Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 - MHB
Malam itu, Jakarta baru saja diguyur hujan ringan, menyisakan aspal yang berkilat di bawah lampu jalan dan udara yang tidak terlalu menyesakkan. Di dalam apartemen, Maya baru saja meletakkan tas kerjanya saat Arka menghampirinya dengan senyum yang sulit diartikan.
"Ganti bajumu, Kak. Kita keluar sekarang," ucap Arka tanpa basa-basi.
Maya menaikkan alisnya, masih merasa lelah setelah seharian menghadapi rapat-rapat yang menguras energi. "Arka, ini sudah jam delapan malam. Kalau mau makan sate lagi, aku titip saja."
"Nggak ada titip-titip. Aku baru saja dapat bayaran dari proyek keamanan siber yang kemarin kuberitahu. Kali ini aku ambil uangnya," Arka menepuk saku celananya dengan bangga. "Aku mau merayakannya denganmu."
Maya tertegun. Ia tahu Arka sering melakukan proyek sampingan yang nilainya fantastis, tapi biasanya pemuda itu menolak dibayar atau mendonasikannya karena merasa tunjangan dari ayahnya sudah lebih dari cukup. "Kenapa tiba-tiba kamu ambil bayarannya?"
Arka terdiam sejenak, menatap Maya dengan binar mata yang jujur. "Karena uang dari Papa itu miliknya. Tapi uang ini... ini murni hasil keringatku. Dan aku ingin menghabiskannya untuk orang yang paling berharga di hidupku sekarang. Cepat ganti baju, aku tunggu di parkiran."
Maya tidak membantah. Ada sesuatu dalam nada bicara Arka yang membuatnya merasa bahwa menolak ajakan ini adalah sebuah kesalahan besar. Ia mengganti pakaian kantornya dengan celana jins nyaman dan sweater rajut berwarna krem.
Ia mengira Arka akan membawanya ke restoran mewah lain untuk menebus kegagalan makan malam tempo hari, atau mungkin ke pusat perbelanjaan kelas atas. Namun, motor Arka justru membelah kemacetan menuju kawasan kota tua, berhenti di depan sebuah gedung perkantoran kuno yang tampak sudah tidak beroperasi sepenuhnya.
"Kita ngapain di sini, Arka? Ini tempatnya agak... menyeramkan," bisik Maya saat mereka masuk melalui pintu samping yang dijaga oleh seorang petugas keamanan yang sepertinya sudah mengenal Arka dengan baik.
"Percaya saja padaku," jawab Arka singkat.
Mereka menaiki lift tua yang berderit, lalu menaiki dua lantai tambahan menggunakan tangga darurat yang sempit. Saat Arka mendorong pintu besi yang berat di puncak tangga, angin malam langsung menyapu wajah Maya.
Pemandangannya tidak seperti di restoran kemarin yang tertutup kaca tebal. Di sini, tidak ada pembatas selain pagar besi rendah. Seluruh Jakarta terbentang di depan mata—lampu merah dan putih dari kendaraan yang merayap di jalanan tampak seperti aliran lava di tengah hutan beton. Angin bertiup bebas, membawa aroma hujan dan kehidupan kota.
"Ini tempat persembunyianku sejak SMA," Arka bersandar pada pagar, menatap cakrawala. "Di sini, aku merasa Jakarta itu kecil. Semua masalah, semua tuntutan Papa, semua ekspektasi orang... rasanya bisa kulempar ke bawah."
Maya melangkah mendekat, berdiri di samping Arka. Ia merasakan kebebasan yang aneh. Selama ini, ia selalu melihat Jakarta dari balik kaca mobil atau jendela kantor yang kedap suara. Baru kali ini ia merasa benar-benar berada di atas kota itu.
"Ini indah, Arka," gumam Maya tulus.
"Tunggu sebentar," Arka merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy dengan pita perak. Ia menyerahkannya pada Maya tanpa menatap matanya, seolah-olah ia tiba-tiba merasa malu.
"Ini untukmu. Dari 'gaji' pertamaku."
Maya membuka kotak itu perlahan. Jantungnya berdegup kencang. Di dalamnya, melingkar sebuah gelang emas putih dengan liontin kecil berbentuk tetesan air yang dihiasi berlian mungil di tengahnya.
Maya membeku. Ia mengenali aksesori ini.
Dua minggu lalu, saat mereka sedang berjalan melewati sebuah butik perhiasan di mall untuk mencari kado pernikahan kolega kantor Maya, ia sempat berhenti selama tiga detik di depan etalase. Ia hanya menatap gelang itu, mengagumi keanggunannya, lalu segera berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia bahkan tidak memegang atau menanyakan harganya karena merasa itu hanya keinginan sesaat yang tidak penting.
"Arka... ini... bagaimana kamu bisa tahu?" suara Maya tercekat.
Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, masih menatap lampu-lampu kota. "Aku melihat matamu waktu itu. Kamu nggak cuma lihat, kamu mengaguminya. Aku tahu kamu bisa beli itu sendiri dalam sekejap, tapi aku ingin aku yang memberikannya padamu. Biar setiap kali kamu pakai ini, kamu ingat kalau ada aku yang selalu memperhatikan hal-hal kecil tentangmu."
Maya menatap gelang itu, lalu menatap Arka. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Selama ini, banyak pria yang mencoba mendekatinya dengan barang-barang yang jauh lebih mahal, tapi biasanya mereka hanya membeli apa yang menurut mereka bagus, bukan apa yang benar-benar Maya inginkan.
Adrian dulu selalu memberinya tas branded yang sedang tren hanya agar Maya terlihat "pantas" mendampinginya. Tapi Arka? Arka memperhatikan ke mana matanya memandang. Arka membaca keinginannya yang paling sunyi.
"Pakaikan," pinta Maya lirih sambil menyodorkan pergelangan tangannya.
Jari-jari Arka yang biasanya lincah di atas papan ketik kini terasa sedikit gemetar saat ia mengaitkan kunci gelang tersebut. Kulit mereka bersentuhan di bawah sinar bulan yang redup, menciptakan aliran kehangatan yang membuat Maya merasa benar-benar dicintai.
"Makasih ya, Arka. Ini lebih berharga dari apa pun," ucap Maya, kini ia tidak lagi menahan dirinya. Ia memeluk pinggang Arka, menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
Di atas gedung tua itu, di tengah kebisingan kota yang terdengar seperti musik latar yang jauh, Maya menyadari betapa dalam Arka telah menyusup ke dalam hidupnya. Arka bukan lagi sekadar "suami kontrak" atau "adik tingkat yang menyebalkan". Arka adalah orang yang paling mengenalnya, bahkan lebih dari dirinya sendiri mengenal keinginannya.
"Kak?" Arka memanggil pelan, tangannya mengusap rambut Maya yang tertiup angin.
"Ya?"
"Jangan pernah merasa sendirian lagi ya. Aku tahu kamu hebat, aku tahu kamu bisa urus semuanya sendiri. Tapi mulai sekarang, biarkan aku yang memperhatikan hal-hal kecil yang sering kamu lupakan tentang dirimu sendiri."
Maya mengangguk di dalam pelukan Arka. Ia merasa aman. Di ketinggian ini, ia merasa segala rahasia mereka, segala ketakutan akan masa depan, dan segala tekanan dari kantor menjadi tidak berarti.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di atas sana, duduk di lantai beton sambil berbagi kopi kalengan dari mesin penjual otomatis di bawah. Mereka berbicara tentang mimpi-mimpi yang belum pernah mereka ceritakan pada siapa pun.
Bersambung.....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