Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Dan Istri
Roy tidak keluar lama, meskipun dia bertemu dengan teman - temannya, namun dia memilih pulang cepat ke rumah karena istrinya Mia sedang tidur sendiri di rumah. Selesai pesanannya di bungkus dia memilih pamit dan pulang. Biasanya jika bertemu teman kerja atau kenalannya dia akan nongkrong sampai ngantuk baru pulang.
Sampai di rumah dia langsung melihat istrinya di kamar, masih tidur. Roy langsung mengatur makan malam mereka. Dan dia mulai membangunkan istrinya. Di menyium semua tubuh istrinya bahkan memberi tanda merah di lehernya. Sampai istrinya bagun.
"Ayo bangun makan dulu."
Mia langsung merentangkan tanganya minta di gendong. Karena dia merasa sakit pada organ intimnya. Tadi sore suaminya menghajarnya cukup lama. Roy tersenyum, dia tahu kenapa istrinya minta di gendong, karena tadi waktu dia mau bergerak, Roy melihat istrinya sedikit merintih.
"Sayang sakit ya???"
"Ini perbuatan siapa??"
"Iya suamimu tercinta kan??"
"Iya."
"Tetapi tetap cinta kan??"
"Kalau ngak cinta, ngak bakal mau di nikahi."
Roy tertawa, dia menaruh tubuh istrinya di kursi meja makan dan mulai menyendoki nasi ke piringnya.
"Kak, jangan terlalu banyak, takut adek ngak habiskan."
"Harus makan banyak, bagaimana mau nerima sentuhan kaka yang mengebu - gebu ini."
"Kaka awas ya ngomong begini di depan orang."
"Mana berani aku de. Hanya sama kamu saja."
Selesai makan, Mia menyiapkan buah yang mereka bawa dari Jayapura buat pencuci mulut. Mia berjalan sangat pelan karena memang masih perih organ intimnya.
"Sayang, mau resep biar sembuh ngak??"
"Mau lah kaka. Apa resepnya??"
"Resepnya kaka sentuh lagi. Satu ronde."
"Maunya abang??"
"Emang ade ngak mau."
"Mau juga, tetapi ngak sekaranglah?? Kan ininya masih sakit. Kaka mau ade ngak bisa jalan ya?? Ade pasti memenuhi permintaan kaka karena juga ngak mau kaka jajan di luar."
"Mas gila, ngak waras kalau sudah dapat yang cantik, tulus dan setia ini baru cari yang lain. Ngak akan??"
"Janji sayang???"
"Iya kaka janji Maria Theresia Johan, nyonya Roy Sam."
Mia tersenyum. Malam ini mereka menikmatinya dengan nonton film bersama. Karena baru bagun tidur siang sudah mau gelap, maka Mia belum ngantuk. Waktunya dia gunakan untuk membereskan baju - baju mereka ke lemari. Sampai jam satu malam baru dia tidur, itupun karena Roy kebangun melihat istrinya masih beberes. Langsung tanpa banyak bicara dia mengendong istrinya dan dibawa ke kasur menyelimuti dan memeluknya.
"Sayang, aku belum mengantuk."
"Cium kaka."
Mia mencium jeruk leher suaminya, dan dia pun langsung tertidur dengan suara denyut jantung suaminya sebagai musik membujuk dia tertidur. Pagi jam lima lewat Mia bangun, berdoa kemudian ke dapur siapkan sarapan yang bisa dia siapkan. Karena ada roti, Keju dan telur serta buah. Maka itu yang Mia siapkan untuk sarapan buat dirinya dann suami. Dia juga membuat nasi goreng.
"Selamat pagi sayang."
"Selamat pagi suamiku. Sudah mandi??"
"Iya."
"Kaka sarapan dulu, hanya ini yang bisa adek siapkan."
"Ini istimewa sekali sayang." Mia langsung mencium bibir suaminya.
"Adek mandi dulu ya??"
"Mau kaka temani??"
"Jangan ya, kaka harus kerja. Biaya hidup adek besar loh."
"Siap sayang." Mia langsung ke kamar mandi. Lima menit kemudian dia sudah keluar dengan hanya menggunakan baju rumahan.
"Sayang sini, temani kaka sarapan!!"
"Kaka buatkan aku susu."
"Iya ini susu kesukaan adek." Mia tersenyum.
