No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Gadis Berbaju Merah
Suasana kedai daging panggang itu kini berantakan. Meja kayu yang tadi penuh hidangan kini terbelah dua akibat sisa energi pedang Zhi Yue semalam. Sisa bumbu merah yang membasahi pipi Xiān Yǔ mulai mengering, meninggalkan noda yang menurutnya sangat merusak estetika wajahnya.
"Ikut ke Gerbang Nirwana?" Yi Ling mengulang kata-kata itu dengan nada datar, namun matanya menatap tajam ke arah pedang perak di pinggang Zhi Yue. "Nona Zhi, tempat itu bukan pasar malam. Itu adalah perbatasan antara hidup dan mati, tempat para iblis tua mencari keabadian dengan mengorbankan nyawa orang lain."
Zhi Yue melangkah maju, sepatu bot kulitnya menginjak lantai kayu dengan suara mantap. "Justru karena itu aku harus ke sana. Ayahku, Jenderal Zhi, menghilang setelah mengejar pengkhianat kerajaan ke arah Gerbang Nirwana tiga bulan lalu. Aku butuh tim yang... katakanlah, 'tidak mencolok'."
Zhui Hai mendongak dari manisan gula merahnya. "Tidak mencolok? Temanku punya mawar yang tumbuh dari telinga dan rambut berwarna sayur sawi. Kami adalah definisi 'mencolok' di seluruh Kekaisaran Tengah."
"Hei! Ini bukan sawi, ini hijau zamrud!" potong Xiān Yǔ tersinggung, mawar di telinganya bergoyang-goyang seolah ikut memprotes. ia kemudian menoleh ke Zhi Yue dengan senyum paling menawan yang bisa ia kumpulkan dalam kondisi 'Pangeran Peri'. "Tapi kalau Kakak Cantik ini butuh pengawal yang bisa menenangkan badai dengan ketampanannya, aku siap menjadi perisaimu."
Yi Ling mendengus pelan. "Kau bahkan pingsan karena daging panggang gratis, Xiān Yǔ. Perisai macam apa kau ini?"
Perjalanan Menuju Hutan Kabut
Meskipun Yi Ling enggan, ia menyadari bahwa Zhi Yue memiliki peta wilayah Kota Fengyu yang jauh lebih lengkap. Tanpa petunjuk darinya, mereka akan terjebak selamanya di labirin pedagang licik dan sarjana gadungan.
Sepanjang perjalanan keluar kota, Xiān Yǔ tidak berhenti mengoceh. "Zhi Yue, apa kau punya cermin yang lebih besar dari ini? Aku merasa mawar ini mulai layu karena aku kurang percaya diri."
"Diamlah, atau aku akan menggunakan mulutmu untuk mengasah pedangku," ancam Zhi Yue tanpa menoleh.
"Galak sekali... aku suka," bisik Xiān Yǔ ke arah Zhui Hai.
Zhui Hai hanya menggeleng. "Ikan asin ini sudah tidak tertolong."
Tiba-tiba, langkah Yi Ling terhenti. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Angin di Hutan Kabut yang mereka masuki mendadak berhenti berdesir. Suara burung-burung hutan lenyap, digantikan oleh kesunyian yang menekan gendang telinga.
"Ada yang mengikuti kita sejak gerbang kota," bisik Yi Ling. Tangannya perlahan meraih seruling giok di balik jubah birunya.
Zhi Yue sudah menghunus pedang peraknya setengah jalan. "Anak buah Sarjana Lu?"
"Bukan," jawab Yi Ling singkat. "Ini hawa membunuh dari Sekte Bayangan Gagak. Mereka tidak mengejar peliharaan, mereka mengejar kepala."
Serangan Bayangan
Dari balik kabut tebal, belasan jarum hitam melesat dengan kecepatan suara.
"Tiarap!" teriak Yi Ling.
Ia meniup serulingnya sekali. Gelombang suara berbentuk lingkaran transparan terpancar keluar, menghantam jarum-jarum itu hingga jatuh ke tanah sebelum menyentuh mereka.
Lima pria berpakaian hitam dengan topeng paruh gagak muncul dari dahan-dahan pohon. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya, menatap Yi Ling dengan penuh kebencian.
