Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Untuk Festival
Pagi itu, kediaman Duke Vareinne jauh lebih ramai dibandingkan biasanya.
Para pelayan berlalu-lalang di koridor sambil membawa daftar kebutuhan perjalanan. Di halaman depan, beberapa ksatria keluarga sedang memeriksa kereta yang akan digunakan beberapa hari ke depan. Bahkan para pelayan dapur tampak sibuk menyiapkan persediaan makanan untuk para anggota keluarga yang akan menghadiri Festival Musim Semi.
Undangan dari keluarga kekaisaran telah mengubah suasana seluruh mansion. Di tengah kesibukan itu, Arcelia justru menikmati pagi yang relatif tenang.
Ia duduk di dekat jendela kamarnya dengan secangkir teh hangat di tangan. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui tirai tipis dan menerangi rambut peraknya yang berkilau lembut.
Setidaknya, pagi itu seharusnya tenang, jika saja ada satu makhluk yang tidak terus berbicara tanpa henti sejak satu jam terakhir.
"Kita harus membeli gaun." Auriel melompat ke atas meja kecil di dekatnya. "Gaun yang cantik."
Ekor besarnya bergoyang penuh semangat. "Tidak. Bukan hanya cantik. Gaun yang sangat cantik."
Arcelia menyeruput tehnya tanpa terganggu. "Aku mulai menyesal membiarkanmu berevolusi."
"Apa?" Auriel menatapnya tidak percaya. "Kalau aku masih sistem, siapa yang akan memberimu saran fashion?"
"Aku tidak pernah meminta saran fashion."
"Itu masalahnya." Auriel menggeleng-gelengkan kepala seperti orang dewasa yang sedang menghadapi anak kecil. "Kau terlalu tidak peduli pada penampilanmu."
Arcelia mengangkat alis. "Dan kau terlalu peduli."
"Tentu saja." Auriel mengangkat dagunya dengan bangga. "Ini festival pertamamu setelah kembali."
"Festival pertamaku, bukan festivalmu."
"Itu detail kecil."
Arcelia akhirnya terkekeh pelan.
Melihat ekspresi puas rubah kecil itu, ia mulai memahami mengapa keberadaan Auriel perlahan membuat hidupnya terasa lebih ringan.
Tok..
Tok..
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
"Nona?" Suara lembut Lilian terdengar dari luar.
"Masuk." perintah Arcelia.
Klikk..!
Pintu terbuka perlahan, Lilian masuk sambil membawa beberapa buku katalog yang cukup tebal. Wajah pelayan muda itu terlihat jauh lebih bersemangat daripada biasanya.
"Nona, saya sudah mencari beberapa butik terbaik di kota." katanya dengan mata yang berbinar.
Arcelia memandang tumpukan katalog yang dibawa Lilian. Jumlahnya terlihat sangat cukup banyak.
"Kau merencanakannya sejak kapan?" tanya Arcelia yang terkejut melihat tumpukan kertas katalog.
"Sejak undangan festival datang." jawab Lilian.
Auriel langsung melompat mendekat. "Kau luar biasa, Lilian."
Lilian tersenyum malu. "Saya hanya ingin Nona tampil sebaik mungkin."
Arcelia sebenarnya tidak terlalu tertarik pada pakaian atau perhiasan. Namun ia memahami satu hal, di dunia bangsawan, penampilan adalah bagian dari politik.
Cara seseorang berpakaian dapat menunjukkan status, kekayaan, bahkan kekuatan keluarganya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arcelia tidak berniat datang ke sebuah acara sebagai gadis yang diabaikan semua orang.
"Baiklah." Ia meletakkan cangkir tehnya. "Kita akan pergi hari ini."
Mata Lilian langsung berbinar. "Benarkah?"
"Ya."
Auriel mengangkat kedua kaki depannya ke udara. "Kemenangan!"
***
Satu jam kemudian, kereta keluarga Vareinne melaju menuju pusat kota. Arcelia duduk di dekat jendela sambil memperhatikan pemandangan di luar.
Jalanan kota dipenuhi aktivitas pagi, para pedagang baru membuka toko mereka. Banyak anak-anak berlari di antara kerumunan.
Beberapa musisi jalanan memainkan melodi ceria yang mengingatkan semua orang bahwa Festival Musim Semi sudah semakin dekat.
