NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi

Hening sejenak, Juan terpaku dengan wajah yang menunjukkan tatapan mengejek itu. Melihat sang istri yang dengan sengaja menaik turunkan alisnya, lengkap dengan senyuman tipis.

Jika dulu, bahkan di dalam mimpi pun ia tidak pernah berharap bisa melihat sisi Ailin yang seperti ini.

Sementara yang merasa ditatap dengan intens itu berdehem pelan. Sempat melirik ke arah lain sebelum kembali menatap Juan yang tak kunjung mengalihkan pandangan.

Tanpa sadar tangannya terangkat, mendorong pipi sang suami ke arah lain agar tidak terus menatapnya. "Kak, aku sedang bertanya, loh? Bukan minta dipandang terus."

"Iya," balas pria itu pelan, kembali menolehkan wajahnya untuk menatap Ailin lagi. Diam-diam menikmati perubahan wajah wanita itu yang tampak kesal. Namun di matanya justru menggemaskan.

"Iya apa?"

"Wajah dan telingaku merah... itu karena malu padamu."

Hening sejenak, Ailin terdiam mendengar balasan Juan. Sepersekian detik keduanya hanya saling menatap, seolah hanyut dalam lautan netra masing-masing.

"Haish. Enggak seru," gumam wanita itu setelah menyadarkan diri. Bibirnya memanyun tanpa sadar karena mendapat jawaban yang tak sesuai harapan.

Juan yang mendengar, mengerutkan kening dan memasang ekspresi penuh tanya. "Enggak seru?"

"Iya, seharusnya Kakak enggak mengaku secepat ini. Seharusnya Kakak mengelak dulu, jadi aku bisa menggoda lebih lama." Ailin membalas dengan sedikit kesal, namun pelukan tangannya di lengan sang suami tetap tak dilepas. Justru lebih erat dibanding sebelumnya.

"Baiklah, baiklah. Coba kamu tanya lagi! Kita reka ulang adegan saja!... Ugh."

Juan mengaduh saat perutnya disikut dengan cukup kuat. Pria itu menyipitkan mata, menatap sang istri dengan sorot protes.

"Kakak kira aku penjahat sampai mau reka ulang adegan?"

"Ya kan kamu bermaksud mau bully aku."

"Mana ada? Aku hanya mau mengejekmu sedikit saja! Enggak ada niat jahat sama sekali."

"Baiklah, bukan reka ulang adegan. Coba kamu tanya lagi saja! Nanti akan aku jawab bukan karena malu, apalagi karena kamu."

"Enggak mau lagi, aku mau ganti pertanyaan lain saja."

"Apa?"

"Hem." Ailin mengerutkan kening, hal yang paling membuatnya penasaran adalah tentang masa lalu mereka.

"Kita... dari dulu memang sedekat ini, ya?" tanya Ailin dengan kepala yang mendongak, memberi tatapan penasaran dengan kedua mata bulatnya.

Sementara Juan yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu jadi terdiam. Sorot bahagia di matanya perlahan meredup, seakan-akan menjadi kosong saat mengingat jawaban dari pertanyaan sang istri.

"Kak?" Ailin menggerakkan lengan yang ia peluk. Membuat Juan akhirnya membalas tatapan sang istri.

"Dulu... kita enggak sedekat ini."

Ailin mengerutkan kening. "Serius?"

"Hem."

"Terus kita biasanya ngobrol apa?"

"Kita bahkan jarang banyak bicara seperti sekarang."

"Kenapa? Padahal aku orangnya suka bicara dan bermanja-manja."

"Karena... aku enggak mahir berkomunikasi."

Juan tersenyum tipis, namun senyum itu justru terlihat pahit di mata Ailin. Wanita itu jadi terdiam sejenak sebelum bertanya lagi.

"Memangnya aku enggak ajak ngobrol duluan?"

"Kamu... enggak terlalu suka bicara denganku."

Ailin berkedip pelan. "Kenapa?"

"Kamu hanya... lebih nyaman dengan orang lain."

Juan menundukkan pandangannya sesaat. "Setidaknya itu yang selalu aku yakini."

"Maksudnya?"

Pria itu menggeleng pelan. "Enggak ada."

Tatapannya jatuh pada wajah sang istri yang masih memeluk lengannya erat. "Tapi aku selalu berharap kita bisa sedekat ini."

Ailin yang tiba-tiba dipandang dengan intens lagi itu menggigit bibir bawahnya. Ia lalu menoleh ke arah lain, memutus pandangan lurus sang suami padanya.

"A-aku mau tidur. Besok lagi saja kita ngobrolnya," ujar wanita itu grogi. Ia lalu memejam tanpa melepas pelukan lengannya.

Lalu beberapa menit kemudian, ia membuka sebelah matanya yang berakhir keduanya membulat sempurna.

"Kak, kamu belum tidur?!" Ia bertanya kaget setelah melihat Juan masih saja menatapnya. Pantas saja ia rasa wajahnya seperti tertempel sesuatu hingga sulit tidur. Ternyata tertempel tatapan Juan.

"Tidur loh, Kak! Jangan lihat muka aku terus!" ujarnya dengan nada sedikit kesal.

"Baiklah." Pria itu memejamkan matanya, hingga beberapa saat kemudian terdengar panggilan lirih.

"Kak."

"Hem?"

"Aku ganggu enggak kalau peluk lengan Kakak?"

"Enggak."

Lalu keheningan kembali menyambut, saat Juan yang belum bisa tidur membuka matanya lagi. Yang pria itu lihat ada wajah teduh sang istri.

Pria itu tersenyum samar. Menatap wajah wanita itu cukup lama hingga akhirnya kembali memejamkan mata, merasakan pelukan kecil yang masih melingkari lengannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak takut terbangun dan mendapati semuanya hanya mimpi. Karena kehangatan itu benar-benar ada di sisinya.

...

Keesokan hari nya.

Saat membuka mata, Juan tak melihat seorang pun di sampingnya. Hati pria itu mencelos.

Tatapannya jatuh pada sisi ranjang yang kosong. Tak ada pelukan di lengannya, tak ada aroma sampo yang semalam masih terasa begitu dekat.

Sesaat ia benar-benar berpikir semua yang terjadi hanyalah mimpi. "Ailin."

Tidak ada jawaban, pria itu memutar pandangan ke seluruh ruangan. Namun yang menyambut hanyalah kekosongan. Diam-diam jantungnya berdegup lebih cepat. Jangan-jangan wanita itu sudah mengingat semuanya?

"Ailin." Kali ini suaranya lebih jelas.

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!