Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 invasi matahari emas dan bank sentral kematian
Lautan Awan Spiritual yang memisahkan Benua Atas dan Benua Tengah bukanlah perairan biasa. Gumpalan awan tersebut memiliki kepadatan setara dengan raksa cair, dipenuhi oleh badai anomali dimensi yang sanggup merobek tubuh ahli ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)* menjadi kepingan daging dalam hitungan detik. Selama puluhan ribu tahun, tempat ini menjadi tembok pemisah absolut. Wilayah ini mengisolasi peradaban para dewa kuno di Benua Tengah dari sekte-sekte yang mereka anggap sebagai masyarakat kelas dua di Benua Atas.
Hari ini, keheningan Lautan Awan Spiritual terkoyak oleh kemunculan sebuah armada yang memancarkan dominasi mutlak.
Bukan sekadar kapal terbang kayu spiritual, melainkan sebuah Kereta Perang Matahari Emas yang ukurannya menyerupai sebuah kota terapung. Kereta raksasa itu ditarik oleh sembilan ekor Naga Suci Bersisik Emas—monster purba yang masing-masing memiliki kekuatan setara dengan puncak ranah *Jiwa Baru*. Di sekeliling kereta perang tersebut, seribu prajurit elit yang tergabung dalam *Pasukan Bintang Jatuh (Vanguard of the Heavenly Court)* melayang menggunakan formasi pedang terbang. Setiap prajurit memancarkan fluktuasi qi ranah *Jiwa Baru* tahap awal.
Di Benua Timur, satu ahli *Jiwa Baru* sudah cukup untuk dipuja sebagai dewa pelindung kekaisaran. Di Benua Tengah, mereka hanyalah prajurit garda depan yang bertugas membersihkan jalan.
Di atas anjungan Kereta Matahari Emas, Jenderal Huangpu Ye berdiri dengan postur sedingin es. Pemuda berpakaian zirah emas putih itu memegang sebuah tombak raksasa berukir naga melingkar. Auranya yang berada di ranah *Domain Bumi (Earth Realm)* tahap awal menekan awan-awan di bawahnya hingga membentuk pusaran cekung sejauh puluhan kilometer.
"Jenderal," seorang wakil komandan melangkah mendekat, membungkuk dengan sangat hormat. "Kita akan segera menembus batas atmosfer Benua Atas. Berdasarkan laporan pengungsi Yun Canghai, target bernama Cang Qixuan memiliki armada meriam yang tidak lazim dan kekayaan yang melimpah. Apakah kita harus menerapkan formasi siluman untuk menyusup?"
Huangpu Ye melirik wakil komandannya dengan tatapan merendahkan. "Menyusup? Kita adalah utusan Sekte Titah Langit. Menyusup ke daratan kaum rendahan adalah penghinaan terhadap panji yang kita bawa. Buka seluruh segel formasi! Biarkan cahaya kereta ini membutakan mata mereka. Aku ingin seluruh penghuni Benua Atas bersujud saat roda keretaku menyentuh langit mereka."
Sang wakil komandan segera mengangguk patuh. "Siap laksanakan!"
Kereta Perang Matahari Emas melesat menembus tabir dimensi, muncul di langit Benua Atas layaknya matahari kedua yang terbit dari arah yang salah. Hawa panas dan tekanan gravitasi spiritual langsung menyapu daratan di bawahnya.
Di salah satu kota pelabuhan terbesar Benua Atas, para kultivator lokal yang sedang sibuk bertransaksi mendadak jatuh tersungkur. Tulang mereka berderak menahan beban aura ribuan ahli *Jiwa Baru* yang melintas di angkasa.
Huangpu Ye menatap daratan di bawahnya dengan alis berkerut. Matanya yang tajam menyapu lanskap pesisir.
"Dimana sisa-sisa reruntuhan Istana Pedang Guntur Suci?" gumam Huangpu Ye dingin.
"Lapor, Jenderal!" seorang pengintai yang baru saja menggunakan cermin penilik bumi berteriak dari tiang utama. "Pesisir Guntur telah bersih total! Tidak ada satu pun puing atau batu spiritual yang tersisa! Area itu... area itu telah diaspal menjadi jalur perdagangan baru dengan bendera bergambar katak emas berkibar di mana-mana!"
