Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Garis Kematian
Malam di Benua Utara selalu panjang dan dipenuhi oleh lolongan angin yang membawa hawa kematian. Di dalam gua es di bawah Puncak Pedang, Zeng Niu duduk bersila dalam kegelapan.
Napasnya perlahan menjadi stabil. Jiwanya yang sempat terkuras habis akibat memotong Benang Karma Kaisar Naga kini mulai pulih, didukung oleh Qi Taiyin murni yang dialirkan oleh Zhao Ying.
Zeng Niu membuka matanya. Tidak ada kilatan emas gelap yang menyilaukan; ia sengaja menekan fluktuasi Tulang Emas Asura-nya hingga batas terdalam, menyembunyikannya di balik kabut Niat Ketiadaan. Di permukaan, kultivasinya hanya terlihat seperti Soul Transformation Tahap Menengah yang agak tidak stabil.
Di dunia kultivasi yang dipenuhi oleh monster tua pemakan manusia, Zeng Niu bukanlah seseorang yang mudah percaya. Kebaikan adalah kemewahan yang hanya bisa dibeli oleh orang mati. Dan menunjukkan seluruh kekuatan yang dimiliki... sama saja dengan menggali liang lahat sendiri.
Zeng Niu memutar secarik kain abu-abu di tangannya—potongan jubah dari pembunuh Paviliun Dunia Bawah yang ia lepaskan sebelumnya.
Ia tidak membunuh utusan itu bukan karena ia memiliki belas kasih. Ia tidak pernah membunuh tanpa tujuan, dan ia tidak pernah mengejar konflik tanpa alasan yang menguntungkannya. Pembunuh itu dibiarkan hidup semata-mata untuk menjadi pion yang menyebarkan teror di Benua Tengah, sebuah bidak dalam papan catur yang lebih besar.
Dalam kesunyian gua es itu, filosofi bertahan hidup Zeng Niu berputar di dalam Lautan Kesadarannya. Ini adalah hukum yang membuatnya bisa merangkak dari seorang pemuda fana menjadi eksistensi yang ditakuti oleh dewa.
Setiap kali menghadapi musuh atau situasi baru, Zeng Niu tidak pernah membiarkan insting asuranya mengambil alih dan berpikir: "Bagaimana cara membunuhnya?"
Membunuh adalah hal yang mudah; itu hanyalah hasil dari sebuah tebasan pedang. Namun, alasan di balik ayunan pedang itu jauh lebih penting daripada kekuatan musuh.
Sebelum bertindak, Zeng Niu selalu mengajukan Tiga Pertanyaan di dalam benaknya: "Apa yang dia inginkan?" "Apa yang dia takutkan?" "Apa yang dia sembunyikan?"
Jawaban dari ketiga pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah seseorang akan menjadi alat, sekutu, atau mayat.
"Keluarga Kuno Ye..." gumam Zeng Niu memecah keheningan, membedah musuhnya dengan dingin.
"Apa yang mereka inginkan? Informasi tentang kehancuran armada Istana Pusat." "Apa yang mereka takutkan? Eksistensi tersembunyi tingkat Nirvana di sekte kita." "Apa yang mereka sembunyikan? Ketidakstabilan politik di Benua Tengah. Jika mereka benar-benar kuat dan bersatu, mereka akan langsung mengirim pasukan, bukan menyewa pembunuh bayaran."
Zeng Niu tersenyum tipis. "Karena mereka takut... aku akan memberi mereka sesuatu yang sangat menakutkan untuk dipikirkan. Namun, sebelum Benua Tengah bergerak lagi, sepertinya lalat-lalat lokal di Utara sudah mencium bau madu."
Zeng Niu selalu memiliki rencana cadangan. Sebelum ia turun ke gua es ini, ia telah menanam puluhan Mata Formasi Ilusi di sekitar perbatasan Puncak Pedang. Saat ini, salah satu mata formasi itu berkedip.
Ada tamu tak diundang yang sedang melayang di luar gerbang sekte.
Di Luar Gerbang Puncak Pedang
Udara di luar kubah Formasi Waktu: Roda Samsara Terlarang sangatlah dingin, namun Qi spiritual yang bocor dari tiga gunung harta di dalam sekte telah mengubah badai salju di sekitarnya menjadi kabut spiritual yang sangat tebal.
Di atas kabut tersebut, melayang sebuah perahu terbang berbentuk tengkorak es. Di haluan perahu, berdiri seorang pria tua berjubah putih bersulam benang perak. Matanya sipit, dan hidungnya bengkok seperti paruh elang. Ia memancarkan fluktuasi Soul Transformation Tahap Akhir.
Ia adalah Tetua Han Ku dari Lembah Iblis Es, salah satu sekte kelas menengah di Benua Utara yang lokasinya hanya berjarak lima ribu mil dari Puncak Pedang.
