NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

API DI DAPUR, API DI HATI

Setelah kegagalan misi "gaun tidur hitam" yang membuat Gus Zikri melarikan diri ke masjid, Mentari terbangun dengan tekad baru. Ia teringat ucapan Hafizah: jalan menuju hati pria adalah melalui perutnya. Masalahnya, Mentari adalah gadis yang bahkan tidak tahu bedanya lengkuas dengan jahe. Baginya, dapur adalah area terlarang yang hanya dihuni oleh asisten rumah tangga atau pelayan restoran bintang lima.

"Kalau cuma bikin sambal sama goreng ayam, masa gue nggak bisa sih? Gue kan lulusan luar negeri, masa kalah sama ulekan!" gumam Mentari penuh percaya diri, meskipun tangannya gemetar saat memegang pisau dapur.

Pukul sembilan pagi, saat Gus Zikri sedang sibuk mengajar di madrasah, Mentari mengumpulkan "tiga srikandi" andalannya di dapur rumah kecil mereka.

"Oke, Guys. Hari ini menu utamanya: Ayam Goreng Penyet Spesial Mentari," umum Mentari sambil mengenakan celemek bunga-bunga yang masih baru.

Bondan langsung memeriksa bahan-bahan di atas meja. "Tari, lo yakin mau pake cabai rawit sebanyak ini? Ini sih bukan ayam penyet, tapi ayam bunuh diri! Gus Zikri itu lambungnya lembut, jangan lo kasih ranjau begini!"

"Biarin, Bon! Biar dia tahu kalau cinta gue itu pedas dan membara!" balas Mentari sambil mulai menyalakan kompor.

Fahma duduk di lantai sambil mengupas bawang merah. Matanya sudah merah dan berair. "Tari... kenapa bawangnya jahat banget ya? Aku nggak salah apa-apa tapi dia bikin aku nangis terus..."

"Itu namanya aroma perjuangan, Fahma! Kupas terus sampai habis!" perintah Mentari layaknya komandan perang.

Hafizah yang paling waras di antara mereka mencoba memberi instruksi. "Tari, minyaknya jangan terlalu panas dulu. Dan ayamnya harus diungkep pakai bumbu kuning supaya meresap. Jangan langsung cemplungin gitu aja."

"Lama, Hafizah! Keburu Gus Zikri pulang," Mentari mengabaikan saran itu. Ia justru menuangkan minyak goreng dalam jumlah banyak ke dalam wajan besar, lalu menyalakan api paling besar agar cepat panas.

Kekacauan dimulai saat Mentari memasukkan ayam yang masih basah kuyup ke dalam minyak yang sudah mengepulkan asap hitam.

*SYUUUURRRRR! PLUP! PLUP!*

Minyak panas meledak-ledak keluar dari wajan. Mentari menjerit histeris, melompat mundur sambil menggunakan tutup panci sebagai perisai.

"Aaaaa! Perang! Ini minyaknya nyerang gue!" teriak Mentari.

"Tari! Balik ayamnya! Gosong itu!" Bondan ikut berteriak panik, tapi dia sendiri tidak berani mendekat.

Fahma yang masih menangis karena bawang hanya bisa melongo. "Eh... itu asapnya kok warna hitam ya? Kayak knalpot angkot..."

Hafizah mencoba mematikan kompor, tapi api tiba-tiba menyambar tumpahan minyak di pinggir wajan. *WUSSS!* Api membesar dalam sekejap, menjilat kain lap yang tergantung di dekat kompor.

"KEBAKARAN! KEBAKARAN!" teriak Bondan sambil berlari keluar rumah.

Mentari mematung ketakutan. Ia mencoba menyiram api dengan segelas air, yang justru membuat api semakin memuncak karena reaksi minyak panas. Asap tebal mulai memenuhi ruangan kecil itu. Mentari terbatuk-batuk, matanya perih, dan ia terjebak di sudut dapur karena api menutup jalan keluar.

"Mentari!"

