Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Warisan
Tanggung jawab pemilik mahkota tidak pernah sederhana. Lucerian amat memahami itu. Terlebih belakangan ini, dengan banyaknya kejadian yang berada di luar kendali.
Pada malam-malam di mana kantuk enggan menghampiri, Lucerian biasa mengisi waktunya mengitari Astryion. Melihat para penjaga bertugas tanpa lelah memastikan keamanan istana membuat pikirannya lebih ringan. Koridor yang sepi di mana hanya terdengar suara langkah sendiri memberinya waktu untuk berpikir. Cahaya kecil dari rumah-rumah dan jalanan Valtheris yang terlihat dari ketinggian benteng mengingatkannya pada sumpah yang ia buat.
Untuk melindungi rakyatnya. Untuk menjaga kemakmuran Kaelros.
Bilamana suara flute terdengar di tengah langkahnya, Lucerian akan tinggal sedikit lebih lama. Di bawah bayang malam, ia akan membiarkan pikirannya berkelana. Sejenak menanggalkan titel Kaisar—membiarkan memorinya kembali pada hari-hari serupa mimpi.
Bunga plum yang mekar di antara salju.
Tawa pelan dari balik kain transparan.
Rambut perak yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Dan mata sewarna sampanye yang bersinar hangat.
Presensi yang pernah membangkitkan kembali musim semi dalam dunianya yang beku.
Di antara langkahnya yang tanpa arah, Lucerian sesekali melewati arena latihan. Di mana ia mendengar denting logam memecah sunyi. Ayunan pedang membelah udara malam. Kayu latihan dihantam berkali-kali. Napas berat terdengar tanpa seorang pun menemani.
Tidak hanya sekali Lucerian berpikir kehadirannya di sana telah diketahui. Bahkan sejak entitas itu belum lama menginjakkan kakinya lagu di istana.
Namun, tak sekalipun mereka saling mengakui.
Pemilik rambut hitam itu tetap memunggungi. Genggaman pedangnya tidak pernah goyah. Dan tiap kali, Lucerian melihat bayangan masa lalu.
Presensi kuat yang lolos dari genggaman tangannya.
Lucerian tidak pernah tinggal terlalu lama di sekitar sana.
Dalam diam, langkahnya akan dibawa kembali menyusuri koridor yang lengang. Di saat sebagian besar penghuni istana telah bersitirahat, dan ksatria yang berjaga telah berganti giliran, satu sudut istana seringkali ia dapati masih menyala terang.
Dan Lucerian tahu siapa yang masih terjaga.
Dari balik jendela, siluetnya terpantul sempurna. Familiar.
Lucerian mengangkat tangan, memberi gestur kecil sebelum pengawal di kedua sisi pintu mengumumkan kedatangannya. Dia tidak menginginkan keributan yang tak perlu di malam selarut ini.
Tanpa pemberitahuan itu pun, Caelian telah berdiri begitu Lucerian memasuki ruangan. Berbagai dokumen menumpuk, nyaris memenuhi permukaan meja kerjanya.
“Yang Mulia.”
Selalu, tanpa cela, sapaan itu terujar.
“Sudah larut.” Lucerian berkata, berjalan perlahan menghampiri putranya. "Apa yang membuatmu masih di sini?"
Bila ada hal genting, putra mahkota akan segera memberitahunya mengikuti pertanyaan itu.
“Hanya memeriksa beberapa laporan, sebentar lagi selesai.”
Melirik tulisan tangan yang teramat rapi dengan tinta yang belum sepenuhnya mengering, Lucerian tahu jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa. Bila tidak ada yang perlu ditangani oleh kaisar malam itu juga, demikianlah Caelian akan menjawab.
Tatapan Lucerian jatuh pada sepasang mata lain dengan warna senada.
Di antara tiga, Caelian adalah yang paling mirip dengannya. Mata biru dengan warna serupa. Rambut pirang yang menunjukkan garis darah terdekat.
Garis takdir yang sama.
Lucerian tersenyum tipis.
Kedatangannya di ruang kerja putra mahkota bukanlah keanehan. Seperti lalu-lalu, pemuda itu selalu menunggu dengan penuh kesigapan. Gurat lelah di matanya selalu tersamarkan oleh postur tanpa cela. Lucerian hanya mengenali karena melihatnya sebagai refleksi diri.
“Untuk kegiatan besok…”
Dan seperti biasanya, pada akhirnya Lucerian selalu membicarakan tugas. Tanggung jawab. Peran yang ia percayakan.
—terlepas dari apapun yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Dan Caelian selalu menerima itu semua dengan ketenangan tanpa cela. Kesiapan dan kedewasaan yang seolah selalu di sana.
Masih segar dalam ingatannya malam ketika Caelian mengulurkan tangannya yang berlumuran darah—ritual sakral sebagai pewaris tahta. Bahkan di waktu itu, ia bersikap terlalu tenang untuk anak seusianya.
...*...
...*...
...*...
“Apapun yang terjadi, lindungi ini dengan nyawamu.”
Itu adalah pesan yang Lucerian terima dari ayahnya.
Di usia empat belas, ketika resmi disahkan sebagai putra mahkota—calon pewaris tahta—ada rahasia yang menjadi tanggung jawabnya.
Pesan dan tanggung jawab itu ia sampaikan pada putranya.
Di antara dinding batu yang berpendar kemerahan, ia mengulang ritual yang sama. Dalam ruang tertutup tanpa saksi mata, darah pewaris membasahi altar. Jalinan energi menyala terang, saling menjerat; meredam suara kuno yang menggetarkan kalbu.
“Tidak ada seorangpun yang boleh mengetahui ini.”
Ia berpesan.
Sebagaimana kelak Caelian akan harus meneruskan pada pewarisnya.
...*...
...*...
...*...
Tanggung jawab mahkota tidak pernah sederhana.
Lucerian hanya berharap dia telah mempersiapkan masa depan tahta dengan cukup baik.
Berita yang ia terima akhir-akhir ini membuat udara malam terlalu menghimpit. Untuk pertama kalinya, Lucerian tidak menyukai ketidaktenangan yang mengusik batinnya.
Ia berharap waktu masih berpihak pada mereka.