NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Angin malam berhembus kencang melewati pepohonan besar di pinggiran kota Jakarta.

Daun-daun kering berserakan di halaman sebuah mansion tua yang sudah lama terbengkalai.

Cat dinding luar bangunan itu sudah banyak yang mengelupas karena tidak terawat sama sekali.

Ini adalah mansion tua milik keluarga Pratama yang menjadi saksi bisu kejahatan masa lalu.

Sret.

Sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan gerbang besi berkarat bangunan itu.

Lampu depan mobil dimatikan secara perlahan untuk menyembunyikan kedatangan mereka.

Tiga orang turun dari dalam mobil tersebut memecah kesunyian malam yang mencekam.

Sony menatap lekat ke arah bangunan tua di depannya dengan pandangan yang sangat dingin.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket kulit hitam yang dia kenakan.

Leo berdiri setia di belakangnya sambil membawa sebuah senter berukuran sedang.

Sedangkan Nadhira berjalan merapatkan jaketnya karena merasa kedinginan.

"Tempat ini menyeramkan sekali."

Nadhira bergumam pelan sambil menggosok kedua lengannya sendiri.

"Apa kau yakin Dimas akan datang kemari sendirian sesuai permintaanmu?"

Sony mulai melangkahkan kakinya melewati gerbang berkarat itu tanpa ragu.

Kriet.

Suara engsel besi tua berderit cukup keras menembus keheningan malam.

"Dia pasti akan datang malam ini."

"Tapi dia tidak mungkin datang sendirian menemui kita."

"Pengecut sepertinya selalu bersembunyi di belakang punggung orang lain."

Sony menjawab pertanyaan Nadhira dengan nada suara yang sangat tenang.

Nadhira mengerutkan keningnya karena merasa semakin cemas.

"Lalu kenapa kau hanya membawa Leo bersamamu malam ini?"

"Bagaimana kalau dia membawa puluhan preman bersenjata api untuk membunuhmu?"

Leo yang berjalan di belakang tersenyum tipis mendengar kekhawatiran wanita jurnalis itu.

"Nona Nadhira tidak perlu cemas memikirkan hal itu."

"Bahkan jika Dimas membawa satu batalyon tentara bayaran kemari, Tuan Sony tidak akan terluka sedikit pun."

"Anda hanya perlu bersembunyi di tempat aman dan merekam semuanya nanti."

Nadhira menelan ludah mendengar keyakinan mutlak dari asisten pria itu.

Dia kembali memegang erat kamera kecil yang tergantung di dadanya.

Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam ruang tamu utama mansion yang dipenuhi debu tebal.

Bau kayu lapuk dan tanah basah langsung menyengat lubang hidung mereka.

Di saat yang bersamaan, di sebuah jalan raya sepi yang mengarah ke lokasi mansion.

Tiga mobil van hitam melaju beriringan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Sorot lampu ketiganya membelah kegelapan jalanan pinggir kota secara agresif.

Di dalam mobil van pertama, Dimas duduk dengan wajah yang sangat pucat pasi.

Dia memegang sebuah pistol revolver perak di tangan kanannya dengan kuat.

Tangannya masih sedikit gemetar namun matanya memancarkan niat membunuh yang sangat pekat.

Rina tidak ada di sampingnya untuk menemaninya malam ini.

Beberapa jam yang lalu, Rina memohon padanya sambil menangis agar mereka kabur saja ke luar negeri.

Tapi Dimas yang sudah kehilangan akal sehatnya malah menampar wanita itu dan menguncinya di kamar.

Dia tidak mau hidup miskin dan menjadi buronan menyedihkan seumur hidupnya.

Dia memilih mempertaruhkan sisa uang terakhirnya untuk menyewa sekelompok pembunuh bayaran jalanan.

"Bos, kita sudah hampir sampai di lokasi tujuan."

Seorang pria berbadan besar dengan tato tengkorak di lehernya berbicara dari kursi depan.

Dia adalah ketua kelompok bayaran yang disewa Dimas malam ini.

"Ingat tugas kalian semua di dalam sana nanti."

Dimas bersuara parau sambil menatap pria bertato itu dari kaca spion tengah.

"Begitu kita masuk, tembak siapapun yang ada di dalam sana tanpa perlu banyak bicara."

