NovelToon NovelToon
Pak Direktur Mengejar Cintaku

Pak Direktur Mengejar Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.

Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.

Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.

Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bukan berbohong tapi sementara diam

Raffa yang masih berdiri di belakang Shintia tiba-tiba memanggil pelan,

“Shintia…”

Shintia menoleh cepat. “Iya?”

“Kita makan dulu, ya… setelah ini aku harus balik ke kantor. Bos sudah manggil.”

Shintia yang masih sedikit salah tingkah hanya mengangguk pelan.

“Yaudah.”

Mereka akhirnya berjalan meninggalkan bibir pantai menuju deretan tempat makan yang berdiri tidak jauh dari sana. Angin laut masih terasa sejuk, membuat suasana siang itu terasa nyaman.

Shintia berjalan beberapa langkah di depan sambil sesekali merapikan rambutnya yang tertiup angin.

Sedangkan di belakangnya, Raffa memperhatikan gadis itu diam-diam.

Tatapannya lembut.

Terlalu lembut.

Entah sudah berapa kali hari ini ia tanpa sadar membandingkan Shintia dengan seseorang dari masa lalunya.

Seseorang yang dulu pernah memenuhi hidupnya.

Almarhumah istrinya.

Dan itu membuat dada Raffa terasa sesak sekaligus hangat dalam waktu bersamaan.

Mereka memang berbeda jauh.

Sangat jauh.

Mendiang istrinya adalah perempuan yang tenang, kalem, bicara pelan, dan selalu terlihat anggun dalam segala keadaan.

Sementara Shintia… Gadis itu cerewet. Pecicilan.

Suka membentak saat kesal. Ekspresinya mudah berubah. Dan kalau marah, wajahnya lucu sekali.

Harusnya tidak ada kesamaan di antara mereka.

Tapi entah kenapa…

Saat melihat Shintia tertawa, Raffa merasa seperti diberi kesempatan bernapas lagi setelah sekian lama hidupnya kosong.

Dan itu yang justru membuatnya takut. Takut terlalu berharap lagi. Takut kehilangan lagi.

Karena Raffa tahu persis bagaimana rasanya hancur setelah merasa sangat bahagia.

Ia masih mengingat jelas siang itu. siang setelah ijab kabul selesai.

Saat semua orang masih tersenyum dan mengucapkan selamat… Dunia Raffa justru runtuh begitu cepat, istrinya tiba-tiba tersungkur di sampingnya tak berdaya, pergi selamanya tanpa pamit apapun.

Sejak saat itu, ia selalu menjaga jarak dari siapa pun.

Termasuk perempuan.

Namun sekarang… Baru dua hari mengenal Shintia, pertahanannya perlahan mulai runtuh.

“Kenapa diem terus?”

Suara Shintia membuat Raffa tersadar dari lamunannya.

“Hm?”

“Kamu melamun lagi.”

Raffa tersenyum kecil.

“Mikirin sesuatu.”

“Mikirin kerjaan?”

“Enggak juga.”

“Terus?”

“Mikirin kamu, yang cantik dan buat aku penasaran.”

Shintia langsung mendelik.

“Ya ampun, Raffa… kamu tuh tiap ngomong gak bisa normal ya?”

“Kan lagi usaha bikin kamu salting.”

“Gak mempan.”

“Bohong, wajah kamu merah.”

Shintia langsung mempercepat langkahnya malu-malu.

Raffa tertawa kecil melihat reaksinya.

Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran seafood sederhana yang langsung menghadap laut. Tempatnya tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung yang duduk santai menikmati angin pantai.

“Di sini aja?” tanya Raffa.

Shintia melihat sekeliling lalu mengangguk.

“Boleh.”

Mereka duduk di meja dekat pagar kayu dengan pemandangan laut lepas.

Seorang pelayan datang memberikan menu.

Shintia langsung sibuk melihat daftar makanan, sementara Raffa justru lebih banyak memperhatikan wajah gadis di depannya.

Lucu. Natural. Tidak dibuat-buat.

Dan yang paling penting… Tatapan Shintia padanya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada uang atau status.

Gadis itu bahkan tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Dan untuk saat ini, Raffa ingin semuanya tetap seperti itu.

Ia tidak ingin Shintia berubah sikap setelah tahu dirinya adalah direktur utama Hotel Permata.

Ia juga belum siap menceritakan soal pernikahannya dulu. Bukan karena malu.

Tapi karena luka itu masih terasa nyata. Dan ia takut… Takut Shintia menjauh.

“Kamu mau makan apa?”

Pertanyaan Shintia memecah pikirannya lagi.

“Hm?”

“Kamu dari tadi bengong.”

“Oh… apa aja deh.”

“Yaelah.”

Akhirnya Shintia memesan beberapa makanan sederhana.

Tak lama kemudian suasana kembali tenang.

Angin laut meniup lembut taplak meja mereka.

Shintia menopang dagu sambil melihat laut.

Sedangkan Raffa diam-diam memperhatikannya lagi.

“Kenapa lihat-lihat terus?” tanya Shintia tanpa menoleh.

“Karena cantik.”

