Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BELATI DI BALIK KATA-KATA
Lorong kantor polisi itu terasa lebih dingin dan pengap daripada yang pernah dibayangkan Vanya. Aroma pembersih lantai yang tajam bercampur dengan bau apak dari dinding-dinding tua yang mengelupas, menciptakan atmosfer yang menyesakkan paru-paru. Setiap langkah kaki Vanya bergema, menciptakan irama kegelisahan yang memuncak di dadanya. Ia tidak bisa diam saja. Logikanya dihantam habis-habisan oleh kesaksian polisi, namun di sudut hatinya yang paling gelap, ada suara kecil—begitu kecil hingga nyaris tak terdengar—yang terus membisikkan pembelaan untuk Reyhan.
Atas bantuan koneksi Clarissa yang "luar biasa", Derian dan Vanya diperbolehkan masuk ke ruang pemeriksaan khusus untuk bertemu langsung dengan saksi kunci—si pelaku begal yang tempo hari tertangkap warga. Di balik jeruji besi yang kusam dan berkarat, pria itu duduk dengan wajah tertunduk, tangannya yang terborgol saling bertautan dengan gelisah.
"Kamu... kamu benar orang yang menyerang saya malam itu?" suara Vanya bergetar. Matanya yang sembab menatap tajam pria berbaju oranye tersebut, mencari secuil kebohongan di sana.
Pria itu mendongak sekilas, menatap Vanya dengan mata yang tampak penuh penyesalan—akting yang sempurna berkat arahan Derian. "Iya, Nona... Maafkan saya. Saya hanya orang kecil yang tergiur uang."
"Coba ceritakan detail kejadiannya. Semuanya! Jangan ada yang terlewat sedikit pun, atau aku pastikan kamu membusuk di penjara selamanya!" tuntut Vanya, suaranya naik satu oktav karena emosi yang meluap.
Pria itu menarik napas panjang, memulai narasi racun yang sudah disusun rapi oleh Derian dan Clarissa. "Malam itu, Nona memakai baju merah... yang sangat mencolok. Jalan Nona sedikit sempoyongan saat keluar dari restoran, sepertinya Nona sedang pusing atau mabuk. Kami sudah mengincar Nona dari kejauhan atas perintah Bang Reyhan."
Jantung Vanya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Deskripsi baju merah itu... benar. Malam itu ia memang memakai gaun merah maroon kesukaannya. Bagaimana orang ini bisa tahu sedetail itu jika dia bukan pelakunya?
"Lalu? Apa yang dilakukan Bang... maksudku, Reyhan?" tanya Vanya lagi, tenggorokannya terasa kering.
"Kami berniat menarik tas Nona. Tapi Nona melawan dan berteriak. Saat itulah Bang Reyhan keluar dari kegelapan dan memukul tengkuk Nona sampai Nona pingsan seketika. Itu bagian dari rencana, agar dia bisa jadi pahlawan saat warga datang."
Vanya terhuyung mundur. Air mata mulai mengalir deras di pipinya yang pucat.
"Melihat Nona yang pingsan... maaf Nona, kami jadi bergairah. Ingin mencicipi tubuh Nona. Dan jujur, Nona... itu sebenarnya adalah ide Bang Reyhan. Dia bilang, 'Ambil tasnya, tapi wanitanya buat senang-senang dulu'. Kami membawa Nona ke sebuah rumah tua kosong di pinggiran gang. Baru saja kami mau... mulai melepas kancing baju Nona, tiba-tiba ada suara warga. Saya ketakutan dan kabur lewat jendela belakang. Tapi Bang Reyhan cerdik, dia sengaja tinggal di sana dan pura-pura baru datang menolong supaya dianggap penyelamat. Selanjutnya saya tidak tahu lagi, saya lari karena takut mati dikeroyok."
"BOHONG!" Vanya menjerit, menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Dunianya serasa berputar hebat. Detailnya sangat persis. Bajunya, rumah tuanya, pingsannya. Semuanya masuk akal di dalam otaknya yang sedang kacau.
Jadi selama ini... pria yang ia anggap pahlawan, pria yang sempat membuatnya merasa nyaman saat kehujanan di motor, adalah iblis yang merencanakan penghancuran kehormatannya?
Hasutan Sang Serigala Berbulu Domba
Derian yang sejak tadi berdiri dalam kegelapan di belakang Vanya, segera melangkah maju. Dengan gerakan yang nampak sangat tulus, ia merangkul bahu Vanya yang bergetar hebat akibat tangis histeris.
