Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Keheningan malam di dalam kamar utama griya tawang Osborn perlahan-lahan merambat naik, menjadi semakin dingin dan mencekam.
Di atas ranjang king size yang menjadi saksi bisu kehancuran malam pernikahan itu, Raynazh Leon Osborn masih duduk termenung di sisi kiri kasur.
Kepalanya tertunduk dalam, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang dipenuhi oleh sisa-sisa rasa bersalah yang amat pekat. Bahu pria itu tampak merosot, kehilangan seluruh wibawa dan keangkuhan yang biasanya melekat pada nama besar keluarga Osborn.
Di sisi lain ranjang, Adiba Abbey berbaring membelakangi suaminya. Tubuhnya yang mungil tertutup rapat oleh jubah tidur tebal berwarna hitam, meringkuk dalam posisi defensif yang sejak beberapa jam lalu membuat Raynazh enggan untuk sekadar mendekat karena takut memicu histeria yang lebih parah.
Kamar itu begitu sunyi, hanya menyisakan deru napas Adiba yang terdengar teratur, naik turun dengan ritme yang lambat di tengah kegelapan Manhattan yang merayap menuju fajar.
Namun, di balik punggung tegap Raynazh, dalam posisi yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun, sepasang mata Adiba terbuka lebar.
Manik matanya yang jernih sama sekali tidak memancarkan sisa-sisa trauma atau ketakutan seorang korban pemerkosaan. Tidak ada lagi air mata yang membanjiri pipinya, tidak ada lagi getaran hebat pertanda kerapuhan batin yang beberapa waktu lalu dia tunjukkan dengan begitu sempurna di depan suaminya dan Louis.
Di dalam kegelapan yang pekat, kelopak mata itu berkedip perlahan, menatap lurus ke arah dinding kamar mandi dengan kekosongan yang perlahan-lahan bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kelam.
Di tengah-tengah deru napasnya yang semula terdengar tenang, sudut bibir Adiba perlahan-lahan terangkat.
Dia tersenyum. Sebuah senyuman yang teramat tipis, namun lambat laun melebar menjadi sebuah seringai yang mengerikan. Seringai yang begitu pekat, dingin, dan sarat akan kepuasan sosiopatik yang sanggup membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa bulu kuduk mereka berdiri.
Tidak tampak sama sekali bagaimana dirinya yang beberapa jam lalu meraung-raung di sudut ranjang, menjerit histeris mengklaim dirinya sebagai korban pemerkosaan yang malang.
Semua topeng kerapuhan itu meluruh dalam sunyi, menyisakan wajah asli dari kegelapan yang selama ini dia sembunyikan di balik keanggunan seorang putri keluarga Abbey.
Adiba membalikkan tubuhnya perlahan, sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara gesekan seprai yang berarti.
Dia menatap langit-langit kamar yang temaram, membiarkan pikirannya menjelajahi kembali setiap detik kehangatan, cengkeraman kasar, dan penyatuan panas yang terjadi di atas ranjang ini beberapa jam yang lalu.
"Louis..." Bisikan itu meluncur dari bibir Adiba. Sangat halus, menyerupai hembusan angin malam, namun diiringi dengan senyuman yang teramat hangat. Hangat sekali, seperti seorang wanita yang sedang memanggil nama kekasih tercintanya di dalam mimpi yang paling indah.
Dia menghela napas panjang, menghirup sisa-sisa udara di kamar itu yang masih menyisakan distilasi aroma maskulin yang tertinggal.
"Bukankah permainan ini... begitu menyenangkan?" ucap Adiba lagi, suaranya berupa desisan rendah yang tertahan di tenggorokan, diikuti oleh tawa kecil tanpa suara yang bergetar di dadanya.
Adiba benar-benar menikmati setiap detiknya. Dia menikmati bagaimana Raynazh, suaminya yang malang, duduk berlutut di bawah kakinya dengan tubuh yang bergetar hebat.
Dia menikmati bagaimana pria perkasa itu menangis, mengucapkan kata maaf berkali-kali hingga suaranya parau, dan membersihkan sisa bercak di tubuhnya dengan tangan gemetar sepanjang malam.
Setiap ratapan penyesalan yang keluar dari mulut Raynazh adalah musik paling indah yang pernah didengar oleh indra pendengaran Adiba.
Setiap tetes air mata suaminya adalah madu yang memuaskan dahaga balas dendamnya yang telah mengering selama bertahun-tahun.
