NovelToon NovelToon
Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?

Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.

​Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.

​Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.

Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9

Pagi itu, suasana kantor pusat terasa seperti medan perang yang baru saja usai. Arkan berdiri di depan mejaku dengan tas kantor di tangan kiri dan surat penugasan di tangan kanan.

Wajahnya layu, seolah seluruh energi hidupnya telah disedot habis oleh ketegangan berminggu-minggu di rumah.

"Cabang pesisir, Kin? Kamu benar-benar membuangku ke sana?" suaranya rendah, nyaris berbisik. "Proyek di sana sedang bermasalah besar. Itu bukan tempat untuk seorang Direktur Utama."

Aku tidak mengangkat wajah dari berkas yang sedang kutanda tangani. "Justru karena kamu Direktur Utama, Arkan. Kamu harus bertanggung jawab memperbaiki kekacauan di sana. Anggap saja ini ujian integritas. Jika kamu berhasil, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mengembalikan sebagian wewenang finansialmu."

Arkan menelan ludah. Ia tahu itu bukan tawaran, melainkan pengusiran halus. Proyek di pesisir itu berarti ia harus tinggal di mes lapangan yang sederhana, jauh dari kemewahan kota, dan yang paling penting, jauh dari kendaliku di rumah ini.

"Lalu bagaimana dengan Alana?" tanyanya ragu. "Dia sedang hamil, Kin. Kakinya masih diperban. Aku tidak bisa membawanya ke barak lapangan yang panas dan berdebu."

Aku meletakkan pulpen, lalu menatapnya dengan senyum yang tidak mencapai mata. "Siapa yang menyuruhmu membawanya? Dia tetap di paviliun. Bi Ijah akan tetap mengirimkan makanan bergizi setiap hari. Bukankah itu yang kamu minta? Kemanusiaan?"

Arkan terdiam. Ia terjepit. Di satu sisi, ia ingin lari dari neraka yang kami ciptakan di rumah ini. Ia butuh udara segar, butuh fokus pada pekerjaan tanpa harus mendengar rintihan Alana atau melihat tatapan dinginku.

Namun di sisi lain, meninggalkan Alana sendirian di rumah ini sama saja dengan meninggalkan domba di kandang singa.

"Berangkatlah, Arkan. Sopir sudah menunggumu di lobi," kataku mutlak.

Sore hari setelah keberangkatan Arkan, rumah terasa luar biasa hening. Aku duduk di teras belakang, menikmati teh melati sambil menatap paviliun. Tak lama, pintu kayu paviliun terbuka.

Alana keluar dengan langkah tertatih, kakinya yang dibalut perban tampak kontras dengan gaun tidurnya yang kusut.

Ia menoleh ke sana kemari, mencari sosok yang biasanya menjadi pelindungnya. "Mas Arkan? Mas?" suaranya serak karena terlalu banyak menangis.

Aku menyesap tehku perlahan. "Dia sudah pergi, Alana. Satu jam yang lalu."

Alana tersentak, menatapku dengan mata membelalak. "Pergi? Ke mana? Kenapa dia tidak pamit padaku?"

"Ke pesisir. Tugas lapangan selama tiga bulan ke depan," jawabku santai. "Dia terlalu sibuk mengemasi barang-barangnya tadi pagi sampai lupa berpamitan pada... ah, istri sirinya, ya?"

Alana nyaris tumbang jika ia tidak berpegangan pada tiang. Wajahnya yang pucat kini tampak pasi. "Tiga bulan? Kamu sengaja! Kamu ingin memisahkan kami!"

"Aku hanya menjalankan perusahaan, Lan. Arkan butuh membuktikan nilainya kembali. Tapi, kalau kamu merasa kesepian di paviliun, pintu gerbang depan selalu terbuka. Kamu bebas pergi kapan saja."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Alana menginjakkan kaki di rumah ini, aku mendengar keheningan yang damai. Tidak ada suara perdebatan, tidak ada suara piring pecah. Hanya suara angin yang berhembus melalui balkon.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Dua hari kemudian, Alana muncul di ruang tengah saat aku sedang bersiap berangkat ke kantor. Ia sudah berpakaian rapi, setidaknya se-rapi yang ia bisa dengan perut buncitnya. Di sampingnya ada dua koper besar.

"Aku pergi, Kinanti," ucapnya dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.

Aku menaikkan sebelah alis. "Oh? Ke mana? Ke apartemen suamiku?"

Alana menggigit bibir bawahnya. "Aku pulang ke rumah orang tuaku. Papa pasti tidak akan tega melihat anaknya diperlakukan seperti pembantu di sini. Aku tidak butuh kemanusiaan palsumu lagi!"

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Alana mundur selangkah. "Silakan, Alana. Aku justru sangat senang melihat koper-koper itu keluar dari rumahku. Sampaikan salamku pada Papamu. Katakan padanya, Kinanti mendoakan kesehatan beliau."