Huangpu Ye mendengus jijik. "Seorang pedagang fana benar-benar berani mengklaim wilayah sekte ortodoks menjadi pasar loaknya. Kirim satu peleton ke bawah. Tangkap penguasa kota pelabuhan ini. Jika dia menolak bicara letak persisnya sarang si tikus bernama Qixuan itu, bakar kotanya hingga menjadi abu."
Ratusan prajurit Bintang Jatuh menukik turun layaknya hujan meteor. Hanya dalam waktu kurang dari satu batang dupa, jeritan kepanikan meledak dari kota pelabuhan tersebut. Pertahanan kota yang dijaga oleh ahli *Inti Emas* hancur layaknya kertas basah. Penguasa kota diseret hidup-hidup, tubuhnya dipenuhi luka bakar, dan dilemparkan ke geladak kereta perang di depan kaki Huangpu Ye.
"A-Ampun... Dewa dari Benua Tengah... Ampun..." ratap penguasa kota itu, gemetar hebat melihat tombak emas Huangpu Ye.
"Dimana Cang Qixuan?" tanya sang Jenderal tanpa basa-basi, ujung tombaknya diletakkan tepat di atas tenggorokan pria tersebut.
"T-Tuan Muda Cang... D-Dewa Kekayaan tidak ada di Benua Atas! B-Beliau telah kembali ke ibukota Jinling di Benua Timur sebulan yang lalu!" penguasa kota itu berbicara tersendat-sendat, air matanya membasahi lantai emas kereta. "S-Semua transaksi di benua ini sekarang diatur oleh wakilnya, Paviliun Fatamorgana Surga! Beliau mengendalikan segalanya dari Benua Timur!"
"Benua Timur yang fana?" Huangpu Ye menarik tombaknya, ekspresinya memancarkan kebosanan yang mendalam. "Orang tua Yun Canghai itu bahkan tidak mampu membunuh lintah darat yang bersembunyi di daratan tanpa qi alam. Benar-benar sampah yang tidak berguna."
Tanpa sedikit pun keraguan, Huangpu Ye mengayunkan kakinya, menendang penguasa kota itu hingga terlempar keluar dari geladak kereta. Tubuh pria itu meledak di udara akibat sisa qi yang ditanamkan Huangpu Ye pada tendangannya. Hujan darah mengguyur kota di bawah mereka.
"Ubah arah kemudi!" perintah Huangpu Ye suaranya menggema membelah awan. "Tembus batas menuju Benua Timur. Kita akan mengubah ibukota Jinling menjadi kawah abadi hari ini juga. Biarkan lintah darat itu tahu bahwa kekayaannya tidak bisa membeli nyawanya di hadapan kekuatan surgawi mutlak!"
Kereta Perang Matahari Emas berbelok tajam. Sembilan naga suci mengaum, memacu kecepatan melintasi langit menuju benua fana yang tidak pernah menduga kedatangan kiamat dari langit tertinggi.
Sementara bahaya berskala apokaliptik melesat menuju arahnya, jantung pertahanan Benua Timur—Menara Teratai Emas di Jinling—tampak sibuk dengan rutinitas administratif yang luar biasa efisien.
Di ruang takhta lantai puncak, Cang Qixuan duduk santai di kursinya sambil membaca sebuah laporan yang terbuat dari gulungan sutra. Asap tipis mengepul dari cangkir teh spiritual di hadapannya.
Di ruangan tersebut, Shen Feiyan berdiri memaparkan presentasi panjang mengenai restrukturisasi ekonomi dua benua. Wanita rubah itu kini mengenakan kacamata berbingkai emas tipis, menambah kesan cendekiawan yang mematikan pada kecantikannya.
"Tuanku, proses akuisisi aset-aset sekte kecil di Benua Atas telah rampung hingga sembilan puluh persen," lapor Shen Feiyan sembari menunjuk ke arah peta gaib holografik yang melayang di tengah ruangan. Titik-titik cahaya emas menutupi nyaris seluruh peta.
"Sejak kejatuhan tiga pilar utama sekte atas, faksi-faksi kecil kehilangan pelindung mereka. Alih-alih menghancurkan mereka dengan meriam, hamba mengikuti instruksi Anda untuk menggunakan 'Pinjaman Pembangunan Kembali'. Kamar Dagang Katak Emas meminjamkan jutaan batu spiritual kepada mereka dengan bunga yang sangat progresif."
