NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: RUANG TAKHTA YANG DINGIN

Gerbang Sanctum of Silence hancur berkeping-keping, namun bukan cahaya yang menyambut mereka di dalam. Aula utama kuil itu diselimuti kabut hitam berbau belerang dan kematian. Di ujung aula, duduk di atas takhta batu yang dingin, adalah sosok Kaisar.

Beliau tampak pucat pasi, matanya tertutup rapat, dan di sekeliling tubuhnya melayang rantai-rantai energi hitam yang terhubung langsung ke sebuah altar pengorbanan di tengah ruangan. Di depan altar itu, berdiri Grand Inquisitor, memegang tongkat dengan kristal yang berdenyut selaras dengan napas Kaisar.

"Kalian benar-benar ulet," suara Grand Inquisitor bergema di seluruh ruangan. Dia tidak berbalik, matanya tetap terpaku pada Kaisar. "Tapi kalian terlambat. Sisa-sisa jiwa Kaisar sudah hampir sepenuhnya tergeser."

Reynarda melangkah maju, pedangnya gemetar karena kemarahan yang tertahan. "Lepaskan dia! Kau bukan lagi melayani gereja, kau melayani kegelapan!"

"Kegelapan adalah masa depan," sahut Grand Inquisitor sambil berbalik. Dia mengibaskan jubahnya, dan sepuluh bayangan hitam muncul dari lantai—para Wraith, pembunuh elit yang tidak memiliki fisik, hanya energi kebencian murni.

"Valeria, Elysia, tangani Wraith itu!" perintah Axel cepat. "Reynarda, lindungi aku! Aku akan mencoba memutus rantai energi itu!"

Axel berlari ke arah Kaisar, mengabaikan serangan sihir yang berhamburan di udara. Dia tahu dia adalah satu-satunya yang bisa mendekati altar karena aura Anti-Sihir alaminya yang kini semakin kuat setelah berinteraksi dengan AI di kepalanya.

"Host, peringatan! Rantai itu adalah struktur sihir kompleks. Jika Anda mencoba memutuskannya secara fisik, Anda akan tersetrum energi balik. Anda harus menyentuh titik fokus di atas kepala Kaisar!"

Axel tidak membuang waktu. Dia melompat ke atas altar, menghindari sabetan tongkat Grand Inquisitor dengan gerakan tipis. Dia mendarat tepat di depan wajah Kaisar yang tak berdaya.

"Bangunlah, Yang Mulia," bisik Axel.

Dia menempelkan tangannya ke dahi Kaisar, bukan untuk memutus rantai, tapi untuk menyalurkan "ketenangan" yang selama ini dia gunakan untuk menstabilkan para heroine-nya.

Tiba-tiba, mata Kaisar terbuka. Namun, matanya tidak lagi berwarna cokelat biasa—matanya hitam pekat dengan pupil vertikal seperti reptil kuno.

"Bocah tak berguna," suara Kaisar terdengar dua lapis—suara manusia dan geraman monster. Tubuh Kaisar bangkit dengan sendirinya, melemparkan Axel hingga menabrak pilar.

"Axel!" teriak Reynarda yang baru saja menghabisi Wraith terakhir. Dia hendak berlari membantu, namun Grand Inquisitor mengunci gerakannya dengan dinding api hitam.

"Biarkan dia merasakan hukuman dari sang pemilik takhta yang asli," tawa Grand Inquisitor.

Axel bangkit dari puing-puing pilar, menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. Dia menatap Kaisar yang kini melayang di udara, diselimuti aura hitam yang luar biasa besar.

"Analisis: Entitas itu telah menguasai 85% kesadaran Kaisar. Anda tidak bisa melawannya dengan kekuatan fisik. Anda harus menyerang kesadaran Kaisar di dalam ruang mentalnya."

"Bagaimana caranya?"

"Gunakan 'Aura Penenang'. Jika Anda bisa menenangkan emosi entitas itu, koneksinya dengan tubuh Kaisar akan melemah. Tapi risiko bagi Anda adalah... Anda bisa terjebak di dalam labirin pikiran Kaisar selamanya."

Axel tidak ragu. Dia menatap Reynarda, Valeria, dan Elysia yang kini sedang berjuang melawan gelombang musuh yang terus muncul. Mereka semua mempercayainya.

"Kalian semua, tarik perhatiannya!" teriak Axel. "Aku akan menyerang dari dalam!"

Reynarda mengangguk, dia mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya, melepaskan aura emas yang membakar aula kuil, memaksa entitas di tubuh Kaisar untuk fokus padanya.

Saat perhatian entitas itu terpecah, Axel berlari kembali ke arah Kaisar, memegang tangan pria tua itu dengan kedua tangannya, dan memejamkan mata.

"Sinkronisasi mental dimulai. 3... 2... 1..."

Dunia di sekitar Axel berubah. Dia tidak lagi berada di kuil yang dingin, melainkan di tengah badai kegelapan yang sangat luas. Di pusat badai itu, berdiri seorang pria tua—Kaisar asli—yang sedang dirantai oleh naga bayangan yang sangat besar.

"Siapa kau?" suara Kaisar terdengar lemah.

"Seseorang yang ingin mengembalikan kerajaan ini pada pemilik aslinya," jawab Axel tegas, melangkah maju di tengah badai.

"Jangan mendekat... monster ini akan melahap jiwamu..."

"Monster ini tidak butuh makanan," Axel tersenyum tipis, menatap naga bayangan itu dengan tenang. "Dia hanya butuh kedamaian yang sudah lama tidak dia rasakan."

Axel mengulurkan tangannya ke arah naga bayangan itu. Bukan dengan pedang, bukan dengan sihir, tapi dengan kehangatan. Naga itu mengaum, mencoba menakut-nakuti Axel, namun Axel tetap berdiri di sana.

Perlahan, auman naga itu melemah, berubah menjadi isakan yang dalam. Entitas itu... dia hanyalah jiwa kuno yang terluka oleh waktu.

"Sinkronisasi berhasil. Host, Anda sedang menenangkan ribuan tahun kemarahan. Bertahanlah!"

Di dunia nyata, tubuh Axel mulai retak. Darah menetes dari hidung dan telinganya. Namun dia tidak melepaskan tangan Kaisar. Dia menarik jiwa Kaisar dari belenggu itu, menariknya kembali ke kesadaran.

Cahaya emas meledak dari tubuh Kaisar. Rantai hitam itu hancur menjadi debu. Grand Inquisitor menjerit saat ledakan energi itu memukulnya mundur hingga menabrak dinding kuil.

Kaisar perlahan mendarat di lantai, napasnya teratur. Dia menatap tangannya, lalu menatap Axel yang kini jatuh tak sadarkan diri di pangkuannya.

"Siapa... pemuda ini?" tanya Kaisar dengan suara yang sudah kembali manusiawi.

Reynarda berlari mendekat, memeluk Axel yang tidak bernyawa—eh, maksudnya, Axel yang pingsan dengan napas lemah. Dia menatap Kaisar dengan tajam.

"Dia adalah penyelamatmu, Yang Mulia. Dan dia adalah segalanya bagi kami."

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!