Kota itu terasa hidup, hangat dan penuh warna. Arcelia menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia hampir tidak pernah benar-benar melihat semua ini.
Saat masih menjadi Arcelia yang lama, sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam kamar karena sakit dan rasa kesepian. Dan perlahan menunggu kematian yang tidak pernah ia sadari sedang mendekat.
Tatapannya sedikit melembut, mungkin karena itulah kehidupan sederhana seperti ini terasa begitu berharga sekarang.
"Ada apa?" Auriel yang duduk di pangkuannya memiringkan kepala.
"Tidak ada."
"Kau terlihat melankolis."
"Aku hanya sedang berpikir." ujar Arcelia.
"Itu berbahaya."
Arcelia menatapnya datar namun Auriel malah tertawa puas.
Tak lama kemudian, kereta berhenti di depan sebuah bangunan megah.
Lilian membuka tirai jendela. "Kita sudah sampai, Nona."
Arcelia turun dari kereta dan di hadapannya berdiri butik paling terkenal di kota.
Bangunan tiga lantai dengan dinding putih bersih dan jendela kristal yang memantulkan cahaya matahari. Ornamen bunga musim semi menghiasi bagian depan bangunan, memberikan kesan elegan tanpa terlihat berlebihan.
Banyak kereta bangsawan terparkir di dekat pintu masuk. Jelas tempat ini menjadi tujuan favorit para wanita bangsawan menjelang festival.
Begitu Arcelia melangkah masuk, beberapa percakapan yang sedang berlangsung mendadak langsung terhenti.
Tatapan demi tatapan beralih ke arahnya, sebagian penasaran dan sebagian terkejut. Dan sebagian lagi mulai berbisik pelan.
Jika ini terjadi beberapa minggu lalu, mungkin Arcelia akan merasa tidak nyaman. Namun sekarang ia hanya berjalan dengan tenang seolah tidak menyadari perhatian yang tertuju padanya.
Seorang wanita paruh baya segera mendekat. "Selamat datang, Nona Arcelia." Ia membungkuk hormat. "Saya pemilik butik ini."
Sikapnya sangat sopan tidak ada penghinaan tersembunyi dan tidak ada tatapan meremehkan.
Arcelia langsung memahami bahwa wanita ini cukup cerdas untuk mengetahui perubahan situasi di keluarga Vareinne.
"Kami merasa terhormat atas kedatangan Anda." katanya pelan namun tegas.
"Aku membutuhkan gaun untuk Festival Musim Semi." jawab Arcelia.
"Tentu. Kami memiliki koleksi terbaik untuk acara tersebut."
Namun sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh sebuah suara terdengar dari sisi ruangan.
"Astaga, bukankah ini putri duke Cedric. Arcelia" Suara itu terdengar manis.
Jenis suara yang biasanya menyembunyikan niat buruk. Arcelia langsung menoleh, disana sudah ada tiga gadis bangsawan berdiri tidak jauh dari sana.
Mereka mengenakan gaun mahal dan perhiasan yang berkilauan. Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu dan penghinaan yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan.
"Apakah itu benar-benar Arcelia Vareinne?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku hampir tidak mengenalinya." Gadis lain menutup mulutnya dengan pura-pura terkejut.
"Bukankah dia selalu sakit?" kata gadis bangsawan lain.
"Benar."
"Kudengar dia bahkan jarang keluar kamar."
Tawa kecil terdengar meskipub tidak cukup keras untuk dianggap penghinaan secara terang-terangan. Namun cukup jelas untuk dipahami semua orang.
Lilian langsung menggenggam rok gaunnya erat-erat. Sementara Auriel mulai mengibaskan ekornya dengan kesal. "Kalau aku bisa terlihat oleh mereka, aku akan menggigit sepatu mereka."
Arcelia mengabaikan komentar itu, Ia memandang ketiga gadis tersebut dengan tenang.
Sikap santainya justru membuat mereka sedikit tidak nyaman. Salah satu dari mereka akhirnya tersenyum tipis. "Kami hanya khawatir padamu."
"Tentu."
"Kesehatanmu terlihat sangat rapuh."
Arcelia tersenyum kecil, senyum yang begitu tenang hingga sulit ditebak isi pikirannya. "Terima kasih atas perhatianmu."
Jawaban itu membuat ketiganya sedikit bingung karena mereka jelas mengharapkan reaksi lain.
