NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Black Card-ku, Mana?

Anggun setiap langkah kakinya saat menyusuri koridor gedung keluarganya yang dilapisi karpet tebal. Darren juga masih mengekor dengan kedua tangan yang dibebani deretan tas belanjaan mewah. Mereka berjalan menuju Penthouse dalam suasana yang jauh lebih rileks dibandingkan pertemuan dengan Priyo Tan Wijaya tadi.

“Kerjamu hari ini sangat bagus. Kau cepat belajar dan punya nyali untuk mengambil keputusan di saat yang tepat,” kata Seo yeon tanpa menoleh ke belakang.

Darren tersenyum tipis mendengar pujian itu selesai mereka masuk. “Terima kasih. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan asisten pribadi untuk melindungi kepentingan bosnya.”

“Besok kita akan mulai menyelidiki masalah Priyo bersama tim khusus. Persiapkan dirimu,” tambah Seo yeon saat mereka tiba di depan pintu kamar.

“Baik, serahkan saja padaku.”

Setelah Seo yeon masuk ke kamarnya, Darren segera menuju pintunya sendiri. Begitu berada di dalam, dia menyandarkan punggung pada daun pintu yang tertutup rapat. Sebuah hela napas lega lolos dari bibirnya.

“Akhirnya... gue beneran jadi orang kaya. Dan gak cuma dapet recehan, tapi miliaran sekali pukul,” batin Darren sembari menatap langit-langit kamar dengan mata berbinar-binar.

Saldo Rp4,37 miliar yang dia tarik dari Priyo, ditambah sisa uang sebelumnya, membuatnya kini memiliki kekayaan yang nyata. Ambisinya untuk terus menagih utang dari orang-orang jahat di dunia elit semakin menggebu-gebu. Ada pula kepuasan tersendiri saat melihat wajah-wajah sombong itu hancur ketika harta mereka mulai lenyap secara misterius. Semua pikiran nan berbunga-bunga itu harus tergantikan oleh kehadiran notifikasi biru dari sistem tepat di hadapannya.

Selamat. Level 2 tercapai. Batas tagihan per orang naik menjadi 10 persen. Batas penarikan harian dari Rekening Sistem naik menjadi Rp100 juta. Radius deteksi target membesar menjadi 1 kilometer.

Darren membaca rincian itu dengan saksama. Akumulasi uang yang terkumpul kini mencapai Rp4,95 miliar. Setelah dikurangi pengeluaran untuk kebutuhan medis Cello, ibunya dan belanja keperluan baru sekitar Rp220 juta, sisa saldo di Rekening Sistem miliknya adalah Rp4,73 miliar. Darren menghitung dalam kepala, jika dia menarik batas maksimal setiap hari, hanya butuh waktu sepuluh hari untuk mengumpulkan Rp1 miliar tunai sebagai modal awal bisnis bersama Seo yeon. Meski dia tahu Seo yeon sudah berkata jika dia tidak memerlukan uang itu lagi.

Malam semakin larut saat Darren berbaring di atas kasur yang empuk. Meskipun tumpukan materi belajar bisnis masih menanti di atas meja, rasa penat yang luar biasa memaksa matanya untuk segera terpejam. Darren memutuskan untuk melanjutkan belajarnya esok pagi. Alhasil, dirinya hanya berbaring sembari memainkan ponsel.

Jempol berganti telunjuk, begitu terus sampai tanpa sengaja dirinya membuka galeri foto lama. Potret kebersamaannya dengan Rina muncul di layar. Ada foto Rina yang sedang tersenyum lebar saat mereka berada di pantai, di sebuah restoran sederhana, hingga di kamar kontrakan lama mereka. Lantas Darren terdiam lama menatap layar itu.

Anehnya, bayangan wajah Rina di dalam memorinya seolah mulai memudar perlahan. Kenapa yang justru muncul di benaknya adalah wajah Seo yeon saat tertawa lepas di kafe siang tadi? Senyum tulus itu, mata yang berair karena terlalu banyak tertawa, serta gurat wajahnya yang mendadak terasa teduh.

“Duh ini nih, kayaknya gue emang butuh tidur. Ngaco banget pikiran gue sampe kepincut sama bos sendiri,” pikir Darren sembari mendekapkan kedua tangan ke wajahnya dengan perasaan campur aduk, meyakinkan diri bahwa perasaan itu muncul hanya karena dia sedang lelah.

Pagi hari pun tiba dengan cahaya matahari yang cerah menyelinap masuk lewat jendela. Darren sendiri sudah berdiri rapi di hadapan Seo yeon, siap memulai tugasnya. Dengan nada yang dipelajari agar terdengar profesional namun tetap tegas, dia mengajukan sebuah permintaan.

