NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.

Tapi plot twist-nya...

Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!

Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?

✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu

Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor⁠�

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

Sebagian besar adegan Meilan adalah adegan malam, ketika Adira mengobati luka Marlon sambil memberikan kata-kata penghiburan dengan lembut. Hal itu sesuai dengan karakternya sebagai seorang dokter yang hangat dan penuh perhatian.

Untuk menonjolkan perbedaan antara Adira dan Adea, sekaligus memberi Zoya lebih banyak porsi tampil di layar, Rahengga secara khusus menambahkan beberapa adegan interaksi antara kakak beradik tersebut.

Hari ini, adegan yang akan diambil adalah salah satunya.

Karena mereka berperan sebagai saudara, gaya pakaian keduanya dibuat berbeda namun tetap selaras.

Karakter Adea yang cenderung dingin dan tenang lebih sering mengenakan pakaian dengan potongan rapi dan elegan. Ia menyukai blazer fit body, blouse satin berkerah tinggi, atau dress panjang sederhana Dengan garis tegas yang memberi kesan dewasa dan sulit didekati. Warna-warna seperti misty blue, deep green, maroon, hingga abu gelap semakin menonjolkan aura tenang dan berwibawanya. Bahkan aksesori yang ia gunakan pun minim... hanya anting kecil atau jam tangan sederhana... namun justru membuatnya terlihat semakin berkelas.

Sementara Adira tampil jauh lebih lembut dan hangat. Ia lebih sering mengenakan cardigan rajut tipis, rok flowy, dress pastel dengan detail pita kecil, atau blouse berbahan ringan yang memberi kesan manis dan mudah didekati. Warna-warna seperti peach, cream, soft pink, lavender, dan baby blue mendominasi penampilannya. Rambutnya juga kerap ditata longgar dengan gelombang lembut, dipadukan aksesori mungil yang membuatnya tampak ceria dan feminin.

Keduanya sama-sama memiliki paras yang luar biasa, sehingga saat berdiri berdampingan, pemandangan itu benar-benar memanjakan mata. Bahkan Rahengga, yang sejak awal tidak menyukai Meilan, tetap tidak bisa menyangkal bahwa wanita itu memang sangat cantik.

Adegan yang akan diambil hari ini adalah sebagai berikut:

Di siang hari, saat mencari petunjuk kasus, Marlon terluka akibat taktik licik sang psikopat. Demi melindungi Adea, ia terkena tembakan di bagian dada. Meski lukanya tidak kritis, kejadian itu tetap membuat situasi menjadi tegang.

Adira, yang merasa Adea terlalu ceroboh, sangat tidak puas dengan kejadian tersebut. Setelah selesai mengobati luka Marlon, ia pergi menemui Adea untuk meluapkan kekesalannya. Menurutnya, sebagai polisi Adea seharusnya lebih waspada dan tidak gegabah saat menjalankan tugas.

“Kalau hari ini hanya luka ringan, bagaimana kalau lain kali nyawanya benar-benar melayang karena kelalaianmu?” itulah inti kemarahan Adira.

Namun, Adea menanggapinya dengan dingin.

Bagi seorang polisi, terluka saat bertugas adalah hal yang biasa. Lagi pula, keberanian mereka hari ini berhasil membawa petunjuk penting dalam penyelidikan. Tidak ada misi yang benar-benar aman. Memang, Adea mengakui dirinya terlalu nekat, tetapi jika bukan karena keberaniannya mengambil risiko, penyelidikan tidak akan berkembang secepat itu.

Menurut Adea, itulah gunanya sebuah tim… melindungi satu sama lain di tengah bahaya.

Dan orang yang belum pernah benar-benar menghadapi situasi hidup dan mati tidak akan mengerti perasaan mereka.

Mendengar jawaban Adea yang dingin dan nyaris tanpa emosi, mata Adira memerah karena marah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik pergi.

Itu adalah interaksi pertama sekaligus terakhir mereka sebelum hubungan keduanya berubah dingin seperti orang asing.

Seiring perkembangan kasus, penyelidikan mereka terus bergerak maju hingga akhirnya Adea gugur dalam misi terakhir.

Setelah semua berakhir dan dendamnya terbalaskan, Marlon memilih pergi meninggalkan kota kelahirannya... kota yang dipenuhi terlalu banyak Kenangan buruk.

Ia pergi sendirian ke sebuah kota kecil yang asing, hidup dalam kesunyian.

Namun semua orang tahu… Adira diam-diam pergi mengikuti Marlon, merasa iba terhadap hidup pria itu yang begitu menyedihkan.

Begitu Rahengga memberi aba-aba, “Action!”

Adira yang diperankan Meilan segera berjalan mendekati Adea. Dengan riasan bernuansa peach yang lembut, wajah kecilnya tampak semakin manis dan cantik. Ia menatap Adea dengan raut penuh amarah sebelum berkata dengan nada tidak senang,

“Kenapa kau bisa seceroboh itu?”

Sebelum Adira berbicara, Adea yang diperankan Zoya sedang membelakangi dirinya sambil menatap rembulan. Mendengar suara itu, tubuhnya menegang sesaat.

Ia menoleh sedikit, memperlihatkan garis samping wajahnya yang sehalus giok. Di bawah cahaya bulan yang redup, matanya tampak berkabut dan dingin. Sesaat kemudian, suara Adea terdengar pelan… dingin, tanpa emosi, namun begitu merdu hingga enak didengar.

