Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Makam Dewa Kuno, Mode Berantai Aktif
Gemuruh badai pasir di depan mereka terdengar seperti raungan jutaan monster kuno yang kelaparan. Butiran pasir yang beterbangan bukan lagi sekadar debu, melainkan tajam dan bergerak secepat anak panah, sanggup menguliti seorang kultivator Ranah Kondensasi Qi biasa dalam hitungan detik.
Namun, Lin Huang dan Ye Qingyue berdiri tegak di tepi badai tanpa bergeming.
Zuuuum!
Begitu Lin Huang melangkah selangkah lagi mendekati pusaran, tato jam pasir di pergelangan tangan kirinya meledak dalam pendaran cahaya merah darah yang sangat menyengat. Sinar merah itu menembak lurus dari tangannya, membelah badai pasir raksasa di depan mereka menjadi dua bagian secara absolut. Sebuah koridor hampa udara yang aman terbentuk di tengah-tengah amukan gurun, berujung pada sebuah struktur bangunan kuno yang perlahan muncul dari balik pasir yang menyusut.
Itu adalah sepasang gerbang batu raksasa setinggi lima puluh meter. Permukaannya dipenuhi oleh lumut kering yang membeku dan ukiran relief pertempuran dewa-dewa langit. Di tengah gerbang, terdapat lekukan berbentuk jam pasir yang persis sama dengan ukuran tato Lin Huang.
"Resonansinya sangat kuat," Ye Qingyue menyipitkan mata peraknya. Gaun biru langitnya berkibar kencang akibat tekanan angin di luar koridor. "Tempat ini... aku bisa merasakan sisa-sisa aura spiritual milik Cang Xuan yang menjijikkan. Ini memang salah satu tempat penyimpan rahasianya di alam fana."
"Kalau begitu, tidak salah lagi. Ayo kita bongkar tempat ini, Dewi," Lin Huang menyeringai tebal.
Dia berjalan mendekati gerbang batu tersebut, lalu menempelkan pergelangan tangan kirinya tepat ke lekukan jam pasir di tengah gerbang.
KREEEEKKK—BOOM!
Suara gempa bumi rendah bergaung di bawah kaki mereka. Gerbang batu raksasa yang telah tertutup selama ribuan tahun itu perlahan bergeser membuka, menyemburkan hawa pengap yang dipenuhi aroma debu kuno dan karat besi. Di balik gerbang, sebuah lorong gelap yang sangat luas membentang turun ke bawah tanah gurun, diselimuti oleh keheningan yang mencekam.
Begitu kaki Lin Huang menapak masuk ke dalam ambang pintu makam, tato di tangannya tiba-tiba bergetar dengan frekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Getaran itu begitu kuat hingga membuat seluruh lengan kiri Lin Huang terasa mati rasa.
BZZZZT!
Di dalam lautan kesadaran Lin Huang, teks digital berwarna hijau yang biasanya menandakan status "AMAN" seketika hancur berkeping-keping. Warna hijau itu meleleh, berganti menjadi warna hitam pekat yang memancarkan aura kegelapan yang teramat pekat dan dingin.
[Peringatan Darurat Sistem!]
[Anda telah memasuki area terlarang: Makam Dewa Kuno (Fase 1).]
[Pemberitahuan: Mode Siaga Dinonaktifkan secara Permanen selama berada di dalam area ini!]
[Sistem mengaktifkan otomatis: "Mode Kematian Berantai"!]
[Peraturan Mode: Anda tidak lagi menerima tugas berdasarkan pemicu eksternal. Setiap 1 jam sekali, sistem akan memicu satu tugas kematian acak secara otomatis. Gagal menyelesaikan satu saja tugas dalam batas waktu \= Jantung meledak, jiwa hancur total!]
Melihat rangkaian teks hitam tersebut, wajah Lin Huang yang biasanya tebal dan penuh candaan langsung membeku. Jantungnya berdenyut kencang, bukan karena serangan racun, melainkan karena syok yang mendalam.
"Sialan! Mode Kematian Berantai?!" Lin Huang mengumpat gila di dalam hatinya. "Setiap satu jam sekali?! Kau ingin memeras seluruh tenagaku sampai mati ya, tato keparat?!"
Belum sempat Lin Huang meredakan kekesalannya, angka hitungan mundur digital di kepalanya langsung mulai berdetak dari angka satu jam dengan kejam.
[00:59:59]
[00:59:58]
[Tugas Berantai Pertama dimulai!]
[Deskripsi: Koridor utama Makam Dewa Kuno dijaga oleh 'Formasi Seratus Prajurit Terakota'. Mereka adalah boneka perang yang terbuat dari batu mistis dan memiliki inti jiwa buatan.]
[Tugas: Hancurkan seluruh Seratus Prajurit Terakota di koridor depan dan rebut 'Inti Jiwa Batu' milik pemimpin mereka sebelum waktu habis!]
[Hadiah Keberhasilan: Teknik Langkah Bayangan Langit (Fase 1).]
"Lin Huang, ada apa?" Ye Qingyue menyadari perubahan ekspresi Lin Huang yang tiba-tiba menjadi sangat suram.
