Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pintu ruang ganti yang tadi tertutup rapat, perlahan terdorong ke samping. Suara engselnya berdecit halus, seolah memberi tanda bahwa sesuatu yang indah baru saja siap ditampilkan.
Arjun yang dari tadi berdiri diam menunggu di dekat rak kain, tangannya sempat meremas pelan ujung kemejanya karena rasa penasaran yang makin memuncak, langsung menoleh cepat ke arah itu.
Dan detik itu juga... napasnya seolah berhenti sejenak.
Di ambang pintu kecil itu, Aira berdiri tegap, anggun, dan mempesona banget.
Kain sari warna merah marun bersulam benang emas itu kini melilit indah di tubuhnya yang tinggi jangkung. Lipatan-lipatan rapi yang dibuat tangan cekatan Bibi Meera membuat kain panjang itu berubah jadi baju yang pas banget, seolah memang diciptakan khusus buat tubuh Aira.
Bagian pinggangnya dililit kencang tapi nyaman, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah, sementara lipatan-lipatan kecil di bagian depan jatuh rapi dan beraturan. Ujung kain panjangnya disampirkan anggun ke bahu kanannya, menjuntai lembut sampai betis, bergerak pelan mengikuti setiap gerakan kecil yang dia buat.
Kulit Aira yang sawo matang bersih dan cerah, sekarang kelihatan makin berkilau dan eksotis banget kena pantulan warna kain yang dalam dan mewah itu. Warna merah marun itu nggak cuma menghias tubuhnya, tapi bikin wajahnya yang biasa aja kelihatan makin tegas, makin cantik, dan makin berkarakter. Sepatu hak tinggi 7 cm yang masih dia pakai dari tadi, sekarang bikin dia kelihatan makin menjulang, makin berwibawa, bikin postur tubuhnya yang sudah indah jadi luar biasa sempurna.
Rambutnya yang tadi terurai, sedikit dirapikan oleh Bibi Meera, disanggul sederhana di bagian belakang leher, bikin leher jenjang dan bahu indahnya makin kelihatan jelas. Tanpa perhiasan berlebih, tanpa riasan tambahan apa pun, Aira berdiri di sana dengan kecantikan yang sederhana tapi bikin siapa pun yang lihat pasti takjub.
Arjun diam terpaku. Matanya menatap lekat Aira dari ujung kaki sampai ke ujung kain yang ada di bahunya. Di matanya, Aira yang dia kenal sebagai gadis sederhana, ramah, dan ceria, sekarang berubah jadi sosok yang memancarkan keindahan budaya yang luar biasa.
"Gimana...?" tanya Aira pelan, suaranya terdengar agak gugup dan malu. Tangannya memegang ujung kain di bahunya pelan, takutnya melorot atau salah posisi.
"Aneh banget nggak? Aku rasanya jadi orang lain aja. Berat banget kainnya, tapi dingin dan enak di kulit sih."
Dia menunduk sebentar, melihat bentuk bajunya sendiri.
"Bibi Meera jago banget ya, aku cuma diam doang udah jadi begini. Tapi... beneran deh, aku ngerasa aneh aja. Ini aku beneran ya?"
Bibi Meera yang berdiri di sebelahnya tersenyum bangga banget, mengelus ujung kain di pinggang Aira pelan.
"Nggak aneh sama sekali, Nona. Malah Bibi baru tau, ternyata Nona Aira itu kelihatan jauh lebih cantik kalau pakai baju begini. Tinggi Nona, badan Nona, warna kulit Nona... semuanya pas banget. Baju sari itu emang diciptakan buat bikin wanita kelihatan anggun, tapi kalau yang pakai udah punya bakat indah kayak Nona, ya jadinya luar biasa begini. Tuan Muda Arjun bener banget dugaannya."
Perlahan Arjun melangkah mendekat. Langkahnya pelan, matanya masih belum lepas dari sosok Aira di depannya. Wajahnya yang biasanya selalu santai dan banyak senyum, sekarang berubah jadi serius banget, penuh kekaguman yang dalem banget.
Dia berhenti tepat di depan Aira, jarak mereka cukup dekat, dan Arjun harus menengadahkan kepala sedikit saja karena perbedaan tinggi mereka yang cuma 8 cm itu bikin mereka pas banget bertatapan mata.
Arjun menggeleng pelan, suaranya terdengar lebih berat dan lebih lembut dari biasanya.
"Aneh? Kamu bilang ini aneh, Aira?" tanyanya pelan, matanya menatap lekat manik mata Aira.
"Kalau ini aneh... berarti keindahan yang sesungguhnya itu memang aneh buat dilihat."
Dia menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan kata-kata yang pas buat ngungkapin apa yang dia rasain sekarang.
"Aira... jujur deh. Aku udah lihat banyak wanita pakai baju sari. Ibu aku, bibi-bibi aku, teman-teman ibu, tetangga... semuanya cantik, semuanya anggun. Tapi pas aku lihat kamu pakai ini... rasanya beda banget. Rasanya... kayak kain ini nemu pemilik aslinya. Kayak warna-warna indah ini diciptakan cuma biar pas banget sama warna kulitmu yang cerah dan sawo matang ini."
