NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Bertemu Pria Tampan

Jika aku bisa menangis, mungkin aku sudah menumpahkan seluruh air mataku sejak hari kematian Ayah, batin Evelyn getir sambil melangkah gontai menuju pintu lobi rumah sakit.

Namun sayang, air mata ini seolah telah mengering. Aku tidak sedang berpura-pura tegar. Aku memang sudah mati rasa. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya saat ini juga.

Tepat saat kakinya menginjak pelataran halaman rumah sakit, bumi seolah berputar.

"Aduh, kepalaku..." Evelyn meringis kesakitan.

Ia spontan mencengkeram kepalanya yang berdenyut ekstrem.

Pandangannya mendadak mengabur, menyisakan siluet hitam yang berbayang. Keseimbangannya hilang. Tubuh kurusnya mulai limbung dan siap menghantam aspal keras.

Namun, sebelum tubuhnya ambruk, sepasang tangan kokoh menahan pinggangnya dengan sigap.

Aroma maskulin yang asing namun menenangkan menyeruak ke indra penciuman Evelyn. Perlahan, ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang tercecer.

Di hadapannya, berdiri seorang pria asing yang luar biasa tampan. Pria itu berambut merah menyala, dengan sepasang manik mata hijau zamrud yang jauh lebih jernih dan berkilau daripada milik Evelyn sendiri. Ia mengenakan kemeja navy elegan yang melekat pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana kain hitam formal.

Pria itu menatap Evelyn dengan sorot mata tajam yang menghunjam, seolah sedang menguliti dan mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam diri gadis itu.

"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanyanya. Suaranya berat, bariton, dan terdengar dingin.

"Ah... saya baik-baik saja, Tuan. Terima ka—"

Belum sempat Evelyn menyelesaikan ucapan terima kasihnya, pria itu sudah melepaskan tangannya dengan cepat. Tanpa sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melangkah pergi begitu saja, memasuki lobi rumah sakit dengan tergesa-gesa.

Evelyn tertegun di tempatnya berdiri. Ia menatap punggung tegap yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kaca.

"Siapa dia? Kenapa dia tampan sekali?" gumam Evelyn lirih pada dirinya sendiri. "Apa dia salah satu dokter di sini?"

Tak lama kemudian, Evelyn menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Sadar, Eve! Kau bukan siapa-siapa," rutuknya pada diri sendiri. "Sial, di saat kondisi sekarat begini, kenapa kau malah memikirkan seorang pria?"

Padahal jauh di lubuk hatinya, secercah harapan kecil muncul—berharap pria asing tadi adalah malaikat penolong yang dikirim untuk menyelamatkan hidupnya.

Sambil menghela napas, Evelyn memaksakan seulas senyum lebar di wajah pucatnya. Ia melangkah tegap menuju tepi jalan, bersiap menyetop taksi yang lewat.

Sementara itu, di dalam salah satu kamar rawat VVIP rumah sakit...

"Ben, kenapa kau lama sekali?" tanya seorang pria bernama William Pendragon.

William tidak menoleh, tetapi indra tajamnya sudah bisa merasakan kehadiran seseorang yang baru saja menggeser pintu geser kamar tersebut. William adalah seorang Archmage sekaligus bangsa Pegasus dari Planet Diamond. Saat ini ia sedang berada di dunia manusia untuk menemani istrinya yang baru saja melahirkan.

Pria yang baru datang itu adalah Benjamin Emerson—seorang Mage dari ras naga, yang juga merupakan murid asuhan William.

"Maaf, Master. Saya ada sedikit urusan di luar tadi, makanya agak terlambat," ucap Benjamin sopan.

William akhirnya menoleh. Namun, begitu pandangannya jatuh pada Benjamin, matanya langsung membelalak sempurna.

"Astaga! Demi Dewi... apa yang kau lakukan pada rambutmu, Ben?!" William terlonjak kaget hingga refleks berdiri.

Bayi perempuan di gendongannya hampir saja merosot jika William tidak dengan sigap memindahkannya ke dalam boks bayi. Ini kali pertama William melihat penampilan baru muridnya yang telah hidup hampir 250 tahun itu.

William sendiri, yang sudah berusia hampir enam abad, tidak pernah sekalipun mencukur rambut putih peraknya yang sepanjang pinggang. Ia hanya menggunakan sihir untuk mengendalikan pertumbuhannya agar tetap rapi.

Benjamin terkekeh pelan melihat reaksi berlebihan sang guru. "Saya hanya bosan, Master. Mengurus rambut panjang setiap hari terasa sangat merepotkan. Jadi, saya memotongnya agar terasa lebih ringan."

"Tapi kau jadi terlihat seperti anak remaja, Ben!" protes William, masih tidak percaya.

Benjamin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebagai makhluk immortal, mereka memang dikaruniai wajah yang awet muda.

Dengan gaya rambut berponi ala idol pria modern saat ini, Benjamin yang aslinya berumur ratusan tahun kini benar-benar tampak seperti pemuda manusia berusia 18 tahun.

"Begitukah? Apa gaya rambut ini tidak cocok untukku?" tanya Benjamin ragu.

"Bukan tidak cocok. Maksudku, kau kan belum menemukan mate (pasangan sejati) milikmu. Jadi, sah-sah saja kau bergaya seperti itu meskipun umurmu sudah ratusan tahun," kelakar William sambil terkekeh.