"Percaya kan, Vany? Masih mau membela 'Kecoa' itu?" bisik Derian dengan nada prihatin yang dibuat-buat, namun di dalamnya terselip kemenangan yang mutlak.
"Tapi Der... kalau dia memang ingin memperkosaku atau mencelakaiku, kenapa dia tidak melakukannya selama satu tahun ini di rumah? Ada banyak kesempatan saat aku sendirian, saat aku tidur di kamar..." Vanya mencoba mencari celah terakhir untuk tetap percaya pada sisa-sisa hati nuraninya.
Derian tersenyum sinis, menarik Vanya menjauh dari ruang sel agar suaranya tidak terdengar orang lain. "Vany, penjahat kelas kakap itu bermain rapi. Dia tidak hanya ingin tubuhmu. Itu terlalu kecil baginya. Dia ingin sesuatu yang lebih besar dari sekadar kepuasan sesaat."
"Apa yang lebih besar dari itu?" tanya Vanya lirih.
"Perusahaan Hutama," jawab Derian mantap. "Dia tahu Papa sedang sakit-sakitan. Dia mendekatimu, membuatmu jatuh cinta perlahan, masuk ke hatimu sampai kamu mau menikahinya secara sah. Jika dia jadi suamimu yang sah secara hukum, seluruh aset Papa akan jatuh ke tangannya. Pernikahan kontrak kalian? Itu hanya umpan! Dia sedang bermain peran sebagai 'si supir baik hati' demi tahta yang besar. Dia ingin jadi raja di rumahmu, Vanya!"
Penjelasan Derian seperti kepingan puzzle yang terjatuh tepat di tempatnya. Logika Vanya yang sedang rapuh langsung menelan mentah-mentah semua hasutan itu. Rasa simpati dan haru yang selama ini ia rasakan terhadap Reyhan mendadak menguap, berganti dengan rasa jijik dan benci yang membara.
"Aku ingin bertemu dengannya. Sekarang juga," ucap Vanya dengan suara dingin yang menusuk.
Pertemuan di Balik Jeruji: Patahnya Sebuah Harapan
Reyhan duduk di sudut sel yang remang-remang. Kakinya yang digips diletakkan di atas lantai semen yang keras dan dingin. Denyut nyeri di kakinya akibat tendangan Derian tadi pagi masih terasa menyiksa, namun hatinya jauh lebih perih.
Saat melihat sosok Vanya muncul di depan selnya, mata Reyhan sempat berbinar sekilas—sebuah harapan kecil bahwa gadis itu datang untuk membawanya pulang. Namun, binar itu seketika meredup dan mati total saat ia melihat kebencian yang terpancar murni dari mata indah Vanya.
"Rey... jawab jujur. Apa kamu pelakunya? Apa kamu yang menyuruh mereka?" tanya Vanya tanpa basa-basi, suaranya datar namun bergetar.
Reyhan mendongak, menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara harga diri yang terluka, harga diri seorang Dirgantara, dan ketenangan yang mematikan. "Apa wajah saya terlihat seperti wajah seorang pendusta di mata Nona?"
"Aku tidak ingin bermain teka-teki! Aku ingin jawaban. Iya atau tidak?!" bentak Vanya, tangannya mencengkeram jeruji besi hingga buku jarinya memutih.
"Jika saya jawab tidak, apa Nona akan percaya? Setelah semua racun yang masuk ke telinga Nona sejak tadi pagi?" Reyhan balik bertanya dengan nada melankolis yang membuat hati siapa pun yang mendengar akan teriris.
Vanya mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa motivasi kamu menerima menikah kontrak denganku? Mengapa kamu bertahan di gudang kumuh itu saat Papa menyuruhmu pergi? Kenapa?!"
Reyhan terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia adalah seorang Dirgantara yang sedang menjalankan ujian hidup. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia bertahan karena ia mulai mencintai "Nona Manja" yang sering memakinya namun punya hati yang rapuh itu.
"Karena... saya butuh tempat bernaung," jawab Reyhan pendek, menyembunyikan kebenaran di balik kalimat sederhana.
"BOHONG!" teriak Vanya, air matanya tumpah lagi. "Kamu bohong, Rey! Papa sudah memberikanmu kebebasan, tapi kamu tetap memilih tinggal di gudang itu tanpa gaji sepeser pun! Aku nggak percaya ada orang semulia itu di dunia ini kalau tidak punya maksud terselubung untuk menguasai hartaku!"
"Jadi menurut Nona, saya sejahat itu?" tanya Reyhan pelan.