Arjun mengangkat tangannya pelan, jarumnya menyentuh ujung kain di bahu Aira dengan hati-hati banget, seolah takut merusak keindahan di depannya.
"Kamu tau nggak? Baju sari itu punya filosofi: diajarin buat menutup, tapi sekaligus menonjolkan keanggunan. Dia bikin siapa pun yang pakai kelihatan sopan, tapi juga kelihatan berkelas. Dan kamu... kamu bener-bener bikin filosofi itu jadi hidup. Kamu kelihatan sopan banget, tertutup, tapi... pesonanya keluar banget. Tinggimu, caramu berdiri, cara kamu bawa badan... semua bikin baju ini makin indah, bukan sebaliknya."
Wajah Aira makin panas denger pujian panjang lebar itu. Dia menunduk malu, senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Kamu bisa aja ngomongnya, Jun. Aku kan cuma jadi boneka aja yang dibalut kain ini sama Bibi Meera. Tanpa Bibi, pasti udah berantakan banget aku."
Arjun tertawa kecil, tapi rasa takjub di matanya belum hilang juga. Dia mengangkat dagu Aira pelan pakai ujung jarinya, biar Aira natap dia lagi. Tatapan Arjun tulus banget, penuh rasa kagum yang murni.
"Bukan, Aira. Salah besar. Kain itu cuma benda mati. Bibi Meera cuma bantu ngasih tau cara pakenya aja. Tapi yang bikin kelihatan indah itu kamu. Karaktermu, ketenanganmu, caramu bawa diri... itu yang bikin kain sutra mahal ini kelihatan lebih berharga lagi pas ada di kamu. Aku nggak bohong deh... tadi pas pintu itu kebuka, aku sampe lupa napas sebenernya. Aku nggak nyangka bakal seindah ini hasilnya."
Dia melangkah mundur sedikit, memandang Aira dari ujung kepala sampai kaki lagi, menikmati pemandangan indah itu sepuasnya.
"Kakek pasti bakal seneng banget lihat ini. Beliau selalu bilang: 'Keindahan budaya itu nggak boleh disimpen sendiri, harus dipakai, harus ditunjukin, harus dibagi sama siapa aja yang menghargainya'. Dan kamu... kamu buktiin omongan kakek bener banget. Kamu bukan keturunan kami, kamu nggak dibesarkan sama adat ini, tapi pas kamu pakai ini, kamu kelihatan lebih menghargai dan lebih cocok daripada banyak orang yang lahir di budaya ini."
Bibi Meera yang lihat mereka ngobrol begitu, cuma senyum-senyum sendiri sambil membereskan sisa benang dan peniti. Dia udah lama kerja sama Arjun, udah tau sifat tuannya itu yang jarang banget memuji orang berlebihan kayak gini. Arjun biasanya kaku, tertutup, dan cuma banyak ngomong sama kakeknya aja.
Tapi lihat sekarang... dia ngomong panjang lebar, matanya berbinar, senyumnya lebar banget, cuma gara-gara lihat temannya sendiri pakai baju adat itu.
"Nah, kan Bibi bener," potong Bibi Meera dengan nada menggoda tapi ramah.
"Tuan Muda Arjun sampe nggak bisa ngomong gitu lho Nona. Jarang banget lho Bibi lihat dia sampe diam terpaku gitu."
Arjun tersadar sedikit, terus ketawa kecil sambil garuk kepalanya yang nggak gatal, kelihatan agak malu juga karena kebanyakan ngomong. Dia natap Aira lagi, tatapannya lembut dan penuh rasa bangga.
"Intinya... kamu cantik banget, Aira. Beneran cantik. Dan aku seneng banget... seneng banget bisa kasih ini ke kamu, seneng banget kamu mau coba, seneng banget kamu bikin budaya aku kelihatan indah lagi lewat dirimu."
Dia mendekat lagi, suaranya makin pelan dan serius.
"Dan ingat ya... ini milikmu sekarang. Simpan baik-baik. Pakai kalau ada acara istimewa, atau pakai aja kalau kamu lagi pengen ngerasa istimewa. Karena percaya deh... kamu emang istimewa banget di mata aku, di mata kakek, dan sekarang... di mata siapa aja yang lihat kamu pakai baju ini."
Aira tersenyum lebar banget, rasa malunya hilang diganti rasa senang dan rasa terharu yang besar. Dia melirik bayangannya di cermin besar di sudut ruangan. Di sana terlihat sosok gadis tinggi, tegap, kulit cerah, dibalut kain indah penuh makna, berdiri tegak di sebelah cowok ganteng, tinggi besar, berwibawa, yang menatapnya dengan rasa kagum setinggi langit.
Dan rasanya masih sama persis kayak biasanya: kagum, nyaman, dan senang banget. Nggak ada rasa cinta yang bikin bingung, nggak ada rasa deg-degan yang aneh.
Cuma rasa bahagia yang murni... bahagia karena diterima, bahagia karena dihargai, dan bahagia karena punya teman sebaik Arjun yang selalu bikin dia ngerasa indah dan berharga, apa pun yang dia pakai, apa pun yang dia lakuin.
Momen itu terasa berhenti sebentar di ruangan toko itu. Keindahan budaya, keindahan persahabatan, dan keindahan rasa saling menghargai, menyatu jadi satu pemandangan paling indah yang pernah ada.