Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Amarah Atlas
Satu jam berlalu, dan kecemasan menyelimuti Atlas. Ia terlihat mengernyitkan dahi karena adik perempuannya masih belum kembali.
Atlas ingin menyusul Alicia, tetapi ia terhambat oleh rentetan pertanyaan dari rekan Tuan Benjamin. Selain itu, ia tidak ingin Alicia merasa kesal jika ia mengawasinya terlalu berlebihan.
Ponselnya yang kehabisan baterai semakin menambah kegelisahan Atlas. Ia benar-benar tidak memiliki cara untuk menghubungi adiknya di luar sana.
"Kenapa, Atlas? Kau tampaknya terlihat cemas," tanya Benjamin.
"Ya, Tuan Benjamin, aku hanya khawatir karena Alicia belum kembali. Ini sudah satu jam. Aku takut dia pergi terlalu jauh bersama temannya.”
"Kau terlalu berlebihan, Atlas. Aku yakin dia baik-baik saja. Tidak ada yang berani mengganggunya, apalagi di lingkungan elit seperti ini. Mereka pasti sedang mengobrol di luar sana. Biarkan dia menikmati waktunya. Alicia mungkin juga lelah berada di dalam. Tenanglah, nikmati saja hidangan ini dulu."
Kata-kata Benjamin membuat Atlas sedikit terdiam. Ia mengangguk dan mencoba mengikuti saran tersebut.
Atlas dengan cepat menghabiskan segelas anggur yang dituangkan oleh pelayan. Rasa tidak nyaman di hatinya sedikit mereda, lalu ia berkata, "Kau benar, Tuan Benjamin. Aku sudah terlalu bersikap terlalu protektif pada adikku. Lagipula, kami sudah lama tidak bertemu sejak aku mulai bekerja di kota. Kecurigaanku terus menghantuiku, takut dia mungkin berbohong."
Benjamin tertawa kecil dan menepuk bahu Atlas. "Tidak apa-apa. Itu adalah bentuk kepedulianmu terhadap Alicia. Jika kau masih ingin memeriksanya, sebaiknya minta salah satu pengawalku untuk mengawasinya. Jika kau melakukannya secara terang-terangan, Alicia mungkin akan merasa malu dan kesal. Kita harus memahami adik kita. Kebanyakan dari mereka tidak suka jika kakaknya terlalu mengatur."
Ide itu masuk akal bagi Atlas, dan ia menyetujuinya. Segera, Benjamin memanggil salah satu pengawalnya dan memintanya untuk memantau keberadaan Alicia.
"Sekarang kau bisa menikmati hidangan penutup dengan tenang. Dia akan segera kembali, dan kita akan memastikan Alicia baik-baik saja," kata Benjamin dengan senyum hangat.
Rasa percaya diri mulai tumbuh dalam diri Atlas. Ia mulai menikmati hidangan penutup di hadapannya. Namun, semuanya berubah ketika pengawal Benjamin kembali lima menit kemudian dengan wajah tegang dan bergegas mendekati Atlas.
"Tuan Atlas.”
"Ya, ada apa? Alicia tidak pergi jauh, kan?"
"Maaf, Tuan Atlas, tapi kami tidak dapat menemukan Nona Alicia. Dia tidak ada di sekitar sini. Kami sudah mencari hingga ke jalan depan gerbang, tetapi tidak menemukan Nona Alicia."
Mata Atlas melebar, dan ia langsung berdiri dari kursinya. Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkan ruangan, membuat Benjamin terlihat kebingungan.
"Ada apa?" tanya Benjamin kepada para pengawal.
"Nona Alicia menghilang, dia tidak ada di sekitar sini."
"Apa?! Kau yakin tentang ini?"
"Ya, Tuan Benjamin."
Kepanikan di wajah Benjamin membuat para tamu lain di ruang VIP menjadi penasaran. Namun, agar tidak menimbulkan keributan, Benjamin memilih untuk tidak mengungkapkan situasi sebenarnya dan memutuskan untuk mengikuti Atlas keluar.
Sementara itu, Atlas terlihat panik saat mencari adiknya. "Alicia! Kau di mana!"
Suaranya menggema saat ia mendekati taman tempat Alicia diculik. Ia merasakan penyesalan karena tidak mengikuti nalurinya untuk mengawasi Alicia sebelumnya.
"Atlas!" Benjamin dan para pengawalnya mendekat, ditemani oleh petugas keamanan dan seorang pria tua yang merupakan penyelenggara acara.
"Tuan Benjamin, aku tidak bisa menemukan Alicia. aku tidak tahu bagaimana menghubunginya, ponselku mati karena baterainya habis!"
