Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*MATA DI KEGELAPAN*
Air Yin hitam menelan cahaya. Ling Fan hanyut, lumpuh, tulang bubuk dan saraf mati rasa. Hanya Telur Hitam di dadanya yang berdenyut, memaksa darah mengalir meski jantungnya berhenti. Yue Lian pingsan di dadanya, dilindungi gelembung es Tubuh Giok Beku agar tidak tenggelam. Mereka terdampar di batu. Dari kegelapan, terdengar napas ketiga, berat dan bau karat.
"Siapa? Klan Naga Hitam kirim kau?" tanya Ling Fan ke kegelapan.
"Klan Naga Hitam? Anjing baru gonggong kemarin sore? Aku sudah di sini sebelum leluhur mereka lahir, bocah. Benda di dadamu itu dulu menelan kotaku. Istriku. Anak-anakku. Lalu Kehendak Surga memecahnya, menyegelnya jadi telur. Dan sekarang dia memilih kau? Sampah Fondasi?" balas Penjaga dengan geram.
"Dia bukan pilihanku. Aku dari Klan Ling. Klan Naga Hitam bantai keluargaku. Aku juga benci benda ini. Tapi dia satu-satunya yang bikin aku hidup," ujar Ling Fan datar.
"Klan Ling? Klan penelan? Pantas. Bau kalian sama. Sama-sama rakus. Sama-sama dikutuk langit."
"Setidaknya aku masih hidup. Kau? Mayat hidup tanpa jantung. Siapa yang lebih dikutuk?"
"Kau punya nyali, bocah. Atau bodoh. Sama saja kalau mati."
"Kalau aku mati, Telur ini cari inang lain. Kau tetap terkurung seribu tahun lagi. Jadi siapa yang bodoh?"
"Kau pikir aku takut menunggu? Aku sudah menunggu seribu tahun."
"Dan hasilnya? Kau masih di sini. Sendirian. Jadi debu sejarah. Aku tawarin jalan keluar. Kau malah ngegonggong seperti yang kau hina."
Penjaga mendengus, bau karat makin pekat. "Tapi kau benar. Kau dan aku punya musuh yang sama. Klan Naga Hitam dan Kehendak Surga sialan itu. Aku bisa bunuh kau sekarang. Remukkan tengkorakmu. Ambil telur itu, hancurkan pelan-pelan. Balas dendamku."
"Bisa. Tapi kau rugi. Pertama, Telur ini retak. Energinya bocor. Kau hancurkan sekarang, Kehendak Surga nyium baunya. Dia turun, hajar kau juga. Mau mati bareng? Kedua, aku Tubuh Penelan Langit. Satu-satunya di zaman ini. Telur ini butuh aku buat sembuh total. Aku mati, dia butuh seribu tahun lagi cari inang. Mau nunggu? Ketiga, Klan Naga Hitam di atas. Lima Inti Emas. Pasang Formasi Pengunci Langit. Kau keluar sekarang, mereka keroyok kau. Tapi kalau kau bantu aku, kita keluar bareng, bunuh mereka bareng. Dendammu ke Klan Naga Hitam kebayar. Dendamku juga," ujar Ling Fan dingin.
Makhluk itu mundur selangkah.
"Pintar. Licik seperti semua Klan Ling. Tapi aku tidak percaya kata-kata," desis Penjaga.
"Aku juga. Jadi kita pake sumpah."
"Sumpah apa?"
"Sumpah Darah Penelan." Ling Fan gores dada dengan kuku. Darah hitam menetes. "Aku, Ling Fan, bersumpah. Kalau kau bantu aku keluar, bunuh Klan Luo di atas, aku bakal bantu kau hancurkan satu cabang Klan Naga Hitam. Kalau ingkar, biar Telur Hitam ini meledak di Dantianku, jiwaku lenyap."
Telur Hitam berdenyut setuju. Cahaya perak menyentuh darah. Sumpah jadi. Makhluk itu gores telapaknya, darah merah menetes ke tanah.
"Aku, Penjaga Kota Terkubur, bersumpah. Aku bantu kau keluar, bunuh Klan Luo. Kalau ingkar, biar sisa jiwaku dibakar Kehendak Surga sampai habis," ucap Penjaga.
Tanah menyerap darah. Sumpah jadi. Penjaga melangkah ke cahaya. Tubuhnya setinggi dua meter setengah, bersisik hitam, bertanduk patah, mata kiri buta, dada berlubang tanpa jantung. Aura Inti Emas Puncak.
