NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke kampung Nayla dan penangkapan Hartono

Pukul sembilan malam lewat sedikit, sebuah iring-iringan mobil yang tidak biasa memasuki jalanan aspal berbatu di sebuah desa kecil di pinggiran daerah Jawa Barat.

Dua mobil SUV hitam mengilat berukuran besar melaju pelan, membelah keheningan malam kampung yang biasanya hanya diisi oleh suara jangkrik dan bising knalpot motor bebek warga.

Mobil terdepan berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana berdinding batako setengah plester. Itu adalah rumah Ibu Nayla.

Kedatangan mobil-mobil mewah itu seketika menarik perhatian warga sekitar.

Beberapa bapak-bapak yang sedang ronda malam di pos kampling langsung berdiri, memegang senter mereka dengan bingung. Ditambah lagi, dari mobil pengawal di belakang, turun dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi bak agen rahasia Hollywood.

"Ya ampun, Mas Gibran ... bodi gard kamu disuruh masuk mobil saja kenapa sih? Tetangga-tetanggaku bisa mengira rumah ibuku digerebek BNN kalau begini caranya!" bisik Nayla setengah merengek, wajahnya ditutupi kedua tangan karena malu.

Gibran terkekeh rendah saat membuka pintu mobil. "Biarin saja. Biar semua orang di kampung ini tahu kalau lu punya pelindung yang enggak main-main."

Gibran turun dari mobil, mengancingkan satu kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan, lalu berputar untuk membukakan pintu untuk Nayla. Gestur tubuhnya yang begitu menghormati istrinya di depan umum membuat beberapa ibu-ibu tetangga yang mengintip dari balik gorden jendela rumah mereka langsung melongo.

"Nayla? Ya Allah, Nak!"

Suara serak itu datang dari arah pintu rumah. Seorang wanita paruh baya dengan daster batik usang dan kerudung instan berlari keluar. Itu adalah Ibu Nayla. Di belakangnya, tampak Adi, adik laki-laki Nayla yang berusia lima belas tahun, tubuhnya masih kurus namun wajahnya terlihat jauh lebih segar.

"Ibu!" Nayla langsung berlari memeluk ibunya erat-erat, air mata kerinduan menetes di pundak sang ibu.

"Kamu kok pulang enggak kasih kabar, Nak? Terus ... ini siapa? Mobil siapa besar sekali?" tanya sang Ibu panik, matanya beralih ke arah Gibran yang kini berjalan mendekat dengan langkah tegap namun ekspresi wajah yang mendadak melunak, jauh dari kesan angkuh yang ia tunjukkan pada Hartono tadi sore.

Gibran langsung meraih tangan Ibu Nayla, lalu membungkuk hormat untuk menyalaminya dan mencium punggung tangan wanita tua itu. Tindakan spontan dari seorang pewaris Mahardika Group itu sukses membuat Nayla terpaku.

"Selamat malam, Ibu. Saya Gibran, suaminya Nayla. Maaf kami datang mendadak tanpa memberi kabar terlebih dahulu," ucap Gibran dengan suara yang sopan dan ramah sebuah nada suara yang bahkan jarang didengar oleh jajaran direksi di kantornya.

"Oh ... Nak Gibran? Suami Nayla?" Ibu Nayla tampak gugup, matanya berkaca-kaca melihat ketampanan dan kesopanan menantunya. "Ayo, ayo masuk dulu. Rumah Ibu kecil, berantakan, maaf ya ..."

"Enggak apa-apa, Bu. Rumah ini justru terasa sangat hangat," balas Gibran tulus.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah masuk ke dalam rumah, dari arah ujung jalan terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa disertai deru mesin motor yang sengaja digas kencang. Dua buah motor matic berhenti di dekat mobil Gibran, dan dari sana turunlah Pak Hartono bersama dua orang pria kekar kampung yang tampaknya adalah anak buahnya di daerah.

Rupanya, Hartono yang baru tiba di kampung beberapa jam lalu merasa tidak terima dipermalukan di Jakarta. Ia mengira Gibran tidak akan berani menyentuhnya di wilayah kekuasaannya sendiri di kampung ini.