"Sungguh fluktuasi Qi yang gila," gumam Han Ku, matanya memancarkan ketamakan yang luar biasa saat menatap kubah emas raksasa di depannya. "Sekte Angin Merah yang biasanya miskin tiba-tiba memiliki formasi pelindung tingkat ini, dan Qi di dalamnya sepuluh kali lipat lebih pekat dari urat nadi naga Benua Utara. Mereka pasti telah menemukan sisa-sisa reruntuhan kuno!"
Han Ku tidak datang sendiri. Di belakangnya, belasan tetua tingkat Nascent Soul berdiri bersiap.
"Tetua Han," bisik salah satu bawahan. "Apakah kita akan menyerang? Kudengar Jenderal Istana Pusat menghilang di daerah ini."
"Bodoh! Kita bukan bandit jalanan," dengus Han Ku. "Kita gunakan diplomasi dulu. Kita ancam mereka dengan Aliansi Utara. Jika mereka penakut, mereka akan membagikan sebagian hartanya kepada kita."
Tepat saat Han Ku hendak mengirim transmisi suara ke dalam sekte, kabut salju di depannya terbelah.
Seorang pemuda berjubah hitam melangkah keluar dari kehampaan, tangannya disembunyikan di balik lengan bajunya. Wajahnya tenang, kulitnya agak pucat, dan fluktuasi yang ia pancarkan hanyalah Soul Transformation Tahap Menengah yang beriak tidak stabil, seolah-olah ia sedang menderita luka dalam.
Itu adalah Zeng Niu.
Melihat pemuda itu, Han Ku menyipitkan matanya. Ia memindai Zeng Niu dengan indra spiritualnya dan tertawa dalam hati. "Hanya bocah Soul Transformation Menengah yang terluka? Hah, Sekte Angin Merah benar-benar kehabisan orang."
Zeng Niu berdiri di udara, menatap Han Ku dengan pandangan datar.
Mata Zeng Niu melirik ke arah lengan baju Han Ku. "Sebuah Giok Transmisi Suara yang terhubung ke markas Lembah Iblis Es. Dia berencana memanggil bala bantuan jika situasi aman untuk merampok."
Zeng Niu tersenyum ramah, sangat sopan. "Tetua dari Lembah Iblis Es. Malam ini sangat dingin. Mengapa Anda membawa rombongan besar ke perbatasan Sekte Angin Merah kami?"
Ia tidak langsung menyerang. Membunuh utusan faksi lokal saat ini hanya akan menyatukan seluruh Benua Utara untuk melawan sektenya yang sedang berlatih di dalam Formasi Waktu. Zeng Niu tidak mengejar konflik jika ia bisa memanipulasinya.
Han Ku mengangkat dagunya dengan arogan. "Aku, Han Ku, mewakili Aliansi Gletser. Kami melihat fluktuasi Qi yang tidak wajar dari gunung kalian. Sesuai perjanjian faksi Utara, jika ada penemuan reruntuhan kuno, kekayaannya harus dibagi rata agar tidak memicu perang saudara."
Han Ku menatap Zeng Niu dengan tatapan meremehkan. "Kultivasimu sedang tidak stabil, Anak Muda. Panggil Ketua Sekte Jiu Feixue. Katakan padanya, buka formasi ini dan serahkan tiga puluh persen dari apa yang kalian temukan. Jika tidak, besok pagi, sepuluh sekte Aliansi Utara akan meratakan gunung ini!"
Zeng Niu berpura-pura menghela napas berat, wajahnya memancarkan 'keraguan' dan 'ketakutan' yang dimainkan dengan sangat sempurna.
"Tetua Han... kami memang menemukan sedikit kebetulan. Tapi tiga puluh persen terlalu besar. Bagaimana kalau sepuluh persen? Kami butuh waktu untuk mengumpulkan batu rohnya," tawar Zeng Niu, menunjukkan kelemahan palsu.
Han Ku tertawa terbahak-bahak. Kesombongannya meledak. Ketika seseorang menunjukkan kelemahan di dunia kultivasi, anjing liar akan berubah menjadi serigala kelaparan.
"Sepuluh persen?! Sekte Angin Merah kalian hanyalah sampah yang beruntung! Karena kau berani menawar, aku minta lima puluh persen! Dan formasi itu harus dibuka sekarang juga agar aku bisa memeriksanya sendiri!" Han Ku melangkah maju, melepaskan tekanan Soul Transformation Akhir-nya ke arah Zeng Niu.
Zeng Niu tetap diam. Senyum ramah masih terlukis di wajahnya. Ia masih memberikan kesempatan. Ia telah menyiapkan kantong berisi batu roh untuk 'menyuap' lalat ini agar pergi.
Namun, insting serakah Han Ku telah mengambil alih akal sehatnya. Ia tidak hanya menekan Zeng Niu, tetapi ia juga mengirimkan seutas Niat Spiritual yang tajam bagaikan jarum, mencoba menembus kabut es untuk memindai gua-gua di Puncak Pedang.
