NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

punggung yang tak tersentuh

ya besar. Guntur sambar-menyambar, hujan nekat nabrak jendela kamar kayak mau masuk.

Tapi Vivian tak takut.

Sehabis dari kamar Chindy, negosiasi alot sama adik iparnya itu, Vivian kembali ke kamarnya. Badannya lengket. Gerah. Segegerah hati Chindy yang sekarang sedang merenung di dalam kamarnya, antara mau percaya Vivian atau mau terus benci.

Vivian memutuskan untuk melakukan ritual malam ganjil. Ritual wajib ibu hamil anak Wijaya.

Lulur, kemudian berendam air hangat. Bisa membuat tubuh hamilnya rileks, biarpun hujan badai di luar masih menggelegar dan listrik sempat _jepret_ sekali.

Vivian melepas pakaian-nya satu per satu. _Cardigan_, gaun rumah, semuanya. Membiarkan-nya menggunung di atas ranjang. Paling atas, tentu saja, _topping_-nya: daleman _Victoria’s Secret_, _lace_ hitam. Beli sendiri. Pakai sendiri. Belum ada yang buka.

Kemudian melilitkan handuk putih bersih, tebal, menutupi dada sampai paha. Mengikatnya kencang di atas dada.

Gadis itu berjalan pelan ke arah kamar mandi. Lantainya dingin. AC kamar mandi udah nyala duluan. Dia nyalakan _shower_, air hangat langsung mengguyur bahu dan rambutnya. Membuat tubuhnya setengah basah, handuknya makin nempel ke kulit.

Setelahnya Vivian mengambil lulur herbal di rak marmer. Yang direkomendasikan Dokter Hendra. Wangi sereh sama melati. Cocok untuk kulit ibu hamil, gak panas, gak bikin kontraksi.

"Yang paling aku sukai dari dunia ini adalah aku orang kaya," gumamnya sambil tersenyum miring ke cermin yang mulai berembun. "Bisa beli lulur 3 juta tanpa mikir. Bisa hamil tapi tetap _glowing_."

Tangannya dengan lembut melumuri seluruh tubuhnya dengan krim lulur. Dari leher, bahu, lengan. Gerakannya pelan, memutar, memijat. _Me time_. Satu-satunya waktu dia gak jadi Vivian si menantu, Vivian si kakak ipar, Vivian si musuh Chindy. Cuma jadi Vivian.

...

Sementara di ruang tengah, Eric tak mendapati suara apapun dari lantai atas. Gak ada teriakan. Gak ada suara banting pintu kedua. Chindy dan Vivian tidak bertengkar? Pikirnya.

Karena suasana terlalu hening. Aneh. Biasanya kalau Vivian habis "sidang" sama Chindy, minimal ada suara _prang_ atau jerit Cika.

Eric kemudian bangkit dari kursinya. Gelas _whisky_-nya ditaruh. Berjalan ke arah tangga. Nampak dari kejauhan, pintu kamar Chindy tertutup rapat. Lampu dari celah bawah pintu masih nyala. Sepertinya tak terjadi apa-apa. Atau udah selesai perang.

Pria itu beralih. Berjalan mendekat ke arah kamarnya. Kamarku, koreksinya. Kamar Vivian.

Saat pintu dibuka, tak ada sosok yang ia cari. Vivian.

Hanya setumpuk pakaian di atas kasur. Gaun rumah, _cardigan_, dan... _bertopping_ daleman _Victoria’s Secret_ warna hitam di atasnya. _Lace_.

Eric langsung buang muka. Rahangnya mengeras. _Kenapa ditaruh situ._

_BUG..._

Perhatian Eric teralihkan. Suara benda jatuh. Dari kamar mandi. Keras. Kayak botol kaca ketemu lantai.

Pria itu dengan cepat berlari ke arah kamar mandi. Instingnya bilang: Vivian jatuh. Lantai licin. Hamil.

Tanpa permisi, tanpa ketok, tangannya langsung dorong pintu. _Brak_.

Matanya seketika terbelalak melihat pemandangan yang ada di depannya.

Vivian. Menunduk. Satu lutut napak di lantai _marble_. Tangannya lagi mungut botol lulur yang jatuh. Handuknya... melorot. Turun sampai pinggang karena posisinya. Punggungnya polos, putih, masih belepotan krim lulur yang belum rata. Rambut basah nempel di tengkuk. Tetes air ngalir dari ujung rambut, lewat tulang punggung, hilang di lipatan handuk.

Mata gadis itu juga langsung terarah pada sosok di depan-nya. Eric. Dengan kaos basah kena tempias, muka kaget, mata gak berkedip.

"Aaa...!!!" Teriaknya spontan. Refleks. Tangannya narik handuk ke atas, nutup dada. Botol lulur jatoh lagi.

