Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 — Jarak yang Menyakitkan
Hari-hari setelah itu terasa aneh bagi Alya.
Reno benar-benar menepati janjinya untuk memberi waktu.
Pria itu tidak lagi datang tiba-tiba ke apartemennya. Tidak mengirim pesan panjang seperti biasanya. Bahkan di kantor, Reno menjaga jarak dan hanya membicarakan urusan pekerjaan.
Dan justru itu yang membuat Alya merasa semakin kosong.
Pagi itu, Alya kembali masuk kerja setelah beberapa hari menghilang. Begitu ia masuk ke ruangan, suasana langsung terasa canggung.
Beberapa rekan kerja diam-diam meliriknya.
Siska langsung menghampiri dengan wajah khawatir.
“Kamu akhirnya masuk juga.”
Alya tersenyum kecil. “Aku nggak enak kalau terus izin.”
“Kamu baik-baik aja?”
“Iya.”
Padahal bohong.
Sangat bohong.
Karena semalaman Alya tidak bisa tidur memikirkan Reno.
Tentang pengakuannya.
Tentang penyesalannya.
Tentang semua luka yang kembali terbuka.
Namun yang paling menyiksa adalah—
Alya merindukan pria itu.
Dan ia membenci kenyataan tersebut.
“Pak Reno udah datang dari pagi,” bisik Siska pelan. “Tapi… dia aneh banget.”
Alya mengernyit. “Aneh gimana?”
“Pendiam.” Siska menatapnya hati-hati. “Kayak lagi kehilangan semangat hidup.”
Deg.
Jantung Alya langsung terasa tidak nyaman.
Namun ia buru-buru mengalihkan pikirannya lalu berjalan menuju ruang kerja.
Saat melewati ruang meeting, langkah Alya tiba-tiba terhenti.
Reno ada di dalam sana.
Pria itu sedang duduk sendiri sambil menatap layar laptop tanpa fokus. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding beberapa hari lalu.
Dan untuk pertama kalinya…
Alya menyadari bahwa menjaga jarak ternyata sama menyakitkannya bagi Reno.
Entah kenapa, dadanya langsung terasa sesak.
Seolah ada bagian dalam dirinya yang ingin masuk ke ruangan itu dan memeluk pria tersebut.
Namun Alya menahan dirinya.
Ia belum siap.
Siang harinya, Alya sedang memperbaiki revisi desain ketika suara keributan terdengar dari luar kantor.
Beberapa karyawan terlihat panik.
“Ada wartawan!”
“Mereka nyari Pak Reno!”
Alya langsung berdiri bingung.
Tak lama kemudian, beberapa wartawan benar-benar masuk ke area kantor sambil membawa kamera.
“Mana Alya Pramesti?!”
“Benar Anda merebut calon tunangan Reno Mahardika?!”
“Apakah hubungan kalian hanya sensasi?”
Wajah Alya langsung pucat.
Flash kamera menyala bertubi-tubi hingga membuatnya mundur panik.
“A-apa…”
Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.
Dan semua itu terasa terlalu menyesakkan.
Salah satu wartawan bahkan mencoba mendekat lebih jauh.
“Apakah benar keluarga Mahardika menolak Anda karena status sosial?”
Pertanyaan itu terasa seperti tamparan.
Tangan Alya mulai gemetar.
Namun tiba-tiba seseorang menarik Alya ke belakang tubuhnya.
Reno.
Tatapan pria itu begitu dingin hingga suasana langsung membeku.
“Keluar.”
Suaranya rendah dan penuh tekanan.
“Pak Reno, kami hanya ingin konfirmasi—”
“Aku bilang keluar.”
Aura Reno kali ini benar-benar menakutkan.
Para wartawan sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya security kantor datang membantu mengusir mereka keluar.
Begitu keadaan mulai tenang, Reno langsung menoleh ke arah Alya.
Dan ekspresinya seketika berubah cemas.
“Alya.”
Wanita itu terlihat pucat.
Napasnya tidak beraturan.
Reno langsung sadar Alya sedang mengalami panic attack ringan.
“Hei… lihat aku.”
Reno memegang kedua bahu Alya perlahan.
“Tarik napas.”
Namun Alya justru mulai menangis.
“Aku nggak suka…” suaranya gemetar. “Aku nggak kuat kalau begini terus…”
Tatapan Reno langsung dipenuhi rasa bersalah.
Karena lagi-lagi…
Dunianya membawa luka untuk Alya.
Tanpa berpikir panjang, Reno langsung memeluk Alya erat di tengah kantor.
“Nggak apa-apa.” Suaranya sangat lembut. “Aku di sini.”
