Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Wajah Danish seketika memerah padam mendengar pertanyaan itu. Netranya membelalak tak percaya, sedangkan mulutnya terbuka sedikit karena terkejut.
"Haaahhh....? Ngomong apaan sih, Papi? Nggak jelas banget!" serunya agak keras sambil mengerucutkan bibirnya merasa malu yang tak tertahankan.
"Papi ngaco aja, deh. Mana ada... mas sama Alma itu sudah bersahabat sejak kecil, sudah kayak saudara sendiri kali, Pi. Jadi mana mungkin ada perasaan begitu... Papi jangan ngada-ngada, ya!" Danish berusaha sekuat tenaga menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang jantungnya.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, serta matanya bergerak ke sana ke mari berusaha menghindari tatapan sang ayah yang menggodanya.
Papi Baim hanya tertawa kecil melihat tingkah putranya yang jarang sekali terlihat gugup begini. Semakin Danish membantah keras, justru semakin meyakinkan hati pria paruh baya itu bahwa dugaannya tidak meleset.
Sementara itu, Mami Mia, Darrel, dan Vira yang sedari tadi pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing, rupanya diam-diam menyimak percakapan itu. Mereka bertiga langsung mendekat dan bergabung dengan obrolan Papi Baim dan Danish.
Bahkan Mami Mia yang melihat wajah Danish sudah semerah kepiting rebus, justru makin bersemangat menggodanya.
"Ya ampun... nggak pa-pa kali, kalau memang itu benar, Mas. Mami bakal dukung seratus persen, kok!" celetuk Mami Mia sambil tersenyum jahil.
"Lagian keluarga kita sudah mengenalnya dari dulu, jadi nggak masalah kan. Pi?" tambahnya seraya mengedipkan netranya ke arah sang suami.
"Nah, abang setuju sama Mami. Mana ada kalau cuma teman, tapi perhatiannya lebih dari sekedar teman? Lagian nggak ada persahabatan murni antara pria dan wanita," timpal Darrel ikut nimbrung.
"Benar banget kata Abang. Mas jangan menyangkal terus perasaannya, deh. Kalau memang suka ya, bilang aja, nggak usah malu-malu gitu. Lagian Alma itu cantik, cerdas, mandiri, dan baik hati. Kalau mas jatuh cinta sama dia, itu hal yang sangat wajar, kok," sambung Mami Mia sambil menatap Danish dengan senyum menyeringai.
Danish menatap mereka dengan pandangan bingung dan tak mampu berkata-kata.
Vira yang sedari tadi hanya tersenyum, akhirnya ikut bersuara sambil menepuk-nepuk bahu adik iparnya pelan. "Benar kata mereka, Nish. Kalau cuma teman biasa, mana mungkin kamu sampai segitunya memberi perhatian sama dia? Perubahan sikapmu ini jelas banget, lho. Dulu mana peduli kamu sama urusan orang lain, tapi sekarang kamu jadi sibuk banget ngurusin nasib dia."
Rasanya Danish ingin menyeburkan dirinya ke dalam kolam saat itu juga. Dia makin salah tingkah dibuatnya, sementara tatapan seluruh anggota keluarganya, kini tertuju padanya dengan sorot mata penuh selidik dan godaan.
"Kalian semua ini apaan, sih?!" serunya dengan kesal, karena malu yang tak tertahankan. "Kalian semua kok, sama aja kayak Papi? Suka banget bikin cerita sendiri. Mas sama Alma itu emang cuma bersahabat baik, nggak ada rasa lain. Titik! Udah, jangan dibahas lagi!"
Namun, bukannya diam, mereka justru tertawa terpingkal-pingkal menanggapi reaksi Danish. Lalu, Papi Baim mengangkat tangan untuk menenangkan semuanya.
"Sudah, sudah... jangan sampai Danish-nya meledak nanti kepalanya kepanasan. Sudah jelas kok, jawabannya. Nggak perlu dia bilang pun kita semua sudah paham," ujar Papi Baim sambil tersenyum penuh makna.
