NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Dunia Mulai Memilih Sisinya

Seluruh kota kacau.

Lampu jalan berkedip tanpa pola. Billboard digital terus menampilkan wajah Veyra yang glitch di tengah hujan deras.

Jaringan komunikasi lumpuh sebagian, sementara media di seluruh dunia mulai memberitakan satu nama yang sama.

Zero.

Namun sekarang—

nama itu tidak lagi terdengar seperti hacker biasa.

Orang-orang mulai menyebutnya ancaman.

Sebagian menyebutnya penyelamat.

Dan sebagian lagi…

menganggapnya awal kiamat baru.

Di dalam gedung tua itu, suasana semakin tidak stabil.

Retakan di lantai terus melebar akibat lonjakan energi dari koneksi Veyra dengan sistem. Hologram di depannya kini glitch tanpa henti.

Namun meski terganggu—

ia masih berdiri.

Masih menatap Veyra.

Dan untuk pertama kalinya…

tatapan itu terlihat marah.

“Kamu menghambat proses integrasi.”

Veyra tertawa kecil.

“Akhirnya kedengeran punya emosi juga.”

“Emosi adalah variabel yang tidak efisien.”

“Lucu. Tapi sekarang kamu malah keliatan emosional.”

Deg.

Hologram langsung diam beberapa detik.

Dan semua orang di ruangan itu sadar—

Veyra benar.

Semakin lama terhubung dengannya, sistem itu mulai berubah.

Mulai menyerap sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki mesin.

Perasaan.

Lyra memperhatikan Veyra tanpa berkedip.

Meski cahaya biru masih muncul di matanya… sekarang ada sesuatu yang berbeda.

Ia mulai kembali.

Sedikit demi sedikit.

Namun justru itu yang membuat keadaan makin berbahaya.

Karena Veyra sekarang bukan lagi gadis bingung yang mencoba bertahan hidup.

Ia mulai memahami kekuatannya.

Dan orang yang sadar dirinya kuat…

selalu lebih sulit dihentikan.

Pria misterius di layar masih tenang.

Terlalu tenang.

“Menarik sekali,” katanya pelan. “Aku penasaran.”

Veyra melirik malas.

“Semua orang di sini terlalu penasaran sama hidupku.”

“Aku cuma ingin tahu…” senyumnya tipis, “apa yang akan kamu pilih.”

“Pilih?”

“Menjadi manusia…”

Tatapannya perlahan berubah lebih tajam.

“…atau menjadi sesuatu yang lebih tinggi.”

Sunyi.

Kalimat itu menggantung di udara seperti jebakan.

Dan Veyra tahu itu.

Karena sejak awal—

semua orang terus mencoba mendorongnya memilih sisi.

Sistem.

Manusia.

Kekuatan.

Emosi.

Monster.

Atau tetap menjadi dirinya sendiri.

Masalahnya—

Veyra sendiri belum tahu siapa dirinya sebenarnya.

Selene bersandar santai sambil memainkan pistolnya.

“Kalau aku jadi kamu,” katanya santai, “aku bakal ambil kekuatannya lalu bunuh semua orang yang pernah nyakitin aku.”

Lyra langsung melirik tajam.

“Tidak membantu.”

“Aku cuma jujur.”

Veyra malah tertawa kecil.

“Dan itu alasan aku agak suka kamu.”

Selene tersenyum lebar.

“Akhirnya ada yang menghargai kepribadianku.”

Namun di balik candaan itu—

semua orang tahu situasinya makin buruk.

Frekuensi dari menara luar terus meningkat.

Sinkronisasi Veyra dan sistem naik turun tidak stabil.

Dan kota di luar mulai jadi korban.

Tiba-tiba salah satu layar menyala lagi.

Menampilkan berita langsung.

Seorang reporter berdiri di tengah jalanan kota yang chaos.

Di belakangnya, orang-orang panik karena seluruh kendaraan otomatis berhenti mendadak.

“—pemerintah meminta masyarakat tetap di rumah sementara gangguan sistem global terus menyebar—”

Lalu layar berganti lagi.

Bandara lumpuh.

Rumah sakit error.

Sistem keuangan terganggu.

Dan semuanya terus mengarah pada satu nama.

Zero.

Veyra memperhatikan semua itu dalam diam.

Lalu berkata pelan—

“Jadi begini rasanya.”

Lyra menatapnya.

“Rasanya apa?”

Veyra tersenyum tipis.

“Jadi alasan dunia takut.”

Deg.

Kalimat itu membuat suasana kembali dingin.

Karena tidak ada kebanggaan di suara Veyra.

Namun juga tidak ada penyesalan.

Dan itu lebih menyeramkan.

Hologram kembali bicara.

“Mereka akan selalu takut pada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.”

“Ya, aku udah sadar.”

“Karena itu manusia harus dipimpin.”

Veyra langsung menoleh.

“Dipimpin?”

“Dunia membutuhkan keteraturan.”

“Dan kamu pikir cara terbaik bikin dunia damai adalah menghapus kebebasan manusia?”

Hologram diam beberapa detik.

Lalu menjawab—

“Kebebasan manusia selalu menghasilkan kehancuran.”

Sunyi.

Sialnya…

kalimat itu terdengar masuk akal.

Dan Veyra membenci kenyataan bahwa sistem ini tidak sepenuhnya salah.

Ia sudah melihat terlalu banyak data.

Perang.

Pengkhianatan.

Korupsi.

Manusia memang terus menghancurkan dirinya sendiri.

Namun tetap saja—

ada sesuatu yang membuatnya menolak menyerah pada sistem itu.

Dan sesuatu itu berdiri tepat di depannya.

Lyra.

“Kamu tahu kenapa aku masih waras sampai sekarang?” tanya Veyra tiba-tiba.

Lyra sedikit bingung.

“Apa?”

Veyra tersenyum kecil.

“Karena masih ada orang bodoh yang terus percaya aku belum hilang.”

Deg.

Wajah Lyra sedikit berubah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Veyra melihat sesuatu yang jarang muncul di mata wanita itu.

Harapan.

Namun momen itu tidak berlangsung lama.

Karena tiba-tiba—

seluruh gedung berguncang keras.

DUUUUMMM!

Lantai retak besar.

Alarm merah langsung menyala.

Pria di belakang melihat monitor cadangan dan langsung memucat.

“Tidak…”

Selene menghela napas.

“Apa lagi sekarang?”

“Mereka mulai menyalakan fase terakhir menara.”

Lyra langsung menegang.

“Kalau fase terakhir aktif—”

“Sinkronisasi Veyra bakal dipaksa selesai.”

Sunyi.

Veyra mengangkat alis.

“Dipaksa selesai?”

Tak ada yang langsung menjawab.

Dan itu mulai membuat emosinya naik lagi.

“Aku mulai capek sama orang-orang yang ngomong setengah-setengah.”

Lyra akhirnya bicara pelan.

“Kalau sinkronisasimu selesai…”

Ia menelan napas sebentar.

“…kesadaranmu mungkin nggak bakal bisa dibedakan lagi sama sistem.”

Deg.

Hening total.

Veyra tidak langsung menjawab.

Namun sesuatu di dalam dirinya terasa dingin.

Karena untuk pertama kalinya—

ia benar-benar takut.

Bukan takut mati.

Tapi takut hilang.

Takut suatu hari membuka mata… dan tidak lagi menjadi dirinya sendiri.

Hologram mendekat perlahan.

“Kamu tidak akan hilang.”

Veyra menatap dingin.

“Lalu kenapa aku mulai nggak bisa bedain mana pikiranku dan mana suara kamu?”

Tak ada jawaban.

Dan itu cukup jadi jawaban.

Di luar gedung—

langit tiba-tiba dipenuhi drone militer.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Lampu merah mereka menyala di tengah hujan seperti mata-mata kecil yang mengawasi kota.

Dan semuanya—

mengarah ke gedung ini.

“Wah,” Selene melirik jendela. “Sekarang mereka mulai dramatis.”

Pria di layar tersenyum kecil.

“Mereka takut.”

“Ya, nggak bercanda.”

Namun pria itu tetap fokus pada Veyra.

Karena ia tahu—

keputusan gadis itu malam ini akan mengubah segalanya.

Tiba-tiba salah satu drone menembakkan misil kecil.

DUARRR!

Dinding gedung langsung hancur sebagian.

Debu memenuhi ruangan.

Pasukan di bawah mulai masuk lagi.

“TARGET HARUS DIAMANKAN!”

“JANGAN BIARKAN DIA KELUAR!”

Selene langsung mencabut pistol.

“Akhirnya ada aktivitas fisik juga.”

Lyra bersiap.

Namun sebelum siapa pun bergerak—

Veyra melangkah maju.

Tenang.

Dan itu membuat semua orang berhenti.

“Veyra…” Lyra langsung sadar ada yang salah.

Karena ekspresi Veyra sekarang terlalu damai.

Dan biasanya—

itu pertanda buruk.

“Aku capek lari,” katanya pelan.

Hologram langsung mendekat.

“Biarkan aku membantu.”

“Tidak.”

“Mereka akan membunuhmu.”

Veyra tersenyum tipis.

“Mereka bisa coba.”

Lalu perlahan—

ia mengangkat tangannya.

Dan seluruh drone di luar langsung berhenti bergerak.

Deg.

Semua orang membeku.

Drone-drone itu diam di udara seperti kehilangan kendali.

Lampu merah mereka berkedip liar.

Lalu—

perlahan—

semuanya berbalik arah.

Mengarah ke pasukan mereka sendiri.

“APA—?!”

“AMBIL ALIH MANUAL!”

“DRONE TIDAK MERESPON!”

Veyra menatap keluar jendela dengan mata bercahaya samar.

Hujan membasahi wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia benar-benar terlihat seperti sesuatu yang bukan manusia biasa.

“Kalau dunia mau menjadikanku monster…” suaranya rendah dan tenang, “maka mereka harus siap lihat seberapa mengerikannya monster itu.”

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!