"Sayang... kenapa berisik sekali?" Sebuah suara lembut menginterupsi perbincangan mereka.

Wanita yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit itu bernama Violet. Ia adalah seorang Dryad sekaligus mantan ratu di Alfheim—pemukiman elf hutan yang berada di dimensi lain. Violet rela menanggalkan takhtanya demi bisa hidup bersama William, dan kini mereka memilih menetap di Kota Vespera.

"Kau terbangun, Sayang? Maaf, ini Benjamin baru saja datang menjenguk," ucap William, melembutkan suaranya.

Violet mengalihkan pandangannya pada Benjamin. Wanita cantik berambut cokelat itu seketika tercengang. "Benarkah ini Anda, Mage Benjamin?"

"Iya, Nyonya. Ini saya," jawab Benjamin ramah seraya membungkuk hormat.

"Wah, ini kejutan luar biasa, Mage Benjamin. Apa jangan-jangan Anda sedang dimabuk asmara sehingga memutuskan untuk mengganti model rambut?" goda Violet seraya tersenyum geli.

Benjamin melangkah lalu mendudukkan diri di atas sofa panjang yang terletak di sudut ruangan. "Bukan begitu, Nyonya. Saya hanya lelah dikatai kolot oleh para Black Witch yang menjadi bawahan saya. Mereka bilang gaya saya sudah ketinggalan zaman. Katanya, itu alasan kenapa sampai sekarang saya belum juga menemukan mate."

William mendengus pelan, bersandar pada pilar ranjang. "Aku tidak habis pikir. Hanya karena omong kosong para penyihir rendahan yang usil itu, kau bisa terpancing sampai sejauh ini, Ben."

"Tapi itu hal yang bagus, Sayang. Artinya muridmu ini sedang berusaha membuka hati untuk pasangannya kelak," bela Violet sambil menatap suaminya lembut.

"Kau lihat dia, Sayang? Wajahnya sudah memerah karena malu," kelakar William.

Ia kemudian berjalan menghampiri Benjamin dan duduk di samping muridnya itu. "Sudahlah, kau istirahat lagi dan tidur. Aku harus membicarakan urusan pekerjaan dengannya."

Begitu Violet kembali memejamkan mata, raut wajah William berubah serius. "Jadi, kapan kita akan kembali bertugas, Ben?"

Sebagai seorang Archmage, William memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dimensi immortal. Tugasnya membentang luas, mulai dari memberantas monster, memburu makhluk kegelapan, hingga mengobati ras immortal dari berbagai klan. Kemampuan psikometrinya—mampu membaca masa lalu seseorang hanya lewat sentuhan fisik—serta wujud aslinya sebagai bangsa Pegasus bersayap putih agung menjadikannya sosok yang sangat disegani.

"Kira-kira seminggu lagi, Master. Kita harus kembali ke Ljosalfar, wilayah para Elf Cahaya di Alfheimr," jawab Benjamin.

William mengernyitkan dahi. "Ada apa lagi dengan ras itu? Kenapa dalam empat belas tahun terakhir ini kita sering sekali mendapat panggilan ke sana?"

Benjamin menghela napas panjang. "Sama seperti sebelumnya. Beberapa rakyat Elf Cahaya kembali terserang penyakit aneh. Sepertinya kita harus menyiapkan stok air suci yang cukup banyak untuk dibawa ke sana."

Bagi bangsa penyihir, air suci adalah penawar paling mutakhir yang mampu meluruhkan segala jenis kutukan dan sihir terlarang.

"Baiklah, persiapkan semuanya. Kabari aku jika semua perbekalan sudah siap," perintah William.

"Baik, Master. Kalau begitu, saya harus segera kembali ke rumah untuk meracik ramuan herbal. Semoga Nyonya Violet bisa segera pulang," ucap Benjamin seraya bangkit berdiri.

Benjamin tahu fisik seorang Dryad akan pulih dengan sangat cepat setelah melahirkan. Jika saja mereka masih berada di Alfheim, Violet pasti lebih memilih melahirkan di bawah bimbingan tabib hutan ketimbang mendatangi rumah sakit manusia seperti ini.

"Terima kasih sudah berkunjung, Mage," ucap Violet tulus dari atas ranjangnya.

"Hati-hati di jalan, Ben," tambah William.

Benjamin membungkuk hormat, lalu mulai merapal mantra. Seketika, dinding di sekitarnya berpendar keemasan. Dalam sekejap mata, tubuhnya lenyap tanpa jejak.

Wusss!

Sepasang sepatu bot Benjamin menginjak dedaunan kering. Namun, ia tidak mendarat di dalam rumah kayunya yang terletak di atas bukit Hutan Perak Vespera. Ia justru terdampar di halaman luar.

Benjamin tertegun. Menggunakan sihir teleportasi ke tempat yang sudah sering ia kunjungi seharusnya tidak akan pernah meleset.

Tadi pun, saat mendatangi rumah sakit, koordinat sihirnya mendadak melenceng dan memaksanya mendarat di taman samping rumah sakit—tepat sebelum ia tidak sengaja menangkap tubuh gadis bermata zamrud yang hampir pingsan itu.

Ini sangat aneh. Kenapa baru kali ini sihir teleportasiku bisa terganggu berturut-turut?

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!