"Ya! Kamu pembohong besar! Aku sudah tidak percaya lagi padamu, selamanya! Kamu... kamu cuma kecoa busuk yang mencoba menyamar jadi pahlawan agar bisa masuk ke istanaku!" Vanya meledak. Rasa kecewanya berubah menjadi racun kebencian yang mematikan.
Reyhan memejamkan matanya sejenak, menelan semua penghinaan itu bulat-bulat. "Baik, Nona. Jika itu yang Nona yakini, jika itu yang Nona pilih untuk dipercaya... maka saya tidak akan bicara lagi. Anggap saja semua yang Nona dengar itu benar."
"Benar kan apa yang dikatakan Derian? Kamu mengincar perusahaan Papa melalui aku, kan? Kamu memainkan perasaanku agar aku iba?!"
Reyhan berdiri dengan susah payah, menatap Vanya dengan tatapan yang sangat tajam, sebuah tatapan yang membuat Vanya sedikit gentar dan mundur satu langkah. "Kapan saya memainkan perasaan Nona? Bukankah Nona sendiri yang selalu bilang tidak pernah punya perasaan pada saya? Mengapa sekarang Nona bertingkah seperti korban perasaan?"
Reyhan melangkah mendekat ke jeruji, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajah Vanya. "Ingat satu hal, Nona... saya tidak pernah sekalipun menyatakan perasaan saya. Status kita hanya di atas kertas. Jika Nona merasa sakit hati, mungkin itu karena Nona sendiri yang membiarkan perasaan itu tumbuh, bukan karena saya memintanya."
Kata-kata itu menghantam Vanya seperti bogem mentah. Telak. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di ruangan itu menghilang. Ia merasa sangat bodoh dan murahan.
"Hukum dia, Pak! Seberat-beratnya!" teriak Vanya kepada petugas polisi yang berjaga. "Aku benci kamu, Reyhan! Kamu gembel yang tidak tahu diri! Aku ingin kamu membusuk di sini!"
Bisikan Iblis di Ujung Sel
Vanya berbalik dan lari pergi dengan langkah seribu, tidak ingin melihat wajah Reyhan sedetik pun lagi. Derian tetap tinggal di sana sebentar. Ia mendekat ke jeruji besi, menatap Reyhan dengan senyum kemenangan yang paling busuk.
"Jangan sok jadi pahlawan, Gembel. Di sini, uang dan koneksi adalah tuhan," bisik Derian pelan agar tidak terdengar petugas. "Asal kamu tahu, Vanya itu milikku. Sebentar lagi dia akan memohon padaku untuk menikahinya secara resmi. Dan kamu... kamu akan mati pelan-pelan di sel ini tanpa ada yang peduli."
Mata Reyhan berkilat. Kilat yang sama yang ia gunakan saat menghancurkan musuh-musuh bisnisnya di Menara Dirgantara. Dengan gerakan yang sangat cepat, meski kakinya patah, Reyhan menjulurkan tangannya melalui sela jeruji, mencengkeram kerah baju Derian dan menariknya hingga wajah mereka membentur besi jeruji.
"Aku akan buat kamu mati perlahan, Derian," ucap Reyhan dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Derian meremang. "Ingat kata-kataku. Aku akan menghancurkanmu sampai kamu memohon untuk mati. Dirgantara tidak pernah melepaskan mangsanya."
"PAK! TOLONG PAK! INI NAPINYA NGAMUK!" teriak Derian ketakutan sambil meronta melepaskan diri.
Setelah terlepas, Derian merapikan jasnya dengan tangan gemetar, lalu meludah ke arah kaki Reyhan. "Mau bunuh aku? Cuih! Mimpi kamu! Yang ada kamu akan mati sebagai sampah masyarakat!"
Derian berlari menyusul Vanya, meninggalkan Reyhan yang kembali duduk di pojok sel yang gelap. Reyhan menatap tangannya yang tadi mencengkeram Derian, lalu beralih menatap pintu keluar tempat Vanya menghilang.
"Nona... kamu sudah memilih pihak yang salah," bisik Reyhan pada kegelapan. "Dan untukmu Derian... selamat menikmati masa keemasanmu yang singkat. Karena badai Dirgantara akan segera datang, dan saat itu terjadi, tidak akan ada tempat bagimu untuk bersembunyi."
Di sudut sel, alat pelacak di dalam gips Reyhan berkedip merah—menandakan bahwa tim khusus Dirgantara kini sudah mendapatkan semua bukti rekaman percakapan Derian di kantor polisi. Singa itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan