NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Target Pertama: Sang Hakim

Ketakutan memiliki aroma yang sangat spesifik.

Bau itu tidak amis seperti darah segar yang menetes di atas aspal, juga tidak menyengat hidung seperti belerang dari peluru yang baru ditembakkan. Ketakutan manusia memiliki baunya sendiri—sebuah perpaduan yang memuakkan antara keringat dingin yang mengasam di pori-pori kulit, napas basi yang tertahan terlalu lama di tenggorokan, dan feromon kepanikan murni yang menguar saat seseorang menyadari bahwa kematian sedang berdiri di depan pintu mereka.

Dan malam ini, pada pukul setengah dua dini hari, aroma ketakutan itu tercium sangat pekat di udara perbukitan Sentul.

Aku berdiri mematung di balik bayang-bayang pohon pinus yang basah, membiarkan gerimis pegunungan yang sedingin es meresap ke dalam kain mantel panjangku. Sepatu botku tenggelam beberapa sentimeter ke dalam lumpur bercampur daun gugur. Sekitar lima puluh meter di hadapanku, berdiri sebuah villa mewah bergaya minimalis modern dengan dinding kaca raksasa yang mendominasi lantai duanya.

Melalui lensa binokular malam yang menempel di mataku, aku bisa mengamati targetku dengan sangat jelas, layaknya menonton ikan hias yang terjebak di dalam akuarium yang sedang bocor.

Hakim Agung Setiawan.

Pria tua yang dua hari lalu masih duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat di barisan terdepan ballroom Ritz-Carlton itu, kini terlihat seperti gelandangan tua yang baru saja kehilangan akal sehatnya. Ia tidak lagi mengenakan jas desainer bespoke atau kacamata berbingkai emas yang selalu memberinya ilusi wibawa. Malam ini, ia hanya mengenakan piyama sutra yang kusut, berjalan mondar-mandir melintasi ruang tamunya dengan gerakan yang patah-patah dan panik.

Tangannya yang keriput menggenggam sebuah gelas kristal berisi wiski single malt, bergetar begitu hebat hingga cairan berwarna keemasan itu berkali-kali tumpah, menodai karpet bulu domba putih di bawah kakinya.

Di layar televisi raksasa di ruang tamunya, saluran berita masih terus menyiarkan kejatuhannya secara berulang-ulang tanpa ampun. Wajahnya terpampang di layar dengan tulisan BURONAN KORUPSI TINGKAT TINGGI melintang di bagian bawah. Semua rahasianya, semua rekening lepas pantainya, semua putusan sidang kotor yang ia jual demi uang... kini menjadi konsumsi publik.

Setiawan sesekali melirik ke arah ponsel satelit yang tergeletak di atas meja kaca, berharap benda itu berdering. Ia pasti sedang menunggu panggilan penyelamatan dari rekan-rekannya di Vanguard Group, menunggu Darmawan Salim atau Jenderal Sudiro mengirimkan helikopter untuk mengeluarkannya dari negara ini.

Pria tua itu sangat bodoh. Ia tidak sadar bahwa aku telah memblokir semua sinyal telekomunikasi di radius satu kilometer persegi dari villa ini menggunakan perangkat pengacak sinyal (jammer) portabel di dalam ranselku. Dan ia lebih bodoh lagi karena masih berharap diselamatkan oleh ular berbisa yang sama yang pernah ia bantu. Darmawan Salim tidak pernah menyelamatkan pion yang sudah rusak; ia membuangnya ke tempat sampah.

Aku menurunkan binokularku, membiarkannya menggantung di leher. Hujan mulai turun sedikit lebih deras, mengetuk-ngetuk bahu mantelku.

Aku meraba saku dalam jaketku, memastikan kotak tipis berisi kartu itu masih ada di sana, bersama sebuah botol kaca gelap berukuran sangat kecil. Benda-benda itu terasa dingin di ujung jariku, perlahan mengalirkan ketenangan yang membekukan kewarasanku sendiri.

"Waktunya panggungmu ditutup, Yang Mulia," bisikku pada kabut malam yang menelan suaraku.

Aku melangkah keluar dari kegelapan hutan pinus. Gerakanku terukur, hati-hati, dan nyaris tanpa suara di atas rerumputan basah.

Aku tidak perlu meretas sistem keamanan berlapis villa ini malam ini. Saat Setiawan lari kemari dari Jakarta dengan panik, ia mengunci dirinya sendiri tanpa membawa teknisi atau ajudan ahlinya. Sensor gerak inframerah di pagar perimeter dengan mudah kulewati hanya dengan memanjat dahan pohon oak tua yang menjulur melewati batas tembok. Dua orang penjaga keamanan berseragam yang disewa dari perusahaan swasta terlihat sedang tertidur pulas di pos depan, terlalu malas untuk berpatroli di tengah badai hujan.

Aku menyelinap menyusuri dinding luar bangunan, menuju kotak panel kelistrikan utama yang terletak di samping garasi. Menggunakan tang pemotong baja bergagang karet, aku menjepit kabel induk yang mengalirkan listrik dari tiang jalan, lalu memotong kabel cadangan yang terhubung ke generator diesel.

Dalam satu kedipan mata, seluruh villa mewah itu tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Cahaya dari ruang tamu lantai dua mati seketika. Musik klasik yang sempat terdengar samar dari dalam terpotong secara paksa.

Hening.

Hanya ada suara rintik hujan yang menghantam dedaunan.

Lalu, dari lantai atas, terdengar suara pecahan kaca yang keras, disusul oleh teriakan panik yang membelah malam.

"Halo?! Tolong! Sudiro, apakah itu orang-orangmu?!" Suara Setiawan melengking tinggi, pecah oleh kepanikan dan keputusasaan yang murni. "Nyalakan lampunya! Sialan! Aku tidak bisa melihat apa-apa!"

Aku memutar tubuhku, berjalan mendekati pintu kaca geser di teras belakang yang terhubung langsung dengan ruang makan. Seperti dugaanku, Setiawan terlalu panik dan mabuk hingga lupa mengunci grendel bawahnya. Aku mendorong pintu kaca itu. Suara gesekannya tertelan oleh guntur yang menggelegar di kejauhan.

Udara di dalam rumah ini terasa jauh lebih hangat, namun aura kematian sudah merayap masuk ke setiap sudutnya. Bau pengharum ruangan otomatis beraroma lavender yang menyengat mencoba menutupi bau alkohol dan keringat ketakutan sang pemilik rumah, tapi perpaduan itu justru membuatku mual.

Aku merogoh sakuku, mengeluarkan sebuah topeng porselen putih. Topeng dengan senyum asimetris dan mata kosong yang melambangkan kekacauan. Aku menempelkannya ke wajahku, mengaitkan tali karetnya ke belakang kepala. Sentuhan porselen yang dingin pada kulit wajahku seolah menekan sebuah sakelar di dalam kepalaku, mematikan sisa-sisa empati manusiawi Arlan Wiratama, dan membangunkan sang Joker sepenuhnya.

Aku melangkah melewati meja makan kayu jati panjang, menaiki tangga melingkar berlapis marmer satu demi satu. Aku sengaja membuat langkah sepatuku sedikit bersuara.

Tuk. Tuk. Tuk.

Suara langkah kaki yang lambat, berat, dan bergema di tengah kegelapan itu adalah instrumen penyiksaan mental yang jauh lebih efektif daripada ancaman verbal.

Setiawan tidak lagi berteriak. Aku bisa mendengar napasnya yang memburu dan tersengal-sengal di ruang tamu lantai atas. Saat aku mencapai puncak tangga, kilatan petir dari luar jendela raksasa menerangi ruangan selama sepersekian detik.

Setiawan sedang berjongkok bersembunyi di balik sofa kulitnya. Kedua tangannya yang bergetar memegang sebuah pistol revolver kaliber .38, mengarahkannya secara acak ke arah kegelapan tangga. Matanya yang merah melotot liar, menangkap bayanganku yang kini berdiri diam di ambang ruangan.

"Siapa di sana?!" jeritnya. Suaranya serak, pecah oleh tangisan ketakutan. "Aku punya senjata! Aku tidak ragu untuk menembak kepalamu! Mundur!"

Aku tidak mundur. Aku justru menyandarkan sebelah bahuku pada pilar beton di dekat tangga, menyilangkan kakiku dengan santai. Aku membiarkan keheningan menyiksa saraf-sarafnya selama sepuluh detik penuh.

