Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Sang Dukes.
Ruangan mendadak sunyi, kata-kata Duke Cedric Vareinne barusan terasa jauh lebih menyakitkan dibanding apa pun sebelumnya.
Sementara Arcelia Vareinne terdiam di tempat.
“…Ibuku?” tanya Arcelia, entah mengapa tubuhnya bergetar.
Cedric memalingkan pandangannya ketika melihat reaksi Arcelia yang seperti ini.
Dan Arcelia juga tahu ayahnya ini sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat selama bertahun-tahun.
Di atas sofa, Auriel langsung berdiri tegak dan bulunya sedikit mengembang. “Ini tidak ada di alur asli…” kata Auriel.
Mata Arcelia menyipit tipis mendengar ucapan Auriel. "Berarti bahkan sistem tidak mengetahui bagian ini." batin Arcelia.
“Ayah tidak pernah membicarakan soal kematian ibu kepada Arcelia.” kata Arcelia, suaranya terdengar seperti sedang kecewa.
Cedric terdiam sangat lama karena ia sadar telah menyembunyikan rahasia kematian ibunya terlalu lama.
“Ayah tahu, ayah minta maaf karena telah menyembunyikan masalah ini kepadamu." kata Duke Arcelia.
Duke Cedric berjalan menuju jendela sebelum akhirnya berhenti di sana. Tatapan mata abu-abunya terlihat sangat sedih seakan sedang menggali luka lama.
“Ibumu meninggal saat kamu masih sangat kecil.” kata Duke Cedric.
“Karena sakit?” tanya Arcelia.
Duke Cedric perlahan mengepalkan tangannya. “Itu yang diumumkan pada publik.” kata Duke Cedric.
Ruangan langsung terasa sangat dingin dan sedikit tegang.
"Jadi benar. Memang ada sesuatu yang sengaja disembunyikan." batin Arcelia.
“Ayah Arcelia harus tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan kematian ibu." tanya Arcelia dengan memaksa.
Duke Cedric memejamkan mata sesaat sebelum menjawab.
“Dulu ibumu terlibat dalam penyelidikan rahasia bersama keluarga kerajaan.” kata Duke Cedric.
Auriel langsung melompat turun dari sofa. “Tidak mungkin…” kata Auriel.
“Ia membantu menyelidiki organisasi bawah tanah yang bergerak diam-diam di kerajaan.” Tatapan Cedric berubah tajam.
“Black Serpent.” lanjutnya.
Napas Arcelia seperti tertahan sesaat. "Jadi hubungan ini sudah ada sejak dulu." batin Arcelia.
Dan ibunya ternyata bukan wanita bangsawan biasa.
“Apa Ibu sengaja dibunuh untuk membungkam?." tanya Arcelia.
Cedric tidak langsung menjawab. Namun diamnya itu sendiri justru sudah cukup menjadi jawaban bagi Arcelia.
Dada Arcelia mendadak terasa sesak lagi.
Dan detik berikutnya layar biru transparan kembali muncul di depan mata Arcelia.
[Resonansi memori aktif.]
Kepala Arcelia kembali dipenuhi bayangan samar.
Seorang wanita cantik yang berambut hitam panjang, memiliki senyum yang lembut dan terasa hangat bagi siapapun yang melihatnya.
Arcelia melihat wajah wanita itu berbicara dengan seorang anak kecil perempuan sambil ketakutan.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan pernah percaya pada siapa pun di mansion ini…” kata wanita itu.
Arcelia langsung memegang kepalanya karena saat ingatan itu muncul kepalanya sangat sakit seperti tertusuk ribuan jarum.
“Nona!” teriak Lilian yang tidak sengaja melihat dari kejauhan.
Duke Cedric mendengar teriakan Lilian langsung berbalik cepat.
“Ada apa?!” tanya Duke Cedric yang berubah cemas.
Ingatan itu langsung hilang dengan cepat. Namun kali ini Arcelia berhasil melihat wajah wanita tersebut dengan jelas.
Dan entah kenapa hidungnya terasa sulit untuk bernafas.
“Itu… ibu. Aku mengingat ibu” kata Arcelia pelan.
Cedric langsung terkejut dan hanya diam. “Apa?” kata Duke Cedric.
“Aku melihat wajah ibu.” kata Arcelia.