“Aku butuh daftar nama orang-orang yang memiliki pengaruh besar namun memiliki reputasi buruk di dunia elit,” kata Darren. “Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin mempelajari karakter pengusaha sukses agar kita tidak salah melangkah di masa depan.”

Mendengar itu, Seo yeon mengangkat alisnya, menatap Darren cukup lama. “Kenapa kamu tiba-tiba sangat tertarik pada sisi gelap mereka?”

“Hanya untuk berjaga-jaga. Informasi adalah kekuatan, kan?” Darren berkilah dengan tenang.

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat sebelum mata Seo yeon seolah mampu membaca apa yang tidak Darren ucapkan secara lisan.

“Baiklah,” kata Seo yeon. “Tapi sebelum itu, temui Budi dulu di bawah.”

“Ada urusan apa dengan dia?” Darren begitu heran.

“Kartu kreditku sepertinya tertinggal di dalam mobil. Coba tanyakan padanya, siapa tahu dia yang menyimpannya saat membersihkan jok belakang semalam,” jelas Seo yeon.

Darren mengangguk patuh. “Baik, aku segera ke sana.”

Darren melangkah menuju lantai dasar bangunan itu dan melihat Budi sedang sibuk membersihkan mobil mewah milik Seo yeon menggunakan kanebo yang sangat halus. Budi tampak sangat teliti, memeriksa setiap celah ventilasi AC hingga sudut-sudut kecil di dalam kabin mobil. Sangat rajin, seolah mobil itu adalah benda keramat.

Karena itulah Darren bersiul pelan untuk menyapa temannya itu. Sementara si Babi Rumahan menoleh dengan wajah memerah karena malu.

“Aduh, Bos, jangan bersiul begitu dong. Aku jadi grogi kalau lagi kerja serius begini,” kata Budi sembari menyeka keringat.

Darren pun meringis sembari memperhatikan penampilan Budi. Jas hitam yang dikenakan Budi tampak sangat besar. Ukurannya mungkin lebih cocok digunakan untuk badak atau gajah daripada manusia.

“Seragammu itu gede banget, Bi,” komentar Darren sembari tertawa.

“Ini juga udah pesan yang paling gede, Bos,” jawab Budi sembari membela diri.

“Atau kau pesannya memang ukuran badak sumatera?” goda Darren lagi.

“Gini-gini gue ini sopir paling rajin lho,” jawab Budi sebelum mulai menjelaskan bahwa Seo yeon memberinya daftar periksa berisi 47 poin yang harus dipastikan kelayakannya setiap pagi. Sejauh ini, Budi sudah menyelesaikan 45 poin. Dua poin terakhir adalah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di bagian belakang.

Budi kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam berkilau. “Ini, Bos. Kartu Nona Seo yeon tertinggal di sela-sela jok belakang semalam.”

Darren menerima kartu itu dengan hati-hati. “Bagus, Bi. Ini memang yang lagi dicari sama Nona Seo yeon.”

“Lumayanlah. Asal Bos jangan lupa traktir bakso nanti,” tagih Budi sembari nyengir.

“Gampang... Sekarang lanjut kerja yang bener dulu,” kata Darren sembari menepuk bahu Budi.

Setelah itu Darren berjalan keluar dari area parkir bawah tanah. Dia menyusuri trotoar di halaman depan gedung yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Ada perasaan menang yang sangat nyata di dalam dadanya. Dirinya tidak perlu lagi bersembunyi dari kejaran penagih utang, tidak perlu malu menghadapi dunia, karena kini dia memiliki posisi dan masa depan yang cerah.

Matanya tertuju pada kartu hitam di tangannya. Sebuah kartu kredit black card. Jenis kartu yang memiliki batas pemakaian tidak terbatas dan hanya dimiliki oleh segelintir orang dengan kekayaan luar biasa di dunia ini.

“Buset, ini mah kartu level dewa. Sekali gesek bisa buat beli satu kelurahan kayaknya,” batin Darren dengan takjub.

Dia pun mempercepat langkahnya agar bisa segera mengembalikan kartu itu kepada pemiliknya. Hilangnya barang berharga seperti ini tentu akan menjadi masalah besar. Namun, tiba-tiba seseorang dengan jaket hoodie muncul dari arah berlawanan dan menubruk bahu Darren dengan keras.

Meski tidak begitu sakit, Darren mendadak merasa ada yang tidak beres. Dia segera mengecek saku jasnya yang kosong itu dan benar saja, kartu hitam itu sudah tidak ada di sana.

“Hei! Berhenti!” teriak Darren sembari berbalik arah.

Orang berjaket hoodie itu sudah berada sepuluh meter di depan, berlari dengan sangat cepat menuju sebuah gang sempit di seberang jalan. Darren tidak membuang waktu dan langsung memacu kakinya untuk mengejar.

“Maling! Ada maling! Berhenti!”

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!