"Namaku sudah lupa. Panggil saja Penjaga." Penjaga berjongkok, menatap Yue Lian. "Tubuh Giok Beku. Langka. Sayang, Dantiannya cacat. Tanpa Jantung Yin, dia mati tiga hari lagi."
"Jantung Yin sudah kami bagi. Dia telan setengah," sahut Ling Fan.
"Setengah tidak cukup. Paling lama tujuh hari. Setelah itu meridiannya beku total."
"Jadi kau bohong soal tiga hari?"
"Aku tidak bohong. Tiga hari itu kalau dia diam. Tapi dia koma karena melindungimu. Es-nya bocor terus. Paham?"
"Di kota ini ada Sumur Naga Beku. Airnya bisa tambal Dantian cacat. Juga bisa bikin tulangmu numbuh lagi, bocah. Tapi ada harga. Sumur itu dijaga mayatku sendiri. Kekuatannya Jiwa Baru Lahir tahap awal," lanjut Penjaga.
"Mayatmu sendiri? Kau gila?"
"Dia gila. Karena jantungnya dicuri Klan Naga Hitam seribu tahun lalu. Aku cuma sisa obsesi."
"Jadi aku harus lawan kau versi lebih kuat?"
"Kau tidak lawan. Kau telan. Itu kerja Tubuh Penelan Langit."
"Kenapa kasih tau?" tanya Ling Fan waspada
.
"Karena aku butuh kau. Tubuh Penelan Langit-mu satu-satunya yang bisa telan obsesi mayatku. Telan dia, kau dapet tulangnya. Aku dapet balas dendam. Adil buatkan?"
"Adil buatmu. Aku yang taruhan nyawa lawan Jiwa Baru Lahir."
"Kau juga taruhan nyawa tiap napas sejak lahir. Bedanya apa?"
Yue Lian batuk darah. Ling Fan menggertak gigi.
"Di mana Sumur itu?" tanya Ling Fan kepada Penjaga.
"Ujung kota. Tapi kita urus dulu tikus-tikus di atas. Dulu aku yang pasang segel itu. Aku tau celahnya. Bisa berdiri?"
"Tidak. Saraf mati. Butuh tiga hari."
Penjaga cabut tulang rusuknya sendiri, tancapkan ke paha Ling Fan. Energi mengalir, memaksa otot bergerak.
"Berdiri. Tulangku tahan tiga jam. Setelah itu, kau lumpuh lagi. Pake waktu itu buat bunuh," perintah Penjaga.
Ling Fan berdiri goyah, gendong Yue Lian. Penjaga menunjuk langit-langit gua.
"Formasi Pengunci Langit ada lima titik. Lima Inti Emas jaga satu titik. Hancurkan satu, segel retak. Hancurkan tiga, kita bisa keluar." Ling Fan mendongak, bertanya ke Penjaga. "Luo Feng jaga titik mana?"
"Paling lemah. Timur. Cocok buat pemanasan."
"Bagus. Biar dendamku dibayar cicil."
"Jangan mati di titik pertama. Aku malas cari inang baru."
Penjaga menepuk tanah. Naik kerangka kuda bermata api hijau. "Naik. Kita berburu."
Ling Fan naik, gendong Yue Lian. Penjaga melompat ke belakangnya.
"Ingat sumpahmu, bocah Klan Ling. Kalau kau mati sebelum bunuh Klan Naga Hitam, aku bakal cabut Telur itu dari mayatmu, dan kunyah pelan-pelan," ancam Penjaga.
"Kalau kau mati dulu, aku telan sisa jiwamu buat naikin kultivasi. Adil?" balas Ling Fan menyeringai.
"Mulutmu sama berbahayanya dengan Telur itu, Kau belum lihat aku lapar. Jalan!"
Kuda tulang meringkik, lari vertikal ke atas menembus batu. Di atas, Luo Feng duduk bersila jaga bendera Formasi.
"Sampah itu pasti mati. Buang waktuku saja," gumam Luo Feng bosan.
Dia tidak tahu, dari bawah, kematian sedang naik. Buta, lumpuh, gendong wanita koma, ditemani mayat dendam seribu tahun. Telur Hitam di dada Ling Fan lapar lagi. Kali ini nyawa Inti Emas.