"Tenanglah, Atlas. aku sudah memberi tahu Darius, dan dia akan mengizinkan kita mengakses rekaman kamera pengawas di gedung ini. Mungkin ada petunjuk tentang ke mana adikmu pergi," kata Benjamin sambil menunjuk ke arah penyelenggara acara.
"Baiklah, kalau begitu tolong lakukan sekarang. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adikku, Tuan Benjamin!"
Mereka segera kembali ke dalam gedung dan menuju ruang pengawasan.
Pikiran Atlas dipenuhi berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan tindak kriminal yang melibatkan adiknya.
"Baik, pada jam berapa adikmu menghilang?" tanya Darius kepada Atlas.
"Pukul 19:30."
Petugas pengawas dengan sigap mengoperasikan layar di hadapannya.
Atlas mendekat ketika ia melihat Alicia muncul di monitor.
"Itu dia!" Atlas menunjuk ke arah sosok adik tercintanya. "Dia pergi ke mana?”
Rekaman kamera memperlihatkan Alicia berjalan menuju sisi kanan gedung yang gelap. Sayangnya, kamera tidak dapat menangkap apa pun setelah titik itu, dan rekaman berakhir di jalan yang gelap.
"Sial! Apa tidak ada kamera pengawas lain yang bisa memberikan pandangan lebih jelas tentang Alicia? Apakah tidak ada kamera di area itu?"
"Itu adalah taman, dan sejauh yang aku tahu, tidak ada kamera pengawas di sana. Jalannya gelap, lampunya sudah mati beberapa hari, jadi kemungkinan ini saja yang bisa kami tunjukkan," jawab Darius.
Kata-kata Darius membuat Atlas merasa putus asa. Ia diliputi ketakutan dan kemarahan. Ke mana perginya adik yang sangat ia cintai?
Mata Atlas tetap terpaku pada layar pengawas, mencari petunjuk lain yang mungkin terlewat. Lalu, pada waktu 19:35, kamera menangkap pantulan lampu mobil.
Atlas mendekat ke layar dan berteriak, "Hentikan! Hentikan rekamannya!"
"Itu mobil. Mungkinkah adikmu dijemput oleh temannya?" tanya Tuan Benjamin.
"Putar ulang." Atlas menepuk bahu operator kamera. "Mundur sedikit.”
Lampu mobil yang tertangkap kamera berasal dari arah berlawanan dengan kamera pengawas gedung. Pantulan itu menghilang begitu cepat hingga bukti tersebut kembali menjadi jalan buntu. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikiran Atlas.
"Bagaimana kalau adikku diculik?" Balasnya.
Semua orang menoleh padanya dengan ekspresi bingung.
Atlas kemudian teringat pertikaiannya dengan Stevan. Seketika, ia mengepalkan tinjunya dan mulai percaya bahwa hilangnya Alicia mungkin adalah ulah Stevan. Kepanikan dan kecurigaan menguasainya, tanpa berkata apa pun, ia meninggalkan Benjamin dan yang lainnya.
Amarah terpancar di mata Atlas. Hatinya semakin yakin bahwa Alicia benar-benar telah diculik, karena sangat tidak mungkin baginya untuk melanggar janji kembali dalam waktu setengah jam. Ekspresi Atlas berubah mengerikan, giginya bergemeretak saat ia bergumam, "Stevan!”
Mata Atlas dengan cepat menyapu setiap tamu yang datang untuk mencari Stevan. Di belakangnya, pengawal Benjamin mengikuti sesuai perintah.
Langkah kaki pengawal itu membuat Atlas menoleh dan berkata, "Bantu aku cari Stevan! Lihat ke sana."
Mereka berpencar, ratusan orang di ruangan itu membuat pencarian menjadi cukup sulit. Akhirnya, mata Atlas menangkap sosok mantan pacarnya, Bianca, yang sedang menikmati kue di sudut ruangan.
Napas Atlas menjadi berat, ia mencengkeram lengan Bianca dan menariknya dengan kasar. "Dimana Stevan?!"
Bianca panik melihat Atlas yang dipenuhi amarah. Namun ia tetap berusaha tidak menunjukkan rasa takutnya dan menepis tangan mantan pacarnya. "Kendalikan dirimu, Atlas!"
"Diam dan jawab pertanyaanku! Di mana Stevan?!"
Bianca menyembunyikan kegugupannya. Namun rasa percaya dirinya bahwa Atlas adalah pria lemah yang tidak berani melakukan hal nekat membuatnya menjawab dengan tenang. "Apa urusanmu mencari Stevan?"
"Aku tidak sedang ingin bermain-main, Bianca."
