Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Suara gemercik air dari kepala *shower* yang tergeletak di lantai kamar mandi masih terdengar monoton, menggenangi lantai porselen putih dengan air dingin yang merayap perlahan mengenai ujung kaki mereka.
Di tengah kekacauan itu, Alceena masih terduduk lemas dengan jubah tidur sutranya yang basah kuyup.
Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal di antara sisa-sisa rasa mual dan hancurnya dinding pertahanan batin yang selama ini dia bangun dengan keangkuhan.
Namun, di depannya, Xander Hayes-Stone hanya terdiam.
Pria raksasa itu berdiri kokoh laksana patung batu di bawah siraman air dingin yang membasahi rambut hitam dan dada bidangnya yang penuh dengan bercak kemerahan semalam.
Tidak ada kepanikan di wajah kerasnya. Tidak ada binar bersalah, tidak ada ketakutan, dan tidak ada usaha instan untuk meraih Alceena atau mematikan aliran air yang terus membasahi tubuh mereka.
Sepasang mata heterochromia-nya—biru samudra dan abu-abu gelap—hanya menatap Alceena dengan tatapan yang teramat dalam, sunyi, dan dipenuhi oleh rasa sabar yang tidak terbatas.
Xander membiarkan seluruh makian, tuduhan, dan histeria Alceena tumpah sepenuhnya ke udara.
Dia membiarkan dirinya disebut bajingan murahan, pria menjijikkan, dan pembawa trauma.
Pria Chicago itu memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, menerima setiap butir peluru emosi yang ditembakkan oleh wanita yang kini telah sepenuhnya merajai seluruh isi hatinya tersebut.
Namun, diamnya Xander justru menjadi bahan bakar baru yang membuat dada Alceena semakin sesak dan terbakar oleh rasa kesal yang luar biasa.
Baginya, diam adalah bentuk konfirmasi paling pengecut dari sebuah pengkhianatan.
Alceena mendongak kasar, menyeka air mata dan rambut basahnya yang menempel di pipi dengan gerakan frustrasi. Dia menatap Xander dengan pandangan mata yang berapi-api, menuntut sebuah reaksi.
"Kenapa kamu tidak menjawab?!" bentak Alceena, suaranya serak dan bergetar hebat menahan badai batin.
"Kenapa kamu diam saja, Xander?! Kenapa kamu tidak menyangkalnya?! Di mana mulut lancangmu yang semalam begitu pintar merayu dan memintaku membeli pakaian dalam baru, hah?! SANGKAL VIDEO ITU JIKA KAU MEMANG MERASA BENAR, BRENGSEK!"
Xander menghembus napas pendek melalui hidungnya, membiarkan tetesan air mengalir dari ujung dagunya yang kokoh.
Dia perlahan menurunkan pandangannya, menatap tepat ke dalam manik mata Alceena yang dipenuhi oleh luka trauma masa lalu yang mendalam.
"Aku ingin mendengarkan dulu isi hatimu, Ceena," jawab Xander, suara baritonnya keluar dengan nada yang teramat rendah, tenang, dan stabil, sangat kontras dengan histeria Alceena.
"Aku ingin tahu seberapa besar luka yang ditinggalkan pria masa lalumu hingga kau bisa berasumsi sekejam ini tentang duniaku. Aku ingin kau mengeluarkan semua rasa muakmu sampai dadamu tidak lagi terasa sesak."
Xander melangkah maju satu kali, mengabaikan fakta bahwa celana boxernya kini sudah basah sepenuhnya.
Dia menunduk, menatap Alceena dengan tatapan yang teramat jujur.
"Tapi video murahan itu... itu sama sekali tidak benar," lanjut Xander dengan tegas, tidak ada keraguan sedikit pun di dalam intonasi suaranya.
"Aku tidak sedang mencoba membela diri di depanmu, namun aku juga tidak akan merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak kulakukan. Aku tahu industri tempatmu bekerja dipenuhi oleh manipulasi visual, dan aku tidak terkejut jika ada tikus kecil yang mengambil gambar dari sudut yang salah demi menghancurkan ketenanganmu. Aku tidak ingin bersikap seolah aku paling suci, karena mungkin saja setelah ini kau akan meminta bukti fisik dariku."
Xander jeda sejenak, rahangnya yang kokoh mengeras saat ingatan tentang wajah murahan Gadis Bernama Tiffany kemarin siang melintas di benaknya.
Sebuah senyuman sinis yang teramat dingin—aura gelap Stone yang kemarin sempat keluar—kembali terbit tipis di sudut bibirnya sebelum menghilang dengan cepat saat menatap Alceena.
