NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ami Dilabrak

Namun perlahan, Ami mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya tetap sopan. “Saya tidak pernah meminta Pak Rasyid datang ke sini.”

Paman Badri sedikit terdiam.

“Dan saya juga tidak pernah mengejar beliau.” Nada suara Ami tetap tenang meski dadanya mulai sesak. “Saya tahu siapa diri saya, Pak.”

Jawaban itu membuat Paman Badri memperhatikan Ami lebih lama. Tidak ada nada melawan. Tidak ada kemarahan. Tetapi justru ketenangan gadis itu membuat kata-katanya terasa lebih kuat.

Ami lalu menunduk hormat sedikit. “Kalau memang keberadaan saya dianggap mengganggu masa depan beliau…” suaranya mengecil tipis, "Saya akan menjaga jarak.” Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Paman Badri justru melihat sesuatu dalam diri Ami yang membuatnya mengerti kenapa Rasyid bisa jatuh hati.

***

Malam itu, Ami duduk sendiri di kamarnya yang sederhana.Lampu kecil di sudut ruangan menyala redup, sementara suara jangkrik terdengar samar dari luar jendela.

Sejak Paman Badri datang siang tadi, pikirannya tidak tenang. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. “Jadilah orang yang tahu diri.”

Ami memeluk lututnya pelan di atas tempat tidur. Ia tahu ucapan itu memang ada benarnya. Rasyid bukan laki-laki biasa. Ia calon bupati. Berpendidikan tinggi. Berasal dari keluarga terpandang. Dan punya masa depan besar di dunia politik.

Sedangkan dirinya?

Hanya gadis kampung yang bahkan gagal melanjutkan kuliah karena keadaan hidup.

Semakin dipikirkan, semakin Ami merasa dunia mereka memang terlalu berbeda. Namun yang membuatnya bingung adalah kenapa hatinya justru sulit menjauh? Padahal selama ini, Ami tidak pernah kesulitan menolak laki-laki.

Sudah banyak pemuda kampung, bahkan dari desa sebelah, datang melamarnya. Ada yang pekerja keras, ada yang mapan, ada juga yang benar-benar serius ingin menikahinya. Tetapi Ami selalu bisa menolak dengan tegas. Karena baginya, hidupnya sudah cukup rumit tanpa perlu memikirkan hubungan. Ia harus mengurus ibu. Membiayai sekolah adik-adiknya. Mengurus kebun. Dan membantu masyarakat kampung.

Pernikahan selalu terasa seperti sesuatu yang bisa ditunda. Namun anehnya pada Rasyid, semuanya berbeda. Ami tidak bisa langsung menolak. Bahkan setiap kali mencoba menjaga jarak, laki-laki itu justru semakin memenuhi pikirannya.

Cara Rasyid mendengarkannya berbicara. Keseriusannya saat membahas rakyat kecil. Dan tatapan tulusnya ketika mengatakan ingin berjuang bersama. Semua itu membuat hati Ami goyah.

Tetapi di saat yang sama, ia juga takut. Takut berharap terlalu jauh. Takut menjadi penghalang karier Rasyid. Dan takut suatu hari nanti laki-laki itu sadar bahwa dirinya memang tidak pantas berada di sisinya. Ami menghela napas panjang lalu merebahkan kepala ke dinding kayu kamarnya.

“Ya Allah…” gumamnya lirih. Kenapa justru laki-laki yang paling sulit ia jangkau yang paling sulit pula ia abaikan?

Dan semakin Ami mencoba meyakinkan diri untuk menjauh, semakin ia sadar satu hal yang membuatnya panik mungkin diam-diam, hatinya mulai membuka ruang untuk Rasyid.

***

Pintu kamar Ami terbuka pelan. Ami yang sejak tadi termenung langsung menoleh. Sosok ibunya berdiri di ambang pintu sambil memegang kusen kayu untuk menopang tubuhnya.

“Bu…” Ami buru-buru bangkit.

Bu Lili tersenyum kecil. “Ibu ganggu?”

Ami cepat menggeleng lalu membantu ibunya duduk di pinggir tempat tidur.

Perempuan paruh baya itu terlihat jauh lebih tua dari usianya. Wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus sejak sakit-sakitan beberapa tahun terakhir. Namun sorot matanya tetap hangat setiap memandang putri sulungnya.