Qixuan menyeringai, matanya tidak beralih dari gulungan di tangannya. "Dan saat mereka gagal membayar cicilan pertamanya?"
"Sesuai kontrak yang telah disepakati dan diikat dengan sumpah darah, seluruh hak kepemilikan gunung spiritual, tambang logam, serta ladang herbal mereka otomatis jatuh ke tangan Jaring Bayangan," Shen Feiyan tersenyum licik, sebuah senyuman yang ia pelajari dari majikannya. "Saat ini, dari seratus sekte independen di Benua Atas, delapan puluh di antaranya secara teknis bekerja sebagai buruh kasar untuk melunasi hutang mereka kepada kita. Mereka tetap memakai jubah sekte mereka, terus berlatih pedang, sebaliknya hasil panen mereka sepenuhnya disetorkan ke kas kita."
Qixuan menutup gulungan sutra tersebut, meletakkannya di atas meja. "Sebuah sistem perbudakan yang sangat beradab. Mereka merasa masih memiliki kehormatan sebagai ahli bela diri, padahal mereka tidak lebih dari sekadar budak perkebunan bersertifikat dewa. Bagus sekali, Feiyan. Dengan ini, kita telah secara resmi mendirikan *Bank Sentral Kekaisaran Bayangan*."
Yan Ling, yang mendengarkan laporan tersebut dari samping meja, menggelengkan kepalanya dengan rasa takjub yang tak berujung. Qixuan tidak perlu membantai setiap manusia di Benua Atas untuk menguasainya. Pemuda itu hanya merancang sebuah sistem ketergantungan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Sistem ini jauh lebih mengerikan dari sihir pengendali pikiran mana pun di dunia kultivasi.
"Lalu, mengenai mata uang baru kita, Tuanku," Shen Feiyan melanjutkan laporannya. "Hamba telah menarik peredaran keping emas tradisional dan batu spiritual kelas rendah di pasaran. Sebagai gantinya, Bank Sentral kita merilis 'Surat Berharga Bunga Emas'—kertas uang yang dicetak menggunakan tinta darah naga yang mustahil dipalsukan. Kertas ini dijamin sepenuhnya oleh cadangan lima ratus juta batu spiritual yang kita miliki di brankas bawah tanah menara ini."
"Sempurna," Qixuan mengangguk puas. "Siapa pun yang ingin berdagang, makan, atau membeli senjata di dua benua ini harus menukarkan barang mereka dengan kertas cetakan kita. Jika ada yang menolak?"
"Mereka tidak akan bisa membeli sebutir beras pun. Jaring Bayangan akan memastikan tidak ada pedagang yang melayani mereka. Mereka akan kelaparan di atas gunung suci mereka," jawab Yan Ling tegas, menimpali dengan pemahaman birokrasinya.
Tepat saat diskusi ekonomi tingkat tinggi itu mencapai kesimpulannya, suhu di dalam ruang takhta mendadak turun hingga mencapai titik beku absolut. Bayangan dari pilar-pilar ruangan memanjang dan menyatu di tengah lantai.
Dari dalam pusaran kegelapan tersebut, sosok Mo Chen melangkah keluar.
Penampilan pengawal berpakaian hitam legam itu telah berubah drastis. Ia tidak lagi memancarkan hawa membunuh layaknya bilah pedang tajam. Sebaliknya, auranya terasa kosong. Jika mata fana melihatnya, mereka akan merasa sedang menatap ruang hampa yang menyerap segala bentuk keberadaan.
Mo Chen telah menyerap tuntas Inti Jiwa Kegelapan yang diberikan oleh Qixuan tempo hari. Ia berhasil menembus batas fana, melangkah secara kokoh ke ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)* tahap awal. Sebagai seorang kultivator jalur bayangan, terobosannya menghasilkan kemampuan siluman absolut yang bahkan ahli ranah *Domain Bumi* akan kesulitan mendeteksinya.
Mo Chen berlutut dengan satu lutut. "Hamba telah menyelesaikan tugas meditasi, Tuanku. Pedang ini kini seratus kali lebih tajam dari sebelumnya."
"Bangkitlah, Mo Chen. Kau tidak mengecewakanku," puji Qixuan mengibaskan kipasnya pelan. "Tubuhmu kini telah menembus batasan fana. Jalan bayangan yang kau tempuh adalah jalan yang sangat sepi, pastikan hatimu tidak ikut terseret ke dalam ketiadaan."