Alya langsung mencengkeram jas Reno kuat-kuat seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat aman.
Dan di detik itu, seluruh pertahanan yang susah payah ia bangun perlahan mulai runtuh lagi.
Karena sejauh apa pun ia mencoba menjauh…
Hatinya tetap mencari Reno.
Suasana kantor mendadak hening melihat Reno memeluk Alya di depan semua orang.
Tidak ada yang berani bicara.
Tatapan Reno terlalu tajam seolah memperingatkan siapa pun untuk tidak ikut campur.
Sementara Alya masih gemetar kecil dalam pelukannya.
Reno mengusap pelan rambut wanita itu sambil berbisik lembut,
“Napas pelan-pelan… iya, gitu.”
Butuh beberapa menit sampai Alya akhirnya sedikit lebih tenang.
Namun begitu sadar banyak orang memperhatikan mereka, Alya buru-buru melepaskan diri dengan wajah memerah.
“A-aku minta maaf…”
Reno langsung mengernyit. “Kenapa minta maaf?”
“Aku bikin suasana jadi ribut.”
“Yang salah mereka, bukan kamu.”
Tatapan Reno masih penuh kekhawatiran.
Dan itu membuat hati Alya kembali terasa hangat sekaligus sakit.
Karena meski ia mencoba menjauh, Reno tetap selalu ada saat dirinya hancur.
“Alya,” panggil Reno pelan. “Kamu bisa pulang dulu kalau mau.”
Alya menggeleng kecil. “Aku nggak apa-apa sekarang.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Namun Reno jelas tidak percaya.
Akhirnya pria itu menarik kursi di samping meja Alya lalu duduk tanpa peduli pekerjaan lain menunggunya.
“Kamu ngapain?” tanya Alya bingung.
“Jagain kamu.”
Jawaban santai itu langsung membuat beberapa karyawan yang menguping diam-diam menahan senyum.
Alya sendiri langsung salah tingkah.
“Aku bukan anak kecil.”
“Tapi kamu lagi sedih.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Reno memang selalu tahu kapan dirinya benar-benar tidak baik-baik saja.
Menjelang sore, hujan turun cukup deras di luar gedung kantor.
Sebagian besar karyawan mulai pulang lebih awal.
Namun Alya masih duduk diam sambil menatap layar laptop tanpa fokus.
Pikirannya terus mengulang kejadian tadi siang.
Wartawan.
Kamera.
Pertanyaan menyakitkan.
Dan semua itu membuatnya sadar bahwa hubungan dengan Reno tidak akan pernah sederhana.
“Alya.”
Suara Reno membuyarkan lamunannya.
Pria itu berdiri di samping meja sambil membawa dua gelas cokelat hangat.
“Kamu belum pulang?”
“Belum pengen.”
Reno meletakkan minuman di depan Alya lalu duduk di kursi sebelahnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam mendengarkan suara hujan.
“Aku bisa mundur kalau itu bikin hidup kamu lebih tenang.”
Ucapan Reno tiba-tiba membuat Alya menoleh cepat.
“Apa?”
Reno tersenyum kecil, tapi matanya terlihat sedih.
“Aku nggak mau kamu terus terluka gara-gara aku.”
Deg.
Dada Alya langsung terasa sesak.
“Jadi kamu nyerah?”
“Aku nggak bilang nyerah.” Reno menatapnya dalam. “Aku cuma… nggak mau egois.”
Alya menggenggam gelas hangat di tangannya erat-erat.
Dan anehnya, membayangkan Reno benar-benar pergi justru terasa lebih menakutkan daripada semua masalah ini.
“Aku bingung, Reno,” bisiknya lirih. “Aku masih sakit kalau ingat masa lalu.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga…” Alya menggigit bibir pelan, “nggak bisa benci kamu lagi.”
Tatapan Reno langsung berubah.
Harapan kecil perlahan muncul lagi di matanya.
“Alya…”
“Aku udah coba menjauh.” Air mata Alya mulai menggenang lagi. “Tapi tiap kamu nggak ada, rasanya malah lebih sakit.”
Suasana mendadak terasa sangat sunyi.
Reno menatap Alya cukup lama seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
Dan detik berikutnya, pria itu perlahan menggenggam tangan Alya dengan hati-hati.
Kali ini Alya tidak menarik tangannya.
“Kalau begitu…” suara Reno terdengar begitu lembut, “izinin aku tetap di samping kamu.”
Jantung Alya kembali berdebar kacau.
Hujan di luar semakin deras.
Namun untuk pertama kalinya setelah semua pertengkaran dan luka yang terbuka kembali…
Alya tidak lagi ingin lari dari perasaannya sendiri.