"Aku juga tidak. Bicara denganmu hanya membuang-buang waktuku. Dan aku akan melaporkan perlakuan kasar yang baru saja kau lakukan!"
"Tuan Atlas!" pengawal Benjamin mendekat. "Aku tidak menemukan Stevan."
Atlas mengangguk dan menatap Bianca dengan sinis. "Tidak masalah. Sekarang tugasmu bawa wanita ini keluar. Dia ingin bermain-main denganku."
Pengawal Benjamin mengangguk dan memegang lengan Bianca. Wanita itu terlihat melawan. "Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan, Atlas!"
"Ikut saja dan berhenti melawan! Usahamu menarik perhatian sia-sia. Tidak ada yang peduli padamu di sini! Sadar, Bianca, kau bukan bagian dari mereka. Bahkan jika kau pingsan di sini, tidak ada yang peduli! Wanita lain jauh lebih anggun dan enak dipandang! Benar begitu, pengawal?”
"Tepat sekali, Tuan Atlas. Kebanyakan tamu di sini tidak peduli pada orang yang bukan rekan bisnis atau keluarga mereka. Terutama jika kau berasal dari latar belakang biasa."
Bianca tampak hampir menangis, merasa sangat dipermalukan oleh Atlas. "Menurutmu kau siapa, Atlas?! Stevan tidak akan diam dan akan membalas perbuatanmu!"
Atlas tetap tenang, ia terus berjalan menuju pintu keluar dan berhenti di jalan gelap tempat Alicia terakhir terlihat di kamera pengawas.
Bianca kembali melawan dan melepaskan diri dari pengawal Tuan Benjamin. "Lepaskan dia," kata Atlas.
"Kau! Kau akan–."
Sebelum Bianca sempat membalas, tangan Atlas dengan cepat mencengkeram wajahnya. "Aku tidak punya banyak waktu, Bianca. Katakan rencanamu dan di mana Stevan. Di mana adikku?"
"Stevan sedang pergi dengan rekan ayahnya, dan aku tidak tahu di mana adikmu! Kenapa kau malah menanyakan wanita murahan itu? Mungkin dia sedang menjual dirinya pada pria lain di gedung ini!"
"Jangan katakan itu!" cengkeraman Atlas pada wajah Bianca semakin kuat, membuatnya kesakitan dan air matanya mengalir.
"A-Atlas! Ugh!"
Atlas mendorong wajah Bianca dan berteriak keras. Teriakannya menggema di keheningan malam. Untuk pertama kalinya, Bianca melihat Atlas dalam keadaan yang begitu menakutkan. Selama ini, Atlas tidak pernah menunjukkan sisi aslinya saat marah.
Karena takut, Bianca gemetar dan mundur selangkah. Atlas membuka jaketnya, melemparkannya ke tanah, lalu kembali mendekati Bianca.
"Jangan berbohong, Bianca! Katakan yang sebenarnya! Aku tahu kau dan kelompokmu yang menyebabkan adikku menghilang! Katakan di mana Stevan!"
Atlas berteriak, membuat Bianca semakin ketakutan. Air mata yang terus mengalir menjadi satu-satunya responsnya.
"Jawab pertanyaanku, dasar wanita murahan! Aku tidak butuh air matamu!"
Atlas mencengkeram lengan Bianca dan menekannya hingga akhirnya Bianca berteriak. "Aku tidak tahu, Atlas, sungguh! Aku tidak tahu apa pun tentang apa yang kau katakan!"
"Argh!" Atlas mendorong Bianca menjauh. "Kau hanya membuang-buang waktuku! Bawa dia pergi! Awasi dia, jangan sampai dia melarikan diri!"
Pengawal Benjamin segera menarik tangan Bianca. Kali ini Bianca tidak melawan, tubuhnya sudah terlalu lemah akibat tekanan dari amarah Atlas.
Rasa frustrasi menguasai Atlas, pikirannya tidak bisa berpikir jernih. Ia menendang jaketnya di jalan dengan marah.
"Bagaimana bisa Alicia menghilang di sini? Aku yakin semua ini karena ulah Stevan!"
Atlas kemudian duduk di pinggir jalan, ia menarik napas dan mencoba menenangkan diri. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan perlahan sesuatu yang tak terduga terjadi.
Kekuatan yang ia miliki memberikan petunjuk tentang penculikan yang terjadi. Secara samar, ia melihat dalam pikirannya tubuh Alicia dibawa ke dalam mobil dengan plat nomor REJ-288.
Seketika Atlas terkejut dan langsung berdiri. Ia berlari kembali ke dalam gedung untuk menemui Benjamin dan melacak lokasi mobil dengan nomor tersebut.
"Tunggu aku, Alicia!”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