"Maksudku..." gadis itu melanjutkan, "aku hanya berharap kau tidak pingsan saat festival nanti."
Beberapa pelanggan mulai menahan napas, sindiran itu terlalu jelas. Namun Arcelia tetap terlihat santai.
"Kalau begitu kamu tidak perlu khawatir."
"Kenapa?"
"Karena aku jauh lebih sehat daripada sebagian besar rumor yang beredar tentangku."
Keheningan singkat memenuhi ruangan bahkan beberapa pelanggan menahan tawa. Wajah gadis bangsawan itu langsung berubah.
Auriel hampir jatuh dari meja karena terlalu senang. "Itu dia! Tepat sasaran!"
Sebelum suasana semakin memanas, pintu butik tiba-tiba terbuka. Seorang gadis berambut pirang keemasan masuk dengan langkah cepat.
"Maaf! Aku terlambat!" Suaranya langsung menarik perhatian seluruh ruangan.
Beberapa bangsawan segera mengenalinya karena ia adalah Putri keluarga Marquis Albright. Serena Albright.
Gadis itu berhenti sesaat saat melihat suasana aneh di dalam butik. Lalu matanya bertemu dengan Arcelia.
Keheningan terjadi beberapa detik, kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi. Serena langsung berjalan mendekat. Bukan kepada ketiga gadis bangsawan yang selama ini menjadi bagian dari lingkaran sosialnya. Melainkan kepada Arcelia.
"Halo!" Senyumnya begitu cerah hingga sulit diabaikan.
Arcelia berkedip. "Halo."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak." Jawaban itu datang begitu cepat hingga membuat Arcelia sedikit terkejut.
Serena mengulurkan tangan. "Namaku Serena Albright."
"Aku tahu."
"Bagus." Serena tersenyum semakin lebar. "Itu menghemat waktu perkenalan."
Arcelia hampir tertawa, namun Serena kembali berbicara, "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."
"Kau mengenalku?" tanya Arcelia.
"Tidak."
"Lalu kenapa ingin bertemu?"
"Karena semua orang membicarakanmu." Jawaban jujur itu membuat Lilian terlihat gugup.
Namun Serena justru melanjutkan dengan santai. "Dan karena aku penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
Serena memperhatikan Arcelia beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Aku ingin tahu seperti apa gadis yang berhasil membuat begitu banyak orang salah menilainya."
Untuk sesaat, Arcelia terdiam kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa terasa tulus tanpa ada penghinaan, kepura-puraan. Hanya rasa ingin tahu yang jujur. Dan mungkin itulah alasan Arcelia akhirnya tersenyum sungguhan.
Senyum kecil yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain.
Melihat itu, mata Serena langsung berbinar. "Aku tahu."
"Tahu apa?"
"Kita akan menjadi teman baik."
Untuk pertama kalinya hari itu, Arcelia tidak membantah.Karena jauh di dalam hatinya ia juga mulai berpikir demikian.
Di sisi lain... Jauh di dalam Istana Kekaisaran.
Putra Mahkota Elias Astrael menutup sebuah dokumen dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Di atas mejanya terdapat tumpukan laporan dari berbagai wilayah kekaisaran.
Sebagian besar membahas pajak, perdagangan dan politik. Sangat membosankan bagi dirinya.
Namun tiba-tiba matanya menangkap salah satu laporan yang kembali menarik perhatiannya.
Laporan dari wilayah Duke Vareinne dan tatapannya berhenti pada satu nama. Arcelia Vareinne.
Ini sudah ketiga kalinya nama itu muncul minggu ini. Seorang gadis yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah disebut siapa pun. Kini perlahan menjadi bahan pembicaraan para bangsawan.
Putra Mahkota Elias mengetuk meja dengan ujung jarinya. "Aneh."
Perubahan sebesar itu tidak mungkin terjadi tanpa alasan. Namun yang membuatnya penasaran bukanlah rumor yang beredar.
Melainkan fakta bahwa setiap laporan menggambarkan Arcelia sebagai orang yang berbeda.
Seolah seseorang telah mengganti seluruh kepribadiannya. Tatapannya jatuh ke jendela istana. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Putra Mahkota Astrael merasa penasaran pada seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Dan tanpa ia sadari, takdir mereka perlahan mulai bergerak menuju titik pertemuan yang tak terelakkan.