"Oh, jadi kamu berani datang ke sini, bos kota?" teriak Hartono lantang, mencoba memancing perhatian para warga yang sedang ronda agar berkumpul. "Warga sekalian! Lihat ini! Ini adalah suami dari Nayla, anak Widya yang utangnya menumpuk pada saya! Mereka ini menolak bayar utang dan malah membawa preman berjas untuk mengancam saya di Jakarta!"

Ibu Nayla langsung gemetaran mendengar teriakan Hartono, wajahnya pucat pasi. Adi di sebelahnya langsung memasang badan melindungi ibunya, meski tubuh kurusnya tampak ringkih.

Nayla sudah bersiap untuk maju dan memaki Hartono, namun sebuah tangan kekar menahan bahunya. Gibran melangkah maju satu langkah ke depan, menempatkan dirinya sebagai tameng hidup di depan keluarga Nayla. Jas hitamnya bergoyang pelan tertiup angin malam kampung.

Gibran menatap Hartono dengan pandangan yang sangat dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah yang mengotori sepatunya.

"Pak Hartono," panggil Gibran, suaranya tidak keras, namun memiliki daya gaung yang membuat suasana kampung mendadak hening seketika. "Sepertinya ingatan Anda di kafe tadi sore sangat pendek. Atau mungkin, Anda butuh demonstrasi nyata tentang bagaimana cara Mahardika Group bekerja?"

Gibran tidak menunggu jawaban. Ia menoleh sedikit ke arah Gunawan yang berdiri di dekat mobil. "Gunawan, lakukan sekarang."

"Baik, Pak Gibran," Gunawan mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol panggilan cepat, lalu berbicara singkat. "Laksanakan perintah nomor satu untuk wilayah hukum daerah ini. Sekarang."

Tidak sampai dua menit setelah panggilan itu ditutup, sebuah pemandangan luar biasa terjadi. Dari arah jalan utama desa, terdengar raungan sirine mobil polisi yang memecah keheningan malam. Bukan hanya satu, melainkan tiga mobil patroli polisi dengan lampu rotator biru yang berkedip-kedip cepat langsung memasuki halaman depan rumah Ibu Nayla, mengepung motor Pak Hartono dan anak buahnya.

Dari dalam mobil paling depan, turunlah seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) yang ternyata adalah Kapolres daerah tersebut. Ia langsung berjalan cepat menghampiri Gibran, lalu memberikan hormat yang sangat tegas.

"Selamat malam, Pak Gibran Mahardika. Perintah dari Bapak Kapolda sudah kami terima. Semua bukti operasional rentenir ilegal dan penipuan tanah atas nama Hartono sudah kami amankan sejak satu jam yang lalu," lapor sang Kapolres dengan suara lantang yang bisa didengar oleh seluruh warga desa yang kini sudah berkumpul menonton.

Pak Hartono melongo, wajah tambunnya seketika berubah pucat pasi bak mayat. Dua anak buah kampungnya langsung mengangkat tangan ke atas ketakutan melihat belasan polisi bersenjata lengkap turun dari mobil patroli.

"Har-Hartono, Anda resmi kami tahan atas dugaan penipuan, pemerasan, dan pengoperasian lembaga keuangan ilegal tanpa izin OJK. Bawa dia!" perintah Kapolres tegas pada anak buahnya.

"Lho! Pak Polisi! Salah saya apa? Saya yang meminjamkan uang! Saya korban!" teriak Hartono histeris saat kedua tangannya ditarik paksa dan dipasang borgol besi yang berbunyi "'klik" dengan keras. Pria paruh baya yang tadinya merasa seperti raja di kampung itu kini digiring masuk ke dalam mobil tahanan seperti maling ayam, ditonton oleh seluruh tetangga yang selama ini menaruh dendam padanya karena sering dicekik utang.

Warga desa spontan bersorak gembira melihat runtuhnya kekuasaan rentenir kejam itu. Beberapa bapak-bapak ronda bahkan bertepuk tangan riuh.

