Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *34
Hari-hari berlalu begitu saja, namun bagi Merlin dan Reyno, waktu terasa berjalan sangat lambat. Terlalu lambat, seolah setiap detik yang berlalu membawa serta kepedihan yang makin dalam. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi obrolan hangat, dan tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu mengisi sudut-sudut ruangan di apartemen itu.
Secara fisik, rumah mereka masih sama persis seperti dulu. Masih ada foto-foto pernikahan mereka yang terbingkai indah tergantung rapi di dinding ruang tamu. Masih ada sepasang cangkir bergambar karakter lucu. Cangkir kesukaan Merlin dan Reyno yang berdiri berjejer di rak dapur. Masih ada aroma parfum khas Rey yang samar tercium dari dalam lemari pakaian.
Namun anehnya, meski segala benda masih sama, rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah. Tempat yang dulu menjadi tempat pulang ternyaman, kini berubah menjadi ruang sunyi yang penuh luka dan kenangan pahit.
Merlin berubah menjadi wanita yang jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Ia jarang sekali keluar dari kamar tidur, kecuali untuk keperluan mendesak. Ia jarang makan, jarang bicara, dan bahkan senyum tipis yang dulu sering menghiasi wajahnya kini perlahan hilang, tak terlihat sama sekali.
Ia berjalan, duduk, dan bergerak seolah seperti boneka yang nyawanya sudah dicabut paksa.
Dan Reyno melihat semuanya. Ia memperhatikan setiap perubahan kecil itu dengan rasa sakit yang tak terlukiskan. Ia melihat wajah pucat itu, tubuh yang makin hari makin kurus, dan tatapan mata yang makin lama makin kosong.
Namun semakin ia berusaha mendekat, semakin ia berusaha berbuat baik dan menebus kesalahannya, semakin terasa ada dinding tinggi yang memisahkan mereka berdua. Dinding yang dibangun dari rasa kecewa, rasa sakit, dan jarak hati yang tak bisa dihapus hanya dengan kata maaf saja.
Pagi itu, aroma masakan samar mulai tercium dari arah dapur. Rey sedang sibuk di sana, memotong sayuran dan mengaduk panci berisi kuah kaldu. Ia berniat membuatkan sup hangat kesukaan istrinya, berharap makanan itu sedikit bisa membangkitkan selera makan Merlin yang hampir hilang akhir-akhir ini.
Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka perlahan. Merlin melangkah keluar dengan gerakan yang lambat dan berat. Wajahnya masih sangat pucat, lingkaran hitam di bawah matanya makin terlihat jelas, dan tubuhnya tampak makin kurus kering dibandingkan beberapa hari yang lalu.
"Kenapa gak bangunin aku dari tadi?" tanya Merlin pelan, suaranya rendah dan datar, saat ia sampai di ambang pintu dapur.
Reyno langsung menoleh cepat. Wajah yang tadinya serius kini berubah lembut saat melihat kehadiran istrinya.
"Aku mau kamu istirahat yang cukup, Sayang. Kamu baru pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Tubuh kamu butuh energi buat pulih," jawabnya lembut.
Merlin hanya mengangguk kecil, lalu berjalan pelan menuju kursi makan. Ia duduk diam di sana, menatap meja kosong di depannya tanpa ekspresi apa pun. Sunyi kembali menyelimuti ruangan itu.
Reyno meletakkan semangkuk sup hangat yang masih mengepulkan uap di depan sang istri. Ia juga menaruh sendok dan serbet dengan rapi.
"Hari ini makan yang banyak ya? Dikit-dikit gak apa-apa, tapi harus habis. Kamu butuh tenaga, Mer," pinta Rey dengan mata yang menatap penuh harap.
"Hmm," hanya gumaman pelan yang keluar dari mulut Merlin. Ia mulai mengaduk-aduk isi mangkuk itu pelan, namun matanya tidak melihat ke makanan itu.