"Satu-satunya cahaya di dalam ketiadaan hamba adalah titah Anda, Tuanku," jawab Mo Chen dengan sumpah setia yang menggema hingga ke akar jiwanya.
Pertemuan damai itu mendadak terusik. Ketenangan pagi di Jinling terkoyak oleh suara ledakan yang sangat masif dari arah langit timur.
*DUAARRRRR!!! KRAAATAAK!*
Lantai pualam Menara Teratai Emas bergetar hebat. Teh di dalam cangkir Qixuan tumpah membasahi pinggiran meja.
Shen Feiyan dan Yan Ling langsung memegang tepian meja untuk menjaga keseimbangan. Wajah mereka pucat pasi. Suara robekan dimensi tadi bukanlah guntur biasa; itu adalah suara dari tameng pertahanan atmosfer Benua Timur yang dipaksa hancur dari luar.
Qixuan tidak berdiri. Ekspresinya sama sekali tidak berubah, hanya sepasang alisnya yang sedikit bertaut menatap noda teh di mejanya.
"Tuanku! Ada tekanan energi yang sangat mengerikan memasuki wilayah udara Jinling!" seru Yan Ling panik, melirik ke arah luar jendela raksasa.
Langit yang tadinya cerah kini diliputi oleh warna keemasan darah. Awan-awan di atas kota mendidih, menguap akibat suhu ekstrem yang terpancar dari sebuah benda raksasa yang turun perlahan dari angkasa.
Kereta Perang Matahari Emas milik Sekte Titah Langit telah tiba. Sembilan naga suci yang menarik kereta tersebut mengaum bersamaan, auman mereka merontokkan genting-genting atap ribuan rumah di bawah sana. Rakyat Jinling yang malang berhamburan ke jalanan, menjerit ketakutan melihat perwujudan kiamat yang melayang tepat di atas ibu kota.
Suara Huangpu Ye menggelegar dari atas langit, diperkuat oleh qi *Domain Bumi*, menyapu seluruh Benua Timur layaknya dekrit pencabut nyawa.
"Penduduk benua fana yang kotor! Dengar baik-baik titah dari Sekte Titah Langit Benua Tengah! Kami datang bukan untuk menjajah, kami datang untuk melakukan pembersihan! Serahkan pemuda sesat bernama Cang Qixuan! Serahkan seluruh kekayaannya, armadanya, dan menara emas ini! Jika dalam waktu sepuluh hitungan dia tidak berlutut di bawah roda keretaku, aku akan membakar kota ini beserta seluruh serangganya!"
Suara itu mengandung niat membunuh yang absolut. Aura seribu pasukan *Jiwa Baru* menekan udara hingga pernapasan orang biasa terhenti.
Di dalam ruang takhtanya, Qixuan menghela napas panjang. Ia mengambil saputangan sutra dan membersihkan tumpahan teh di mejanya dengan gerakan yang luar biasa lambat dan metodis.
Shen Feiyan gemetar hebat. "T-Tuanku... itu adalah panji Benua Tengah... Sekte Titah Langit! Mereka adalah kaisar dari para kaisar di dunia kultivasi! K-Kita tidak bisa menahan mereka! Di atas kereta itu terdapat ratusan ahli Jiwa Baru dan seorang ahli Domain Bumi! Formasi kita tidak akan sempat diaktifkan!"
"Nona Shen, cobalah atur napasmu. Kepanikan merusak struktur logikamu sebagai seorang bendahara," Qixuan menegur dengan nada bosan. Ia membuang saputangan kotor itu ke lantai. "Kaisar dari para kaisar? Bagiku, mereka hanyalah sekawanan perampok tidak berpendidikan yang baru saja merusak pintu depan rumahku tanpa permisi."
Qixuan bangkit berdiri perlahan. *Inti Emas Kegelapan*-nya berputar lambat, menekan seluruh kepanikan di dalam ruangan dengan gravitasi ketenangan absolut.
"Mo Chen," panggil Qixuan.
"Hamba siap, Tuanku."
"Beritahu Hong Lian. Jangan gunakan Meriam Kiamat terlebih dahulu. Aku tidak ingin langit ibukota dipenuhi asap tebal yang menghalangi sinar matahari soreku. Aktifkan *Formasi Tirai Sutra Emas* untuk melindungi kota dari hawa panas naga-naga kadal itu."
