"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Rival yang Menguji Kesabaran
"Suami sah di atas kertas kontrak yang akan segera habis masa berlakunya," desis Keysa tajam. Napasnya terengah-engah menahan ritme jantung yang berpacu liar. Ia menolak terbuai oleh wangi memabukkan dan kata-kata posesif laki-laki di atasnya. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, mendorong dada bidang Arga dengan satu sentakan lutut yang terukur tepat sasaran pada perut suaminya.
Arga mengerang tertahan, cengkeramannya melonggar secara otomatis karena terkejut oleh perlawanan tiba-tiba itu. Keysa memanfaatkan celah sempit tersebut untuk berguling cepat menjauh dari jangkauan tangan suaminya. Ia berdiri tegap, mengatur napasnya kembali menjadi normal, dan langsung merapikan kemejanya yang kusut masai akibat pergumulan singkat di atas ranjang raksasa mereka.
"Pukul tujuh malam nanti kita ada jadwal jamuan makan malam penting dengan Bastian, pewaris tunggal Grup Mutiara Abadi. Mandi dan bersiaplah sekarang juga, Arga. Aku sama sekali tidak mau ego lelakimu merusak nilai kesepakatan triliunan rupiah yang sudah kubangun dengan darah dan keringat ini." Keysa melangkah pasti menuju lemari pakaian utama, menarik gaun malam sutranya tanpa sedikit pun menoleh ke arah kasur tempat suaminya masih terdiam.
Arga duduk diam di tepi kasur, mengusap wajahnya kasar menahan frustasi.
Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang mewah di dalam ruang privat Restoran Lintang Samudra. Denting garpu dan pisau perak beradu sangat pelan.
Bastian, laki-laki berusia awal tiga puluhan dengan setelan jas putih yang sangat mencolok dan parfum menyengat, duduk bersandar santai di seberang meja. Mata laki-laki itu sama sekali tidak fokus pada lembaran draf dokumen akuisisi yang tebal di hadapannya, melainkan terus menelusuri leher jenjang dan bahu Keysa yang terekspos memukau oleh balutan gaun sutra hitam elegan tanpa lengan.
"Aku selalu mendengar desas-desus lucu yang beredar dari ibu kota," ucap Bastian seraya memutar gelas anggur merahnya perlahan di udara. Sebuah senyum nakal terbit menyebalkan di bibirnya yang tebal. "Orang-orang bisnis bilang pernikahan CEO Alvandra Group hanyalah sekadar pajangan formalitas palsu belaka untuk menyenangkan para pemegang saham tua di jajaran komisaris. Melihat betapa kakunya Arga malam ini dalam melayanimu, aku mulai percaya gosip murahan itu seratus persen."
Keysa meletakkan pisau dagingnya perlahan di atas piring. Ia sangat tahu watak asli Bastian. Laki-laki ini adalah buaya darat kelas kakap, tapi tanda tangannya sangat fatal dan dibutuhkan untuk melancarkan proyek mereka.
"Gosip picisan seperti itu hanyalah bumbu bisnis yang sangat basi, Bastian. Kita berdua berada di ruangan ini murni untuk membahas pembagian persentase saham perusahaan secara rasional," balas Keysa santai dengan melontarkan senyum taktis terbaiknya. Sebuah senyum manis mematikan yang sangat jarang ia keluarkan di hadapan publik, dirancang khusus oleh otaknya demi memuluskan jalan negosiasi alot tahap akhir.
Mata Bastian berbinar terang melihat lekuk senyum tersebut. Ia memajukan tubuhnya merapat ke meja. "Kalau begitu, abaikan saja laki-laki kaku itu. Bagaimana kalau kita berdua saja yang membahas persentase ini secara pribadi di bar hotelku nanti? Kau terlalu cantik dan cerdas untuk terus terjebak bersama laki-laki sedingin bongkahan es."
Prang! Suara bantingan gelas kaca beradu keras dengan meja marmer terdengar sangat nyaring memekakkan telinga. Anggur merah tumpah berantakan mengotori dokumen mahal di sekitarnya.