Keheningan yang canggung kembali terjadi. Dulu, mereka berdua tidak pernah sejauh ini. Bahkan saat baru menikah dan masih sangat canggung satu sama lain sekalipun, suasana tidak pernah sedingin dan seberat ini. Dulu, ada saja hal yang dibicarakan, ada saja hal yang ditertawakan.
Namun sekarang, dua orang yang dulu saling mencintai dan saling membutuhkan itu, terasa seperti dua orang asing yang terpaksa tinggal di satu atap yang sama. Seolah, mereka sedang dipaksakan untuk tetap tinggal di tempat yang sama.
Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan itu. Refleks, tangan Merlin berhenti bergerak mengaduk sup. Ia menoleh perlahan ke arah ponsel Reyno yang tergeletak di atas meja samping, layarnya menyala berkedip.
Dan di sana, nama itu kembali tertera sangat jelas. Yara. Lagi. Dan seperti biasa, selalu saja nama itu yang muncul.
Jari-jari tangan Rey sedikit menegang di atas meja makan. Rahangnya mengeras. Biasanya, saat mendengar dering ini, ia akan langsung menyambar ponsel itu. Tapi kali ini, ia diam saja. Ia tidak langsung mengangkat, tidak langsung buru-buru menjawab seperti dulu.
Merlin kembali menundukkan kepalanya, kembali fokus pada mangkuk yang ada di depannya. Ekspresinya datar. Terlalu datar. Tidak ada rasa marah, tidak ada rasa cemburu, yang ada hanya kebisuan yang semakin menyakitkan.
"Angkat aja," ucapnya pelan, suaranya sangat tenang namun menusuk. Ia kembali mengaduk kuah sup yang mulai mendingin itu. "Pasti ada perlu. Gak enak kalau dibiarin terus-terusan."
Reyno menatap wajah samping istrinya itu lama sekali. Ia mencari sedikit saja tanda kecemasan atau tanda emosi di sana. Tapi sayangnya, ia tak menemukan apa pun.
Perlahan, ia meraih ponsel itu. Namun bukannya mengangkat, ia malah menekan tombol mati. Mematikan layarnya dan membiarkan panggilan itu terputus begitu saja.
"Aku lagi sama kamu," ucapnya tegas. "Gak ada yang lebih penting dari ini."
Kalimat sederhana itu membuat tangan Merlin berhenti bergerak sesaat. Ada getaran halus yang terasa menyentuh hatinya, namun hanya sebentar lalu hilang lagi.
Entah kenapa, janji dan sikap Rey yang berubah ini rasanya sudah terlambat. Dulu, berbulan-bulan lamanya, ia selalu berharap menjadi prioritas pertama seperti ini. Ia selalu berharap Reyno akan memilihnya, akan menemaninya, akan menolak orang lain demi dirinya.
Dulu, hal kecil seperti ini adalah hal yang paling ia doakan. Dan sekarang, saat Reyno mulai mencoba melakukan hal itu ... hatinya sudah terlalu lelah untuk merasa senang. Sudah terlalu banyak luka yang tertanam untuk merasa bangga saat dipilih kembali.
Belum sempat suasana itu mereda, bel pintu apartemen mereka berbunyi nyaring. Rey langsung bangkit berdiri, berjalan untuk membuka pintu dengan perasaan penasaran siapa yang datang berkunjung di jam makan pagi begini.
Beberapa detik setelah pintu terbuka, terdengar suara sapa yang sangat dikenal Merlin.
"Mer? Kamu ada di dalam kan?"
Wajah Merlin sedikit berubah. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, matanya terlihat hidup sedikit. Ada kilatan rindu dan rasa lega yang muncul di sana.
Naya, sahabat karibnya sejak kuliah, berjalan cepat masuk ke dalam apartemen itu. Begitu melihat sosok Merlin yang duduk lemah di kursi makan, Naya langsung bergegas mendekat, lalu memeluk sahabatnya itu erat sekali.
"Ya Allah ... Merlin ..." suara Naya langsung bergetar hebat. Tangannya mengusap punggung dan belakang kepala sahabatnya itu. "Lo kurus banget, Sayang. Pucat banget. Lo kenapa sih, Mer ...?"
a