“Kenapa kamu begitu bersimpati pada Marlon? Kalau dia tidak melindungiku, berarti akulah yang akan tertembak.”

“Kau…” Adira tampak sesak napas mendengar jawaban datar itu. Wajah cantiknya memerah karena emosi. “Kau terlalu ceroboh saat menjalankan misi! Kau hampir membunuh rekan satu timmu sendiri karena kelalaianmu! Bagaimana bisa kau tidak merasa bersalah sedikitpun?!”

Adea akhirnya berbalik sepenuhnya menghadap Adira.

Wajahnya sangat indah, tetapi sorot matanya begitu dingin dan tak berperasaan hingga membuat orang merasa tertekan. Dengan suara rendah, ia berkata,

“Menjalankan misi memang penuh risiko. Misi mana yang tidak berbahaya? Hari ini Marlon terluka, besok mungkin giliranku yang terluka. Apa menurutmu saat aku mengambil resiko itu, aku sendiri tidak mempertaruhkan nyawaku?”

Tatapan Adea semakin tajam.

“Kalau bukan karena Marlon terbawa emosi pribadinya sendiri, rencana kami tidak akan tertunda dan musuh tidak akan menjadi waspada. Jadi kesalahan yang kau tuduhkan padaku itu sejak awal muncul karena ketidak profesionalan nya sendiri.”

Ia melangkah mendekat perlahan.

“Dan kalau bukan karena aku cukup nekat mengambil risiko itu, kami tidak akan mendapatkan petunjuk sebesar ini. Jadi… apa sebenarnya yang kamu tahu? Kamu bahkan tidak berada di tempat kejadian.”

Adira terdiam, tercekik oleh kata-kata Adea. Namun wajahnya masih dipenuhi ketidakpuasan. Ia menghentakkan kaki sebelum menatap Adea dengan mata memerah.

“Tapi dia orang yang dulu kau cintai! Dia sedang terluka sekarang! Apa kau tidak merasa kasihan sedikitpun padanya? Bagaimana bisa… bagaimana bisa kau sedingin ini?”

Mendengar itu, Adea tertawa pelan… tawa yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

“Dingin?” suaranya rendah dan tajam. “Siapa sebenarnya yang dingin di sini?”

Perlahan, tatapannya berubah semakin menyeramkan.

“Seseorang yang menemaninya selama bertahun-tahun ditinggalkan begitu saja karena tidak lagi berguna bagi obsesinya. Demi balas dendam, dia menghalalkan segala cara.”

Adea menatap lurus ke arah Adira.

“Lalu sekarang aku yang bersikap profesional justru disalahkan hanya karena satu kesalahan, padahal semua ini berawal dari ketidakprofesionalannya sendiri.”

Suara Adea semakin dingin.

“Kasihan? Kenapa aku harus kasihan?”

Saat mengucapkan kalimat terakhir, aura membunuh yang pekat seolah menyelimuti tubuhnya.

“Dia terluka? Itu memang pantas dia dapatkan.”

Tatapannya setajam bilah pedang. Untuk sesaat, Adira sampai mundur selangkah karena ketakutan. Baru ketika tersadar, Adea sudah membalikkan tubuhnya lagi dan tidak lagi menatapnya.

Meilan sendiri sempat terpaku oleh tatapan penuh niat membunuh dari Zoya tadi. Hampir secara refleks, ia mengucapkan dialog terakhirnya,

“Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”

Setelah itu, Adira langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.

1
Tamirah
Semangat Thor untuk selalu berkarya.Novel mu menarik untuk dibaca bila belummm ada komentar bukan karena gak suka tapi masih mengikuti alur cerita nya komplik belum terlalu panas. masih aman-aman saja Thor.
Tamirah
Menarik cerita ini,Arlo gak tahu Kalau Jaiden dan Zoya kakak beradik. Apa lagi Arlo tahu Jaiden seorang casanova.bayangan dia jangan sampai Jaiden jatuh cinta sama Zoya menakutkan.Apa reaksi Arlo Kalau tahu Zoya adik nya Jaiden.
Tamirah
Zoya sang artis yg terpikat pada dosen nya tapi ia tidak memperlihatkan ketertarikan biar tidak dianggap murahan.Karena banyak wanita yang mendekati dosen tampan itu dgn menggunakan cara yg sdh bisa ditebak oleh dosen tsb.Beda nya sang artis punya pertanyaan jitu yg bernuansa ilmiah dan juga tdk banyak omong gestur tubuh annggun,gerakan tubuh normal tidak ada unsur menggoda .Justru itu yg membuat dosen tampan penasaran.
fhallenopsis amabilis: Jadi, Gimana.. apakah metode mengejar Zoya ini ampuh? 😄
total 1 replies
Hizbi Hizbi
tentang dunia hiburan?
Ratna Sriistiani
bagus banget 🤗
Nuznul aini
kerennn
Nuznul aini
kerennn👍
EvhaLynn
Semangat Thor😉
fitriana dian85
Thor, tuan muda saksomo kakaknya zoya sangat ketat sama adiknya! kasian arlo
Rahil Ziazun
ih.. seru juga ternyata 😍🤣 semangat Thor 💪
Alia Chans: seru nih, semangat ✍️ nya

dan jangan lupa ya kalo ada waktu mampir juga😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!