Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBSESI YANG MENOLAK MATI
Waktu terus bergulir hingga usia kehamilan mereka menginjak empat bulan. Selama itu pula, Aryo tidak pernah berhenti. Ponsel Winda seakan menjadi saksi bisu bagaimana pria itu terus-menerus mencoba menembus dinding pertahanan yang dibangun Winda. Namun, Winda bener-bener memilih untuk menghilang dari radar Aryo. Sesekali ia hanya mau bertemu dengan Serena, itu pun hanya berdua saja di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan Aryo.
Perubahan sikap Winda ini perlahan mulai dirasa aneh oleh Serena. Kenapa Winda sudah gak mau lagi diajak double date? Kenapa setiap kali diajak makan malam berempat, selalu ada saja alasannya? Serena merasa seperti ada sesuatu yang sedang dihindari oleh sahabatnya itu. Namun, sebagai sahabat yang tulus, Serena tetap mencoba berpikir positif. Mungkin Winda hanya kelelahan karena bawaan bayi, pikirnya.
Namun, ada satu hal yang belakangan ini membuat Serena makin menaruh curiga. Setiap kali mereka bertemu, Winda tiba-tiba selalu menanyakan kabar Aryo.
"Mas Aryo bagaimana sekarang, Ser?" tanya Winda berpura-pura kasual, padahal jantungnya berdegup kencang karena takut jika rahasia mereka telah terbongkar.
Serena yang tidak tahu apa-apa tetap menjawab dengan senyuman. "Mas Aryo udah baik-baik saja kok, Win. Nggak kayak dulu lagi yang sering pulang larut. Sekarang dia lebih perhatian."
Karena umur kehamilan mereka hanya berbeda dua minggu—dengan usia kandungan Winda yang sedikit lebih tua—mereka selalu pergi ke rumah sakit bersama untuk memeriksakan kandungan. Hingga saat usia kehamilan mereka menjelang enam bulan, hari yang dinanti pun tiba. Mereka menjadwalkan pemeriksaan untuk mengecek gender atau jenis kelamin sang jabang bayi.
Dokter tersenyum menatap layar monitor USG. Hasilnya keluar: Serena mengandung bayi perempuan, sedangkan di dalam rahim Winda, tumbuh seorang bayi laki-laki.
Keluar dari ruangan dokter, Serena langsung menceletuk riang sembari menggandeng lengan Winda. "Wah, selamat ya, Win! Dapat cowok! Duh... Mas Aryo tuh sebenarnya pengin banget punya anak lelaki, Win. Tapi kayaknya rezeki kami beda, dapetnya cewek. Mas Aryo pasti bakal senang banget kalau lihat anak cowok, dia pasti gemas."
Winda seketika terdiam membeku. Langkah kakinya terasa berat. Kalimat Serena seolah menyindir batinnya yang sedang didera ketakutan luar biasa.
Serena tertawa kecil, tidak menyadari perubahan wajah sahabatnya. "Nanti kalau anak-anak kita sudah besar, kita jodohkan aja anak kita, ya? Biar kita besan-an!" tawa Serena pecah.
"Nggak!" sahut Winda refleks dengan nada yang cukup tegas.
Serena tersentak, tawa di bibirnya langsung terhenti. Ia kaget menatap Winda. "Loh? Kenapa, Win?"
Winda bener-bener merutuki kebodohannya sendiri. Pikiran Winda tadi langsung melayang ketakutan; ia takut setengah mati jika anak laki-laki di dalam perutnya ini bukan anak Baskara, melainkan anak Aryo. Kalau mereka dijodohkan, itu sama saja menikahkan saudara seayah!
Buru-buru Winda memotong kecurigaan Serena dengan tawa paksa. "Ahhh... maksudku, lihat nanti aja, Ser. Belum juga lahiran kita, udah mikir sejauh itu. Udah yuk, kita pulang aja, udah sore." Serena akhirnya mengangguk, dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, Winda melangkah masuk dengan perasaan lelah. Namun, begitu kakinya menginjak ruang tamu, tubuhnya seketika kaku seperti tersengat listrik. Jantungnya serasa mau copot.
Di atas sofa rumahnya, duduk Baskara yang sedang asyik mengobrol bersama... Aryo.
Aryo menoleh ke arah pintu, lalu menatap Winda dengan pandangan mata yang begitu lapar dan penuh kerinduan. Pria itu tiba-tiba menyapa dengan nada suara yang dibuat se-kasual mungkin. "Halo, Win?"
Winda menelan ludahnya yang terasa kesat. Dengan sisa-sisa ketenangannya, ia terpaksa menyapa balik dengan seulas senyuman tipis yang sangat kaku.
Baskara yang melihat istrinya pulang langsung menegur dengan lembut. "Sayang, ini Aryo lagi main ke sini. Dia mau ngajakin kita makan bareng di luar malam ini. Kamu ikut, ya?"
Winda bener-bener tidak sanggup jika harus berada di dalam satu mobil bersama Aryo. Dari atas tangga, sambil berjalan menuju kamarnya, Winda menjawab cepat, "Aku enggak deh, Mas. Tadi udah makan kenyang banget sama Serena di luar. Kalian pergi berdua aja, aku mau istirahat."
