NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas Tri Merindu

Kediaman Mas Tri & Haura

Pagi itu suasana rumah tidak sejuk seperti biasanya. Udara terasa panas, sama panasnya dengan emosi Haura yang sedang meluap-luap. Ia duduk di sofa ruang tengah sambil memegang ponselnya erat-erat, jari telunjuknya menunjuk layar itu seolah benda itu adalah musuh bebuyutannya.

Di hadapannya, Mas Tri duduk dengan wajah lesu, kedua tangannya mengusap pelipis yang terasa berdenyut hebat sejak bangun tidur tadi.

Belum hilang rasa pusing akibat masalah kemarin, kini badai baru kembali datang menghantam.

"Sekarang apa lagi sih, Mas?!" suara Haura melengking tinggi, memecah keheningan pagi. "Kemarin Mbak Mala minta jatah uang sekolah anaknya, terus Mbak Vera nelpon minta biaya berobat katanya si Cila demam, sekarang ibumu kirim pesan minta dibelikan gamis baru buat pengajian. Terus dia juga minta uang dua juta buat ongkos ziarah ke Lampung! Ngapain sih harus jauh-jauh ziarah ke Lampung? La wong makam suaminya sendiri di sini aja jarang dia ziarahi!"

Haura melempar ponselnya ke atas bantal dengan kasar. Matanya menatap tajam ke arah suaminya yang hanya diam menunduk, tak berani menatap balik. Perutnya yang mulai membuncit terlihat naik turun menahan amarah.

"Aku itu hamil anakmu, Mas. Aku butuh gizi, aku butuh istirahat, aku butuh tabungan buat persiapan lahiran nanti. Tapi apa? Uang yang Mas bawa pulang rasanya cuma numpang lewat di dompet kita. Belum ada seminggu, udah disambar sana-sini sama keluargamu. Mereka itu apa kalau bukan parasit? Habis ini apa lagi? Ada tetangga jauh yang sakit terus minta kita yang bayarin berobat?"

Mas Tri menghela napas panjang, dadanya terasa sesak sekali. Di benaknya, bayangan masa lalu kembali melintas. Dulu, saat masih bersama Dinara, tidak pernah ada pertengkaran sebesar ini soal uang. Dinara selalu mengalah, selalu diam saja kalau ia memberi bantuan pada saudara atau orang tuanya.

Dinara paham betul rasa berhutang budi, Dinara tidak pernah menuntut perhitungan yang rinci. Padahal dulu Dinara tidak bekerja, semuanya bergantung padanya, tapi rumah ini selalu tenang dan damai. Sekarang, istrinya ini punya gaji besar, punya jabatan, tapi soal receh saja dipertanyakan sampai habis napas.

"Sayang..." Mas Tri berusaha menenangkan suara, meski nadanya terdengar parau dan lelah. "Aku tau ini berat buat kamu, aku ngerti banget. Tapi tolong, aku mau kamu adil sama keluargaku. Kemarin kan aku yang bayarin biaya umroh orang tuamu, itu biayanya nggak sedikit lho, Ra. Jauh lebih mahal dibanding dua juta yang Ibu minta sekarang.

Itu nggak seberapa dibandingkan tiket pesawat, pengajian, dan uang saku yang aku kasih ke mereka waktu itu. Kamu nggak pernah protes pas uang keluar buat keluargamu, tapi kalau buat keluargaku, semuanya jadi masalah besar?"

Wajah Haura memerah padam mendengar perbandingan itu. Ia langsung berdiri, napasnya memburu.

"Jadi sekarang kita mau itung-itungan ya, Mas? Hah? Gitu ya rasa sayang dan tanggung jawabmu? Orang tuaku umroh itu ibadah, itu kewajiban anak kalau mampu. Sedangkan ibumu ziarah ke Lampung cuma jalan-jalan, pamer sama tetangga! Bedanya jauh, Mas! Jangan samakan ibadah sama kesenangan semata!"