Wajah Eric merah. Merah padam sampai ke telinga. Kayak kepiting rebus. Malu. Salah tingkah. Terutama salah dia. "So-sorry," gagapnya. Pertama kali Eric gagap sejak umur 5 tahun.

Langsung ingin keluar dan menutup pintu. _Tutup. Lupa. Anggap gak liat._

Namun sebelum pria itu pergi, sebelum kakinya nyampe pintu, tangan Vivian dengan cepat menggenggam pergelangan tangannya. Basah. Dingin. Ada sisa lulur.

"Terlanjur sudah di sini," ucap Vivian. Napasnya masih kaget, tapi suaranya... lembut. Nahan malu juga. "Bantu aku oleskan ini di punggung. Tanganku gak sampe."

Dia ngasongkan botol berisi krim lulur. Botol kaca dingin. Isinya tinggal setengah.

Eric tak bisa menolak. Dia sudah terjebak. Mau mundur, gengsi. Mau maju, jantungnya mau copot. Di depan mata: punggung istri. Yang 2 tahun ini cuma dia sentuh pas berantem.

Kini Vivian duduk di dalam _bathtub_ yang belum diisi air. _Bathtub_ marmer, gede. Dia duduk nyamping, kaki ditekuk. Handuk masih melilit dada, tapi punggung terbuka. Matanya fokus ke depan, ke dinding. Tegak. Canggung. Kayak patung.

Sementara Eric jongkok di luar _bathtub_. Lututnya nyentuh lantai dingin. Tangannya... gemetar. Baru kali ini.

Dia tuang lulur ke telapak tangan. Dingin. Terus dengan lembut, mengoleskan krim ke punggung Vivian.

Gerakannya pelan. Hati-hati. Persis seperti sedang memandikan bayi. Atau megang barang antik Dinasti Ming. Dari bahu, turun ke tulang belikat, ke pinggang. Gak berani lebih turun.

Suasananya canggung. Hanya ada suara hujan di luar, suara _shower_ yang masih netes, dan suara napas mereka berdua yang sama-sama ditahan.

Kulit Vivian halus. Anget. Ada bekas _bra_ dikit. Eric ngeliat itu, terus buang muka lagi. _Fokus, Eric. Ini punggung. Bukan apa-apa._

"Apa kamu butuh dipijat?" Tanya Eric. Suaranya pecah. Serak. Saat merasakan punggung Vivian tegang. Ototnya kaku semua.

Bukan khawatir pada Vivian. Sama sekali bukan. Dia khawatir pada bayinya. Ibu stres, bayi stres. Dokter Hendra bilang gitu. _Alasan_.

"Mungkin," jawab Vivian. Pelan. Sambil mencairkan suasana, biarpun dadanya udah _dig dug_ tak bisa bohong. Jantungnya 200 km/jam. "Tegang banget. Dari tadi _meeting_ sama Chindy."

Eric diem. Jempolnya nekan pelan di antara tulang belikat Vivian. Satu. Dua. Vivian gigit bibir. _Geli. Panas. Salah tingkah._

"Selesaikan mandinya cepat," ucap lelaki itu akhirnya. Suaranya balik datar. Topeng CEO-nya dipake lagi. Cepet. "Aku akan pijat kamu. Di kamar. Lima menit."

Dia berdiri. Gerakannya kaku kayak robot habis _update_. Cuci tangannya di _wastafel_, sabunan 10 detik, kayak dokter mau operasi. Terus keluar dari kamar mandi. Pintu ditutup pelan. _Klik_.

Gak nengok. Gak bilang "jangan lama-lama". Cuma pergi.

Vivian masih diem di _bathtub_. 5 detik. 10 detik.

Terus dia napas. Panjang. _Fuuuh_.

"Tenangkan dirimu, Vivian," bisik Vivian ke cermin berembun. Dia mukul pipinya sendiri. Lembut. _Pluk. Pluk_. "Dia peduli bayinya. Bukan kamu. Jangan baper. Jangan baper. Dia Eric. Es batu. Kulkas dua pintu."

Tapi kenapa tangannya tadi... anget banget?

Di luar, Eric sandaran ke pintu kamar mandi. Tangannya masih bau melati. Jantungnya belum normal.

_Sial_. _Kenapa harus aku yang liat._

Lima menit. Dia janji pijat. Karena bayi. Bukan karena punggung itu putih banget. Bukan.

Hujan makin deras. Di dalam, dua orang sama-sama perang sama diri sendiri.

Romantis? Iya.

Dingin? Banget.

Lanjut? Tergantung siapa yang nyerah duluan.

lanjutin yang di hotel gak nih? komen sebanyak-banyaknya...

Kasih gift biar gak di ganggu Cika🥵.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!