Mendengar penolakan itu, Baskara akhirnya pergi keluar bersama Aryo. Winda langsung mengunci diri di kamar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang bener-bener terasa mau meledak.
Malam pun tiba. Setelah pulang makan bersama Aryo, Baskara langsung tertidur dengan pulas di samping Winda karena kelelahan kerja. Namun, malam itu Winda bener-bener susah tidur. Pikirannya dipenuhi kegelisahan.
Tiba-tiba, di tengah kesunyian malam, telinga Winda menangkap suara aneh dari arah luar kamar. Suara itu terdengar samar, seperti ada sebuah barang yang jatuh ke lantai.
Prang...
Winda tersentak. Ia melirik Baskara yang masih mendengkur halus. Dengan perasaan was-was, Winda turun dari ranjang. Ia membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati, lalu mulai mengendap-endap keluar untuk memeriksa keadaan rumahnya yang gelap gulita.
Namun, tepat di saat kakinya baru saja menapak di anak tangga terakhir lantai bawah, sebuah tangan kekar tiba-tiba muncul dari kegelapan. Dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat, tubuh Winda ditarik paksa masuk ke dalam dekapan hangat seseorang.
Winda tersentak hebat, ia hampir saja menjerit histeris. "Mmpffhh?!" Namun, sebelum suara jeritannya lolos, sebuah telapak tangan besar langsung membekap mulutnya dengan sangat rapat. Di tengah kepanikan dan remang cahaya malam, Winda membelalakkan matanya saat mengenali wajah pria yang berada di depannya.
Rupanya itu Aryo. Pria itu nekat menyusup masuk ke dalam rumahnya!
Winda bener-bener murka. Dengan sekuat tenaga, ia mencengkeram lengan Aryo dan menarik pria itu secara paksa masuk ke dalam kamar tamu di lantai bawah, lalu membanting pintunya rapat-rapat agar suaranya tidak terdengar sampai ke kamar atas.
Pertahanan Winda bener-bener meledak di dalam kamar bawah itu. "Aryo!!! Jauhi aku! Aku udah nggak mau lagi berhubungan sama kamu! Aku mau kita putus dan tolong... tolong jangan pernah ganggu hubungan rumah tangga ku lagi!" bisik Winda dengan nada suara yang bergetar menahan amarah yang luar biasa.
Aryo melangkah maju, menatap Winda dengan sorot mata obsesif yang bener-bener gila. "Tapi itu anak aku, kan, Winda?! Aku dengar sendiri dari Serena kalau anak yang kamu kandung itu laki-laki! Aku mau sama dia! Ayo kita lari, Win... Ayo kita pergi dari kota ini, kita hidup bahagia berdua dan memulai semuanya kembali dari awal!"
"Nggak!" bentak Winda dengan air mata yang mulai mengenang, ia mendorong dada Aryo agar menjauh. "Pulang kamu, Ar! Pulang! Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Please... jauhin aku! Aku sayang sama Mas Baskara!"
"Tapi Baskara punya cewek lain, Win! Alena! Perempuan yang selama ini kamu tangisi dan kamu bilang berselingkuh sama dia!" balas Aryo tidak mau kalah, suaranya meninggi penuh keputusasaan. "Tolong, Win... aku gak bisa hidup tenang lagi. Aku selalu terbayang-bayang kamu... badan kamu, dan anak kita!"
Winda menggelengkan kepalanya dengan tegas, ia memegang perutnya yang bener-bener sudah membuncit enam bulan. "Selagi anak ini ada di dalam rahimku, selagi aku masih menjadi istri sahnya... ini adalah anak Baskara, Ar! Bukan anak kamu!"
"Tapi Baskara punya cewek lain!" seru Aryo lagi, mencoba meruntuhkan hati Winda.
"Persetan sama cewek itu!" teriak Winda tertahan, air matanya menetes. "Perempuan itu sudah pergi jauh ke New York dan gak akan pernah kembali lagi! Sekarang Mas Baskara sudah berubah, dia milikku seutuhnya! Jadi aku mohon sama kamu, Aryo... pergi dari rumahku sekarang! Pergi!"
Aryo terdiam menatap ketegasan di wajah Winda yang dipenuhi air mata. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyadari bahwa malam ini ia tidak bisa membawa Winda pergi. Aryo akhirnya melangkah mundur menuju pintu kamar. Namun, sebelum ia benar-benar keluar dan menghilang ke dalam kegelapan malam, Aryo menoleh dan menatap Winda dengan tatapan mata yang sangat dingin dan mengerikan.
"Aku akan pergi malam ini, Win..." bisik Aryo dengan nada mengancam yang teramat dalam. "Tapi aku berjanji... bagaimanapun caranya, suatu hari nanti... aku akan mengambil kalian berdua dari tangan Baskara."
Bamm. Pintu kamar bawah tertutup, meninggalkan Winda yang langsung jatuh terduduk di lantai dengan tubuh yang gemetar hebat, meratapi ancaman mengerikan yang baru saja diucapkan oleh suami sahabatnya sendiri.