"Sesuai perintah," Mo Chen langsung melebur ke dalam bayangan lantai.
Qixuan menatap ke arah Yan Ling. "Wali Penguasa, siapkan sempoamu. Aku ingin kau menghitung setiap kerusakan yang terjadi di ibukota ini, mulai dari genting yang jatuh hingga debu yang mengotori jalanan akibat kedatangan mereka. Kita akan mengirimkan tagihannya pada jenderal berzirah emas yang sombong itu."
Pemuda itu memutar kipas gioknya, melangkah keluar menuju balkon terbuka di puncak menara. Angin panas dari kereta raksasa di angkasa menerpa wajahnya, mengibarkan jubah hitamnya.
Qixuan tidak terbang naik untuk menyambut musuhnya. Ia justru memanggil kursi santainya menggunakan qi, duduk di balkon, menyilangkan kaki, dan menatap kejutaan prajurit surga itu layaknya sedang menonton pertunjukan sirkus jalanan.
"Sepuluh!" Huangpu Ye menghitung dengan suara menggelegar dari atas langit.
"Sembilan!"
"Delapan!"
Qixuan hanya menguap. Ia menuangkan secangkir teh baru dari poci yang masih hangat.
"Kau berhitung terlalu lambat, Jenderal," potong Qixuan suaranya diperkuat menggunakan qi *Jiwa Baru* miliknya hingga menembus auman sembilan naga tersebut. Suaranya terdengar sangat santai, meremehkan, dan memancing emosi hingga ke batas maksimal. "Apakah guru di sekte Benua Tengah tidak mengajarimu cara menghitung dengan cepat? Atau kau sedang mencoba terlihat dramatis untuk menutupi fakta bahwa kau mampir kemari karena tidak punya uang untuk membeli makan siang?"
Perhitungan Huangpu Ye terhenti. Matanya membelalak penuh kemarahan menatap sosok kecil berjubah hitam yang duduk santai di balkon menara tertinggi tersebut. Seorang pemuda yang tidak menunjukkan secercah pun rasa takut menghadapi pasukan penghancur dunia.
"Cang Qixuan!" raung Huangpu Ye, tombak emas di tangannya memancarkan kilat yang menyambar-nyambar ke sekeliling. "Beraninya kau tetap duduk di hadapanku! Kau pikir kekayaan fanamu bisa membelimu tiket keluar dari neraka yang kubawa ini?!"
Qixuan menyesap tehnya. Ia mendecakkan lidah pelan.
"Kekayaan fana, katamu?" Qixuan tersenyum miring, matanya berubah menjadi pusaran warna biru kelam dan emas yang menakutkan. "Jenderal, kau merusak atap atmosfer kotaku, menakuti pelanggan pajakku, dan meneriakkan ancaman di atas wilayah propertiku. Sebelum kita berbicara tentang neraka, mari kita bicarakan tentang biaya kompensasi masuk tanpa izin (trespassing fee)."
Qixuan mengangkat sebelah tangannya, menjentikkan jari di udara.
*TRANG!*
Seketika, seluruh langit Jinling berdenting keras. Sebuah formasi raksasa berbentuk jaring sutra transparan berwarna emas menyelimuti seluruh ibukota, menolak tekanan gravitasi dari kereta perang tersebut secara langsung. Formasi ini tidak ditenagai oleh batu spiritual biasa, melainkan menyerap energi *Inti Urat Bumi Tingkat Surga* yang ditanam Qixuan di bawah menara.
"Selamat datang di Jinling, para tamu dari Benua Tengah," Qixuan mengipasi dirinya dengan santai, sementara pasukan dewa di atasnya mulai merasakan tarikan gravitasi aneh dari formasi tersebut. "Sebagai peringatan, di kota ini, oksigen pun memiliki harganya. Dan kalian semua baru saja menghirup napasku tanpa membayar."
Bentrokan antara pasukan supremasi dari Benua Tengah dan kapitalisme mutlak dari Dewa Kekayaan Jinling tidak terelakkan lagi. Huangpu Ye mengira dirinya datang untuk menginjak seekor semut, tanpa menyadari bahwa semut tersebut telah menyusun jebakan berduri yang siap mencabik-cabik keangkuhannya hingga ke tulang sumsum.