Diperkosa? Siapa yang diperkosa di rumah ini?
Adiba terkekeh pelan dalam hati, sebuah ejekan yang dia tujukan untuk kebodohan dua bersaudara Osborn tersebut. Dia bukan gadis bodoh, naif, dan lemah yang tidak tahu wangi siapa yang sedang bergerak dengan liar di atas tubuhnya dalam kegelapan malam.
Ketika tubuh tegap itu menyusup ke balik selimutnya saat dia setengah tertidur, indra penciumannya yang tajam langsung mengenali aroma itu. Itu bukan aroma parfum woody mahal milik Raynazh yang membosankan.
Tentu saja itu wangi milik kekasihnya. Wangi tembakau tipis, mint, dan aroma maskulin yang tajam milik Louis Enver Osborn. Pria yang menjadi poros tunggal dari seluruh kewarasan dan kegilaan hidupnya.
Kenyataan yang sesungguhnya berada di balik lapisan cerita yang paling gelap. Adiba Abbey bukanlah wanita suci yang dijebak oleh takdir.
Dia adalah seorang gadis dengan sisi psikologis yang kelam, penuh obsesi gila, dan menaruh rasa cinta yang teramat destruktif kepada Louis sejak bertahun-tahun yang lalu.
Sejak Dia masih duduk di bangku High School di New York, mata Adiba tidak pernah beralih dari sosok Louis.
Dia mengamati bagaimana Louis bergerak, bagaimana pria itu tertawa dengan pemberontakannya, dan bagaimana Louis selalu disisihkan oleh keluarganya sendiri.
Bagi Adiba, Louis adalah mahakarya terindah yang diciptakan di bumi ini, dan dia telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk menjadi budak dari bayangan pria itu, bahkan tanpa Louis pernah menyadarinya.
Saat dia masih remaja, Adiba tidak memiliki kuasa apa pun. Dia hanyalah penonton di balik dinding kaca sosial Manhattan.
Dan puncaknya adalah empat tahun lalu, ketika sebuah tragedi menghantam hidup Louis. Adiba menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pria terkasihnya, sosok yang begitu dia puja dan cintai setengah mati, harus diseret oleh polisi New York dan mendekam di balik jeruji besi yang dingin.
Louis ditahan atas sebuah kejahatan keji yang tidak pernah dia lakukan, dikorbankan demi melindungi masa depan seorang pria pengecut bernama Raynazh Leon Osborn.
Malam ketika Louis mendekam di penjara karena kasus gadis bernama Ambar itu, Adiba bersumpah di bawah langit New York yang hitam.
Dia menangis darah melihat bagaimana takdir menghancurkan hidup kekasihnya demi kesempurnaan palsu milik Raynazh. Saat itu, kebencian yang murni dan pekat tumbuh subur di dalam dada Adiba, berakar kuat di dalam hatinya yang paling dalam, bersanding dengan obsesi gilanya pada Louis.
Cinta tak harus memiliki. Itulah prinsip utama yang dia pegang selama ini. Dia tidak peduli jika Louis tidak pernah menoleh ke arahnya, dia tidak peduli jika Louis menganggapnya asing. Yang dia pedulikan hanyalah satu hal: Raynazh Leon Osborn harus membayar setiap detik penderitaan yang pernah dirasakan oleh Louis di dalam sel tahanan itu.
Dengan segala siasatnya yang rapi, licik, dan terencana selama bertahun-tahun, Adiba memanfaatkan kedekatan bisnis keluarganya dengan keluarga Osborn.
Dia menenun jaring-jaring manipulasi dengan begitu halus, hingga akhirnya aliansi perjodohan antara dinasti Osborn dan keluarga Abbey muncul ke permukaan sebagai sebuah solusi bisnis.
Ketika Raynazh datang melamarnya, Adiba mengiyakan dengan senyuman paling manis yang bisa dia tunjukkan—sebuah senyuman yang menyembunyikan belati beracun di balik bibirnya.
Menikah dengan Raynazh adalah rencana penyerahan diri yang paling sempurna untuk cinta dan obsesi gilanya pada Louis. Dia sengaja memasuki rumah ini, sengaja mengikatkan dirinya pada Raynazh, hanya untuk satu tujuan: menjadikan pernikahan ini sebagai neraka dunia bagi suaminya.
