Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Marcello mengetuk pintu dengan ragu. Dante keluar dari kamar dengan wajah yang tampak lebih lelah daripada saat perang.
"Bos... Moretti mengirimkan hadiah pernikahan," bisik Marcello.
Dante membuka sebuah kotak hitam kecil yang dibawa Marcello. Di dalamnya bukan perhiasan, melainkan sebuah dot bayi yang terbuat dari perak, namun telah penyok dan berlumuran darah segar. Di bawahnya ada secarik kertas.
"Selamat atas pewarisnya. Mari kita lihat apakah dia bisa bertahan lebih lama dari ibunya."
Dante meremas kertas itu hingga hancur. Ia menoleh ke arah kamar di mana Alicia masih mengomel tentang bau sprei.
"Marcello, perketat penjagaan. Jangan biarkan satu pun lalat masuk tanpa izin. Dan satu lagi..." Dante menatap Marcello dengan serius. "Cari bubur ayam Jakarta. Aku tidak peduli bagaimana caranya, terbangkan bahan-bahannya atau culik kokinya. Jika istriku ingin bubur, dia harus mendapatkannya sebelum dia menghancurkan vila ini."
Di tengah malam yang sunyi, Alicia terbangun dan tidak menemukan Dante di sampingnya. Ia melangkah keluar kamar dengan kaki telanjang, menuju balkon, dan melihat Dante sedang berbicara dengan seseorang di kegelapan taman.
Pria yang diajak bicara oleh Dante mengenakan tudung hitam, namun Alicia mengenali postur tubuh itu. Postur tubuh yang seharusnya sudah terkubur di area parkir Milan.
"Bambang?" bisik Alicia, jantungnya berdegup kencang. "Kenapa Dante bicara dengannya?"
Udara malam Danau Como yang biasanya menyegarkan kini terasa seperti racun bagi indra penciuman Alicia yang sensitif. Di bawah keremangan lampu taman, ia mematung di balik pilar balkon. Matanya menyipit, berusaha memastikan penglihatannya yang agak kabur karena mual yang belum hilang.
Pria bertudung itu berdiri dalam bayangan, namun gesturnya, cara dia berdiri dengan tangan di belakang punggung dan sedikit kemiringan kepala adalah tanda pengenal yang tidak bisa Alicia lupakan. Itu Bambang.
"Dante... apa yang kau lakukan?" bisik Alicia hampir tak terdengar.
Ia ingin berteriak, namun perutnya tiba-tiba bergejolak hebat lagi. Alicia membekap mulutnya, berbalik dengan cepat, dan berlari menuju kamar mandi sebelum ia mempermalukan dirinya sendiri di depan musuh.
Di taman, Dante tidak menyadari pengawasan istrinya. Ia menatap pria di depannya dengan tatapan tajam.
"Kau punya waktu lima menit untuk menjelaskan mengapa aku tidak boleh melubangi kepalamu sekarang juga, Bambang," suara Dante bergetar karena kemarahan yang tertahan.
Pria itu membuka tudungnya. Itu memang Bambang, namun wajahnya kini dihiasi bekas luka bakar yang mengerikan di sisi kiri, hasil dari ledakan di penthouse tempo hari. "Karena hanya aku yang tahu siapa yang sebenarnya membayar Moretti untuk membunuh istrimu malam ini, Dante. Dan itu bukan klan mafia sainganmu."
Dante menyipitkan mata. "Bicara."
"Ada faksi di dalam pemerintahanku yang merasa ayah Alicia terlalu berkuasa. Mereka tidak ingin cucu Surya Atmadja lahir dengan darah mafia Italia di nadinya. Itu akan menjadi senjata politik yang terlalu kuat," Bambang tersenyum miring, senyum yang terlihat mengerikan dengan luka bakarnya. "Aku tidak di sini sebagai musuhmu, Dante. Aku di sini karena aku benci menjadi pion yang dibuang setelah gagal."
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela setinggi langit-langit di kamar utama disambut dengan erangan frustrasi dari Alicia. Ia merasa seperti baru saja dipukuli habis-habisan. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini berantakan, dan ia hanya mengenakan kaus kebesaran milik Dante karena gaun sutranya terasa "terlalu mencekik".
