NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 ~ Air Mata Mama

Juan yang kembali ke kamar memejamkan kedua matanya. Pria itu merasa kecewa, sikap kasar Ailin barusan membuatnya merasa harapan beberapa hari ini hanyalah semu. Membuatnya sadar kalau mimpi indah ini mungkin akan menghilang suatu hari nanti.

"Papa." Juan menoleh saat suara kecil itu menyambut di telinga. Ia berusaha tersenyum, lalu mengusap kepala sang putri sayang.

"Papa enggak kenapa-napa, kan?" tanya Lian dengan air mata yang mengalir dan sesenggukan, hampir menangis kencang jika tidak ia tahan.

Juan menggeleng, mengambil dua tangan kecil itu untuk ia genggam lembut. "Enggak papa, memangnya kamu lihat papa kenapa-napa?"

Lian melepas kedua tangan sang ayah. Lalu kaki pendek itu melangkah pelan, mengitari kursi roda di mana sang ayah duduk.

"Bagaimana? Enggak kenapa-napa, kan?" Juan kembali tersenyum saat sang putri berhenti berjalan di depannya. Lian menggeleng, namun sedetik kemudian ia mengangguk.

"Yang tellihat memang baik-baik saja. Tapi di dalam hati, memangnya Papa enggak sedih?" Anak itu bertanya dengan wajah menuntut.

"Dulu setiap beltengkal dengan mama, Papa selalu kembali ke kamal untuk menghindal. Kali ini juga begitu, Papa pasti sedih sendilian lagi, kan?" lanjut Lian hingga Juan tidak bisa berkata-kata. Putrinya ini memang lebih dewasa di usianya yang baru 4 tahun lebih. Sangat berbeda dengan kakaknya yang terbiasa dimanjakan oleh kakek dan neneknya.

Pria itu menghela napas, menatap putrinya dengan sayang. "Papa enggak sedih, lagipula papa dan mama kan enggak bertengkar."

"Tapi ... Lili tadi lihat mama lagi nangis."

Meski terdiam sejenak, kedua mata Juan sempat mendelik. Namun tidak banyak perubahan di wajahnya, pria itu menatap sang putri dengan wajah teduhnya.

"Kalau begitu yang harus Lili temani itu seharusnya mama, bukan papa."

"Enggak mau. Mama jahat sama Papa."

"Jangan bicara seperti itu! Mama nangis berarti mama sedih, itu artinya mama merasa bersalah. Lili enggak mau kan, lihat mama sedih terus?"

Anak itu menggeleng dengan wajah polos. Kedua tangannya yang kecil terangkat untuk mengusap air mata yang tertinggal di wajahnya. "Kalau begitu Lili halus menemani mama ya, Pa?"

Juan mengangguk, tersenyum lembut pada sang putri. "Hem, pergilah!"

"Em, baiklah. Lili keluar dulu ya, Papa."

Lian berlari kecil setelah mendapat anggukan sang ayah. Anak perempuan itu kembali ke ruang keluarga, namun keberadaan sang ibu telah tiada.

"Mama ... Mama pelgi ke mana?" Ia berlari kecil, menuju dapur namun hanya bibi Yu yang terlihat.

"Nenek, lihat mama enggak?"

"Nyonya... sepertinya ke taman belakang."

"Telima kasih, Nenek."

"Eh, Nona jangan pergi!" Tangan bibi Yu berakhir melayang di udara. Lian telah berlalu dengan cepat. Ia yang khawatir akhirnya menyusul.

Sementara Lian yang telah sampai di taman belakang itu terdiam sesaat. Di sana ia melihat punggung sang ibu yang duduk di kursi taman belakang. Bahu yang naik turun itu secara tidak langsung menunjukkan Ailin yang ternyata masih menangis. Untuk pertama kalinya Lian melihat sang ibu sesedih itu.

Anak itu lalu melangkah, namun tangannya ditahan oleh bibi Yu. "Nona, jangan!" pinta wanita paruh baya itu dengan wajah resah.

Dulu Ailin selalu memarahi Lian tiap bertengkar dengan Juan. Ia tidak mau nona mudanya dijadikan pelampiasan lagi.

"Nenek tenang saja! Mama sudah belubah." Anak itu memberi kode dengan menggerakkan dagunya. Lalu ia berbisik dengan suara kecil. "Dia... lagi nangis."

"Tapi ...."

"Kalau Nenek khawatil, tunggu saja di sini. Kalau ada sesuatu, Nenek bisa menolongku."

Tanpa menunggu jawaban bibi Yu, Lian berlari menuju tempat Ailin berada. Gadis kecil itu menarik lengan sang ibu. "Mama."

"Kamu ... kenapa ke sini?" Ailin yang tidak ingin ketahuan menangis, menoleh ke arah lain. Ia menghapus air mata yang mengalir dengan tangannya yang bebas.

"Mama nangis. Lili mau hibul Mama."

Ailin berdehem keras, berusaha meredam suaranya yang serak. "Kamu bilang apa? A-aku enggak nangis."

"Bohong! Kalian orang dewasa, bicala selalu enggak jujul. Lain di hati lain di mulut, memangnya susah sekali ya bicala kenyataan? Lili juga sering menangis, Lili saja enggak malu. Kenapa Mama halus melasa malu."

Ailin menatap wajah bulat itu, lalu menghela napasnya yang masih sesak. "Kamu beda! Kamu ini kan masih kecil, aku orang dewasa. Tentu saja malu, apalagi ketahuan di depan anak-anak."

"Haish, Lili bukan anak-anak lagi. Lili sudah berusia 4 tahun 5 bulan, satu, dua, tiga ...." Anak itu berhenti sesaat, jari-jarinya bergerak naik turun seperti tengah berhitung.

"Belapa hali, ya? Aduh, Lili enggak kuat hitungnya ... Sudahlah! Pokoknya Sebental lagi Lili sudah mau 5 tahun."

Ailin yang masih sedih itu akhirnya tertawa di tengah tangis. Ia lalu berdiri dari duduknya, menatap Lian yang tingginya baru hampir sepinggangnya. Bibi Yu yang melihat dari jauh mulai panik. Apalagi ketika melihat sang nyonya mengangkat tangannya.

"Nyonya, jangan!"

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!