Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi Istana
Kembali ke lantai dua paviliun, Zhi Ruo tidak melihat keberadaan sosok bertopeng di dekatnya.
“Di mana Tuan?” Tubuhnya berputar mencari, tetapi ia tidak begitu berharap menemukannya. “Biarkan saja. Sekarang aku sudah memiliki sebuah artefak dan satu pil Darah Naga. Dan aku pun menjadi pengurus paviliun ini. Aku tidak boleh mengecewakan tuanku.”
Ia beranjak turun menemui para tetua yang masih berdiri di luar paviliun. Tatapan mereka penuh selidik, tetapi sebelum mereka sempat melontarkan tanya, ia keluarkan Cermin Langit Abadi ke hadapan mereka semua.
“Inilah yang kudapat!” ucapnya bangga. “Dan satu lagi, mulai sekarang aku adalah pemilik gedung ini.”
Pupil mata semua orang melebar. Mereka tercekat, tidak menyangka seorang tetua sekte berani mengatakan hal yang begitu berani. Bukan soal klaim atas bangunan yang tiba-tiba muncul, melainkan karena lokasi yang dianggap sakral oleh Kekaisaran Qin merupakan tempat yang tidak boleh disentuh oleh pihak mana pun.
Bisikan liar tak lagi terbendung. Kasak-kusuk di antara mereka merayap begitu cepat. Para tetua dari Sekte Formasi Langit tergesa mendekati Zhi Ruo. Mereka sedikit panik dan juga heran melihat wanita cantik itu tampak begitu tenang.
“Ruo’er, apa kau tahu konsekuensi dari ucapanmu itu?” bisik seorang tetua sekte terlihat was-was. Berkali-kali ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Tentu saja aku tahu, Tetua Fei, tapi apa yang salah dengan ucapanku?”
“Kau sendiri tahu jika tempat ini merupakan area sakral Kekaisaran Qin. Bukankah itu artinya sekte Formasi Langit kita akan diperangi kekaisaran?” Fei Zhen berusaha mengingatkan.
Zhi Ruo dekatkan bibirnya ke telinga Tetua Fei. “Tetua tenang saja. Aku tidak akan melibatkan sekte ke dalam masalah ini,” bisiknya.
“Apa maksudmu?” Semakin bingung Tetua Fei Zhen dibuatnya.
“Mari kita kembali ke sekte!” Hanya itu yang dilontarkan Zhi Ruo. Ia berjalan anggun membelah kerumunan yang menatapnya penuh tanya.
Qin Zhao yang memperhatikannya dari kejauhan cukup puas dengan kepatuhan pelayannya itu. Ia pun menghilang meninggalkan kerumunan.
Satu per satu dari mereka pergi meninggalkan wilayah Gerbang Timur, tetapi beberapa kelompok masih menahan diri untuk mencari harta karun yang mungkin bisa ditemukan di dalam paviliun.
“Apa kalian percaya di dalam bangunan itu hanya meninggalkan sebuah artefak?” tanya seorang pria dengan seringainya yang dingin.
Lebih dari sepuluh orang yang masih bertahan di lokasi menggelengkan kepala. Mereka menolak untuk percaya begitu saja.
“Kalau begitu, mari kita sama-sama masuk ke dalam,” kata orang yang sama melanjutkan.
Mereka mengangguk dan bersama-sama masuk ke dalam paviliun dengan berbagai harapan. Akan tetapi, setelah menelusuri ke setiap sudut, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan harta berharga. Raut kecewa tergambar jelas di wajah para kultivator. Banyak di antara mereka yang menggeram kesal.
“Kurang ajar! Wanita itu tidak menyisakan apa pun untuk kita!” geram pria berkuncir kuda seraya mengepalkan erat kedua tangannya.
“Dia tidak sepenuhnya salah. Bukankah hanya dia yang sanggup menembus formasi?” bela gadis bergaun merah. Mulutnya melengkung membentuk senyum.
***
Sekembalinya Zhi Ruo bersama para tetua ke Sekte Formasi Langit, ia tidak menunda waktu untuk segera mengumpulkan mereka semua di aula sekte. Tatapannya menyapu barisan tetua sekte, memastikan tidak ada satu pun tetua yang tertinggal.
“Aku tahu ini terlalu cepat dan tanpa rencana, tetapi semua ini sudah aku pertimbangkan dengan matang. Sekarang aku menjadi pemilik Paviliun Hitam. Untuk itu, aku akan melepas status ketua sekte dan menyerahkannya kepada Tetua Fei Zhen. Aku minta maaf jika selama ini banyak kekurangan dalam memimpin sekte,” beber Zhi Ruo.
Para tetua sekte saling melirik dengan kebingungan yang melanda. Berbagai asumsi liar bersemayam di benak mereka, tetapi satu yang menjadi kesamaan dari banyaknya pemikiran, apa alasan sebenarnya dari Zhi Ruo hingga begitu rela melepas status?
“Lima tahun sejak kau memimpin, sekte kita sudah memiliki nama di dunia kultivasi. Meski belum sebanding dengan sekte-sekte besar, tetapi kita sangat diperhitungkan. Aku khawatir keputusanmu akan membuat sekte mengalami kemunduran. Tolong dipertimbangkan kembali keputusanmu!” ujar Tetua Fei Zhen.