"Itu tetap ibuku, Ra! Wanita yang sudah melahirkanku! Sejak bapak meninggal, aku yang bertanggung jawab terhadap ibu! Beda dengan orang tuamu yang masih lengkap, kalau bukan ke aku, ibu mau minta ke siapa?" Mas Tri akhirnya ikut meninggikan suara, tak sanggup lagi menahan amarah yang menumpuk.

"Ya sudah kalau begitu, kasih saja semuanya ke mereka! Biar kita makan nasi sama garam saja nanti! Biar anakmu ini lahir dalam kekurangan karena ayahnya terlalu murah hati sama orang yang nggak tahu diri!" Haura berbalik badan berjalan cepat masuk ke kamar, lalu membanting pintu sekuat tenaga.

BRAK!

Suara bantingan pintu itu berdentang keras di telinga Mas Tri, seolah menandakan betapa rapuhnya kedamaian di rumah itu.

Mas Tri duduk kembali di sofa, memegangi kepalanya yang rasanya mau pecah. Pusing itu bukan main-main, rasanya seperti ada palu yang dipukulkan terus-menerus di dalam tengkoraknya. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia tahu kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk beraktivitas berat hari ini.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat pada atasannya.

[Pak, izin tidak masuk kerja hari ini. Kondisi badan kurang fit, sepertinya tensi naik.]

Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

[Baik, istirahat dulu. Jangan paksakan kalau memang sakit.]

Mas Tri bangkit pelan, mengambil kunci mobil di atas meja, lalu berjalan tertatih menuju keluar rumah. Ia butuh udara segar, ia butuh obat, ia butuh ketenangan yang entah di mana letaknya.

 ******

Di dalam mobil, perjalanan menuju klinik terasa begitu panjang dan melelahkan. Langit pagi yang cerah tak sejalan dengan suasana hatinya yang mendung kelabu. Sesampainya di klinik, dokter memeriksanya sebentar, mengukur tekanan darah, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

"Tensi Bapak tinggi sekali, 160 per 100. Bapak banyak pikiran ya? Ini bahaya kalau dibiarkan terus, bisa kena stroke atau penyakit jantung. Istirahat yang cukup, jangan stres, minum obat ini teratur, dan hindari makanan berlemak tinggi dan asin," begitu kata dokter tadi.

Sekarang, mobilnya terparkir di pinggir jalan raya yang agak sepi. Mesin masih menyala, tapi ia diam saja di balik kemudi. Matanya menatap kosong ke jalanan yang ramai dilalui kendaraan. Tangannya masih memegang dahi, tapi rasa sakit di kepala kini kalah jauh dibanding rasa sakit di dadanya.

Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa lalu. Kembali pada sosok wanita yang kini entah sedang melakukan apa.

Dinara Sasikirana.

Nama itu bergema lagi di kepalanya. Wanita yang dulu ia tinggalkan demi surga palsu yang ternyata berubah menjadi neraka.

Ia teringat betapa baiknya orang tua Dinara. Memang dulu Bapak dan Ibu mertuanya itu terkenal galak dan tegas dan punya prinsip kuat, tapi mereka tidak pernah membebani anak menantunya dengan urusan ekonomi.

Mereka mandiri, mereka bangga kalau bisa makan dari keringat sendiri. Bahkan dulu, saat Mas Tri mau membeli mobil pertamanya, Bapak Dinara ikut membantu memberikan uang muka besar-besaran, padahal saat itu kebutuhan mereka sendiri pun banyak.

Berbeda dengan ibunya sendiri atau kakak-kakaknya, yang baru dibilang susah langsung menengadahkan tangan seolah Mas Tri adalah bank berjalan.

"Kalau saja..." gumamnya pelan, suaranya parau, "kalau saja aku tidak sebodoh itu... kalau saja aku tidak buta oleh janji-janji manis..."