"Keadilan tidak butuh cahaya lampu untuk melihat dosa-dosamu, Setiawan," suaraku akhirnya memecah kesunyian. Aku tidak menggunakan modulator suara malam ini. Aku menggunakan suara asliku, namun kuturunkan nadanya hingga terdengar sedingin dasar lautan.

Mendengar suara yang tenang dan tidak manusiawi itu, Setiawan tersentak mundur hingga punggungnya menabrak meja kaca. Vas bunga di atasnya jatuh dan pecah berantakan.

"Kau... Kau pria di bar itu!" serunya, napasnya semakin tak terkendali. "Kau yang mengirim email laknat itu! Kau yang membakar ruang arsipku!"

"Aku hanya membantu menerangi jalan kebenaran yang selama ini kau gelapkan, Yang Mulia," balasku, melangkah maju dua langkah.

Kilat kembali menyambar di langit Sentul. Cahaya putih kebiruannya menembus kaca jendela, menerangi seluruh sosokku. Menerangi topeng porselen putih yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.

Setiawan menjerit tertahan saat melihat wajah topeng itu. Senjata di tangannya bergetar semakin hebat, nyaris terjatuh dari genggamannya yang licin oleh keringat.

"Apa yang kau inginkan dariku?!" raungnya putus asa, air mata ketakutan mulai mengalir membasahi pipinya yang keriput. "Kau ingin uang? Aku punya simpanan tiga juta dolar tunai di brankas dinding! Aku punya batangan emas! Ambil semuanya! Tinggalkan aku sendiri!"

"Uangmu adalah sampah yang bau anyir darah orang miskin," kataku, terus melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tersisa lima meter. Pistol di tangannya mengarah lurus ke dadaku, tapi aku tahu otot jarinya terlalu lemas oleh ketakutan untuk menarik pelatuk yang berat itu. "Aku tidak datang untuk mengemis sisa kekayaanmu, Setiawan. Aku datang ke sini sebagai penagih utang."

"Utang apa?! Aku tidak kenal siapa kau!" Setiawan menangis, berlutut di atas karpet yang basah oleh tumpahan wiski dan air matanya sendiri. "Aku telah mengadili ribuan orang! Aku tidak ingat wajah mereka semua!"

"Tentu saja kau tidak ingat."

Aku merogoh saku dalam mantelku, mengeluarkan selembar foto lama berukuran 4R yang sudut-sudutnya sudah menguning. Aku melemparkannya ke udara. Foto itu melayang tertiup angin yang masuk dari celah ventilasi, lalu jatuh tepat di depan lutut Setiawan.

"Karena bagimu, dan bagi teman-temanmu di Vanguard," suaraku menajam, berubah menjadi geraman rendah yang dipenuhi amarah yang telah kupendam selama satu dekade. "Nyawa seorang pria bernama Adrianus Wiratama hanyalah sekadar angka kerugian di atas kertas audit. Sebuah masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan memotong rem mobilnya."

Setiawan menunduk menatap foto yang tergeletak di lantai. Foto ayahku yang sedang tersenyum ke arah kamera, mengenakan kemeja kerja yang biasa ia pakai.

Dalam sekejap, sisa-sisa perlawanan di tubuh Setiawan hancur berkeping-keping. Pistol revolver di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang tumpul. Ia mengenali foto itu. Ia mengenali kasus yang paling menguntungkan sekaligus paling kotor yang pernah ia putuskan dalam karir peradilannya.

"Itu... itu... aku tidak membunuhnya," Setiawan menggelengkan kepalanya dengan brutal, mundur merangkak menjauhi foto itu seolah benda tersebut terbakar. "Itu kecelakaan! Aku hanya membacakan putusan dari bukti yang disodorkan padaku! Handoko Salim yang memalsukan semuanya!"

"Jangan bersembunyi di balik punggung orang mati, Setiawan," aku melangkah maju, ujung sepatu botku menginjak foto ayahku sendiri. Aku menunduk, menatap pria tua yang gemetar di bawah kakiku. "Handoko memang memalsukan buktinya, tapi kaulah yang memukulkan palu hakim itu. Kau yang secara sah melabeli ayahku sebagai koruptor dan pengkhianat. Kau membiarkan seorang anak remaja dipaksa menonton orang tuanya hangus terbakar di dasar jurang, lalu mengambil sisa hidupnya hanya agar kau bisa membeli villa mewah ini dan mentransfer belasan miliar ke rekening istri mudamu."