“Betul yang disampaikan Tetua Fei. Kami mohon Ketua Sekte untuk mempertimbangkannya kembali!” sambung seorang tetua yang diikuti tetua lainnya.
“Aku bangga kepada kalian semua yang tidak menyinggung soal istana. Itu menunjukkan kalian punya dedikasi yang tinggi bagi sekte, tetapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin menarik sekte ke dalam masalah ini,” jelas Zhi Ruo.
“Boleh kami tahu siapa orang yang kau temukan di dalam paviliun? mungkin saja kami rela dan akan mendukung penuh keputusanmu, Adik Ruo’er.” Tetua Fei Zhen tahu, Zhi Ruo tidak bisa lagi dipaksa. Ia dan tetua lainnya hanya ingin mendapatkan alasan yang bisa diterima.
“Penguasa Gerbang Timur,” jawab Zhi Ruo.
Kening para tetua mengerut. Mereka tidak pernah tahu ada orang yang menguasai Gerbang Timur selain Kaisar itu sendiri. Tatapan mereka penuh tanya.
“Sejujurnya, aku sendiri baru mengetahuinya. Kalian tidak perlu khawatir, aku yakin dengan posisiku ini bisa menjadi batu loncatan bagi sekte untuk berkembang pesat.”
Meski kebingungan masih belum terurai, para tetua sekte akhirnya menerima keputusan Zhi Ruo dan siap menanggung segala konsekuensi yang akan dihadapi, terutama dari pihak istana yang akan datang menuntut penjelasan.
***
Beberapa hari berlalu, berita tentang berdirinya bangunan paviliun di area Gerbang Timur telah sampai di telinga Kaisar Qin Zhang. Beliau begitu murka melebihi murkanya ketika mengetahui kabar yang dialami oleh putranya, Qin Zhao.
“Ini merupakan penghinaan terhadap kekaisaran dan juga para leluhur. Apa yang membuat mereka begitu lancang?” geram Kaisar di depan para pejabat.
“Dari informasi yang kami dapat, bangunan hitam itu muncul setelah fenomena langit terbakar. Banyak yang percaya bangunan itu terbentuk dari fenomena tersebut. Hamba harap Yang Mulia bisa menugaskan kami untuk menyelidikinya lebih lanjut!” ujar Perdana Menteri Li Wudang.
Kaisar Qin Zhang menyeringai seraya mengelus janggut. Dalam pemikirannya, ia menduga bangunan itu memiliki sesuatu yang berharga bagi kekaisaran. Apalagi posisinya tepat di dalam area Gerbang Timur. Itu berarti bangunan tersebut mutlak menjadi aset istana yang tidak boleh diganggu gugat pihak mana pun.
Namun, ada satu hal yang paling mendesak bagi Kekaisaran Qin saat ini, yaitu meredam kerusuhan yang terjadi di beberapa kota besar.
Akhirnya Kaisar Qin Zhang mengeluarkan dekrit: Operasi penindakan besi untuk meredam kerusuhan yang terjadi di berbagai kota; mengutus Pangeran Qin Canglan ke Gerbang Timur, serta mengutus Perdana Menteri Li Wudang untuk menuntut penjelasan kepada Sekte Formasi Langit.
***
Embusan angin tak mampu meredam teriknya sang mentari. Bukit-bukit yang mengelilingi tandusnya lembah Gerbang Timur pun merasakan kegersangan yang teramat sangat. Retakan demi retakan terbentuk di permukaan tanah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang pemuda yang begitu tenang memandang ke arah paviliun. Sengatan matahari tak lagi mampu mengusiknya.
Tenang di permukaan, bergejolak di kedalaman. Itulah yang sedang dihadapi oleh Qin Zhao.
“Meskipun aku sudah menguasai semua teknik dari Leluhur, tetapi rasanya masih begitu hampa. Aku bahkan tidak tahu kemampuanku berada di mana jika dibandingkan dengan para kultivator. Apakah setara dengan mereka yang berada di ranah nascent soul? Atau mungkin hanya sebanding dengan mereka yang berada di ranah golden core?” gumamnya lirih.
Melihat dari formasi yang diciptakannya hanya mampu ditembus oleh Zhi Ruo yang berada di ranah nascent soul puncak, Qin Zhao seharusnya cukup percaya diri pada kemampuannya saat ini. Akan tetapi, ranah itu bukanlah puncak dari piramida kultivasi. Oleh karena itu, ia harus meningkatkan diri demi mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Gerbang Timur.
Menempuh jalan kultivasi sudah tertutup untuknya. Setelah penempaan tubuh yang tidak disengaja kala memasuki mulut Goziro, Qin Zhao kehilangan seluruh kultivasinya. Ia tidak lagi memiliki akar spiritual, tidak ada dantian, dan tidak lagi memiliki titik meridian sebagaimana tubuh para kultivator. Namun, ia masih memiliki roh untuk berkultivasi.
Meski jauh lebih sulit dari kultivasi biasa, inilah jalan yang harus ditempuhnya untuk meningkatkan diri. Jalan ini bernama: kultivasi jiwa.