NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Dikampung, Kabar kematian Midah menyebar sebelum subuh, orang-orang mulai berdatangan untuk melihat kematian Midah dengan cara yang tak wajar, pada saat orang melihat jenazah Midah, ada yang terkejut dan ada yang hampir pingsan melihat kondisi Midah yang meninggal dengan tidak wajar badan membiru dan dari mulut masih mengeluarkan darah hitam.kematiannya juga seperti pak Safri yang terkena santau. Orang-orang mulai bergosip, bahwa dikampung mereka ada yang menggunakan santau dan berita itu semakin menyebar di kampung sebelah seperti hujan dan membuat orang-orang mulai waspada.

Sitoh duduk di sudut tokonya yang gelap sambil menghitung uang, tertawa pelan. "Akhirnya....! Satu lagi sudah pergi." tawanya pelan, tapi bagi orang yang akan mendengarnya, pasti akan merinding...!

Dengan menghilangnya dua nyawa yang tidak bersalah....?lantas tidak membuat Samsul dan sitoh merasa bersalah, harta dunia sudah menutup mata hati sitoh dan Samsul.

Di belakang toko, Samsul menyalakan lilin hitam di dalam bilik bambu. Asapnya kental, baunya seperti rambut terbakar. Di depannya, sesajen darah ayam dan rambut Midah yang ia minta diam-diam minggu lalu.

Sitoh masuk dan melemparkan kantong uang ke meja.

"Dua nyawa tidak bersalah...dan kita malah makin kaya...Enak, kan?"

Samsul tersenyum miring, Wajahnya sudah tidak seperti manusia lagi kalau dilihat dari cahaya lilin dan Matanya seperti menyala dan nadinya hitam kebiruan.

"Bersalah.... tidak! yang bersalah itu mereka karena terlahir miskin dan yang lainnya tidak berguna. daripada nyawa mereka tidak pergunakan dengan baik, lebih baik mereka kita gunakan untuk memperkaya diri".

Mereka berdua pun tertawa bersama, seakan nyawa orang lain hanya dijadikan objek untuk memperkaya diri mereka.

Suasana di ruangan itu jadi berat. Cahaya lilin berkedip-kedip, melempar bayangan Samsul ke dinding seperti topeng retak. Senyum miringnya tidak sampai ke mata dan malah bikin mata yang menyala itu kelihatan lebih kosong dan urat di lehernya yang hitam kebiruan berdenyut pelan, seperti ada sesuatu, yang bukan darah lagi yang mengalir.

sitoh yang duduk di seberang cuma mengangguk, tumpukan uang yang ada ditangannya seakan menjadikannya manusia yang sudah diperbudak oleh harta dunia

"Logikanya simpel,,,, bang ," katanya pelan. "Kalau mereka tidak berguna, kita yang bikin mereka berguna. Setidaknya buat kita."

Tawa mereka pecah lagi, pendek dan kering. Tapi di luar, hujan mulai turun. Seakan merasakan kesedihan yang dirasakan oleh pak Kadir atas kehilangan istrinya yang Airnya menetes ke bumi dan nyaris menenggelamkan suara mereka. Di luar sana, ada keluarga yang malam ini akan mengadakan tahlilan untuk mendoakan keluarganya yang telah pergi untuk selamanya.

Samsul mendekat ke lilin, apinya memantul di bola matanya. Untuk sepersekian detik, mata itu seperti menyimpan ketakutan.

"Yang bersalah itu mereka," katanya lagi, tapi kali ini pelan. seperti lagi meyakinkan dirinya sendiri.

"Liat tuh," kata sitoh sambil nunjuk ke luar jendela dan mereka juga melihat orang beramai-ramai kerumah Kardi yang datang silih berganti untuk datang melayat."bang tidak pergi kesana,"

Samsul mendekat ke lilin, apinya memantul di bola matanya. Untuk sepersekian detik, mata itu seperti menyimpan ketakutan.

"Yang bersalah itu mereka," katanya lagi, tapi kali ini pelan. seperti lagi meyakinkan dirinya sendiri.

Mereka berdua melihat orang beramai-ramai ke rumah Kardi. Datang silih berganti, bawa payung basah, bawa bunga layu, bawa suara tangis yang ketahan, Barisan itu tidak ada habisnya. Sitoh melihat Samsul yang masih bengong, terus narik lengan bajunya pelan.

"Bang... tidak pergi ke sana," katanya. Suaranya kecil, hampir ketelan suara hujan.

Samsul menoleh dan Tatapannya pada Sitoh tidak seperti biasanya. Biasanya ada serakah, bangga tiap kali ngitung uang. Tapi Sekarang cuma ada rada takut

"Ngapain ke sana?" ketus samsul, tapi tangannya tidak melawan saat Sitoh narik dia duduk lagi."biar kita tidak dicurigai, kalau kita yang sudah membunuh Midah dengan santau." jawab sitoh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!