Saat mobil jemputan Alana tiba, aku berdiri di ambang pintu besar rumahku. Aku melihatnya bersusah payah memasukkan koper ke bagasi karena tidak ada Pak Diman atau Arkan yang membantu. Aku hanya menonton, memegang cangkir kopi dengan anggun.

Begitu mobil itu menghilang di balik pagar, aku menghela napas panjang. Beban di rumah ini terasa terangkat. Aku segera menelepon Bi Ijah.

"Bi, bersihkan paviliun. Buang semua barang yang tertinggal. Semprotkan pengharum ruangan yang paling kuat. Aku ingin jejak wanita itu hilang sepenuhnya sebelum matahari terbenam."

Sementara itu, di pesisir, Arkan menemukan dunianya yang lain. Mes lapangan itu memang panas, berdebu, dan hanya berjarak beberapa meter dari deru mesin berat. Namun bagi Arkan, ini adalah pelarian.

Ia tidak lagi harus menghadapi tatapan dinginku yang menghakiminya setiap saat. Ia juga tidak perlu mendengar keluhan Alana tentang AC yang kurang dingin atau makanan yang kurang mewah.

Di sini, ia kembali menjadi Arkan sang arsitek, pria yang dihormati oleh para buruh bangunan karena kecerdasannya, bukan pria pecundang yang berlutut di kaki istrinya.

Ponselnya bergetar di atas meja kerja yang penuh dengan cetak biru. Nama Alana muncul di layar. Arkan menatap layar itu lama, lalu menghela napas. Ia tidak mengangkatnya. Ia sedang malas mendengar tangisan. Ia butuh ketenangan untuk menyelesaikan revisi fondasi yang bermasalah.

Tak lama, sebuah pesan masuk.

"Mas, aku pulang ke rumah Papa. Aku tidak kuat di rumah Kinanti. Jemput aku, Mas. Papa marah besar."

Arkan meletakkan ponselnya dengan kasar. 'Papa marah besar.' Tentu saja. Mertua sirinya itu adalah orang terpandang. Melihat anaknya pulang dalam keadaan terusir pasti akan menjadi skandal besar.

Arkan memijat pelipisnya yang berdenyut. "Kenapa hidupku jadi serumit ini?" gumamnya.

Sebersit ingatan muncul, tentang Kinanti yang dulu selalu menyiapkan handuk hangat dan pijatan di bahu setiap ia pulang lembur. Kinanti tidak pernah menuntut. Kinanti adalah rumah yang tenang.

Kini, ia memiliki Alana yang menuntut segalanya, dan Kinanti yang berubah menjadi hakim yang kejam. Arkan baru menyadari, dengan memilih Alana, ia tidak mendapatkan kebahagiaan baru, ia hanya menukar kedamaian dengan kekacauan.

Satu minggu berlalu. Aku sedang menikmati makan malam mewah di sebuah restoran bersama beberapa klien saat ponselku berdering. Arkan menelepon lewat panggilan video.

Aku menerimanya. Wajah Arkan tampak gosong terbakar matahari, tapi matanya terlihat lebih hidup daripada saat ia di rumah. "*Kin, aku baru saja menyelesaikan audit logistik di sini. Ada penghematan hampir lima belas persen dari vendor baru*."

"Bagus, Arkan. Kirim laporannya padaku," kataku singkat.

"*Kin*..." ia ragu sejenak. "*Alana terus meneleponku. Dia bilang orang tuanya mengurungnya di kamar. Papanya ingin menuntutku karena dianggap tidak bertanggung jawab. Apa kamu tahu dia pergi dari rumah* ?"

Aku memotong sepotong steak dengan tenang. "Tentu saja aku tahu. Dia pergi atas kemauannya sendiri. Bukankah itu bagus? Rumahku sudah bersih sekarang. Rumah terasa sangat luas."

"*Tapi Kin, dia sedang hamil*..."

"Itu urusanmu dan keluarga besarnya, Arkan. Bukan urusanku. Kamu di sana untuk bekerja, bukan untuk menjadi konsultan rumah tangga. Fokuslah pada proyekmu. Jika kamu meninggalkan lapangan hanya untuk mengurus drama Alana, aku akan mengambil semua aset perusahaanmu padaku."

Arkan terdiam di seberang sana. Ia melihat betapa tegas dan tidak tersentuhnya aku sekarang. Tidak ada lagi Kinanti yang akan menangis memohon agar ia pulang cepat.

"*Baik, Kin. Aku mengerti*," suaranya terdengar pasrah.

Puncak dari skenario ini terjadi sebulan kemudian. Alana meneleponku dengan suara histeris. Rupanya, ayahnya telah mengetahui bahwa seluruh aset Arkan berada di bawah namaku.

Janji Arkan untuk menghidupi Alana dengan kemewahan ternyata hanya omong kosong karena Arkan tidak memegang sepeser pun uang tanpa persetujuanku.