Tiba-tiba ucapan tetangganya kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Dinara mantan istrimu sekarang kerja di Restoran Kembang Desa cabang Durian Lima, Mas. Kemarin saya lihat pas grand opening. Dia kelihatan cerah, bersinar, dan bahagia banget lho. Beda banget sama pas masih jadi istrimu, dulu kelihatan murung dan selalu pucat."

Dan ucapan Dinara di ruang sidang Pengadilan Agama itu... ucapan yang terdengar lembut namun menusuk sampai ke tulang sumsum, kini bergaung seperti kutukan yang menjadi kenyataan.

"Kamu boleh merampas hakku atas harta gono gini itu Mas, kamu boleh menancapkan luka paling dalam di hatiku, aku tak bisa membalas atau menuntutmu di dunia. Tapi percayalah, kamu akan menghadapi hari-hari penuh penyesalan. Kamu tidak akan bahagia karena kamu sudah dzalim padaku. Satu tetes air mataku yang menetes karena perlakuanmu, akan kamu ganti berkali-kali lipat dalam bentuk apapun yang paling kamu benci."

Mas Tri menitikkan air mata di pipinya.

"Benar, Ra... kamu benar semua," bisiknya getir. "Setiap tetes air matamu, Allah ganti jadi siksaan buatku. Pertengkaran tiap hari, beban keluarga yang tak habis-habis, rasa hampa, rasa bersalah, rasa sesak. Semuanya aku rasakan. Aku menderita, Ra. Aku sangat menderita."

Tiba-tiba ada keinginan kuat yang menyergap hatinya. Ia ingin melihat Dinara. Sekarang juga. Ia ingin memastikan sendiri apa kabar wanita itu. Ia ingin melihat apakah benar Dinara bahagia tanpa dirinya, sementara ia hancur bersamamu Haura.

Tanpa pikir panjang lagi, Mas Tri memutar setir mobil, berbelok tajam masuk ke jalur kanan, menuju arah Jalan Durian Lima. Menuju Restoran Kembang Desa.

*****

Restoran Kembang Desa Cabang Durian Lima

Restoran itu tampak megah, bersih, dan sangat ramai. Di depan terpasang papan nama besar dengan tulisan emas berkilau. Banyak kendaraan terparkir rapi, mulai dari motor hingga mobil mewah. Aroma masakan yang lezat menguar sampai ke luar pagar.

Mas Tri turun dari mobil setelah memarkir kendaraannya di sudut yang agak tersembunyi. Ia merapikan pakaiannya, mencoba menutupi wajah pucat dan lelahnya sebaik mungkin. Ia melangkah masuk ke dalam restoran yang sejuk dan wangi itu.

Salah satu pelayan segera menyambutnya dengan senyum ramah.

"Selamat siang, Pak. Selamat datang di Kembang Desa. Mau duduk di bagian mana? Di dalam ber-AC atau di teras yang menghadap taman?"

"Di dalam saja, Mbak. Yang agak jauh dari pintu masuk," jawab Mas Tri pelan.

Ia diantar ke meja paling ujung, dekat jendela kaca besar yang menghadap ke taman dalam. Dari posisi duduknya, ia bisa melihat hampir seluruh sudut ruangan, meja kasir, hingga tangga yang mengarah ke lantai dua.

Ia memandangi daftar menu yang disodorkan. Tanpa sadar, jarinya menunjuk salah satu menu yang dulu sangat sering ia makan saat di rumah.

"Saya pesan satu nasi daun jeruk, ditambah ayam kampung bakar. Sama teh manis hangatnya saja ya."

"Baik, Pak. Mohon ditunggu ya."

Pelayan itu pergi. Mas Tri bersandar lemas di kursi, matanya mulai mengedar mengamati setiap orang yang lewat, setiap wanita yang berjalan membawa nampan, berharap melihat wajah yang ia rindukan sekaligus ia takuti.