Tatapan Duke berubah terguncang. Karena selama bertahun-tahun Arcelia kecil bahkan hampir tidak pernah mengingat wajah ibunya.
“Apa yang kamu lihat dan kamu ingat?” tanya Duke Cedric.
Arcelia menarik napas perlahan. “Dia bilang jangan percaya siapa pun di mansion ini.” kata Arcelia.
Auriel terlihat jauh lebih serius sekarang setelah mendengar ucapan Arcelia.
“Memori tubuh ini mulai terbuka. Dan itu sangat berbahaya.” kata Auriel.
“Kenapa?” tanya Arcelia penasaran.
“Karena kemungkinan besar ada sesuatu yang sengaja disegel.” kata Auriel
Cedric langsung menoleh cepat. “Disegel?” kata Duke Cedric.
Auriel dan Arcelia sangat terkejut ternyata sejak tadi Duke Cedric bisa melihat keberadaannya.
Dan Auriel baru sadar dirinya bicara terlalu banyak di depan orang lain karena seharusnya dia tau sejak awal bahwa Duke Cedric bisa melihatnya padahal Duke sempat seperti terkejut saat pertama kali masuk kedalam kamar Arcelia.
Namun anehnya Duke Cedric tidak tampak terlalu terkejut melihat rubah kecil itu berbicara.
Sebaliknya Duke itu justru menyipitkan matanya, "Ternyata kamu makhluk spiritual? Pantas saja aku merasa seperti ada aura aneh yang menyelimuti tubuhmu.” kata Duke Cedric.
Auriel langsung menegakkan tubuh dengan bangga. “Akhirnya ada manusia yang mengerti tentang aku.” kata Auriel.
"Huuffftt..." Arcelia menghela nafasnya yang terasa sangat sesak.
“Tunggu dulu..” kata Duke Cedric sambil memijat pelipisnya.
“Putriku sekarang bicara dengan rubah bercahaya dan aku malah mulai terbiasa.” lanjutnya.
Tiba-tiba suasana tegang tadi sedikit mencair. Bahkan Lilian tampak seperti menahan tawanya namun hanya sebentar.
Karena wajah Cedric segera berubah serius lagi. “Ada sesuatu yang belum pernah kuberitahukan padamu.” lanjut Duke Cedric.
Tatapan Arcelia kembali fokus. “ Ada apa ayah?” tanya Arcelia penasaran.
Cedric menatap putrinya cukup lama kemudian perlahan berkata, “Ibumu meninggalkan sesuatu sebelum meninggal.” katanya.
Deg..!!
Duk.. Duk.. Duk..
Jantung Arcelia tiba-tiba berdetak lebih cepat.
"Meninggalkan sesuatu?” tanya Arcelia sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Iya, sebuah kunci.” kata Duke Cedric.
Auriel langsung membelalak, ekor putihnya berhenti bergerak.
“…Kunci?” tanya Arcelia bingung.
Duke Cedric mengangguk perlahan. “Ia memintaku untuk menyimpannya sampai kau cukup kuat.” kata Duke Cedric.
Mata merah anggur Arcelia menyipit tajam. “Dan sekarang apa ayah merasa aku sudah cukup kuat?” tanya Arcelia.
Tatapan Cedric berubah rumit karena dirinya sendiri juga bingung. Duke Cedric sempat berfikir cukup lama untuk memutuskannya.
“Kurasa waktunya sudah tiba.” kata Duke Cedric meskipun terlihat diwajahnya ada sedikit keraguan.
Duke Cedric mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam sakunya.
Sebuah kunci perak tua dengan ukiran bunga mawar dan ular yang saling melilit.
Begitu Arcelia melihatnya dadanya mendadak berdenyut keras.
Layar biru transparan kembali muncul,
[Reaksi artefak terdeteksi.]
[Objek memiliki energi tersegel.]
Auriel langsung melompat mendekat dengan mata melebar. “Tidak mungkin... Kenapa benda itu ada di keluarga Vareinne?” kata Auriel yang sangat terkejut.
“Auriel,” bisik Arcelia pelan. “Kau mengenalnya?” tanya Arcelia.
Rubah kecil itu menatap kunci tersebut dengan wajah serius.
“Tuan Rumah… Kalau tebakanku benar, kamu mungkin bukan bangsawan biasa.” kata Auriel dan suaranya terdengar sedikit tegang.