Lin Huang menoleh, memaksakan sebuah senyuman pahit yang terlihat kaku. "Dewi Ye... kita punya masalah besar. Tato ini baru saja mengubah permainannya. Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, benda ini akan memberiku misi kematian baru tanpa jeda istirahat. Jika aku gagal... perjalanan kita berakhir di sini."
Ye Qingyue mengerutkan keningnya yang indah. Ikatan jiwa di antara mereka membuatnya tahu bahwa Lin Huang tidak sedang bercanda. Situasi ini seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang maut; satu kesalahan kecil dari Lin Huang berarti kematian bagi mereka berdua.
"Kalau begitu, jangan membuang waktu satu detik pun," suara Ye Qingyue kembali menjadi dingin dan penuh ketegasan agung. "Apa misi pertamamu?"
"Membantai seratus patung batu di depan kita," Lin Huang menunjuk ke arah kegelapan lorong.
Klak. Klak. Klak.
Seolah-olah merespons kata-kata Lin Huang, deretan obor api biru di sepanjang dinding lorong bawah tanah tiba-tiba menyala satu per satu secara otomatis, menerangi koridor luas sejauh ratusan meter di depan mereka.
Di tengah koridor, berdiri rapi barisan patung prajurit setinggi dua meter yang terbuat dari tanah liat dan batu hitam keras (terakota). Mereka memegang tombak besi kuno dan perisai berat. Begitu cahaya obor menyala, mata dari seratus patung prajurit itu tiba-tiba memancarkan pendaran cahaya merah mistis yang menyala.
Boom!
Secara serentak, seratus prajurit terakota itu melangkah maju satu langkah, menciptakan getaran yang meruntuhkan debu dari langit-langit labirin. Di barisan paling belakang, berdiri seekor prajurit terakota raksasa setinggi empat meter yang menunggangi patung kuda perang, memegang pedang besar yang memancarkan aura Ranah Inti Emas tingkat menengah. Dialah sang Pemimpin.
[00:54:12]
Waktu terus berkurang. Lin Huang menarik napas dalam-dalam, membiarkan pendaran warna perunggu keemasan dari Ramuan Pemurni Darah Perunggu (Fase 2) menyelimuti seluruh tubuhnya. Otot-ototnya berdenyut kencang, memancarkan kekuatan fisik murni yang jauh lebih masif dari saat dia berada di Kota Gales.
"Dewi Ye, tetap di belakangku. Satu persen kekuatanmu terlalu berharga untuk dihamburkan pada patung-patung batu ini," Lin Huang menyeringai liar, kegilaan seorang anti-hero kembali membakar matanya. "Biar kakekmu ini yang meremukkan mereka semua!"
Boom!
Lin Huang melesat maju bagai badai hitam. Kecepatannya saat ini begitu luar biasa hingga menciptakan gelombang angin yang membelah debu di lantai koridor.
Dua prajurit terakota di barisan depan langsung mengayunkan tombak besi mereka dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung ke dada Lin Huang.
"Enyah!" Lin Huang meraung gila. Tanpa menghindar, dia melayangkan kedua tinju perunggunya ke depan.
Brak!!!
Dua tombak besi kuno itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan kepalan tangan Lin Huang. Tidak berhenti di situ, tinju Lin Huang menghantam dada kedua patung tersebut hingga tubuh batu mereka meledak menjadi pecahan fragmen kecil.
[Prajurit Terakota hancur: 2/100]
Melihat serangan Lin Huang yang begitu destruktif, barisan prajurit terakota lainnya tidak menunjukkan rasa takut—karena mereka tidak memiliki emosi. Mereka langsung mengepung Lin Huang dari segala arah, membentuk formasi dinding perisai yang rapat dan menusukkan puluhan tombak secara bersamaan.
Ting! Ting! Ting! Klang!
Puluhan mata tombak menghantam tubuh Lin Huang bertubi-tubi. Namun, dengan Tubuh Perunggu Fase 2, serangan-serangan itu hanya memercikkan bunga api di kulit keemasannya tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
"Giliranku!" Lin Huang menyatukan jari tangan kanannya, memicu Teknik Pedang Pembelah Langit. Bilah cahaya perak raksasa sepanjang tiga meter memadat di tangannya. Dengan satu putaran tubuh horizontal yang ekstrem, Lin Huang menebaskan pedang energinya ke sekeliling.
SRAAAKKK!!!
Satu tebasan lingkaran perak raksasa memotong pinggang belasan prajurit terakota di sekelilingnya, membuat tubuh-tubuh batu itu runtuh terbelah menjadi dua bagian.
[Prajurit Terakota hancur: 18/100]
Di ujung koridor, Ye Qingyue berdiri sambil bersedekah dada, menyaksikan pertarungan Lin Huang dengan tatapan mata perak yang sangat fokus. Dia menyadari bahwa meskipun Lin Huang bertarung dengan gaya yang liar dan gila, setiap gerakannya kini menjadi jauh lebih efisien berkat evolusi fisik terbarunya. Pemuda fana ini sedang bertumbuh menjadi monster sejati di bawah tekanan maut yang dia ciptakan sendiri.
Namun, angka hitungan mundur di pergelangan tangan Lin Huang terus berdetak tanpa ampun, mengingatkan mereka bahwa ini barulah awal dari ujian tanpa akhir di dalam Makam Dewa Kuno. Badai pembantaian baru saja dimulai.