"Kau ingin menyelamatkan masa depanmu, Ray?" bisik Adiba pada keheningan, matanya berkilat tajam bagai mata pisau belati. "Maka mari kita berada di neraka bersama-sama. Aku akan memastikan setiap napas yang kau hirup di rumah ini terasa seperti belerang yang membakar dadamu."
Adiba tahu betul watak Louis yang liar dan penuh dendam terpendam pada kakaknya.
Dia juga tahu bahwa Louis sudah lama mengincar cara untuk menghancurkan kebahagiaan Raynazh. Karena itulah, malam ini, Adiba sengaja membiarkan kamarnya tidak terkunci. Dia sengaja mengenakan lingerie sutra tipis yang paling provokatif, membiarkan dirinya jatuh tertidur dalam kondisi yang paling rawan, karena dia tahu... dia tahu dengan pasti bahwa Louis akan datang ke kamar ini untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milik Raynazh.
Dan jalannya ternyata semudah ini. Adiba sama sekali tidak menyangka bahwa takdir akan bekerja sama begitu baik dengan obsesi gilanya. Louis masuk ke dalam perangkap yang dia sediakan tanpa sadar, menyerahkan dirinya pada sentuhan pria yang dia dambakan seumur hidup, sembari melemparkan hantaman kehancuran psikologis yang telak tepat ke arah wajah Raynazh.
Louis Enver Osborn tidak pernah tahu. Pria berusia 25 tahun yang merasa dirinya paling licik dan menang malam ini sama sekali tidak pernah tahu bahwa di dunia ini, ada seorang wanita yang mencintainya dengan cara yang begitu gelap, begitu ekstrem, hingga rela mengorbankan kesucian dan status pernikahannya hanya untuk menjadi alat pembalasan dendam demi dirinya.
Louis mengira dia sedang menggunakan Adiba untuk menghancurkan Raynazh, padahal kenyataannya, Adibalah yang sedang menggunakan Louis untuk menarik Raynazh ke dasar jurang keputusasaan.
Adiba menggeser pandangannya ke arah jendela kaca besar yang menampilkan siluet gedung-gedung pencakar langit New York yang mulai memutih karena salju. Detak jantungnya berangsur normal, meninggalkan sensasi kepuasan yang mendalam di rongga dadanya.
Setiap tanda merah yang ditinggalkan Louis di kulitnya kini bukan lagi simbol kehinaan, melainkan sebuah medali kemenangan dari perang suci yang dia kobarkan sendiri. Sentuhan Louis adalah stempel kepemilikan yang sah di dalam hatinya, meskipun seluruh dunia menganggap pernikahan ini milik Raynazh.
"Biarkan mereka menganggapku hancur," batin Adiba, seringai mengerikannya kembali terukir di kegelapan kamar. "Biarkan Raynazh mengemis pengampunan padaku setiap hari. Semakin dia merasa bersalah, semakin hancur jiwanya, dan semakin dekat aku pada kemenangan mutlakku untukmu, Louis-ku."
Pernikahan yang didasari atas perjodohan ini kini telah resmi bertransformasi menjadi sebuah labirin maut yang mematikan bagi Raynazh Osborn.
Dia jatuh cinta pada Adiba, dan kejatuhan cinta itulah yang akan menjadi tali gantungan mati bagi dirinya sendiri. Adiba tidak akan pernah melepaskan Raynazh dengan mudah melalui surat perceraian yang tadi dia ancamkan.
Ancaman perceraian itu hanyalah sebuah gertakan awal untuk membuat Raynazh semakin panik, semakin memohon, dan semakin merendahkan dirinya di depan kaki Adiba.
Dia ingin mengurung Raynazh di dalam rasa bersalah seumur hidupnya, mengikat pria itu dalam pernikahan yang hampa dan menyiksa, tepat di bawah atap yang sama di mana Louis berada.
Di dalam keheningan yang tersisa sebelum matahari New York terbit, Adiba Abbey kembali memejamkan matanya dengan tenang. Kali ini, dia tidur dengan kedamaian yang aneh—kedamaian seorang predator yang tahu bahwa mangsanya telah masuk sepenuhnya ke dalam perangkap jaring laba-laba hitam yang telah dia rajut selama enam tahun lamanya.
Di sisi lain ranjang, Raynazh masih terus terjaga, tidak pernah tahu bahwa wanita yang sedang dia tangisi kesuciannya adalah iblis tercantik yang siap membakar seluruh hidupnya hingga menjadi abu.