Namun sudah cukup lama ia duduk, makanannya sudah datang dan separuh ia habiskan, Dinara tak juga terlihat.

Di dekat meja kasir, Mela sedang menyusun nota pembayaran. Tiba-tiba pandangannya menangkap sosok pria yang duduk di ujung ruangan itu. Matanya membelalak lebar, alisnya bertaut tajam.

Kamprett! batin Mela berteriak kesal. Ngapain dia ada di sini?!

Mela memutar badan memunggungi Mas Tri, wajahnya masam bukan main. Ia berbisik pelan pada rekannya yang sedang duduk di kasir.

"Eh, itu lho mantan suaminya Dinara. Mas Tri si tukang selingkuh yang sok suci itu. Datang juga dia, apanya yang kurang coba? Niatnya apa sih datang ke sini? Apes banget deh lihat muka itu."

" Tapi dia kelihatan kayak orang banyak pikiran, nggak sumringah kayak lelaki yang udah punya kunci surga di rumahnya." tanya rekannya khawatir.

" Mana ada Jin Dasyim pegang kunci surga?Jangan sampai Dinara ketemu dia. Nanti Dinara sedih lagi atau malah diajak ribut, repot kita. Biarin aja dia duduk di situ, bayar, terus pulang. Jangan ada yang panggil Dinara ke bawah dulu ya," bisik Mela tegas.

Tapi takdir berkata lain.Pintu ruang rapat di lantai atas terbuka lebar. Pak Aji keluar duluan, diikuti oleh Ferdi, dan di belakangnya... ada Dinara.

Dinara berjalan turun perlahan menapaki anak tangga satu per satu. Ia mengenakan seragam kerja berwarna cokelat muda dengan kerah putih yang rapi. Rambutnya yang hitam panjang disanggul rapi di belakang kepala, membuat leher jenjangnya terlihat indah. Wajahnya tidak lagi pucat dan lesu seperti dulu. Kini pipinya merona segar, matanya berbinar cerah, dan senyumnya merekah manis saat sedang berbicara ringan dengan Pak Aji.

Gerakannya anggun, tenang, dan penuh percaya diri. Beda jauh dengan Dinara yang dulu selalu menunduk, selalu terlihat terburu-buru, dan selalu khawatir kalau ada hal yang salah.

Saat ia sampai di anak tangga paling bawah, Dinara berhenti sejenak untuk merapikan roknya, lalu mengangkat wajah menatap ruangan luas itu.

Dan di situlah pandangan mereka bertemu.

Di sudut ruangan itu, Mas Tri tertegun kaku. Sendok di tangannya terjatuh ke piring, berbunyi nyaring namun ia tak peduli. Matanya tak berkedip menatap sosok wanita itu. Jantungnya berdegup kencang, sakit, perih, dan penuh rasa rindu yang tak wajar.

Itu Dinara. Wanita yang pernah menjadi dunianya.

Dan saat ini, Dinara terlihat begitu indah, begitu bersinar, begitu bahagia.

Mas Tri menelan ludah dengan susah payah. Matanya memanas.

Apa menjadi istriku tidak membuatmu bahagia, Ra? batinnya menjerit pilu. Dulu saat bersamaku, kamu selalu tampak lelah, selalu ada beban di bahumu, selalu ada kesedihan yang kamu sembunyikan. Tapi sekarang... aku melihat tawamu lepas, aku melihat cahayamu kembali menyala, dan auramu jauh berbeda. Kamu terlihat hidup, Ra. Kamu terlihat bebas.

Dan di sini, ia duduk sendirian dengan secangkir teh yang sudah dingin, Mas Tri menyadari satu hal besar yang paling menyakitkan.

Ia kalah. Ia kalah telak.

Ia yang dulu meninggalkan Dinara demi kebahagiaan yang ia bayangkan, kini justru hidup dalam kepedihan dan penyesalan abadi. Sedangkan Dinara, wanita yang ia sakiti, wanita yang ia buang, wanita yang ia rampas haknya, kini berdiri tegak dengan senyum paling indah, membuktikan bahwa kepergian Mas Tri adalah berkah terbesar dalam hidupnya.

