Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengejutkan
Rania memandang Bapak, matanya tajam. Tajamnya kayak pisau bedah yang siap membedah setiap kebohongan.
"Pa, Rania tanya sekali lagi itu dari Rangga, kan?"
Ujarnya tegas.
Bapak tidak menjawab matanya menunduk jari-jarinya gemetar kecil.
Ibu tidak tahan. "Pak Yudi, jawab! Jangan diem aja! Bapak itu kalau lagi ada masalah selalu diem. Padahal anak istri Bapak pada bingung!"
Ujarnya kesal.
Bapak angkat muka bibirnya bergerak-bergerak. Lalu dengan suara parau, serak kayak orang baru bangun tidur dari tidur panjang, dia berkata.
"Iya. Itu dari Rangga."
Bapak mengaku.
Rania rasakan dadanya ditinju sesuatu yang kuat. Kayak ditinju Mike Tyson waktu masih muda.
"Pa... Papa tahu nomornya? Papa pernah kontak dia? Papa tahu dia akan datang?" tanyanya bertubi-tubi.
Bapak terdiam.
"JAWAB!" Ibu teriak, ada suaranya sudah tidak bisa dibendung. Air matanya mulai netes.
"Bapak jangan sembunyi-sembunyi lagi. Apa yang terjadi? Kenapa Rangga bisa ada di hidup kita lagi?" ujarnya dengan air mata mulai jatuh.
Bapak menarik napas panjang. Panjangnya seperti orang mau menyelam ke dasar laut. Lalu dia duduk di kursi belajar Rania, meletakkan ponsel di meja, dan memandang anak dan istrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Baik. Bapak cerita, bapak tidak bisa sembunyi lagi," ujarnya pasrah.
Rania meraih tangan Ibu. Ibu meraih balik. Mereka berdua duduk di tepi kasur, menggenggam erat, bersiap mendengar sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Bapak mulai bicara suaranya pelan, kadang putus-putus, kayak radio yang sinyalnya terganggu.
"Nak... Bu... tiga tahun lalu, sebelum Rangga pergi... dia datang ke rumah. Waktu itu kalian belum pulang Rania masih di kampus Ibu masih arisan dia datang sendirian wajahnya tegang matanya cemas," ujarnya.
Rania mengerjap. "Dia pernah ke rumah? Tanpa sepengetahuanku?" ujarnya pelan.
Bapak mengangguk.
"Aku bilang, ada apa, Nak? Lalu dia bicara. Dia bilang, dia ingin melamar Rania tapi dia malu da malu karena pekerjaannya serabutan. Penghasilannya tidak tetap. Dia bilang, Pak saya tahu saya belum layak. Saya hanya lulusan SMA, kerja jaga toko, kadang bantu-bantu bengkel. Saya tidak punya tabungan, tidak punya rumah, tidak punya masa depan yang jelas.'"
Ibu melongo. "Lalu Bapak bilang apa?"
Bapak menunduk. Kepalanya kayak tidak kuat menahan beban.
"Bapak bilang... Nak, saya tidak bisa memberikan anak saya ke orang yang belum siap. Saya tidak bisa lihat dia hidup susah. Kalau kamu serius, buktikan dulu. Cari kerja yang mapan. Bangun usaha kumpulkan uang jangan cuma modal cinta," ujarnya.
Sunyi lagi lebih sunyi dari kuburan di tengah hutan. Rania rasakan dadanya kayak diiris-iris perlahan. Bukan oleh pisau, tapi oleh kenyataan.
"Maka Rangga pergi," kata Bapak.
"Dia bilang, dia akan membuktikan dia akan kembali dia minta Bapak tidak bilang ke Rania. Karena dia ingin memberikan kejutan dia ingin datang dengan kepala tegak."
Rania tidak percaya. "Jadi... jadi Papa tahu. Papa tahu dia pergi karena disuruh Papa. Papa tahu dia akan pergi tanpa kabar. Papa tahu aku nangis berbulan-bulan. Papa tahu aku masuk angin, kurus, gak mau makan. Papa tahu semuanya... Tapi Papa diam?!" Suara Rania mulai pecah.
Ibu ikut nangis. "Pak, Bapak gila? Bapak tega liat anak sendiri menderita selama itu?"
Bapak mengusap matanya air mata lelaki itu mulai jatuh. Jatuh ke lantai, satu-satu, seperti tetesan air hujan dari atap bocor.
"Bapak pikir... Bapak pikir itu yang terbaik. Bapak pikir Rangga akan cepat sukses. Bapak pikir dia akan kembali dalam beberapa bulan. Tapi ternyata... dia menghilang. Bapak juga bingung. Bapak juga panik. Bapak coba hubungi dia, tapi nomornya tidak aktif. Bapak cari ke tempat kerjanya, dia sudah berhenti. Bapak juga cemas, nak bapak juga tidak tidur."
