Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Nama Danendra
Rama mematung sejenak, membiarkan Naira masih sibuk dengan aktivitasnya. Pandangan mata cowok itu tidak lepas dari wajah Naira yang kini tampak sangat fokus. Bagi sebagian murid di SMA Bakti Bangsa, Naira Alisha Danendra adalah definisi sempurna dari kata 'angkuh' dan 'sombong'. Gadis dengan nama belakang 'Danendra' yang selalu menatap orang dengan dagu terangkat, mengenakan aksesoris mewah, dan tidak pernah mau bergaul dengan mereka yang tidak satu kasta.
Namun, di gang sempit samping ruko grosir ini, Naira yang dilihat Rama adalah gadis yang berbeda. Naira yang sedang berlutut di tanah berdebu, Naira yang matanya sembab karena mengkhawatirkan orang miskin seperti dirinya, dan Naira yang rela mempertaruhkan nyawa menghadang motor bebek demi melindunginya.
‘Naira Alisha Danendra... ternyata kamu bukan cuma sekadar nama di daftar absensi,’ batin Rama. Sisi penyayang yang selama ini tersembunyi rapat di balik tembok es itu, perlahan-lahan runtuh di depan mata Rama sendiri.
"Naira," panggil Rama pelan.
"Hm?" Naira tidak mendongak, masih asyik membersihkan sisa darah di sekitar luka Rama dengan gerakan yang sangat teliti.
"Banyak orang bilang kamu itu sombong. Anak sultan yang gak punya hati. Tapi lihat sekarang..." Rama sengaja membiarkan kalimatnya menggantung.
Naira berhenti bergerak. Dia mendongak, menatap Rama dengan dahi berkerut. "Terus? Kamu juga mikir gitu? Kamu juga mau bilang aku cewek manja yang gak tahu diri?"
Rama tersenyum tipis senyum yang benar-benar tulus dan jarang dia tunjukkan pada siapa pun. "Enggak. Aku cuma mikir, betapa kasihan orang-orang yang selama ini cuma tahu marga Danendra kamu tanpa tahu sisi penyayang yang sebenarnya."
Naira tertegun. Pipi yang tadi sempat merah karena malu, kini terasa seperti terbakar. Dia buru-buru memalingkan wajah, menutupinya dengan helai rambut panjangnya. "Dih, gombal banget. Belajar dari mana sih kamu? Kaku-kaku gitu ternyata bisa bikin baper."
"Aku gak gombal, cuma bicara fakta," sahut Rama lempeng, membuat Naira makin salah tingkah.
Naira mencoba menutupi kegugupannya dengan pura-pura galak. Dia menekan sedikit terlalu kuat pada perban di bibir Rama sampai cowok itu kembali meringis.
"Aw! Sakit, Ra!"
"Oh, sakit ya? Tadi katanya mau dijadiin fakta? Rasain nih!" goda Naira sambil tertawa kecil, rasa tegang di hatinya menguap digantikan suasana yang mendadak jadi sangat ringan dan lucu.
Rama hanya bisa menghela napas, namun matanya masih menatap Naira dengan binar geli. "Ternyata, si Nona Danendra kalau lagi marah beneran kayak kucing kecil. Galak, tapi gak bikin takut."
"Kucing?!" Naira membulatkan matanya, lalu dengan refleks mencubit pelan lengan Rama yang sehat.
"Iya, kucing. Kucing yang cantik, tapi hobi banget makan jengkol," goda Rama lagi.
Naira yang tidak terima langsung berdiri, ingin pergi dari sana karena malu terus-terusan digoda. Tapi Rama, dengan kecepatan refleknya yang luar biasa, menarik ujung rok seragam Naira pelan. "Eh, jangan pergi. Belum selesai kompresnya. Nanti kalau infeksi gimana?"
Naira berbalik, berkacak pinggang dengan wajah yang berusaha garang tapi bibirnya tersenyum. "Ya udah, diem! Jangan banyak ngomong!"
Rama pun patuh, kembali duduk dengan tenang, membiarkan Naira putri dari keluarga Danendra yang punya segalanya kembali sibuk mengurus lukanya dengan tatapan yang penuh perhatian. Di bawah lampu jalan yang temaram, adegan itu terlihat sangat kontras: seorang gadis elit yang begitu telaten mengurus seorang cowok kuli ruko yang babak belur.
Tiba-tiba, perut Rama berbunyi sangat nyaring. Kruyuuuuk...
Naira terdiam, lalu meledak tawa. "Tuh kan! Tadi sok-sokan mau pahlawan, sekarang perutnya konser!"
"Belum makan dari jam istirahat tadi," jawab Rama jujur dengan wajah datar yang memancing tawa lebih keras dari Naira.
"Ya udah, ayo. Aku traktir makan di warteg depan. Tapi awas ya kalau nanti kamu malah bayarin balik, aku gak mau!"
Naira mengulurkan tangannya, membantu Rama berdiri. Dan untuk pertama kalinya, Rama tidak menolak. Dia menyambut tangan Naira, menggenggamnya mantap, lalu berjalan beriringan menuju warteg dengan langkah yang sedikit tertatih namun hati yang jauh lebih ringan. Naira Alisha Danendra, si gadis sombong yang ternyata punya hati selembut sutra, kini benar-benar menjadi perisai yang paling nyata dalam hidup Rama.