Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Pemakaman
“Kaisar telah wafat.”
Seseorang berkata di tengah keheningan.
Angin berhembus membawa kalimatnya bersama daun yang jatuh.
Untuk sesaat, tidak ada yang berani mengatakan apa-apa.
“Apa maksudmu Kaisar wafat??! Panggil tabib kerajaan! CEPAT!!”
Tidak lama, seorang pria datang tergopoh-gopoh, nyaris terjatuh dari kudanya ketika turun. Kaisar Lucerian telah dibaringkan di atas tandu. Wajahnya yang membelalak ditutupi secarik kain. Tanpa diperiksa oleh dokter istana pun, nyata terlihat tubuh itu telah tak lagi bernyawa.
Mereka enggan menerima kenyataan, aku tahu.
Dan menyaksikan ini, sangat menyakitkan.
Hal seperti ini… tidak ada di dalam game. Tidak ada penggalan kisah soal kematian Kaisar Kaelros.
Meski, bila dipikir lagi, jalur bersama Caelian memang menyebutkan bahwa putra mahkota itu mengambil tahta. Bahwa protagonis wanita mendampinginya memimpin Kaelros. Dan itu hanya bisa terjadi bila kaisar sebelumnya tidak lagi berkuasa.
Menjalani fakta itu dalam game dan mengalaminya langsung seperti ini, sungguh…. ironis.
Dokter istana itu tertunduk rendah. Wajahnya kelam. Tangannya masih tak melepas pergelangan sang Kaisar, nyata tak menemukan lagi detak nadi di sana. Tampaknya pria itu pun belum mampu menyampaikan kebenaran.
Di tengah ketegangan itu, Caelian muncul di atas kuda putihnya.
Nyaris semua pasang mata menatap ke arahnya. Seolah menunggu perintah dari calon Kaisar mereka.
Putra mahkota itu tidak turun dari atas pelana. Selama beberapa saat ia menatap tubuh yang berbaring—terbujur kaku. Matanya bergulir dan tinggal cukup lama pada wajah yang ditutupi kain. Lalu, tanpa menatap siapapun, ia membawa kudanya berbalik pergi.
“Kembali ke istana.”
Suaranya terdengar tenang.
“Umumkan pada seluruh rakyat Kaelros,”
—terlalu tenang.
“Kaisar Lucerian telah wafat.”
...*...
...*...
...*...
Berita kematian itu menyebar cepat seperti api yang melalap hutan. Telah mencapai istana bahkan sebelum kami tiba di gerbangnya.
Jalanan Valtheris dipenuhi warga yang penasaran, tak percaya, ingin memastikan. Beberapa dari mereka membawa setangkai krisan putih. Sebagian dari mereka menyusut air mata dengan sapu tangan.
Begitu melewati gerbang istana Astryion, dua sosok menghambur dengan air mata berlinang. Ibu suri ratu Isolde, ibu dari Kaisar Lucerian, kehilangan kesadaran begitu melihat tubuh putranya diturunkan dari kereta. Sementara itu, Permaisuri Elowenne menangis tersedu. Ia terhuyung dan juga nyaris ambruk andaikan Caelian tidak bergegas menopangnya. Putra mahkota itu memeluk ibunya, lantas memerintahkan pelayan untuk mengantar permaisuri kembali ke kamar.
Aku tidak tahu bagaimana cara Kaelros melaksanakan pemakaman, tapi, untuk pemakaman seorang kaisar, tentu mereka membutuhkan banyak persiapan. Mungkin prosesi resmi pemakaman baru akan bisa dilakukan esok hari. Untuk hari ini, mungkin kami bisa beristirahat sejenak.
Niatanku untuk mengajak Jovienne pergi dari sana, namun, tertahan oleh suara derap langkah kaki. Begitu tergesa melintasi koridor.
“Yang Mulia!”
Aku mengenali suaranya sebelum melihat sosoknya.
Havren.
Ia berlari melintasi pekarangan dengan langkah canggung. Terburu-buru. Terantuk kaki sendiri, hingga ia terjatuh. Mereka yang tengah mengangkut tubuh kaisar pun terpaksa berhenti—arah langkah mereka sukses tersabotase.
Havren mengulurkan tangan, gemetar ketika berusaha menyingkap kain penutup wajah.
Tangisannya pecah memenuhi pekarangan.
Begitu pilu.
Begitu menyesakkan.
Sarat akan sesal.
Dan pesan yang tak sampai.
Aku tertegun menatap punggungnya yang menelungkup di atas tanah.
Baru kusadari pangeran bungsu itu tidak ikut serta dalam kegiatan berburu hari ini….
Tak jauh darinya, Caelian berdiri dengan punggung tegak tanpa cela. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun.
Sejenak ia menatap sosok Havren yang berlutut, lantas tumitnya berputar dan ia melangkah pergi begitu saja. Seolah-olah kejadian ini tidak mempengaruhinya.
Bila aku tidak pernah melihatnya di taman labirin malam itu, mungkin aku akan berpikir putra mahkota itu tidak memiliki hati.
...*...
...*...
...*...
Pemakaman di Kaelros rupanya dijalankan dalam serangkaian upacara. Yang ditutup dengan pembakaran jenazah. Kayu dan jerami ditumpuk tinggi. Api berkobar di atas balkon tinggi kuil suci. Tempat yang sama di mana Caelian dan Althea melangsungkan penyatuan darah untuk memurnikan miasma.
Api itu berkobar cukup lama.
Di area balkon, di pekarangan kuil, hingga jalanan ibu kota, semua orang berdiri hingga seluruh kayu dan jerami itu terbakar. Hingga abu habis diterbangkan angin.
Selama prosesi itu, suara tangisan terdengar di segala penjuru.
Langit Kaelros hari itu dipenuhi duka.
...*...
...*...
...*...
“Kau dengar? Kabarnya tidak ada luka di tubuh Kaisar.”
“Sembarangan! Kejadiannya saat berburu. Dia pasti diserang hewan buas.”
“Ada yang bilang dia diterkam bayangan.”
“Bayangan bisa membunuh Kaisar?”
“Itu pasti racun.”
“Kabarnya wajah Kaisar terlihat ketakutan.”
“Jangan mengada-ada!”
“Banyak yang bersaksi mereka diserang binatang buas hari itu!”
“Binatang buas apa yang bisa melumpuhkan Kaisar?”
"Tapi, hanya satu ksatria lain yang gugur hari itu, bukankah itu aneh?"
“Kalau Pangeran Raien ada di sana, hal ini pasti tidak akan terjadi.”
“Benar. Harimau Api Hitam saja dia kalahkan dalam sekali tebas.”
“Hei—ksatria Lysarent yang mati di Karne itu… bukannya menunjukkan tanda-tanda yang mirip? Mati tiba-tiba. Tidak ada luka. Wajah kaku ketakutan.”
“....yang benar saja…”
“Itu… bukannya hanya tanda-tanda kematian wajar…?”
“Apa kalian pernah dengar tentang…. Doomhound? Bukankah tanda-tandanya mirip…?”
“Omong kosong. Doomhound hanya hewan mitos!”
...*...
...*...
...*...
Ia membalik halaman itu berulang kali.
Kosong.
Tidak ada lanjutan dari kalimat yang tertulis di sana.
Tiap kata itu kembali ia telusuri dengan telunjuk, dibaca perlahan, berulang-ulang, seolah-olah khawatir ia melewatkan informasi sekecil apapun.
…entitas yang mengikat diri pada satu jiwa…
…ketakutan ekstrim…
…tidak menyerang yang bukan targetnya…