"Tapi Papa diam!" Rania tak kuasa menahan tangis.
"Papa bilang ke aku, lupakan dia, cari yang baru. Papa kenalin aku dengan Budi, Andre, Maryono. Papa pura-pura tidak tahu apa-apa. Padahal Papa penyebab semuanya!" ujarnya keras.
Bapak berlutut, bapak berlutut di depan Rania.
Air mata lelaki setengah baya itu tak lagi bisa disembunyikan. Wajahnya basah kacamata yang dipakainya berkabut.
"Rania, maafkan Bapak, Bapak salah. Bapak pikir Bapak melindungi kamu. Bapak tidak tahu akan separah ini. Bapak tidak tahu Rangga akan pergi lama. Bapak... Bapak hanya ingin kamu bahagia."
Ibu ikut berlutut memeluk Bapak. Mereka menangis bersama. Sebuah keluarga yang retak karena rahasia yang disimpan terlalu lama.
Rania masih duduk di kasur tubuhnya lemas. Hatinya hancur berkeping-keping. Bukan karena Rangga. Tapi karena pengkhianatan dari orang yang paling dia percaya. Ayahnya sendiri.
"Nak, maafkan Bapak," ucap Bapak lagi, suaranya nyaris tak terdengar. "Bapak tidak pantas jadi ayah."
Rania diam.
Dia memandang Bapak yang berlutut melihat Ibunya yang menangis. Melihat semua yang runtuh di malam yang dingin ini.
Dia ingin marah. Tapi marahnya sudah terlalu lelah. Dia ingin menangis. Tapi air matanya habis.
Dia hanya bisa duduk, diam, sepi dan dari balik pintu, Naufal yang sejak tadi mendengar semuanya, tidak bisa menahan diri dia masuk. Wajahnya merah padam tangannya mengepal.
"Pa... aku juga ikut dengar.Aku juga sakit hati. Tapi aku gak mau nyalahin Papa. Yang salah adalah Rangga yang gak bilang apa-apa ke Mbak Rania. Yang salah adalah Papa yang terlalu protektif. Tapi yang sekarang harus Mbak Rania hadapi adalah Papa minta maaf dan Mbak harus memaafkan. Walaupun gak sekarang tapi jangan simpan amarah ini terlalu lama."
Rania menatap Naufal. Adiknya yang biasa rese, biasa usil, biasa cuma mikirin game dan motor, tiba-tiba bicara bijak kayak orang tua.
"Nauf... lo... kenapa jadi bijak?"
Naufal nyengir. Tapi senyumnya getir. "Karena gua gak tega liat keluarga gua hancur, Mbak."
Rania bangkit dari kasur, dia mendekati Bapak. Dia menyentuh pundak Bapak tangannya dingin Bapak menggigil.
"Pa," suara Rania pelan.
"Rania marah Rania kecewa Rania sakit hati. Tapi Rania tidak benci Papa. Hanya saja... Rania butuh waktu."
Bapak mengangguk wajahnya masih basah.
"Ibu, temani Papa. Bapak masuk angin," ujarnya.
Ibu berdiri, membantu Bapak berdiri. Mereka berjalan keluar kamar. Langkah Bapak gontai kayak kakek-kakek.
Naufal masih di kamar dia menatap Rania.
"Mbak, lo gak marah ke gua?" ujarnya.
"Marah apanya?" jawab Rania singkat.
"Gua juga tahu? Gak sih. Gua baru tahu sekarang. Gua cuma ikut denger dari balik pintu."
"Nauf, lo pergi aku mau sendiri."
"Oke. Tapi jangan ngunci pintu. Jangan ulah aneh-aneh. Kalau mau nangis, nangis aja. Gak usah ditahan."
Naufal pun keluar kamar.
Rania jatuh terduduk di lantai punggungnya bersandar ke kasur dia tidak nangis. Hanya diam memandang langit-langit dan pikirannya kosong.
"Jadi semua ini... drama panjang... keringat air mata... karena ayahku ingin melindungi?"
"Tapi kenapa cara melindungi yang dipilih adalah menyakiti?"
"Dan kenapa Rangga... kenapa dia tidak bilang?"
"Kenapa semua orang di sekitarku memutuskan untukku tanpa libatkan aku?"
Dia membuka ponsel layar menyala. Ada notifikasi dari Alfino beberapa jam lalu tapi dia belum buka.
Alfino "Rania, selamat malam semoga kamu tidur nyenyak jangan lupa istirahat."
Rania membaca sekali lalu matikan ponsel.
Belum saatnya dia belum siap berbicara dengan siapa pun.
Dia buka laci liontin itu masih di sana kotak hitam kilau perak.
Dia ambil dia genggam dia rasakan dinginnya logam di telapak tangan.
"Rangga, lo datang karena janji? Karena syarat? Karena apa?"