Gibran membalikkan tubuhnya kembali menghadap Ibu Nayla dan Adi yang masih terpaku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Gibran tersenyum ramah, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan masalah sepele seperti mengusir nyamuk.

"Ibu, Adi ... mulai malam ini, orang itu tidak akan pernah mengganggu keluarga kita lagi. Surat-surat tanah rumah ini yang dulu disita oleh dia, besok pagi akan diantarkan langsung oleh tim pengacara saya ke sini dalam keadaan bersih," kata Gibran lembut.

Ibu Nayla langsung menangis, kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Ia menggenggam tangan Gibran dengan erat. "Terima kasih ... terima kasih banyak, Nak Gibran. Ibu tidak tahu harus membalas kebaikan kamu dengan apa ..."

Gibran melirik Nayla yang berdiri di samping ibunya dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru. Gibran mengedipkan sebelah matanya secara rahasia pada Nayla sebelum menjawab ibunya. "Ibu tidak perlu membalas apa-apa. Menjaga Nayla tetap tersenyum dan tidak menekuk wajahnya seperti cumi-cumi setiap hari itu sudah lebih dari cukup bagi saya, Bu."

Nayla yang sedang terharu langsung mencubit pinggang Gibran dari belakang dengan gemas karena suaminya itu masih sempat-sempatnya membawa klausul kontrak konyol mereka di depan ibunya. "Mas Gibran! Sumpah ya, merusak suasana haru saja!" omel Nayla berbisik, memicu tawa renyah dari Gibran dan senyuman tulus dari Ibu serta adiknya.

Malam itu, di dalam rumah kecil yang sederhana, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun penuh penderitaan, keluarga Nayla bisa tertawa bersama tanpa bayang-bayang ketakutan akan hari esok.

Dan di sudut ruangan, sambil meneguk teh hangat buatan Ibu mertuanya, sang pahlawan berjas hitam Gibran Mahardika terus menatap istrinya dengan pandangan yang semakin enggan untuk dilepaskan.

1
Shinta Apriyani
🥰
Shinta Apriyani
sehat² Bumil n calon Debay🥰
Shinta Apriyani: sama²🥰
total 2 replies
Rio Mario
cerita nya bagus banget.... semangat ka othor nulis nya
MayAyunda: siap kak terimkasih
total 1 replies
Shinta Apriyani
Alhamdulillah selamat Nay
Shinta Apriyani: sama²☺️..ttp semangat ya👍
total 2 replies
gibran salamun
makin seru aja jalan ceritanya Nayla gak bisa diremehkan biar dari keluarga sederhana
MayAyunda: terimkasih🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
bhsnya ganti Ghibran jgn gw lo lg ya
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Shinta Apriyani
Akhirnya...haaah ikut lega👍☺️
MayAyunda: he he 😄🙏
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor, jangan lupa mampir yar😊
MayAyunda: siap.terumkasih kak
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor💪
Rio Mario
kok cerita nya kaya ngulang ya ?? bknnya seharusnya momen bapaknya minta maaf Nayla dihadapan banyak orang,,🤔
MayAyunda: maaf ..uthornya lagi kurang AQua🙏😁😁
total 1 replies
Preic
kenapa bab ini kayak bab awal2 ya pembicaraan mereka, pleasw thor untuk kembangkan kembali ceritannya.. sudah mulai menarik padal
sory ya thor 🙏
MayAyunda: siap kak .terimakasih sarannya 🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
🤭😄
Shinta Apriyani
Bagus ceritanya..Ringan..menghibur g bikin hari esmosi
Shinta Apriyani
lanjutttt👍
Shinta Apriyani
👍👍🙂
mbaa An
selamt pagi thor,mumpung ini hari minggu apa ga pengen thor kasih doubel up😄🤭😍 trimaksih kak,sehat slalu dan tetap semangat😍
MayAyunda: di usahakan kak ..tapi kadang otak nggk mampu kak soalnya nggak cuma satu buku disambi buruh kak 😀😀🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
ehemmm
MayAyunda: hai kak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Shinta Apriyani
Bagus ceritanya..sy suka..sy suka👍👍👍👍🙂
MayAyunda: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
👍👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!