Shintia refleks menoleh cepat.

“Kamu capek gak sih gombal terus?”

“Enggak, biasa aja.”

“Heran aku.”

“Aku juga heran.”

“Hah?”

“Heran kenapa kamu bikin aku senyaman ini.”

Kalimat itu membuat Shintia kembali diam.

Raffa mengatakannya santai.

Namun justru karena terlalu santai, terdengar jauh lebih jujur.

Untuk beberapa detik, Shintia tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya ia memilih mengambil minumnya cepat untuk mengalihkan rasa gugup.

Sedangkan Raffa tersenyum kecil melihat tingkahnya.

Tak lama kemudian makanan datang. Shintia langsung terlihat lebih santai saat mulai makan.

Dan itu membuat Raffa terkekeh pelan.

“Kamu lucu.”

“Apalagi sekarang?”

“Kalau makan fokus banget.”

“Ya masa makan sambil salto.”

Raffa tertawa cukup keras kali ini.

Beberapa pengunjung bahkan sempat menoleh karena jarang melihat pria setampan itu tertawa lepas.

Namun Raffa sama sekali tidak peduli. Sudah lama sekali ia tidak merasa seringan ini.

Sementara Shintia diam-diam memperhatikan pria di depannya.

Jujur… Kalau dipikir-pikir, Raffa memang aneh.

Terlalu percaya diri, Suka menggodanya. Dan muncul tiba-tiba dalam hidupnya.

Tapi di balik semua itu… Ada sesuatu dalam diri Raffa yang terasa sepi. Shintia tidak tahu kenapa ia bisa berpikir begitu. Kadang saat pria itu diam, matanya terlihat seperti menyimpan banyak hal.

Dan entah kenapa itu membuat Shintia penasaran.

“Kamu capek kerja jadi asisten?” tanya Shintia tiba-tiba.

Raffa sedikit terdiam sebelum tersenyum tipis.

“Lumayan.”

“Bos kamu galak?”

“Kadang.”

“Kalau aku jadi bos kamu, aku pecat.”

“Kenapa?”

“Mulut kamu kebanyakan gombal.”

“Kalau bosnya kamu, saya malah betah.”

“RAFFA.”

Raffa kembali tertawa kecil.

Namun di balik tawanya, ada rasa bersalah kecil yang muncul.

Karena lagi-lagi ia berbohong.

Bukan sepenuhnya bohong memang.

Tapi tetap saja ia menyembunyikan kenyataan.

Dan semakin lama bersama Shintia, semakin sulit baginya membayangkan reaksi gadis itu nanti saat tahu semuanya.

Tentang Hotel Permata.

Tentang statusnya.

Dan tentang cincin hitam yang masih setia melingkar di jarinya.

Untung saja Shintia belum terlalu memperhatikannya.

Kalau tidak… Mungkin semua pertanyaan sulit itu sudah muncul sejak tadi.

“Eh.”

Suara Shintia membuat Raffa menoleh.

“Hm?”

“Kamu berapa lama di luar negeri?”

Raffa sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Kenapa? Bakal kangen?”

“Geer banget.”

“Terus?”

Shintia mengaduk minumnya pelan sebelum menjawab.

“…Cuma nanya aja.”

Dan jawaban sederhana itu berhasil membuat senyum Raffa muncul lagi.

Hangat.Tulus.

Mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Raffa mulai merasa bahwa hidupnya perlahan bergerak kembali. Dan semua itu dimulai sejak gadis cerewet bernama Shintia Almahira tiba-tiba masuk ke dunianya tanpa izin.

...

Beberapa menit selesai makan Raffa dan Shintia tidak bisa berlama-lama, pertemuan dengan klien tidak bisa Raffa tunda.

"Shintia aku antar kamu pulang ya, aku harus segera ke Hotel."

"hm, iya... Makasih ya, udah ajak aku main, ya walaupun aku masih nggak ngerti sama kamu."

"nanti juga lama-lama ngerti," jawab Raffa.

1
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa cepat dong temui Shintia...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa mau di jodohkan ke Sella 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhhh Shintia masih khawatir tuh sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhh Shintia kangen sama Raffa tuhhh
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa harusnya temui Shintia dong 🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee ya tuh Raffa sebenarnya berarti buat shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia... Raffa itu masih hidup 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Sella ganggu Raffa mulu..

duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲

jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh kenapa Shintia belum mendaftarkan diri? Raffa sedikit kecewa😟 donggg
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh ciiieee Shintia seperti nya sudah jatuh cinta sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan: Ciieee Asyik dong 😄😄
total 2 replies
Sharah ArpenLovers Khan
gk cape ya Raffa gombal mulu sama shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Ya ampun... Raffa jail banget sama Shintia😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee Raffa ajak Shintia ke Pantai😆😆
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Jangan galak² Shintia nnt jatuh cinta dg Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh seperti ny Raffa emng jatuh cinta dg Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa blg kekasih Shintia ke Andreas 😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia gk tahu klo Raffa itu CEO yaa😆
Sharah ArpenLovers Khan
Cieee Shintia di blg cantik 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!