Suara bariton yang sangat dikenal itu memecah kepanikan. Gus Zikri berlari masuk menembus asap. Ia tidak lagi menundukkan pandangannya. Matanya tajam mencari keberadaan istrinya. Saat melihat Mentari meringkuk di pojok dapur yang mulai terbakar, Zikri tanpa ragu melepas jubah abu-abunya.

Ia membasahi jubah itu dengan sisa air di bak cuci piring, lalu dengan gerakan cepat dan tenang, ia menyampirkan kain basah itu ke atas wajan yang menyala-nyala. Oksigen terputus, dan api perlahan padam.

Zikri segera menyambar tangan Mentari dan menariknya keluar dari dapur yang pengap.

Di teras rumah, Mentari jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk hebat. Wajah cantiknya kini penuh dengan noda hitam jelaga, dan rambut pirangnya berantakan. Bondan, Fahma, dan Hafizah berdiri di halaman dengan wajah pucat pasi.

Gus Zikri berdiri di depan Mentari, napasnya memburu. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah karena amarah yang bercampur dengan kekhawatiran yang amat sangat.

"Apa yang kamu pikirkan, Mentari?!" bentak Zikri. Ini pertama kalinya Zikri membentaknya sekeras itu. "Kamu mau membakar rumah ini? Kamu mau membunuh dirimu sendiri?!"

Mentari mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku cuma mau masak buat kamu, Gus... Aku mau jadi istri yang bener..." suaranya bergetar hebat.

Zikri memejamkan matanya, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia melihat tangan Mentari yang memerah karena terkena cipratan minyak. Seketika, amarahnya luruh digantikan oleh rasa iba yang dalam.

Zikri berlutut di depan Mentari. Ia meraih tangan gadis itu kontak fisik pertama yang ia lakukan dengan sadar sejak mereka menikah.

"Maafkan saya karena membentakmu," ucap Zikri lirih. Ia mengambil air bersih dan membasuh tangan Mentari yang melepuh dengan sangat lembut. "Tapi jangan pernah lakukan hal berbahaya seperti ini lagi. Saya tidak butuh masakan mewah. Saya hanya butuh kamu selamat."

Mentari terpaku. Sentuhan tangan Zikri terasa sangat hangat dan tulus. Ia bisa melihat kekhawatiran yang nyata di mata suaminya.

"Gus... kamu khawatir sama aku?" tanya Mentari polos.

Zikri terdiam sejenak, lalu kembali menundukkan pandangannya seperti biasa, tapi ia tidak melepaskan tangan Mentari. "Kamu adalah tanggung jawab saya. Luka di tubuhmu adalah kegagalan saya dalam menjagamu."

Bondan yang menonton dari jauh berbisik pada Hafizah. "Duh, kok jadi *sweet* sih? Gue jadi pengen bakar dapur asrama juga biar dapet perhatian gitu."

Fahma menyahut pelan, "Jangan, Bon. Nanti yang dateng bukan Gus Zikri, tapi pemadam kebakaran. Terus kita disuruh ganti rugi."

Zikri kemudian berdiri. "Hafizah, tolong bantu Mentari bersihkan diri dan obati lukanya. Saya akan membersihkan dapur."

"Nggak usah, Gus! Biar aku aja!" Mentari mencoba berdiri meski kakinya lemas.

"Masuk, Mentari. Itu perintah," ucap Zikri tanpa menoleh.

Sore itu, Mentari menyadari satu hal penting. Gus Zikri tidak benci padanya. Di balik dinding es yang dibangun pria itu, ada hati yang sangat peduli. Dan Mentari bersumpah, ia tidak akan lagi menggunakan cara-cara konyol. Ia akan belajar menjadi wanita yang diinginkan Zikri, meski harus dimulai dari belajar mengupas bawang tanpa menangis bersama Fahma.

Di dapur yang berantakan, Gus Zikri memungut ulekan yang terjatuh. Ia tersenyum tipis melihat cabai rawit yang berserakan. Gadis ini benar-benar badai, batinnya. Namun, untuk pertama kalinya, Zikri merasa rumahnya tidak lagi terasa sepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!