-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Prang!
Sebuah asbak kristal tebal menghantam dinding marmer, hancur berkeping-keping sebelum jatuh mengenaskan di atas karpet beludru merah. Di dalam ruang kerja seluas seratus meter persegi yang terletak di lantai puncak gedung Mahendra Korpora, atmosfer terasa begitu mencekam hingga asisten pribadi Mahendra menahan napasnya, berdiri mematung dengan kepala tertunduk sedalam mungkin.
"Sialan! Arlan Dirgantara benar-benar bajingan!" geram Mahendra, suaranya menggelegar dipenuhi amarah yang membakar dada.
Ia membanting tumpukan dokumen tebal mengenai analisis lahan hulu ke atas meja jatinya dengan hentakan yang memekakkan telinga. Napasnya memburu, dasinya sudah ditarik longgar, dan guratan-guratan kemarahan tercetak jelas di wajahnya yang kaku.
Mahendra baru saja menerima laporan dari kaki tangannya di lapangan bahwa Dirgantara Group mulai mengusik lahan ulayat di perbatasan Jawa Barat—lahan yang sejak awal telah ia incar dan rencanakan untuk dibeli demi memutus urat nadi bisnis agro-properti milik Arlan.
Mahendra sama sekali tidak bisa menoleransi persaingan ini. Bagi pria yang selalu berambisi menjadi nomor satu di dunia korporasi itu, Arlan adalah batu sandungan terbesar.
Dalam lima tahun terakhir, ia terlalu sering menelan kekalahan pahit dari tangan dingin Arlan Dirgantara, mulai dari perebutan tender pengadaan logistik hingga akuisisi beberapa anak perusahaan. Setiap kekalahan itu tidak pernah hilang, melainkan mengendap menjadi dendam kesumat yang pekat dalam benaknya. Persaingan bisnis ini sudah berubah menjadi obsesi pribadi untuk menghancurkan Arlan, meruntuhkan harga diri sang tiran dari takhtanya.
Di tengah kepulan amarah yang belum mereda, pintu ganda ruang kerja tersebut terbuka tanpa ketukan.
Stella melangkah masuk dengan keanggunan seorang wanita metropolitan yang sadar betul akan daya tarik tubuhnya. Mengenakan terusan ketat berwarna hitam dan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai berirama, mantan istri Arlan itu menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap puing-puing kristal di lantai, lalu beralih pada Mahendra yang masih berdiri dengan rahang mengeras di balik meja.
"Ada apa, Mahendra? Kenapa kamu marah-marah seperti ini sampai suaramu terdengar hingga ke koridor luar?" tanya Stella, suaranya manja sekaligus menyimpan rasa ingin tahu yang besar.
Mahendra tidak segera menjawab. Ia menatap asisten pribadinya dengan pandangan dingin, lalu memberikan kode berupa kibasan tangan yang tegas ke arah pintu. Mengerti akan isyarat tersebut, sang asisten bergegas merapikan sisa dokumen yang berserakan, menunduk hormat, lalu keluar dengan langkah terburu-buru, menutup pintu ganda itu rapat-rapat.
Begitu keheningan kembali menguasai ruangan, Mahendra melangkah keluar dari balik meja besarnya. Langkah kakinya lebar, memangkas jarak di antara dirinya dan Stella. Sepasang matanya yang merah akibat amarah kini meredup, berganti menjadi tatapan yang dipenuhi oleh hasrat yang gelap dan mendesak. Mahendra membutuhkan pelampiasan. Ego dan harga dirinya yang baru saja terluka oleh Arlan menuntut sebuah penaklukan lain untuk membuktikan kekuasaannya. Dan tidak ada pelampiasan yang lebih nikmat bagi Mahendra selain menjamah wanita yang pernah dimiliki oleh rival terbesarnya itu.
Tanpa sepatah kata pun, Mahendra mencengkeram pinggang Stella dengan kasar dan posesif, menarik tubuh wanita itu hingga menempel tanpa jarak pada tubuh tegapnya.
Stella tersentak kecil, memekik pelan saat merasakan kekuatan lengan Mahendra yang mengunci pergerakannya.
"Mahendra, kamu—"
Kalimat Stella terputus sepenuhnya. Mahendra langsung membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang menuntut, kasar, dan penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Ciuman itu tidak dilandasi oleh kelembutan cinta, melainkan sebuah dominasi murni yang membakar rasa frustrasinya.
Stella, yang awalnya terkejut, perlahan-lahan mulai membalas ciuman tersebut, melingkarkan kedua lengannya di leher Mahendra, membiarkan dirinya terseret ke dalam pusaran gairah yang meluap.
