NovelToon NovelToon
Pangeran Bertopeng

Pangeran Bertopeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Anand Mehra

Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.

Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memburu Pencuri Kipas sakti 102 Ke Istana Tepi Barat Kota

"Ini sungguh konyol pangeran" Wai Hang pun hanya bisa mengikuti rencana sang putra mahkota kerjaannya.

"Ini satu cara untuk bisa masuk ke istana tanpa bersusah payah panglima Wai"

"Kalian tetap akan melawan!?" kepala pasukan mengangkat pedangnya.

"Kita langsung menyerah atau kita bersandiwara untuk kalah pangeran?"

"Kita akan bersandiwara terlebih dahulu panglima"

"Baiklah..." panglima Wai langsung melesat menyerang sisa pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie.

CIIIAAAATTT...!!!

Pertarungan pun kembali terjadi. Panglima Wai menyerang sisa pasukan pengawal pangeran Hang Djie sesuai dengan rencana pangeran muda.

Kali ini serangan panglima Wai hanya sebatas serangan bertahan.

Dan akhirnya serangan panglima Wai Hang pun bisa ditahan oleh sisa pasukan pengawal pangeran Hang Djie.

"Tangkap mereka hidup-hidup!" perintah sang kepala pasukan.

Panglima Wai dan juga pangeran muda Syah Hang sengaja membiarkan diri mereka ditangkap oleh pasukan pangeran Hang Djie.

Keduanya sekarang benar-benar sudah ditangkap oleh pasukan pengawal pangeran Hang Djie.

"Kalian akan kami bawa ke istana tepi barat kota untuk diadili"

"Kami bukan pemberontak ataupun kriminal. Seharusnya kalian memberikan pelayanan kepada kami sebagai rakyat negeri ini" pancing pangeran Syah Hang masih terus memprovokasi.

"Bawa mereka"

dengan tangan diikat, pangeran muda Syah Hang dan panglima Wai Hang dibawa oleh pasukan pangeran Hang Djie menuju istana tepi barat kota.

~~

Di Istana Tepi Barat Kota

Menteri Yank Haq dan pangeran Hang Tsu datang mengunjungi pangeran Hang Djie. Mentri Yank Haq dan pangeran Hang Tsu membawa beberapa hadiah untuk pangeran Hang Djie. Hadiah untuk mendapatkan simpati dari pangeran Hang Djie. Yang sebenarnya telah memiliki konflik dengan pangeran Hang Tsu dalam perebutan tahta sebagai putra mahkota.

"Pangeran Hang Djie, kami sangat senang dengan jamuannya kali ini" Menteri Yank memberi penghormatan untuk pangeran Hang Djie.

"Terima kasih menteri Yank dan Kakak Tsu, aku juga senang atas kunjungannya" pangeran Hang Djie tersenyum dalam kedustaannya.

"Adik Djie, ibunda ingin mengundang kita untuk berkumpul di Istana pusat. Apakah adik Djie bisa hadir bersama kami?"

Pangeran Hang Tsu pun menuangkan minuman untuk pangeran Hang Djie. Memperlihatkan seolah peduli pada pangeran Hang Djie.

"Tentu kakak Tsu, aku juga senang jika kita bisa bersama-sama menghadiri undangan ibunda. Itu pasti akan membuat ibunda sangat senang" Hang Djie tersenyum dengan sandiwara kepalsuan.

"Aku kira juga seperti itu Adik Djie. Jadi kita sepakat untuk datang bersama ke istana"

Keduanya lalu bersulang, dan saling tersenyum dalam balutan penuh kepalsuan. Karena sebenarnya di antara mereka telah terjadi persaingan yang nyata dalam memperebutkan posisi sebagai putra mahkota.

"Pangeran Tsu, pangeran Djie mari kita bersulang"

"Kita rayakan hari ini untuk hari persaudaraan kita" Menteri Yank memainkan perannya dengan sangat baik. Sehingga membuat Hang Djie mau tidak mau terus mengikuti sandiwara yang juga dibuat oleh pangeran Hang Tsu.

"Kalian benar-benar para pangeran tamak" wakil menteri Shan Yie geram dengan tingkah kedua pangeran yang rakus itu.

Wakil menteri Shan Yie adalah wakil menteri Yank Haq. Shan Yie adalah orang kepercayaan Raja Hang Dzo yang masih setia dengan Raja Hang Dzo. Wakil menteri Shan Yie bertahan di istana karena ingin melindungi Raja Hang Dzo sebisa mungkin. Dan karena sebuah janji kepada mendiang permaisuri Hyung Pathan.

"Wakil menteri ayo ikutlah bersulang" menteri Yank Haq mengajak Wakil menteri Shan Yie untuk ikut bersulang.

"Baiklah menteri Yank" sambil ikut meneguk secangkir arak.