"Darmawan Salim yang memaksaku!" Setiawan tiba-tiba berteriak histeris, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon ampun pada badut tanpa wajah yang berdiri menjulang di hadapannya. "Darmawan mengancam akan menghancurkan karirku jika aku tidak menutup kasus itu! Aku tidak punya pilihan! Tolong, ampuni aku... aku punya anak perempuan, aku punya cucu yang masih kecil..."

Rahangku di balik topeng porselen ini mengeras sedemikian rupa hingga terasa sakit. Kata-katanya, permohonannya yang memuakkan itu, justru menjadi bensin yang menyiram api kebencianku.

"Adrianus Wiratama juga punya anak, Setiawan," bisikku, merendahkan tubuhku hingga wajah porselen ini sejajar dengan wajahnya. "Dan malam ini, anak itu datang untuk membacakan putusan pengadilan yang sesungguhnya."

Setiawan terisak, meringkuk seperti bayi yang ketakutan, menutupi kepalanya dengan kedua lengan kurusnya.

Aku merogoh saku kiriku. Aku mengeluarkan sebuah botol kaca berukuran sangat kecil berwarna gelap, serta selembar kartu serat karbon. Kartu Joker. Aku meletakkan kedua benda itu dengan bunyi klik pelan di atas meja kaca yang tak jauh darinya.

Setiawan mengintip dari balik lengannya, menatap botol dan kartu itu dengan mata terbelalak ngeri.

"Kau tahu apa yang membunuh teman baikmu, Handoko Salim?" tanyaku pelan.

Setiawan tidak menjawab, bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara.

"Racun neurotoksin yang meresap ke kulitnya. Membuat otot wajahnya tertarik paksa, paru-parunya hancur, dan jantungnya meledak setelah kejang selama dua puluh menit penuh," jelasku dengan intonasi datar layaknya seorang dokter yang membacakan resep.

Aku menunjuk botol kaca kosong di atas meja. "Kau melihat seberapa cepat kehancuranmu hari ini, Setiawan? Darmawan Salim sudah tahu kau tamat. Sudiro sudah tahu kau tidak punya gigi lagi. Saat ini, ada tim pembersih bayaran dari Vanguard yang sedang melaju ke atas bukit ini. Mereka akan sampai dalam waktu lima belas menit. Jika mereka menemukanmu hidup-hidup, mereka tidak akan membunuhmu dengan cepat. Mereka akan menyiksamu berhari-hari untuk mencari tahu apakah kau sudah menyimpan salinan data lain."

Setiawan mulai menangis tersedu-sedu, ingus dan air mata bercampur membasahi piyama mahalnya.

"Di sisi lain, mobil patroli kepolisian dari Resor Bogor juga sedang menuju kemari untuk menangkapmu atas tuduhan korupsi tingkat tinggi," lanjutku tak kenal ampun. "Jika polisi menangkapmu, kau akan menghabiskan sisa umurmu yang menyedihkan di sel penjara yang paling bau, di mana narapidana-narapidana yang dulu kau hukum mati akan mengantre setiap malam untuk mematahkan tulangmu."

Aku berdiri tegak, mundur satu langkah, memberikan ruang padanya.

"Atau..." kataku, melirik ke arah pistol revolver yang tergeletak di atas karpet tak jauh dari lututnya. "...kau bisa mengambil satu-satunya jalan keluar terhormat yang kau miliki. Jalan pintas. Kau tidak perlu disiksa oleh anak buah Darmawan, dan kau tidak perlu menanggung malu diludahi orang-orang di pengadilan."

Setiawan menatapku, lalu menatap pistol miliknya yang tergeletak di lantai. Napasnya tersengal-sengal. Otaknya yang sudah hancur oleh rasa malu, alkohol, dan teror psikologis yang kuberikan sedang mencari-cari logika di balik kata-kataku. Dan dalam keputusasaannya yang paling gelap, ia tahu bahwa aku mengatakan kebenaran. Ia sudah menjadi mayat berjalan.

"Mati malam ini dengan pelurumu sendiri, atau mati besok pagi dengan penyiksaan mereka," aku berbalik, mulai berjalan santai menuju arah tangga. "Putusannya ada di tanganmu, Yang Mulia."

Aku tidak menoleh lagi. Aku melangkah menuruni anak tangga marmer itu, membiarkan Setiawan menangis dan meratap sendirian di tengah kegelapan ruang tamunya.

Hujan di luar sana turun semakin brutal, menghantam kaca jendela dengan suara menderu yang memekakkan telinga. Aku berjalan keluar melalui pintu dapur yang kubuka tadi, melangkah kembali ke dalam pelukan hutan pinus yang dingin.

Saat aku sudah berjalan sejauh seratus meter, mendekati tempat mobil SUV hitamku terparkir dengan aman di balik semak belukar, langkahku terhenti.

DOR!

Suara letusan senjata api kaliber besar terdengar memecah malam. Suaranya sedikit teredam oleh tebalnya dinding villa dan deru badai, namun gema suaranya cukup nyaring hingga mengusir beberapa burung hantu dari dahan pohon di atasku.

Aku memejamkan mata di balik topeng porselenku, membiarkan rintik hujan mencuci sisa-sisa ketegangan di leherku. Tidak ada senyum kemenangan di bibirku. Tidak ada perasaan lega yang selama ini kubayangkan saat aku membunuh musuh-musuh ayahku. Membunuh Setiawan tidak membuat rasa sakit kehilangan keluargaku berkurang. Dadaku tetap terasa sama kosongnya seperti sepuluh tahun yang lalu.

Aku melepas topeng porselen itu, menyembunyikannya kembali ke dalam mantel, dan masuk ke dalam mobilku yang hangat.

Aku menyalakan mesin. Lampu dari dasbor menerangi wajahku yang basah oleh air hujan. Saat aku memasang sabuk pengaman, layar ponselku yang tergeletak di kursi penumpang tiba-tiba menyala, bergetar pelan menampilkan sebuah notifikasi pesan baru.

Aku meraihnya. Pesan dari Elara.

Arlan, aku tidak tahu apakah kau sudah tidur. Ini mungkin terdengar aneh, tapi malam ini setelah kita makan malam... aku merasa takut. Dua duniaku seolah bertabrakan. Bisakah kita bertemu dan bicara besok pagi? Aku hanya butuh memastikan bahwa tidak semua hal di dunia ini adalah kebohongan.

Aku membaca pesan singkat itu berulang kali. Tiga baris teks yang seolah memiliki bobot fisik, menekan ulu hatiku dengan rasa perih yang sama sekali tidak kuantisipasi.

Wanita ini, detektif cerdas yang baru saja kuhindari kecurigaannya dengan sebuah pelukan jas di bawah hujan, sedang mencari jangkar kewarasan pada seorang pria yang baru saja memaksa seorang hakim tua meniup kepalanya sendiri. Elara sedang mencari kejujuran dari seseorang yang seluruh eksistensinya dibangun di atas fondasi kebohongan.

Tanganku melayang di atas layar, ibu jariku nyaris mengetik balasan untuk menenangkannya. Namun aku menghentikan jariku. Aku menekan tombol daya, mematikan layar ponsel itu, dan melemparnya kembali ke kursi penumpang. Aku tidak bisa membalasnya. Belum saatnya. Jika aku membiarkan hatiku terlalu dekat dengan cahayanya, rencanaku akan hancur berantakan.

Aku memasukkan transmisi, menginjak pedal gas, dan membiarkan mobilku melesat membelah jalanan perbukitan yang licin menuju pusat kota Jakarta.

Di spion tengah, villa mewah Hakim Setiawan perlahan menghilang ditelan kabut hitam, seperti sebuah nisan raksasa yang dilupakan dunia.

Satu pilar lagi telah rubuh dan rata dengan tanah.

Malam ini, Jakarta akan terbangun dengan berita bunuh diri seorang penguasa hukum. Dan besok, ketika fajar menyingsing, kepanikan sejati akan menular seperti wabah penyakit ke dalam aliran darah Darmawan Salim, Jenderal Sudiro, dan sisa tikus-tikus korporat Vanguard. Mereka akan menyadari bahwa hantu yang mereka kubur di dasar jurang sepuluh tahun lalu, kini benar-benar telah kembali untuk menagih nyawa mereka satu per satu.

Aku menekan pedal gas lebih dalam, memacu mobil menembus badai.

"Keadilanmu hanyalah lelucon murahan bagiku, Ayah," bisikku pada kaca depan mobil yang basah, menatap kilat yang membelah langit. "Dan lelucon ini... baru saja mencapai bagian yang paling lucu."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!