagai dihantam badai kilat. Para jurnalis bisnis langsung mengetik berita utama di gawai mereka dengan kecepatan penuh. Ini bukan lagi sekadar skandal perselingkuhan domestik; ini adalah kudeta korporasi paling rapi dan elegan yang pernah terjadi di tahun 2026 ini.