Niat Spiritual Han Ku menyapu ke arah gua es tempat Zhao Ying sedang bermeditasi!
BAM!
Senyum ramah di wajah Zeng Niu seketika membeku. Matanya yang tadinya memancarkan kelemahan palsu kini meredup, berubah menjadi hitam layaknya jurang tanpa dasar. Suhu di sekitar mereka turun hingga membekukan hukum ruang itu sendiri.
Bagi Zeng Niu, batas toleransi telah dilewati.
Menuntut harta? Itu negosiasi. Mencoba memindai dan menyentuh ranah privasi wanita miliknya? Itu adalah Garis Kematian.
Dan jika seseorang benar-benar melewati batasnya, Ia tidak akan pernah memberi kesempatan kedua.
"Tetua Han," suara Zeng Niu tidak lagi memiliki nada manusia. Itu adalah suara bisikan dari kedalaman neraka ketiadaan. "Tadinya, kau bisa pulang membawa sekantong batu roh dan menceritakan bualan palsu pada klanmu. Tapi kau baru saja mengintip ke dalam ruangan yang salah."
Han Ku merasakan hawa dingin yang luar biasa mencekik lehernya. Niat Spiritual yang ia kirimkan ke arah gua es tiba-tiba terputus, dan serangan balik dari Niat Ketiadaan menghantam Lautan Kesadarannya!
"AARGH!" Han Ku memegangi kepalanya, memuntahkan darah segar. "K-KAU... B-BUNUH DIA! BUKA FORMASI TRANSMISI!"
Belasan tetua di belakang Han Ku mencabut pedang mereka, sementara Han Ku meremukkan Giok Transmisi di dalam lengan bajunya untuk memanggil seluruh pasukan Lembah Iblis Gletser.
Namun, giok itu hancur menjadi debu tanpa memancarkan cahaya sedikit pun!
Zeng Niu tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya memutar pergelangan tangannya. Ini adalah rencana cadangannya. Sedari awal bernegosiasi, ia telah memanipulasi Domain Asura-nya untuk menyelimuti radius lima mil tanpa terdeteksi!
[Otoritas Ketiadaan: Penghapusan Konsep Suara dan Cahaya!]
Seketika, seluruh area di sekitar perahu tengkorak itu terisolasi. Jeritan belasan tetua tingkat Nascent Soul yang menerjang Zeng Niu tidak mengeluarkan suara apa pun. Cahaya dari Teknik mereka padam di tengah jalan seolah ditelan kegelapan.
Zeng Niu melangkah satu kali.
Tulang Emas Asura-nya, yang tadinya disembunyikan, kini meledak dengan massa yang membuat ruang fisik hancur berkeping-keping.
DUAAAAASH!
Ia tidak menggunakan pedang. Ia hanya berjalan menembus barisan belasan tetua Nascent Soul itu. Setiap kali bahunya menyenggol tubuh mereka, tubuh-tubuh fana itu meledak menjadi awan darah, tak sanggup menahan gesekan fisik setingkat Dewa!
Dalam dua tarikan napas, belasan tetua hancur lebur tanpa suara.
Zeng Niu tiba di depan Han Ku yang kini jatuh terduduk di geladak perahunya sendiri. Kesombongan dan ketamakan di wajah Han Ku telah digantikan oleh teror murni yang membuat matanya nyaris copot.
Bocah Soul Transformation Menengah yang terluka ini... adalah iblis primordial yang menyamar dalam kulit manusia!
"J-Jangan... kumohon... aku punya istri... aku punya klan..." Han Ku meratap, air matanya membeku di pipinya. "Tolong beri aku satu kesempatan... aku akan menjadi budakmu..."
Zeng Niu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Han Ku. Seringai asuranya memancarkan kejamnya takdir.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk mundur saat kau meminta sepuluh persen," bisik Zeng Niu lembut. "Di duniaku, meminta maaf setelah melewati batas... hanyalah cara pecundang memperpanjang napasnya selama tiga detik."
Zeng Niu mengulurkan telunjuknya, menyentuh pelan Dantian Han Ku.
ZRAAT!
Han Ku tidak meledak, namun Dantiannya, Nascent Soul-nya, dan meridiannya hancur menjadi ketiadaan abu-abu. Rambutnya langsung memutih, kulitnya mengeriput dalam sekejap. Seluruh kultivasi dan umur yang ia bangun selama ribuan tahun dihapus dari hukum surga. Ia berubah menjadi manusia fana yang sekarat karena usia tua dalam hitungan detik.
Han Ku ambruk menjadi segumpal tulang berbalut kulit kering, mati dengan mata melotot menatap jurang penyesalan.
Zeng Niu berdiri tegak. Ia merogoh cincin Han Ku, mengambil isinya yang tak seberapa, lalu menendang mayat kering itu ke bawah tebing Benua Utara, membiarkannya dimakan oleh serigala salju.