"*Kinanti! Tolong katakan pada Papa kalau Arkan masih punya harta! Papa ingin mencoret namaku dari ahli waris jika Arkan tidak bisa membuktikan dia masih mengendalikan perusahaan* !" raung Alana di telepon.

Aku tertawa, tawa yang sangat merdu namun mematikan. "Kenapa aku harus berbohong, Alana? Papamu benar. Arkan memang tidak punya apa-apa. Bahkan baju yang ia pakai saat ini adalah aset dari perusahaan. Jika kamu mencintainya karena hartanya, maka kamu telah salah memilih pria."

"*Kamu kejam, Kinanti! Kamu ingin aku hancur di tangan keluargaku sendiri* !"

"Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri saat memutuskan untuk tidur dengan suami orang, Alana. Aku hanya penonton yang memastikan hukum sebab-akibat berjalan dengan semestinya."

Aku menutup telepon. Aku merasa luar biasa puas. Arkan terjebak di pesisir, bekerja keras untukku demi mempertahankan posisinya, sementara Alana terjepit di rumah orang tuanya, menghadapi kemarahan dan rasa malu tanpa ada Arkan di sampingnya.

Kini, cinta mereka sedang diuji di titik terendah. Tanpa kemewahan, tanpa kenyamanan, dan tanpa dukungan satu sama lain.

Aku berdiri di balkon, menatap halaman rumah yang kini bersih dari jejak kaki pengkhianat. Roda itu tidak hanya berputar, ia kini sedang menggiling habis sisa-sisa kebahagiaan mereka.

Dan aku? Aku akan terus memegang kendali. Karena penguasa sejati tidak butuh cinta yang palsu, ia hanya butuh kesetiaan pada dirinya sendiri.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Atjeh ponsel
ceritanya sangat menarik
Siti Zaid
Arkan seolah2 menyalahkan kinanti sepenuhnya..padahal dirinya yg selingkuh duluan..pun begitu juga Alana yg sudah sangat jahat pada kinanti😠
Himna Mohamad
hrs gagal thoor rencana arkan
Lee Mba Young
Waduh istri sah kalah dong nanti yg menang pelakor. jng sampai kl Arkan Dan Alana menang Aku akn berhenti Baca.
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.

berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
Siti Zaid
Kinanti yg lemah lembut dan berhati malaikat telah mati disaat kamu selingkuh dan menikahi sahabat nya..Arkan!! kamu sendiri yg menjadikan Kinanti..wanita yg tidak memiliki perasaan..semuanya salah kamu dan Alana..😡
Herdian Arya
pembalasan yang sangat setimpal, tapi Kinanti juga mati hati nuraninya, dan yang paling kasian adalah bayi itu yangharus menanggung kesalahan orang tuanya.
Lee Mba Young
lagian Arjuna juga anak haram, hasil selingkuh kan. nnti kl dewasa pasti malu tu punya ibu kandung pelakor Dan bpk tukang selingkuh. masih bagus di urus kinanti 👍.
Lee Mba Young
Aku gk ngerti Jalan pikiran arkan, dia merasa bersalah ke pelakor tp gk merasa bersalah ke istri sah.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
Lee Mba Young
Arkan ki aneh bersujud kok nek pelakor, bersujud yo nek istri sah. utek e gk beres.
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
Dew666
🎈🎈🎈🎈
Lee Mba Young
Pdhl arkan Dan Alana adlh pelaku tp merasa korban semua. aneh pas main kuda smp Alana hamil apa gk mikir sakit nya kinanti lah.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
Lee Mba Young
Syukurin mkne to Ojo selingkuh.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Lee Mba Young
Ya nikmati saja karma mu Arkan. Karma tak semanis Kurma.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.

Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.

Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
YuWie
ya harusnya kau rangkul bayik nya..walo dia adl bukti dr hasil penghianatan. klo kau kasih sayang spt ibu kandungnya kan nanti besarnya arjuna jg akan menyayangimu. cukun si al dan suamimu yg dendam padamu jgn si bayik..dan pembaca jg gak semakin ilfil sama kamu..masaknprotagonis tak punya hati.. atau jgn2 mmg kinanti adl tokoh antagonisnya 🙃
YuWie
protagonis tapi malah jadi antagonis kie si kinanti ya.. sama bayi aja tega gak bisa memisah sakit hati ke ortu dg si bayik
Lee Mba Young
Alana lo gk tobat Wes dadi pelakor. arkan juga gk merasa bersalah.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
Lee Mba Young
Alana lo gk tobat Wes dadi pelakor. arkan juga gk merasa bersalah.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
Lee Mba Young
Kinanti jng sampai lengah. pasti kan nnti Alana gk bisa nuntut balas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.
Dew666
💟💟💟💟
YuWie
gantian balas dendam Al..ben muter wae isine balas dendam.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!