"Namun, hari ini..." Xander menatap Alceena dengan mata yang berkilat tajam. "...saat kau pergi bekerja dan melakukan syuting dengan wanita yang ada di dalam video itu... katakan padanya untuk segera melakukan pemeriksaan pergeseran tulang leher ke rumah sakit terdekat."
Deg.
Jantung Alceena mendadak berhenti berdetak selama satu detik.
Dia tertegun di atas lantai yang basah, menatap wajah Xander dengan kening yang berkerut dalam. "Apa... apa maksudmu?"
"Katakan pada gadis itu untuk memeriksa lehernya," ulang Xander dengan nada suara yang teramat santai, seolah-olah dia sedang membicarakan prakiraan cuaca sore nanti.
"Karena kemarin siang... aku mencengkeram dan mencekiknya terlalu kencang di lorong sepi itu akibat mulut kotornya yang berani merendahkan namamu di depanku. Posisi tubuhku yang menyudutkannya ke dinding beton mungkin terlihat seperti ciuman panas dari belakang kamera sialan itu, tapi kenyataannya, dia sedang berada di ambang kematian di bawah tanganku."
Mendengar pengakuan yang begitu ekstrem dan di luar nalar sehat itu, Alceena membeku total.
Rasa mual yang tadi menguasai perutnya mendadak lenyap, digantikan oleh rasa terkejut yang teramat luar biasa hingga membuat seluruh tubuhnya kaku.
"Cekik? Kau... kau mencekiknya?!" kata Alceena dengan suara berbisik yang bergetar tidak percaya.
Kedua tangan rampingnya yang basah spontan naik, menutup mulutnya sendiri yang menganga lebar karena syok murni.
Mata indahnya bergerak liar, menatap sepasang tangan besar Xander yang semalam membelai pinggangnya dengan lembut, namun kemarin siang ternyata digunakan untuk hampir merenggut nyawa seseorang di tempat kerjanya.
"Kau gila, Xander! Kau... kau bisa membunuhnya, Brengsek!" seru Alceena akhirnya, suaranya naik kembali, dipenuhi oleh kombinasi rasa tidak percaya dan ketakutan atas kegilaan insting protektif pria di depannya ini.
"Ini Hollywood, bukan daerah kekuasaan dunia bawah keluargamu di Chicago! Kau tidak bisa datang ke lokasi syutingku dan mencekik lawan mainku hanya karena dia berbicara kasar!"
Xander perlahan berlutut di atas lantai yang basah, menyamakan posisinya dengan Alceena yang masih terduduk lemas.
Dia tidak memedulikan air yang terus membasahi tubuh telanjangnya. Jarak mereka kini kembali dekat, begitu dekat hingga Alceena bisa melihat kilatan asmara gila yang bercampur dengan kegelapan dinasti Stone di dalam manik mata heterochromia pria itu.
"Aku bisa melakukan hal yang jauh lebih buruk dari sekadar mencekik jika ada orang yang mencoba menyentuh atau merendahkan milikku, Alceena," bisik Xander dengan nada suara yang teramat dingin namun sarat akan kepasrahan mutlak di hadapan sang diva.
"Dia menawarkan tubuh murahannya padaku, dia merendahkan posisimu sebagai majikanku, dan dia berpikir bisa membeliku dengan uangnya. Aku tidak akan membiarkan jalang seperti itu menghirup udara yang sama denganmu tanpa memberinya pelajaran."
Xander mengulurkan tangannya yang besar, membiarkan telapak tangannya yang hangat menangkup lembut pipi Alceena yang basah oleh air dan sisa air mata.
"Sekarang katakan padaku, sayang... apakah bibir ini masih terasa kotor di matamu? Apakah kau masih mengira aku membagi apa yang semalam kuhadiahkan seutuhnya untukmu dengan wanita lain?"
Alceena terdiam, menatap lekat-lekat ke dalam mata Xander.
Di dalam benaknya, video yang tadi terlihat begitu menjijikkan kini berputar kembali dengan pemahaman yang sama sekali baru.
Jika diperhatikan dengan saksama, posisi Tiffany di video itu memang tampak tegang dan tidak berdaya, bukan karena gairah, melainkan karena cengkeraman maut di lehernya.
Rasa lega yang teramat sangat besar seketika mengalir di dalam dada Alceena, menyapu bersih seluruh sisa trauma masa lalu yang sempat meracuni pikirannya pagi ini.
Namun di saat yang sama, dia menyadari satu hal yang teramat nyata: pria simpanan yang ada di depannya ini bukan hanya sekadar mainan pemuas ego, melainkan seorang pria dari dinasti Stone yang teramat berbahaya, posesif, dan siap menghancurkan duniaku demi menjaganya tetap aman di bawah kendalinya.