"Ayo mari silahkan dinikmati hidangannya" pangeran Hang Djie menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Ini lezaat sekali, cobalah kak Tsu. Ayo ini phao khas tepi barat kota. Makanan terfavorit disini"

"Oh ya? Baiklah aku akan mencobanya"

"Ini juga enak pangeran Hang Tsu" menteri Yank melahap hidangan miliknya.

Mereka pun menikmati jamuan dari pangeran Hang Djie bersama-sama.

~

Di batas gerbang tepi barat kota, pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie memasuki gerbang utama istana pangeran Hang Djie.

"Berhenti!" penjaga gerbang menghentikan pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie.

"Siapa yang kalian bawa? mohon tunjukan untuk surat perintah penangkapannya" penjaga gerbang utama meminta surat perintah penangkapan dua tawanan yang dibawa oleh pasukan pengawal pangeran Hang Djie.

"Kami tidak butuh surat perintah jika untuk menangkap seorang pemberontak" kepala pasukan pengawal pangeran Hang Djie turan dari kudanya.

"Atas titah paduka Raja Hang Dzo, prajurit istana tidak bisa menangkap siapapun tanpa adanya surat perintah dari yang mulia paduka" penjaga gerbang utama istana tepi barat kota memperingatkan pasukan kusus pangeran Hang Djie.

"Kami ini pasukan kusus putra mahkota, jika kalian menghalangi kami masuk. Maka kalian akan berurusan dengan pangeran Hang Djie"

"Atas titah paduka Raja Hang Dzo, kami hanya menjalankan titah paduka"

Kedua belah pihak pasukan mulai berisitegang. Pangeran Syah Hang dan panglima Wai saling melirik dari tempat mereka diikat.

"Ternyata sudah separah ini kondisi kerjaan" ujar panglima Wai Hang pelan.

"Anda berkata apa tuan Wai?" pangeran Syah Hang kesulitan mendengar ucapan Wai Hang.

"Lupakan pangeran, lihat mereka yang malah berdebat"

"Ini berarti bagus untuk rencana kita panglima Wai" pangeran Syah Hang tersenyum dibalik topengnya.

Penjaga gerbang utama tetap tidak mengizinkan rombongan pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie masuk.

Kepala pemimpin pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie pun geram. Dengan kasar mendorong penjaga gerbang.

"Kau akan menyesal!!!"

"Hentikan perdebatan ini, bukakan gerbannya cepat!"

Suara yang sangat keras itu membuat semua mata tertuju pada pemilik suara itu.

"Baik Yang mulai perdana menteri Dong Zhang" penjaga gerbang pun langsung membukakan gerbangnya.

"Hormat kami untuk Perdana Menteri Zhang" kepala pemimpin pasukan pengawal kusus memberikan Hormat diikuti seluruh pasukannya.

"Anda mengenalnya panglima Wai?"

"Dong Zhang, tangan kanan Selir Tsu En yang penuh kelicikan" Wai Hang mengepalkan tangannya yang terikat punggungnya.

"Apa dia memiliki beladiri yang hebat?"

"Dia licik, bukan hebat" ujar panglima Wai Hang dengan penuh penekanan.

"Ayo jalan!"

Para pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie mendorong panglima Wai dan pangeran Syah Hang.

Begitu keduanya melewati Perdana Menteri Dong Zhang, panglima Wai menundukkan kepalanya. Wai Hang takut wajahnya masih dikenali oleh perdana menteri Dong Zhang. Tapi tidak dengan pangeran bertopeng alias Syah Hang sang putra mahkota. Sengaja matanya mengamati wajah sang perdana menteri dari balik topengnya.

"Berhenti" kata Dong Zhang.

Membuat pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie serentak berhenti.

"Penjahat bertopeng. Aku ingin melihat wajah di balik topengnya"

"Baik Tuan Perdana Menteri"

Kepala pemimpin pasukan pengawal kusus pangeran Hang Djie memberi perintah pada pasukannya untuk membuka topeng pangeran Syah Hang. Salah satu pasukan pengawal kusus pun mendekati pangeran Syah Hang.

"Buka topengnya"

Sang pasukan pun mencoba membuka topeng Hua Khon pangeran muda Syah Hang. Tapi baru saja tangannya menyentuh topeng itu,

"AAARRRGGHHHH....!!

"Ampun tuan, topengnya menyengat tangan hamba" ujar si prajurit sambil memegangi tangannya.

"Lelucon macam apa ini" Dong Zhang sang perdana menteri pun turun dari kudanya.

Sedangkan pangeran Syah Hang malah terkekeh geli dari balik topengnya. Dan Wai Hang pun hanya menahan tawa karena dia juga sudah merasakan kekuatan dari topeng Hua Khon itu sendiri.

Perdana menteri Dong Zhang berjalan mendekati pangeran muda Syah Hang.

"Biar aku yang akan membuka topengnya" dengan senyum kelicikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!