"Aku mau kepala Sony hancur malam ini juga."

"Jika kalian berhasil, sisa uang lima milyar di koper belakang ini sepenuhnya milik kalian."

Dimas menendang pelan sebuah koper besi yang ada di bawah kakinya.

Pria bertato itu tertawa serak mendengar janji manis uang tunai tersebut.

"Tenang saja, Bos Dimas."

"Kami ini punya pengalaman puluhan tahun menghabisi target di tempat sepi seperti ini."

"Dua puluh orang bersenjata laras panjang sudah siap memberondong musuhmu itu sampai hancur."

Mobil van mereka akhirnya sampai di depan gerbang mansion tua itu.

Cicit.

Suara rem berdecit keras saat ketiga mobil itu berhenti secara mendadak.

Pintu-pintu samping mobil terbuka dengan sangat cepat dan kasar.

Tap tap tap.

Puluhan langkah kaki sepatu bot berlarian menyebar mengepung area halaman depan mansion.

Mereka semua membawa senjata api selundupan berbagai jenis di tangan masing-masing.

Dimas turun paling terakhir dengan wajah yang sudah dipenuhi keringat dingin.

Dia menatap tajam ke arah mobil SUV hitam milik Sony yang terparkir santai di sana.

"Dia benar-benar sudah menungguku di dalam."

Dimas bergumam pelan sambil mengokang senjata peraknya.

Klak.

"Kepung semua pintu keluar dan jendela di lantai bawah bangunan ini."

Pria bertato itu memberi isyarat tangan kepada seluruh anak buahnya.

"Jangan biarkan ada satu lalat pun yang bisa terbang keluar dari sana hidup-hidup."

Mereka semua bergerak menyelinap dengan cepat masuk ke dalam rumah tua tersebut.

Di dalam ruang tamu utama, Sony sedang duduk santai di atas sebuah kursi kayu usang.

Dia menyilangkan kakinya dengan tenang seolah sedang menunggu tamu kehormatan datang.

Leo berdiri waspada di samping pintu masuk ruangan utama.

Sedangkan Nadhira bersembunyi di lantai dua yang gelap gulita.

Kamera Nadhira sudah menyala dari atas balkon merekam ke arah ruang tamu di bawah.

Brak.

Pintu utama ruang tamu ditendang dengan sangat keras dari arah luar.

Engsel kayu yang sudah lapuk langsung patah dan daun pintunya jatuh berdebum ke lantai.

Dimas melangkah masuk dengan angkuh diikuti oleh sepuluh orang pria bersenjata.

Mereka semua langsung menodongkan laras senapan ke arah kursi di tengah ruangan.

"Akhirnya kau berani datang juga, Dimas."

Sony menyapa dengan senyum tipis tanpa mengubah posisi duduknya sama sekali.

Dimas menatap nyalang ke arah musuh bebuyutannya yang sedang duduk santai itu.

"Mati kau, Sony."

"Tembak dia sekarang juga sampai hancur."

Dimas berteriak histeris memberikan perintah eksekusi tanpa mau berbasa-basi lagi.

Dia sudah terlalu trauma dan ketakutan dengan semua kejutan gila yang Sony berikan padanya.

Para pembunuh bayaran itu langsung menarik pelatuk senjata mereka secara serentak.

Dor dor dor dor.

Puluhan peluru panas menyembur ganas dari laras senapan memecah kesunyian malam.

Percikan api dari ujung senjata menerangi ruangan gelap itu selama beberapa detik.

Kursi kayu tempat Sony duduk langsung hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu.

Asap mesiu yang pekat langsung memenuhi seluruh penjuru ruangan tamu tersebut.

Dimas terengah-engah dengan dada naik turun menahan nafasnya sendiri.

"Aku berhasil membunuhnya."

"Aku akhirnya benar-benar membunuh monster keparat itu."

Dimas tertawa sumbang dengan mata terbuka lebar seperti orang gila.

Namun tawa bahagia Dimas tiba-tiba berhenti saat asap mesiu mulai perlahan menghilang tertiup angin.

Tidak ada satupun mayat bersimbah darah di atas tumpukan kursi kayu yang hancur itu.

Hanya ada lantai kosong yang sudah berlubang-lubang parah akibat peluru tembakan.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!