NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Kedekatan

Zarlin meletakkan segelas air hangat di atas meja kerja Tristan tanpa permisi. Pria itu mendongak dari layar laptop.

"Minum dulu. Wajahmu sudah seperti mayat hidup," kata Zarlin, langsung menduduki kursi di depan Tristan.

Tristan tersenyum tipis, lalu meraih gelas itu.

"Aku hanya kurang tidur, Zarlin. Dokumen proyek dari timmu membuatku harus terjaga semalaman."

"Makanya diminum," balas Zarlin datar.

Tapi matanya memperhatikan kancing kemeja atas Tristan yang terbuka dan rambutnya yang agak berantakan. Ada rasa iba yang mendalam di hati Zarlin melihat partner bisnisnya sekelelahan ini.

Tristan meminum air itu sampai setengah, lalu bersandar pada kursi kerjanya.

"Bagaimana perkembangan soal Falcon Corp?"

Zarlin mendengus sinis. "Theo benar-benar nekat mengambil pinjaman tunai lima miliar dari rentenir kelas kakap itu demi menutupi kekosongan dana proyeknya. Dia terlalu gengsi untuk terlihat kalah di depan publik, apalagi di depan Bianca."

"Itu justru akan menjadi penyesalannya sendiri," sahut Tristan.

"Ya, begitulah."

Ketukan pelan di pintu memutus obrolan mereka. Christiana Ingrid masuk dengan sopan sambil membawa map berkas tambahan yang sempat tertinggal di mobil Zarlin.

"Nona Zarlin, Tuan Tristan. Ini berkas finansial yang tertinggal di mobil tadi," ucap Christiana sambil meletakkan map itu dengan rapi di ujung meja kerja.

Sebelum Christiana mundur, Tristan teringat sesuatu. "Ah, Chris. Terima kasih air hangat yang kamu berikan kemarin. Itu sangat membantu."

Christiana langsung menunduk sopan dengan senyum profesional yang ramah.

"Sama-sama, Tuan Tristan. Kebetulan saya melihat Anda kurang sehat. Saya hanya menjalankan tugas saya."

Zarlin yang mendengar itu menoleh ke arah sekretarisnya sambil tersenyum bangga.

"Christiana memang selalu bisa diandalkan, Tris. Dia selalu memperhatikan hal kecil" ujar Zarlin.

"Ya, kamu beruntung punya sekretaris sepertinya, tidak seperti Bi–"

"Sudahlah, Tris. Untuk apa mengingat itu lagi." potong Zarlin.

Christiana diam-diam merasa sangat bersyukur karena Zarlin kini telah lepas dari pria toxic seperti Theo.

Zarlin layak mendapatkan kebahagiaan, dan melihat bagaimana Tristan memperlakukan Zarlin dengan penuh rasa hormat selama kerja sama ini, Christiana dengan tulus berharap agar hubungan kedua pimpinan di depannya ini bisa berjalan lancar ke depannya.

Bagi Christiana, Tristan adalah sosok pria sejati yang sangat cocok bersanding dengan wanita sehebat Zarlin.

"Nona Zarlin, Tuan Tristan," sela Christiana dengan sopan.

"Berdasarkan informasi dari orang dalam kita di Falcon Corp, pencairan dana itu bisa terjadi karena bendahara mereka, Siska, dipaksa menandatangani dokumen ilegal itu di bawah tekanan Theo kemarin."

Zarlin menoleh ke arah Christiana, matanya menyipit tajam. "Siska? Dia orang jujur yang dulu selalu menolak perintah konyol Theo?" tanya Zarlin

"Benar, Nona. Siska bahkan sampai menangis di kamar mandi setelah dipaksa oleh Theo di depan Bianca. Dia pasti merasa sangat tertekan dan ketakutan sekarang karena tahu risiko kriminal dari dokumen yang dia tanda tangani." ujar Christiana.

"Aku tahu Siska itu bagaimana. Dia juga profesional. Sebelumnya, Theo pernah bercerita tentang Siska padaku. Ternyata dia diperlakukan seperti itu." ujar Zarlin.

"Theo memang tidak tahu diri." bisik Tristan

Zarlin tersenyum puas, sebuah rencana langsung terbentuk di kepalanya.

"Ini kesempatan kita. Siska adalah titik terlemah di internal Falcon Corp saat ini. Dia memegang bukti fisik kejahatan finansial Theo."

Tristan menatap Christiana dengan pandangan apresiatif.

"Analisis yang sangat bagus, Chris. Memanfaatkan Siska jauh lebih bersih dan mematikan."

Tristan kemudian kembali menatap Zarlin.

"Bagaimana menurutmu, Zarlin? Kita dekati Siska sekarang?"

"Tentu saja," jawab Zarlin.

"Tugaskan tim kita untuk memantau Siska secara personal. Begitu Siska merasa semakin tertekan, kita akan datang sebagai penyelamatnya. Kita tawarkan perlindungan hukum, imbalannya... dia harus menyerahkan salinan dokumen ilegal itu kepada kita." ujar Zarlin.

"Setuju," balas Tristan pendek, menyukai cara kerja Zarlin yang taktis.

"Dengan dokumen itu di tangan kita, kita bisa menjatuhkan Theo dan Falcon Corp kapan saja kita mau."

