Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam kian larut ketika jarum jam dinding di ruang tengah rumah Alya menunjukkan pukul delapan. Suasana gang sempit di luar sudah mulai lengang, menyisakan suara jangkrik dan deru angin malam yang menembus celah-celah dinding papan rumahnya. Alya melangkah keluar dengan jaket rajut tipis yang sudah agak longgar, berjalan kembali menyusuri rute tiga warung kelontong tempat ia menitipkan kue-kue buatannya sore tadi.
Target pertamanya adalah warung Nyak Ani. Dari kejauhan, Alya bisa melihat stoples kaca dan meja depan warung yang biasanya penuh. Ketika langkahnya makin dekat, mata Alya berbinar. Wadah mika besar yang ia bawa tadi sore kini sudah kosong melompong, hanya menyisakan beberapa remah cokelat di sudutnya.
"Assalamu’alaikum, Nyak Ani," sapa Alya dengan senyum lelah namun tulus.
"Wa'alaikumsalam! Eh, Neng Alya!" Nyak Ani langsung berseru heboh begitu melihat Alya di ambang pintu. Wanita paruh baya itu meraih sebuah dompet kecil di laci mejanya dengan wajah sumringah. "Ini dia si koki jempolan! Al, kue buatanmu itu beneran juara. Brownies mini cokelatnya langsung ludes digondol bapak-bapak yang lagi ronda sore, katanya manisnya pas gak bikin enek. Bolu pandannya juga habis dibeli ibu-ibu komplek sebelah!"
Nyak Ani menghitung beberapa lembar uang kertas lusuh pecahan lima ribu dan dua ribu rupiah, lalu menyerahkannya kepada Alya beserta wadah mikanya. "Ini uang bagianmu setelah dipotong komisi warung ya, Al. Malah tadi si Pak RT sempet nanya, besok bikin lagi gak? Katanya mau pesan buat rapat warga akhir pekan."
"Alhamdulillah... terima kasih banyak ya, Nyak," ucap Alya penuh rasa syukur, menerima lembaran uang itu dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar.
Dua warung berikutnya yang dikunjungi Alya pun membawa kabar yang sama baiknya. Di warung mpok Siti dan warung cak Man, semua kue bolu kukus dan brownies buatannya habis tanpa sisa. Bahkan kedua pemilik warung itu meminta dengan sangat agar Alya mengirimkan kue lagi esok hari dengan jumlah yang lebih banyak karena peminat kudapan pasar di sore hari sangat tinggi.
Setelah berterima kasih dan berpamitan, Alya berjalan pulang di bawah temaram lampu jalan gang. Begitu sampai di kamarnya yang sempit, ia langsung duduk di tepi kasur lantai dan mengeluarkan seluruh uang hasil penjualannya malam ini dari dalam dompet. Ia merapikan lembaran uang tersebut, menghitungnya dengan saksama, lalu menguranginya dengan modal bahan baku yang harus ia beli lagi.
Jemari Alya berhenti menghitung. Ia menatap deretan uang di atas kasurnya dengan helaan napas panjang yang sarat akan kegetiran.
Hasil untung bersih dari penjualan empat puluh kue hari ini ternyata tidak seberapa jika dibandingkan dengan gunung tagihan biaya *study tour* yang harus ia lunasi hari Jumat nanti. Uang yang terkumpul malam ini bahkan belum mencapai seperempat dari total nominal yang diminta oleh Bu Ani. Rasa ragu dan cemas yang sempat hilang sore tadi perlahan merayap kembali, mengetuk dinding pertahanan di dadanya. Waktu yang ia miliki tinggal dua hari lagi, dan fisiknya mulai mengirimkan sinyal lelah yang amat sangat.
Alya menatap langit-langit kamarnya yang hanya beralaskan triplek tipis. Matanya sempat memanas, namun ingatan akan senyum lelah ibunya dan peluh ayahnya seketika membakar kembali semangatnya yang nyaris padam.
