NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengejaran di Dermaga Kelam

Napas Renata memburu saat ia menatap punggung tegap Adrian yang menghilang di balik bayang-bayang koridor gudang. Di sekelilingnya, suara adu tembak mulai mereda, digantikan oleh erangan anak buah Victor yang berhasil dilumpuhkan oleh tim taktis.

​"Nona Renata, tetap di posisi Anda! Di luar sana terlalu berbahaya!" seru Baskara dengan tegas, mencoba menahan Renata yang tampak gelisah.

​Namun, keteguhan hati seorang Renata tidak bisa dibendung lagi. Di dalam kepalanya, bayangan wajah kakaknya, Maya, dan wajah Adrian yang menahan sakit akibat luka bahunya bercampur menjadi satu dorongan adrenalin yang kuat. Ia tidak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan suaminya bertaruh nyawa sendirian di luar sana.

​"Maaf, Baskara. Aku tidak bisa tinggal diam!"

​Sebelum Baskara sempat mencengkeram lengannya, Renata merunduk dan memungut sebuah senter taktis berdaya tinggi yang tergeletak di lantai dekat kaki salah satu penjahat yang pingsan. Dengan gerakan gesit, ia berlari menerobos pintu darurat, mengikuti jalur yang diambil oleh Adrian dan Victor.

​Begitu langkah kakinya melewati ambang pintu luar, angin laut malam yang dingin dan menusuk tulang langsung menyergap kulitnya. Suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga terdengar bergemuruh, menciptakan simfoni alam yang mencekam di bawah langit Tanjung Priok yang pekat tanpa bintang.

​Di ujung dermaga kayu tua yang panjang dan bergoyang, sebuah kapal pesiar kecil (yacht) mewah berwarna putih tampak sudah menyalakan mesinnya. Lampu laut sorot dari lambung kapal memantulkan cahaya putih terang ke atas permukaan air laut yang bergelombang hitam, siap untuk lepas sauh kapan saja.

​Di atas dek dermaga yang basah oleh cipratan air laut, langkah pelarian Victor akhirnya terhenti. Adrian berhasil menghadangnya tepat beberapa meter sebelum pria paruh baya itu mencapai jembatan penyeberangan kapal.

​"Sudah kubilang, pelarianmu selesai malam ini, Victor," desis Adrian. Suara baritonnya terdengar berat, menyatu dengan deru angin laut. Kemeja hitamnya yang robek melambai ditiup angin, memperlihatkan noda darah yang semakin melebar di bahu kanannya.

​Victor membalikkan badannya, wajahnya yang dihiasi bekas luka sayatan tampak berkerut penuh kebencian. "Kamu hanyalah bocah ingusan yang kebetulan mewarisi takhta Dirgantara, Adrian! Jangan merasa di atas angin!"

​Sreeet!

​Tanpa peringatan, Victor mengayunkan sebuah pipa besi tebal yang sengaja ia cabut dari instalasi dermaga yang rusak. Pipa itu membelah udara dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung ke pelipis Adrian.

​Adrian bergerak mundur dengan tangkas, berkelit hanya beberapa sentimeter dari jalur hantaman besi tersebut. Namun, saat ia mencoba melakukan serangan balasan menggunakan tangan kanannya, rasa sakit yang luar biasa menyengat dari luka jahitan bahunya mendadak mengunci gerakannya. Adrian meringis tertahan, membuat pertahanannya terbuka selama satu detik krusial.

​Victor, yang merupakan seorang petarung jalanan berpengalaman, tidak menyia-nyiakan celah tersebut. Pria paruh baya itu merangsek maju dan melayangkan hantaman siku yang sangat telak tepat di rahang kiri Adrian.

​Bugh!

​Hantaman keras itu membuat Adrian terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang. Kakinya mencengkeram lantai kayu dermaga yang licin, berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.

​"Mati kamu, Adrian!" geram Victor dengan mata mendelik setan. Tangan kanannya dengan cepat merogoh balik pinggang jasnya, mencabut sebilah pisau komando bermata ganda yang berkilat tajam di bawah sorot lampu kapal.

​Victor mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tusukan mematikan ke arah dada Adrian yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya akibat hantaman di rahang tadi.

​"Adrian, awas!" jerit Renata yang baru saja tiba di area dermaga terbuka.

​Dalam hitungan milidetik sebelum pisau itu menghujam tubuh suaminya, Renata mengarahkan senter taktis berdaya tinggi di tangannya tepat ke arah wajah Victor. Ia menyalakan mode strobe kilatan cahaya putih berfrekuensi tinggi yang sangat menyilaukan.

​BZZZZT! BLINK! BLINK!

​Cahaya menyilaukan itu menghantam langsung kornea mata Victor yang sudah terbiasa dengan kegelapan malam. Pria paruh baya itu berteriak jengkel, secara refleks mengangkat tangan kirinya untuk menghalau cahaya, membuat arah tusukan pisaunya melenceng jauh ke udara kosong.

​Momentum emas itu dimanfaatkan dengan sempurna oleh Adrian. Di tengah rasa sakit yang mendera bahunya, insting bertarungnya mengambil alih sepenuhnya. Adrian merendahkan tubuhnya, bertumpu pada kaki kirinya yang kuat, lalu melayangkan sebuah tendangan berputar (spinning back kick) dengan kekuatan penuh tepat mengenai ulu hati Victor.

​BRAKK!

​Hantaman kaki tegap Adrian terdengar begitu solid. Tubuh tegap Victor terbang mundur beberapa meter akibat daya dorong yang luar biasa, menghantam pagar pembatas dermaga kayu yang sudah lapuk hingga kayu-kayu tua itu patah berantakan.

​Pisau komando di genggamannya terlepas, meluncur bebas ke dalam pekatnya air laut internasional dengan suara plup kecil, sementara tubuh Victor sendiri terkapar tak berdaya di ujung patahan dermaga dengan napas yang terengah-engah akibat tulang rusuknya yang patah.

​Sang Kupu-Kupu Hitam yang selama satu tahun ini menjadi mimpi buruk bagi hidup Renata, akhirnya tumbang di bawah kerja sama sempurna aliansi dua singa Dirgantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!