Setelah detail strategi disepakati, Zarlin berdiri dari kursinya.

"Chris, tolong bawa semua berkas ini ke mobil ya. Aku mau ke kamar mandi sebentar sebelum kita berangkat."

"Baik, Nona Zarlin. Saya tunggu di lobi depan lift," jawab Christiana dengan patuh. Ia segera mengangkat tumpukan map tebal itu, lalu mengangguk hormat kepada Tristan.

"Saya permisi dulu, Tuan Tristan."

"Ya, silakan, Chris. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini," kata Tristan tulus.

Christiana membalas dengan senyuman profesional terakhirnya, lalu keluar dari ruangan kerja Tristan dengan tenang.

Saat Christiana sudah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Zarlin mendekati meja kerja Tristan untuk mengambil tas dan ponselnya yang tertinggal di dekat laptop Tristan.

Namun, karena posisinya yang terlalu dekat dan fokusnya terpecah saat hendak meraih ponsel, pergelangan tangan Zarlin tanpa sengaja bersenggolan dengan lengan kekar Tristan yang juga sedang bergerak merapikan berkasnya.

Sentuhan yang tiba-tiba itu membuat keduanya langsung terdiam. Jarak di antara mereka begitu dekat.

Tristan mendongak, menatap Zarlin dari jarak yang sangat dekat. Aroma parfum maskulin dari tubuh Tristan seketika terasa pada penciuman Zarlin.

"Zarlin," panggil Tristan, suaranya terdengar lebih berat dan dalam di keheningan ruangan itu. Tatapan mata pria itu mengunci penuh ke arah sepasang mata Zarlin.

Zarlin menelan ludahnya pelan, mencoba mempertahankan ekspresi sedingin es miliknya yang mulai retak karena kedekatan fisik ini.

 "Ya?"

"Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk proyek ini. Aku tidak mau melihatmu kelelahan seperti kemarin," ucap Tristan lambat laun.

 Suaranya terdengar begitu tulus dan sarat akan perhatian yang mendalam, bukan lagi sekadar perhatian antar rekan bisnis biasa.

Zarlin menarik napas panjang, perlahan menarik tangannya dan mundur sedikit untuk menutupi rasa gugupnya yang tiba-tiba.

 Ia memberikan senyuman tipis yang sangat manis, sesuatu yang sangat jarang ia perlihatkan pada pria mana pun setelah pengkhianatan Theo.

"Aku tahu batasanku, Tristan. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Zarlin

Ia langsung mengambil tas dan ponselnya, berbalik menuju pintu dengan anggun sebelum Tristan sempat membalas kalimatnya lagi.

Di dalam ruangan yang kembali hening itu, sebuah kedekatan fisik yang singkat baru saja membuat kedekatan yang jauh lebih kuat di antara mereka berdua.

"Apa aku bisa menghilangkan rasa trauma Zarlin?" batin Tristan

Zarlin Rahesa

Theo Falcon

Bianca Amsel

Tristan Avalanka

Christiana Ingrid

1
Mommy tulipp
Wajar Paulus, anak sprti itu memang harus dikasih paham👍
Mommy tulipp
Paulus menganggap dia orang tua yg gagal💔
Mommy tulipp
Jangan Pak Bram, kau memang setulus itu kpd sahabatmu, tapi melakukan kekerasan tdk membuat masalah selesai. Tahan emosi Pak Bram, ini semua gara2 Theo. Kok ada lah manusia sprti ini, tdk habis pikir Ya Allah
Mommy tulipp
Sadar Theo, kamu termakan cinta bodoh
🔵 MULIANA💦
memangnya kamu yang bodoh, gak teliti dalam semua hal 🫣
🔵 MULIANA💦
sekarang baru takut /Proud/
Tulisan__mawar
Mau pergilah, ngapain diam aja. heleh kekayaan istrimu lebih dari kamu, dia bukan wanita sambarangan yang bisa kamu sakiti terus menerus. idih, najis banget. katanya kaya, sewa art aja susah maunya zarlin. dia istrimu theo falcon bukan babu ibu dan sekertaris mu, gitu dong. kasih sianida aja di makanan mereka bertiga😤😫☺️
Aquarius97 🕊️
please yah, sabar dikittt lagi 😤
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jadi malu kan kalian berdua sekarang
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
namanya nasib nggak ada yang tau
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
makanya jadi orang jangan rendahin orang lain
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
roda pasti berputar, itu kata orang tua dulu
Kak Umi
Karena ceritanya menarik, maka berlanjutlsh🙏🙏
Kak Umi
😍😍😍😍😍😍😍😍
Kak Umi
Lanjut lanjutkan 🙏🙏🙏
Kak Umi
Hay, aku datang turut meramaikan, datang juga turut meramaikan novel aku🙏🙏
Cimol krispy
bener banget tuh, Zarlin butuh menyembuhkan mentalnya dulu yang sudah dihancurkan habis2an oleh Theo
-Thiea-
kata-kata mu menohok hati neng zarlin.😁
-Thiea-
istirahat dulu atuh neng. yang lain bisa diawasi sama Tristan dan cristiana . bapakmu juga bisa membantu.
-Thiea-
duduk apanya neng. udah mau pingsan gitu. kamu harus sehat untuk hadepin mantan suami gila mu zarlin. ayok, turutin Tristan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!