'Gak boleh menyerah sekarang, Alya. Kalau cuma dititip di warung, jumlahnya terbatas dan untungnya lama. Aku harus cari cara biar kuenya bisa terjual dalam skala yang lebih besar,' batinnya bertekad. Ia menolak untuk kalah oleh keadaan. Patah semangat bukanlah pilihan bagi seorang Alya Saraswati.
Keesokan harinya, alarm dari ponsel jadul Alya berdering tepat pukul *03.30 WIB*.
Suasana di luar masih sangat gelap dan dingin, diselimuti kabut tipis subuh. Namun, Alya sudah langsung beranjak dari tempat tidurnya tanpa rasa malas sedikit pun. Setelah membasuh wajahnya agar segar, ia langsung menuju dapur. Sebelum ibunya bangun untuk menyiapkan dagangan pasar, Alya ingin menyelesaikan gelombang pertama adonan kuenya terlebih dahulu agar tidak mengganggu ruang gerak ibunya nanti.
Dengan bahan baku baru yang sempat ia beli di warung kelontong semalam, Alya kembali beraksi di dapur yang remang. Gerakan tangannya mengocok adonan manual terasa lebih mantap. Kali ini ia membuat variasi baru; Bolu Gulung Cokelat dengan selai stroberi dan Kue Lumpur Kentang yang lembut. Wangi mentega, telur, dan aroma khas kentang kukus perlahan memecah keheningan subuh di rumah sederhana itu.
Saat jam dinding menunjuk angka enam pagi, seluruh kue pesanan warung dan stok tambahan sudah matang sempurna, tertata rapi di dalam wadah-wadah mika baru yang bersih.
Sembari menunggu kue-kue itu sedikit mendingin sebelum diantarkan, Alya duduk di meja belajar kecilnya. Ia mengambil ponselnya. Sebuah ide yang sempat melintas di kepalanya semalam kini siap ia eksekusi. Di era digital saat ini, mengandalkan penjualan fisik dari mulut ke mulut saja tidak akan cukup untuk mengejar target waktu yang sangat mepet. Sebagai murid cerdas yang selalu mengikuti tren perkembangan teknologi pembelajaran dan media, Alya tahu kekuatan jaringan internet terbilang luar biasa.
Alya membuka akun media sosial pribadinya. Selama ini, akun tersebut hanya ia gunakan secara pasif untuk memantau info sekolah atau tugas kelompok. Profilnya sangat bersih, tanpa foto diri yang berlebihan, mencerminkan kepribadiannya yang pendiam dan tertutup.
Dengan jemari yang lincah, Alya mengambil beberapa foto kue buatannya yang baru matang. Ia memanfaatkan cahaya matahari pagi yang mulai masuk dari celah jendela dapur untuk mendapatkan pencahayaan alami yang estetis. Hasil fotonya terlihat sangat cantik dan menggugah selera memperlihatkan tekstur bolu gulung yang padat namun lembut serta kue lumpur kentang dengan taburan kismis di atasnya yang berkilau.
Alya menyusun kata-kata promosi di takarir (caption) unggahannya dengan sangat rapi, jelas, dan menarik. Ia menuliskan detail varian rasa, harga per paket untuk acara formal maupun camilan keluarga, serta sistem pemesanan siap antar untuk area di sekitar sekolah dan komplek rumahnya. Ia melabeli usahanya dengan nama sederhana namun manis: "Dapur Saras"
*Klik.*
Unggahan itu resmi dibagikan ke lini masa media sosialnya. Alya menghembuskan napas pelan, menaruh ponselnya di atas meja dengan sejuta harapan yang membumbung di dalam hatinya. Ia tahu perjalanannya hari ini akan jauh lebih berat, karena ia harus membagi waktu antara belajar di kelas, mengantarkan pesanan warung, dan memantau pesanan daring yang masuk.
Namun, di tengah segala keterbatasan ekonomi dan rasa lelah yang mulai menumpuk di pundaknya, mata Alya memancarkan binar tekad yang tak tertandingi. Ia siap menghadapi tantangan hari ini demi membuktikan pada dirinya sendiri bahwa garis takdir keluarganya bisa diubah melalui kerja keras dan ketulusan usahanya sendiri.