"Dante! Aku lapar tapi aku benci makanan!" teriak Alicia ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.
Dante muncul dengan handuk tersampir di bahunya. "Marcello sedang mengusahakannya, Alicia. Bersabarlah."
"Sabar? Kau tidak tahu rasanya ada alien yang sedang berpesta di dalam perutmu!" Alicia duduk tegak, lalu tiba-tiba wajahnya berubah bersemangat. "Aku ingin bubur ayam. Tapi bukan bubur ayam yang mewah. Aku ingin yang ada kerupuk kuningnya banyak, kacangnya renyah, dan sate ususnya harus ada kecapnya!"
Dante menghela napas. "Kita di Italia, Sayang. Bukan di Jakarta Selatan."
"Aku tidak peduli! Kau bilang kau penguasa! Jika kau bisa menyelundupkan senjata, kenapa kau tidak bisa menyelundupkan satu porsi bubur ayam?" Alicia mulai menangis, sebuah tangisan manja yang khas. "Kau tidak sayang padaku... kau hanya sayang pada pewarismu saja!"
Dante memijat keningnya. Menghadapi tentara bayaran terasa jauh lebih mudah daripada menghadapi Alicia di minggu kedelapan kehamilannya. "Baik. Berhenti menangis. Aku akan pastikan bubur itu sampai ke meja makanmu dalam satu jam."
Tiga puluh menit kemudian, sebuah jet pribadi klan Vallo mendarat di bandara terdekat, membawa seorang koki Indonesia yang diculik secara sopan namun paksa dari sebuah restoran di Milan, lengkap dengan bahan-bahan yang diterbangkan langsung dari kargo Asia di bandara Malpensa.
Saat mangkuk itu diletakkan di depan Alicia, ia menatapnya seolah itu adalah mahkota kerajaan.
"Ini dia..." Alicia menghirup aromanya. Namun, begitu uap panas bubur itu menyentuh hidungnya, ekspresinya langsung berubah. "Ew! Kenapa baunya seperti seledri? Aku benci seledri! Dante, buang ini!"
Marcello, yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah kelelahan, nyaris menjatuhkan senjatanya. "Nyonya, koki itu sudah berusaha."
"Buang!" Alicia mendorong mangkuk itu hingga tumpah di atas meja mahoni mahal. "Dan kenapa kau masih di sini, Dante? Kau tidak mandi pakai sabun bayi lagi ya? Bau maskulinmu ini membuatku pusing tujuh keliling!"
Dante menatap meja mahoninya yang ternoda kuah kuning, lalu menatap istrinya yang sedang merajuk dengan mata sembab. Ia memberi kode pada Marcello untuk membersihkannya.
"Alicia, kita perlu bicara serius," Dante duduk di tepi tempat tidur, menjaga jarak aman agar baunya tidak mengganggu istrinya.
"Tentang apa? Tentang betapa tidak becusnya anak buahmu mencari sarapan?"
"Tentang semalam. Aku tahu kau melihatku di balkon," Dante menatap tajam ke mata Alicia.
Alicia terdiam. Sisi manjanya seketika surut, digantikan oleh kewaspadaan. "Kenapa dia masih hidup? Dan kenapa kau bicara dengannya seperti teman lama?"
"Dia bukan teman. Dia adalah anjing yang mencari tuan baru karena tuannya yang lama mencoba membunuhnya," Dante menjelaskan dengan tenang. "Bambang memberitahuku bahwa ada rencana besar untuk menjatuhkan kita melalui ayahmu di Jakarta. Kita tidak bisa hanya berdiam diri di Como."
"Lalu apa rencanamu?" Alicia bertanya, suaranya mengecil.
"Kita akan pergi ke Sisilia. Ke benteng kuno keluargaku di pedalaman. Di sana, tidak ada sinyal GPS, tidak ada helikopter yang bisa mendekat tanpa ditembak jatuh, dan dokternya adalah orang kepercayaanku," Dante mengusap pipi Alicia. "Kau tidak bisa terus mengomel soal bubur di sini, Alicia. Tempat ini sudah tidak aman."
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