"Yi Ling dari Klan Yi... Serahkan gulungan pusaka Nirwana yang dicuri ayahmu, atau hutan ini akan menjadi makam kalian berempat," ucap si Pemimpin Bayangan.
Yi Ling tersenyum dingin. "Ayahku tidak mencuri apa pun. Dia hanya mengambil apa yang seharusnya tidak berada di tangan orang-orang serakah seperti kalian."
"Banyak bicara!"
Si Pemimpin Bayangan melesat maju, pedang pendeknya berselimut api hitam. Zhi Yue langsung menangkis serangan itu. Dentingan logam bertemu logam memercikkan bunga api di tengah kabut.
"Xiān Yǔ! Gunakan mawar itu untuk sesuatu yang berguna!" perintah Yi Ling.
"Hah? Bagaimana caranya?!" Xiān Yǔ panik.
"Salurkan energimu ke bunga itu! Biarkan aroma 'santainya' mengacaukan fokus mereka!"
Xiān Yǔ memejamkan mata, memikirkan betapa tampannya dia jika berhasil menyelamatkan Zhi Yue. Seketika, mawar di telinganya mekar luar biasa besar. Kelopak-kelopak bunga merah mulai berguguran ke udara, namun bukannya jatuh ke tanah, kelopak itu terbang mengelilingi musuh.
Para pengejar dari Sekte Bayangan Gagak tiba-tiba merasa gerakan mereka melambat. Pandangan mereka menjadi berat, seolah dunia mendadak berubah menjadi taman yang damai dan tidak ada gunanya bertarung.
"Kenapa... aku ingin tidur..." gumam salah satu musuh sambil menurunkan pedangnya.
"Sekarang, Zhi Yue!" seru Yi Ling.
Zhi Yue tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan satu putaran badan yang anggun, pedang peraknya menebas udara, menciptakan gelombang energi yang memukul mundur para ninja gagak itu hingga menabrak pohon-pohon besar.
Pemulihan dan Rahasia Baru
Setelah musuh melarikan diri ke dalam kabut, kondisi Xiān Yǔ langsung drop. Rambut hijaunya perlahan kembali menjadi perak, dan mawar di telinganya layu lalu menghilang menjadi debu cahaya.
"Tuan Muda... aku lelah... ketampananku terkuras habis," keluh Xiān Yǔ sambil menyandar di pohon.
Yi Ling mendekati pohon itu, menatap sisa-sisa api hitam di tanah. "Sekte Bayangan Gagak biasanya tidak bergerak kecuali ada perintah dari istana. Zhi Yue, apakah ayahmu menghilang karena urusan militer, atau karena dia tahu sesuatu tentang gulungan pusaka ini?"
Zhi Yue terdiam, ia menyarungkan pedangnya dengan tangan yang sedikit bergetar. "Ayahku mengirimiku surat terakhir sebelum hilang. Dia bilang, 'Nirwana bukan tempat keabadian, tapi penjara bagi mereka yang melupakan kemanusiaan'. Aku tidak mengerti maksudnya sampai aku bertemu kalian."
Zhui Hai mendekat, memberikan sepotong manisan yang tersisa kepada Zhi Yue. "Makanlah. Berpikir butuh gula."
Zhi Yue menatap manisan itu, lalu menatap tiga pria aneh di depannya. Ia baru menyadari bahwa perjalanannya kali ini bukan sekadar mencari ayahnya, tapi masuk ke dalam badai yang melibatkan seluruh dunia persilatan.
"Gerbang Nirwana tinggal dua hari perjalanan dari sini," ucap Zhi Yue pelan. "Tapi setelah serangan tadi, kurasa kita tidak akan sampai ke sana dengan utuh jika hanya mengandalkan keberuntungan."
Yi Ling menatap ke arah ufuk barat, di mana matahari mulai tenggelam. "Keberuntungan sudah meninggalkan kita sejak kita makan daging panggang gratis itu, Nona Zhi. Sekarang, yang kita punya hanyalah pedangmu, serulingku, dan... narsisme Xiān Yǔ yang tidak ada batasnya."
"Hei! Aku dengar itu!" teriak Xiān Yǔ dari kejauhan.