“Dari tadi diam saja,” ujar Bu Lili pelan sambil mengusap rambut Ami. “Ada pikiran?”

Ami langsung menunduk kecil. “Nggak ada apa-apa, Bu.”

“Ibu kamu ini sudah kenal kamu dari bayi.” Bu Lili tersenyum tipis. “Kalau hati kamu berat, muka kamu begini.”

Ami akhirnya tertawa kecil meski matanya mulai terasa panas.

Bu Lili memperhatikan putrinya lama. Lalu dengan suara lembut ia berkata, “Ami… jangan simpan semua beban hidup sendirian.”

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Ami terasa sesak.

“Tiga tahun ini hidup kamu sudah berat sekali,” lanjut Bu Lili lirih. “Sejak bapak kamu meninggal, kamu yang menanggung semuanya.”

Ami cepat menggeleng. “Ami ikhlas, Mak.”

“Ibu tahu.” Mata Bu Lili mulai berkaca-kaca. “Makanya hati Ibu makin sakit lihat kamu terlalu kuat sendirian.”

Ami langsung memegang tangan ibunya. “Ibu jangan ngomong begitu.”

“Kamu masih muda,” suara Bu Lili bergetar tipis. “Harusnya masih kuliah… punya cita-cita…”

Ami tersenyum kecil, berusaha menenangkan ibunya. “Allah pasti punya jalan terbaik.”

Bu Lili mengusap pipi putrinya perlahan. “Kalau memang ada sesuatu yang membuat hati kamu bingung… cerita sama Ibu.”

Ami terdiam. Wajah Rasyid kembali muncul di pikirannya. Tentang lamaran mendadak itu. Tentang ucapan Paman Badri. Dan tentang hatinya sendiri yang mulai goyah. Namun Ami belum tahu harus menjelaskan semuanya dari mana.

Akhirnya ia hanya tersenyum pelan sambil menggenggam tangan ibunya lebih erat. “Seberat apa pun beban hidup seorang anak…” suara Ami lirih namun hangat, “selagi ibunya terus mendoakan, maka Allah pasti akan meringankannya.”

Mata Bu Lili langsung berkaca-kaca mendengar kalimat itu. Perempuan itu tahu betul selama ini Ami terlalu sering berpura-pura kuat demi keluarganya.

Bu Lili memandang wajah putrinya lekat-lekat. Sebagai seorang ibu, ia terlalu mengenal Ami untuk tidak menyadari perubahan itu. Sudah beberapa hari terakhir putrinya sering melamun sendiri. Kadang tersenyum kecil tanpa sadar. Kadang juga mendadak diam seperti memikirkan sesuatu yang berat. Dan sejak siang tadi, setelah kedatangan Pak Badri, perubahan itu semakin jelas terlihat.

“Ami…” panggil Bu Lili pelan.

“Hm?”

Perempuan paruh baya itu tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya hati-hati, “Kamu… suka sama calon bupati itu?”

Ami langsung terdiam. Jantungnya seolah berhenti sesaat. Ia menunduk sambil memainkan ujung selimut di pangkuannya. Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Bu Lili menghela napas kecil. Bukan marah. Bukan juga terkejut. Justru ada kegamangan yang pelan-pelan terlihat di wajahnya. “Ibu bukan nggak suka sama orangnya,” katanya hati-hati. “Pak Rasyid kelihatannya baik.”

Ami masih diam mendengarkan.

“Tapi…” Bu Lili tersenyum kecil pahit. “Ibu takut kamu nanti sakit hati.”

Kalimat itu membuat dada Ami terasa sesak.

Bu Lili menatap putrinya penuh kasih. “Hidup orang besar itu beda, Mi. Ada politik, ada keluarga besar, ada banyak orang yang ikut campur.” Ia mengusap tangan Ami perlahan. “Sementara hidup kita begini saja.”

Ami menahan napas pelan. Dan entah kenapa, ucapan ibunya terdengar hampir sama dengan yang dikatakan Paman Badri tadi siang. Hanya saja dari ibunya, semuanya terasa jauh lebih menyakitkan. Karena lahir dari rasa khawatir. Bukan penghinaan.

Bu Lili lalu terkekeh kecil mencoba mencairkan suasana. “Punya menantu seperti teman kamu si Sigit saja sebenarnya Ibu sudah senang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!