Arga berdiri secara tiba-tiba dengan kekuatan penuh hingga kursi kayu mahoninya terdorong kasar ke belakang membentur dinding. Rahang kukuh laki-laki itu mengeras sempurna menahan murka, matanya memancarkan kilat kemarahan yang luar biasa gelap dan sangat berbahaya layaknya api neraka.
"Tutup mulut kotor itu, Bastian," geram Arga dengan suara sangat berat, seolah siap mencabik leher lawan bicaranya detik ini juga.
Bastian terkekeh pelan, merasa sangat berhasil memancing emosi. "Santai saja, kawan. Aku hanya memuji kecantikan istrimu. Atau status istrimu itu memang benar-benar cuma pajangan perusahaan seperti kata orang?"
"Dengar baik-baik ucapanku." Arga mencondongkan tubuh besarnya melintasi meja makan, menatap Bastian dengan tatapan pemangsa puncak sungguhan. "Grup Mutiara Abadi butuh suntikan dana segar dari perusahaanku untuk selamat dari jurang kebangkrutan bulan depan. Aku bisa membatalkan bisnis dana triliunan rupiah ini detik ini juga, dan membiarkan perusahaan keluargamu hancur rata dengan tanah tanpa sisa sedikitpun."
"Kamu sudah gila?!" Bastian terperanjat luar biasa kaget, wajahnya memucat ketakutan seketika. "Hanya karena pujian kecil kamu berniat menghancurkan kesepakatan besar yang sudah kita rintis selama setahun penuh?!"
"Dia sama sekali bukan barang pajangan yang bisa kau goda sembarangan. Dia istriku." Arga menarik pergelangan tangan Keysa kuat-kuat, memaksa perempuan itu bangkit berdiri dari kursinya. "Proyek ini batal total. Cari orang tolol lain yang mau mendengarkan omong kosongmu."
"Arga! Lepaskan tanganku! Ini proyek sangat penting!" Keysa memberontak keras, menatap suaminya dengan sorot mata tidak percaya.
Arga benar-benar mengabaikan teriakan peringatan histeris istrinya. Laki-laki itu menyeret paksa Keysa keluar dari dalam restoran mewah berbintang itu dengan langkah panjang memburu, tanpa berniat menoleh ke belakang sama sekali. Para pelayan berseragam rapi langsung menepi dan menunduk ketakutan melihat aura membunuh yang menguar sangat pekat dari tubuh sang CEO arogan tersebut.
Arga membuka pintu belakang mobil sedan hitam mereka, mendorong tubuh Keysa masuk secara paksa, lalu menyusul masuk dengan cepat dan membanting pintu mobil dengan sangat keras hingga kendaraan berat itu sedikit berguncang.
"Jalan sekarang juga!" teriak Arga memberi perintah mutlak pada sopir pribadi mereka yang terkejut.
Mobil sedan mewah itu langsung melaju kencang membelah jalanan aspal Surabaya yang mulai padat oleh kendaraan.
"Kamu benar-benar sudah kehilangan semua kewarasanmu, Arga!" Keysa memukul dada Arga keras-keras meluapkan emosinya yang tertahan sejak tadi. "Proyek triliunan hancur berantakan hanya karena egomu yang tidak jelas arahnya! Aku sudah mengatur senyumku sedemikian rupa untuk membuat si bodoh Bastian itu mau memberikan tanda tangannya malam ini!"
Arga menangkap kedua pergelangan tangan Keysa dengan gerakan sangat cepat, menekan tubuh istrinya mundur merapat ke sandaran jok kulit mobil secara sepihak. Napas laki-laki itu memburu cepat.
Dada Arga naik turun menahan ledakan cemburu buta yang seumur hidup belum pernah ia rasakan sama sekali. Logika bisnisnya sudah benar-benar mati rasa ditelan oleh api cemburu yang membakar akal sehatnya.
Ia tidak peduli pada uang. Ia hanya peduli pada senyuman Keysa yang diberikan pada laki-laki lain.
Di dalam kabin mobil sedan yang melaju kencang tersebut, Arga seketika mencengkeram dagu Keysa dengan kuat. Napas laki-laki itu memburu tak terkendali saat matanya mengunci pandangan sang istri.
"Jangan pernah berani tersenyum pada pria lain seperti itu lagi di depanku."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..