Sambil terus mengunci bibir Stella, tangan Mahendra bergerak liar di lekuk tubuh wanita itu, meraba dengan intensitas yang semakin memuncak. Dengan satu gerakan dominan, Mahendra menggiring langkah kaki Stella yang mulai melemah menuju sebuah pintu rahasia di sudut ruangan—pintu menuju kamar istirahat pribadinya yang kedap suara dan mewah.
Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan yang temaram itu. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengisolasi mereka dari bisingnya dunia bisnis di luar.
Di atas ranjang berbalut sprei sutra gelap, kemarahan Mahendra melebur menjadi keintiman yang panas bersama Stella. Di bawah cengkeraman siang yang terselubung gairah, mereka saling melepaskan penat dan ambisi, menenggelamkan diri dalam penyatuan yang intens demi melupakan sejenak bayang-bayang nama Arlan Dirgantara yang selalu menghantui pikiran mereka.
Beberapa jam kemudian, di dalam kamar yang masih diselimuti keheningan, cahaya matahari sore menembus celah gorden yang sedikit terbuka.
Mahendra duduk di tepi ranjang dengan tubuh bagian atas yang polos, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil menyalakan sebatang rokok. Di sebelahnya, Stella berbaring menyamping, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada dengan kain satin putih, menatap Mahendra yang sedang mengembuskan asap rokok ke udara.
"Jadi, ini semua karena Arlan lagi?" tanya Stella lembut, jemarinya bergerak santai mengusap tato kecil di lengan atas Mahendra.
Mahendra mendengus, mematikan ujung rokoknya pada asbak di atas nakas dengan gerakan kasar. "Dia mulai bergerak ke lahan Jawa Barat. Daerah terpencil yang menjadi lokasi villa orang tuanya."
Stella mengernyitkan alisnya yang terukir sempurna, ingatan tentang kunjungannya yang gagal ke kantor Arlan beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya.
"Perkebunan teh? Setahuku Arlan jarang sekali peduli pada aset lama keluarganya di sana. Kecuali..." Stella menjeda kalimatnya, matanya mendadak melebar saat sebuah bayangan melintas. "...kecuali ini ada hubungannya dengan pelayan barunya yang sok berkelas itu."
Mahendra menoleh tajam, menatap Stella dengan minat yang mendadak bangkit.
"Pelayan baru? Siapa?"
"Gita, yang sudah aku ceritakan padamu," ucap Stella dengan nada meremehkan yang kental. "Arlan bahkan menjadi sangat protektif padanya. Dia mengusirku demi membela pelayan sialan itu!"
Mahendra menyipitkan matanya, otak bisnisnya yang licik mulai menghubungkan titik-titik informasi yang tersebar. Seorang gadis desa yang dibawa dari lokasi konflik lahan, memiliki aura berkelas, dan membuat seorang Arlan Dirgantara yang skeptis terhadap wanita menjadi posesif dalam sekejap. Ini bukan sekadar kebetulan.
"Gita..." gumam Mahendra, mengeja nama itu dengan nada penuh selidik. "Kamu bilang dia memiliki aura berkelas yang tidak bisa disembunyikan?"
"Ya. Cara bicaranya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya... itu bukan tatapan mata seorang pelayan desa, Mahendra. Aku tahu betul bagaimana rupa wanita kelas bawah, dan gadis itu sama sekali tidak cocok dengan pakaian pelayannya," cerocos Stella kesal, mengingat bagaimana ia merasa terintimidasi oleh ketenangan wanita bernama Gita tersebut.
Mahendra bangkit dari ranjang, mengenakan kembali kemejanya tanpa mengancingkannya, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut kamar tempat gawai pribadinya berada. Ia menekan beberapa tombol, menghubungkan panggilan kepada kepala divisi intelijen pribadinya di lapangan.
"Cari tahu semua data tentang seorang wanita bernama Gita Ivara yang bekerja di villa keluarga Dirgantara di Jawa Barat," perintah Mahendra dingin begitu panggilan tersambung. "Periksa latar belakang medis, catatan sipil, dan keluarganya. Aku ingin laporannya ada di mejaku sebelum matahari terbit besok pagi."
Panggilan terputus. Mahendra berbalik, menatap Stella dengan senyum miring yang teramat licik. Senyum seorang predator yang merasa telah menemukan celah kecil pada perisai baja milik musuhnya.
"Jika wanita itu adalah kelemahan baru Arlan... maka aku baru saja menemukan kunci untuk menghancurkan Dirgantara Group dari dalam," bisik Mahendra penuh kemenangan.
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh