Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : PULAU LONG MEN
Siapa sangka, dermaga Pulau Long Men nyatanya memang tidak pernah tidur.
Itu hal pertama yang mereka sadari ketika kapal merapat di pelabuhan malam itu, bahwa tidak ada yang berbeda antara jam ini dengan jam siang di pelabuhan mana pun yang pernah mereka singgahi sebelumnya. Lampu-lampu minyak berjajar di sepanjang dermaga seperti bintang yang memutuskan bahwa ketinggian langit terlalu jauh dari keramaian dan memilih untuk turun. Keramaian pedagang yang negosiasi dalam puluhan bahasa berbeda, gelak tawa dan tawar-menawar benar-benar telah menghidupkan tempat itu.
Mereka belum sepenuhnya menginjakkan kaki di dermaga ketika seorang pria sudah ada di sana menyambut mereka.
Badannya bulat, menunjukkan bahwa dia sudah lama hidup dengan sangat baik dan tidak punya alasan untuk mengubah kebiasaan itu. Jubahnya berwarna kuning keemasan, dan di tangannya ada kipas yang dibuka dan ditutup bergantian.
"Selamat datang, tamu dari Long Yuan!" Dia sudah sangat terlatih untuk terdengar hangat bahkan kepada orang yang baru pertama kali dilihatnya. "Tuan Li sudah menunggu, menunggu, dan menunggu! Malam-malam begini masih berkenan mampir ke Long Men, ini kehormatan yang sangat besar!"
Haifeng melirik ke Tianbao yang berdiri di sebelahnya. Sementara Tianbao menatap pria itu dengan ekspresi seseorang yang sedang mengalami reaksi fisik yang tidak menyenangkan tapi mencoba menahannya demi sopan santun.
"Tuan Li." Akhirnya Haifeng melangkah maju dan membungkuk dengan cara yang pas antara hormat dan tidak terlalu tunduk. "Terima kasih atas sambutannya. Kami sebenarnya tidak bermaksud untuk merepotkan malam ini."
"Tidak merepotkan!" Tuan Li mengepakan kipasnya dengan gembira. "Kapal Long Yuan yang berlabuh di Long Men tidak akan pernah terasa seperti sesuatu yang merepotkan, Tuan Muda! Lagi pula jangan khawatir, di sini semua orang punya urusan masing-masing dan tidak ada yang peduli dengan urusan orang lain." Dia berputar setengah lingkaran dengan gerakan yang entah kenapa menyertakan senandung pendek yang tidak jelas lagunya. "Mari, mari, biar Tuan Li tunjukkan ke mana tempat yang terbaik!"
Tianbao menyikut Haifeng dari samping dengan sangat halus meski Haifeng mengabaikannya dan mengikuti Tuan Li.
Chen Mo berjalan di belakang mereka, begitu pula Hua Ling yang tatapannya tidak bisa berhenti bergerak ke kiri dan ke kanan karena ada terlalu banyak hal untuk dilihat. Sementara Wang Bi dan Liu Mao menutup barisan dengan percakapan yang tidak perlu didengar orang lain tapi terdengar juga karena keduanya tidak pernah benar-benar bisa berbisik.
Long Men pada malam hari adalah dunia yang tidak ada dalam buku navigasi mana pun yang pernah Haifeng baca.
Jalan-jalan sempit tapi terang, diapit oleh bangunan-bangunan bertingkat yang setiap lantainya mengeluarkan suara yang berbeda dari lantai di bawahnya. Orang-orang dari daratan Shenzhou bercampur dengan orang-orang dari kepulauan yang Haifeng hanya pernah lihat peta letaknya, dengan pedagang dari wilayah-wilayah yang namanya tidak ada dalam peta mana pun, dengan makhluk-makhluk yang membuat Haifeng harus mengingatkan dirinya untuk tidak menatap terlalu lama.
Adapun di salah satu sudut jalan yang lebih terang, terlihat seorang pedagang rempah bertelinga panjang dan runcing. Lalu tepat di seberangnya, dua orang dengan ekor rubah yang bergerak perlahan berjalan berdampingan tanpa tampak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar mereka.
"Setengah hewan," guman Haifeng dengan kagum. "Di buku-buku klan, mereka disebut Yao Ren. Aku tidak pernah mengira akan melihat mereka langsung."
Hua Ling berhenti di sampingnya, menatap ke arah yang sama. "Mereka sepertinya terlihat... biasa-biasa saja."
"Itu mungkin karena mereka memang sudah biasa di sini."
Tuan Li sudah berbalik dan melambaikan kipasnya ke arah mereka dari depan. "Jangan ketinggalan, jangan ketinggalan! Festival malam ini baru mulai!"
Festival itu, ketika mereka sampai di alun-alun utama kota, adalah sesuatu yang membuat Haifeng memahami kenapa Pulau Long Men disebut sebagai salah satu pusat perdagangan paling lama bertahan di lautan ini. Semua pencapaian itu bukan hanya karena banyaknya barang yang diperdagangkan di sini, tapi juga keramaian, hiburan, dan semua yang bisa membuat orang cukup nyaman untuk tinggal lebih lama dari yang mereka rencanakan, yang kemudian membuat mereka menghabiskan lebih banyak koin maupun emas dari yang awalnya mereka niatkan.
Tuan Li menunjuk ke penginapannya dari sisi alun-alun, bangunan tiga lantai dengan cahaya yang keluar dari setiap jendelanya. "Tuan Muda Long Yuan pasti butuh tempat yang nyaman untuk bermalam dan berbaur, ya? Banyak informasi yang beredar di meja-meja kota ini. Banyak orang yang mau berbicara selama pendekatannya benar."
Haifeng mempertimbangkan itu. Informasi tentang Xuanyuan tidak akan ditemukan dari peta saja. Orang-orang yang berlayar di lautan ini cukup lama mungkin menyimpan petunjuk yang tidak ada dalam catatan tertulis mana pun, dan untuk mendapatkan itu, tentu saja perlu waktu, dan tempat untuk mendengarkan.
"Satu malam dulu," katanya kepada Tuan Li.
Tuan Li bertepuk tangan dengan antusias yang membuat Wang Bi menyipitkan matanya karena suaranya terlalu keras di dekat telinganya.
Tak lama kemudian, festival berlanjut tepat di sebelah mereka. Penari-penari berputar di satu sudut alun-alun. Pedagang makanan menawarkan sesuatu yang aromanya bisa dinikmati dari jarak yang sangat jauh, dan dari arah yang tidak terlalu jauh, sekelompok wanita berpakaian warna-warni bergerak ke arah Tianbao dengan cara yang sangat terarah.
"Tuan yang tampan!" Salah satu dari mereka sudah memegang lengan Tianbao sebelum pria itu sempat mundur. Yang lain langsung menemukan Wang Bi dan Liu Mao. “Bagaimana jika temani kami malam ini?”
Tianbao menatap ke arah Haifeng dengan ekspresi yang membutuhkan bantuan. Tapi masalahnya, Haifeng justru memilih untuk tidak melihat ke arahnya.
Sedangkan Liu Mao menikmati situasi itu dengan cara yang menunjukkan dia sudah sangat terbiasa dengan wanita. Lalu Wang Bi di sisi lain, sudah mulai menghitung sesuatu dalam kepalanya dengan ekspresi yang semakin tidak menyenangkan semakin lama dia berpikir. Jelas itu soal biayanya dalam semalam.
"Kalau semuanya harus bayar," kata Wang Bi kepada salah satu wanita di sampingnya dengan sangat serius, "aku perlu melihat daftar harganya terlebih dahulu."
Hua Ling berbalik badan dari seluruh pemandangan itu dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi yang tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan betapa jengkelnya dia melihat pria-pria itu.
Haifeng berdiri sedikit terpisah dari keramaian, tatapannya bergerak dari satu sudut ke sudut lain layaknya sudah menjadi kebiasaan setelah berminggu-minggu di laut, membaca suasana sebelum memutuskan sesuatu.
Sampai suara itu datang dari gang di sisi kanan alun-alun.
Siapapun pasti tahu jika itu suara besi yang diseret di permukaan batu, panjang dan acak, diikuti suara tamparan yang cukup keras untuk terdengar meski ada keramaian di antara sumber suara dan telinga Haifeng. Kemudian makian dalam bahasa yang tidak dia kenali tapi nadanya tidak membutuhkan terjemahan.
Haifeng menyipitkan matanya ke arah gang itu.
"Jangan lihat terlalu lama."
Suara Samudera datang langsung tanpa perantara udara. Wujudnya tidak muncul, hanya suaranya. "Di gang itu ada transaksi yang sedang berlangsung. Rantai yang kau dengar adalah rantai di pergelangan tangan. Yang tamparan itu untuk membungkam seseorang yang menolak patuh."
Haifeng tidak mengubah posisinya. "Perdagangan budak."
"Di Long Men, itu terjadi di tempat-tempat yang tidak langsung terlihat dari jalanan utama." Suara Samudera tidak mengandung urgensi yang memaksanya bertindak sekarang. "Ini bukan satu-satunya gang seperti itu di pulau ini. Aku bahkan yakin hal semacam ini juga masih terjadi di Long Yuan."
Haifeng berpikir cukup lama, sampai ada sesuatu di belakang matanya yang bergeser ke tempat yang lebih berat.
"Chen Mo." Haifeng menoleh ke pria yang berdiri dua langkah di belakangnya, tidak jauh dari tempat Tuan Li masih mengobrol panjang dengan Liu Mao tentang menu penginapannya. "Aku perlu ke toilet sebentar."
Chen Mo menatapnya.
Tatapan itu berlangsung lebih lama dari yang dibutuhkan untuk menjawab permintaan pergi ke toilet.
"Di ujung jalan utama ada satu," kata Chen Mo akhirnya. "Lewat kanan."
Haifeng mengangguk dan melangkah pergi ke kanan. Tidak ke ujung jalan utama.
Ke arah gang di sisi alun-alun yang masih mengeluarkan suara rantai dan keheningan yang tidak sehat di antara keramaian yang ada di sekeliling luarnya.
Chen Mo menatap punggungnya yang menghilang di antara orang-orang, kemudian menoleh kembali ke festival di depannya.