"Sekarang kembali ke pembahasan sebelumnya, Papi setuju sama usulanmu. Papi akan panggil Alma minggu depan untuk tes kemampuan secara langsung. Kalau memang dia layak dan cakap seperti yang kamu katakan, posisi Direktur Operasional itu akan jadi miliknya."
Mendengar itu, Danish langsung menghela napas lega seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Meski masih tersisa rasa malu yang tersisa di wajahnya, setidaknya tujuan utamanya tercapai.
"Makasih banyak ya, Pi," ucap Danish cepat, lalu memeluk sang ayah dengan erat meluapkan kegembiraannya.
Dalam hati kecilnya, Danish diam-diam menyadari satu hal -- apa yang dikatakan keluarganya itu... mungkin ada benarnya juga, tetapi dia berusaha menepis perasaan tersebut.
...
Di dalam kamarnya, Nova tampak mondar‑mandir seperti setrikaan. Semenjak pulang ke rumah beberapa jam yang lalu, pikirannya terus dirundung gelisah dan kekhawatiran.
Sementara itu, Marsha memperhatikan tingkah laku suaminya sambil menyusui anak bungsu mereka. Wanita itu memang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sejak kemarin. Kini, ia ikut merasa cemas melihat Nova yang terus saja bergerak tak tenang seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
"Mas, ada apa sih? Aku perhatikan dari tadi kamu gelisah terus. Masalah Alma lagi, ya?" tanyanya penasaran, nada bicaranya terdengar sedikit cemas.
"Alma sudah pindah dari rumahnya, Sha. Bahkan rumah itu sekarang sudah dipasang papan tulisan 'Dijual'. Wanita itu seperti benar‑benar ingin menjauh dariku, dia mau lari dari jangkauanku" ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya kuat‑kuat.
Ia lantas menoleh ke arah Marsha dan menatapnya tajam. Senyum miring nan angkuh terbit di bibirnya.
"Tapi dia lupa satu hal... Selama aku belum mengucapkan kata talak padanya, dia tetap sah istriku. Dia milikku seutuhnya, dan tak akan pernah bisa lepas dari genggamanku, meski sejauh mana dia menghindariku," ucapnya penuh penekanan.
Marsha mengerutkan kening, sambil menatap suaminya dengan pandangan penuh tanya dan rasa curiga.
"Terus, apa rencana Mas selanjutnya? Dia sudah pindah dari rumahnya dan menjualnya, berarti dia memang benar‑benar berniat memutuskan hubungan. Kalau dia menghilang begitu saja, bagaimana caranya kita mengendalikan dia lagi? Bagaimana kalau dia mulai bertindak nekat ingin menggugat cerai, Mas?"
Nova mendengus kasar, matanya berkilat penuh niat jahat yang mulai tersusun kembali.
"Selama statusnya masih istriku, aku punya hak penuh atas dirinya. Dia nggak akan bisa hidup tenang meski tetap bersikeras menolakku mentah‑mentah."
Nova mengangkat wajahnya, menatap Marsha dengan senyum licik yang mengerikan.
"Dan misalkan dia ingin menggugat cerai, kamu tenang saja. Dia nggak akan bisa melakukan itu, sebab surat nikah yang dia pegang itu palsu, dan urusan lain pun semuanya sudah kuatur rapi. Jadi, dia nggak bisa berbuat apa-apa!"
Nova kembali berdiri tegak, rasa percaya dirinya perlahan kembali tumbuh mengalahkan rasa gelisah yang menyergapnya tadi.
"Besok aku akan cari tahu keberadaannya. Dia mungkin bisa lari dari rumahnya, tapi dia nggak bisa lari dari pekerjaannya. Dia masih terdaftar di universitas dan selama dia masih bekerja di sana, aku akan selalu punya akses ke sana."
"Aku akan buat dia sadar, bahwa menjadi istriku adalah takdir yang nggak bisa dia tolak. Dan kalau dia terus melawan... aku akan buat hidupnya jauh lebih menderita yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya!"