"Aku menyesal, Ra..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar di tengah hiruk pikuk pengunjung. "Aku sangat menyesal pernah menduakanmu. Aku menyesal pernah berpikir ada wanita lain yang lebih baik darimu. Surga yang aku cari ternyata ada di rumah kita dulu, tapi aku yang terlalu bodoh untuk tidak melihatnya."

Dinara sempat tertegun sebentar saat menyadari ada tatapan tajam yang mengenainya dari jauh. Ia memicingkan mata, mengenali sosok itu. Mas Tri.

Hati Dinara berdenyut sebentar, bukan karena rindu atau cinta, melainkan kaget dan sedikit perih masa lalu. Namun ia tidak berhenti, tidak mengubah ekspresinya, tidak juga menunduk. Ia hanya menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangannya seolah Mas Tri hanyalah pengunjung biasa, orang asing yang tak ada artinya.

Ia melangkah pergi menuju meja kasir, menjauh, semakin jauh dari pandangan Mas Tri.

Di meja itu, Mas Tri duduk diam, merasa lebih kecil, lebih hina, dan lebih hampa dari sebelumnya. Ia menyelesaikan makanannya yang rasanya hambar, membayar

1
Ma Em
Hancurkan mental Haura dulu Thor setelah itu baru Tri , biar pelakor Haura sadar bahwa dia yg salah sdh merebut dan menyakiti Dinara .
Esti Trianawati
Haura yg angkuh kayanya yg bakalan hancur mentalnya...dinara mentalnya sudah mulai kuat setelah badai yg diciptakan jin dasim .
Farida Dewi
dus jempol bwt ms langit,,Haura butuh ambulance Ng bwt bawa km k IGD ,,shock kn k🤭
Farida Dewi
ciee ada yg malu malu eek kebo 🤭🤣
Farida Dewi
gercep bingitt sih ms langit,,,Ng deketin anakny dulu mlhn deketin biangnya dl,,alias buapaknyaa
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭
nurul @zna
Mas Langit..... TOP BGT 👍🏻👍🏻👍🏻
my beee🐝
kak atta lagi dong
Aylan
cieee aku juga GK pernah di bawain martabak🤭 kalo pengen beli sendiri😄
ɴᴏᴠɪ
astaga semoga si mas Amad gak muntaber beneran ya 🤣🤣🤣
ɴᴏᴠɪ
kasian mas Tri buang berlian demi batu kali 😄😄
Hatnah Batulicin
jgn lama lama ya Thor..aku selalu nunggu up nya 🥰🥰🥰
ɴᴏᴠɪ
dukung kakak nya mas Tri biar kapok si Haura 🤣🤣 karma berjalan
ɴᴏᴠɪ
curiga mas Langit udh mulai ada rasa sama mba Dinara 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
gitu dnk suka sama Dinara yg strong ,jangan lemah lagi ya .
ɴᴏᴠɪ
Malaikat mah pasti lebih menang dari jin dasyim Din, tenang aja
agnesty ferdiana
cie mas langit jalur ordal🤣
Loly Askhara
ceritane mas langit ngapel sekalian ngobrol sama pak Djarot, aah mas langit pinteran jah 🤭🤭
nurul @zna
Mas Langit mulai PDKT sama camer biar langsung goool... 🤭
Ma Em
Sudah jelas itu Langit emang menyukai Dinara , ayolah kalau emang langit suka sama Dinara cepat lamar lalu resmikan jadi pasangan suami istri agar jin Dashim tdk akan ganggu Dinara lagi .
Vips_momsky: buru2 amat mba...ga sabar pgn kondangan ya 🤭🤭🤭
total 2 replies
gina altira
Mas Langit beneran suka sama Dinara, ayolah gaskeunn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!