"Kaka lihat waktu di kalimantan adek minum susu apa?? Makanya kaka beli. Mia langsung memeluk suaminya.
"Ade jam sepuluh baru mau ke yayasan, mau lihat program kerja apa yang harus adek lakukan. Kan tidak ada kak Hans dan kak Yuli."
"Kaka antar??"
"Kan kerja???"
"Ade pakai, mobil sendiri aja ya." Roy tersenyum.
"Ade antar kaka kerja, baru adek bawa mobil ke yayasan."
"Oke."
Selesai membereskan semua piring - piring kotor, Mia berganti pakaian dengan celana panjang jins dan kemeja berwarna coklat, make up tipis dan tas kerja berisi laptop, ipad dan kawan - kawan. Mereka berdua pasangan suami istri ini siap melalui hari.
Waktu tiba di kantor bupati, Roy mencium istrinya dan turun dari mobil, berganti posisi dengan Mia. Karena mobil akan di bawa Mia ke yayasan rumahnya dahulu. Namun di kantor itu, bapak Bupati melihat kedatangan Roy dan istrinya. Lewat ajudan tentaranya diminta Roy dan mia bertemu dengan bapak bupati.
"Sayang bapa mau ketemu dengan kamu."
"Sekarang kak, ade pakai celana jins. Sopan ngak??" Roy tersenyum.
"Sopan sayang." Setelah Mia memarkirkan mobil baik - baik. Roy menunggu dan mengandeng tangan istrinya menuju ke arah bapak Bupati. Mia menyalami bapak.
"Selamat pagi bapa."
"Selamat pagi bapa punya anak mantu. Kita keruangan bapa saja."
"Iya bapa, siap."
Mia mengikuti bupati keruangannya. Roy mengikuti dari belakang.
"Mia, mau makan apa?? Biar Roy minta tolong siapkan. Atau Roy siapkan kesukaan istrimu, sudah tahu to?"
"Bapa, terima kasih. Mia kesini sudah sarapan dengan suami." Bapa Bupati tersenyum, Roy juga bersama dengan ajudannya bapa.
"Roy bapa masih mau bicara berdua dengan Mia lima menit, kamu tidak usah ikut. Nanti setelah selesai baru kamu masuk. Karena seperti biasa kamu harus mencatat dan apa yang harus kita lakukan." Roy tersenyum dia mengerti dan membiarkan istrinya berbicara dengan bapa Bupati yang sudah seperti orangtua baginya.
Lima menit, waktu yang bapa gunakan bersama Mia, banyak hal dari lima menit itu yang dibicarakan oleh Bapa, termasuk orangtua Roy. Dan Mia mengerti, bahwa Mama tiri Roy itu tidak suka dan masih hati sakit jika melihat Roy, takutnya akan berimbas buat Mia.
Setelah selesai berbicara lima menit. Roy dipersilahkan masuk dan mereka mulai membahas kesiapan anak - anak remaja dalam kesiapan membangun daerah. Selesai berbicara Mia pamit ke kantor yayasan. Roy mengantar.
"Sampai ketemu makan siang di rumah ya sayang??"
"Adek jemput kaka kan??"
"Nanti kaka pulang sama motor kaka saja. Kan ada parkir disini."
"Oke. I love you." Mia mencium bibir suaminya begitu juga dengan Roy membalas ciuman itu.
"Hati - hati sayang di jalan. Ingat tidak boleh angkat orang sembarangan. Pakai Ac saja di mobil."
"Iya suamiku."
Mia pun bertemu dengan pegawai yayasan. Mereka senang melihat Mia datang. Tanpa mengurangi waktu, Mia mulai melihat program - program kerja. Sambil komunikasi dengan kak Hans yang ada di Jakarta, mereka sudah bersiap mau berangkat ke Swiss sebentar malam.
"Ini hasil kerja kerasmu dek, Kak Hans hanya melanjutkan."
"Ini kerja sama tim kaka. Enjoy kaka."
Mia juga berbicara dengan ketiga anak didiknya itu. Alex, Jojo dan Maria senang bisa melihat miss mereka di kota kelahiran mereka. Banyak hal yang mereka janjikan buat Mia. Mia hanya tersenyum.
Mia kedatangan tamu, pegawai yayasan ini ada yang tahu dan ada yang tidak. Yang tahu langsung menghubungi Roy. Karena yang datang adalah mama tirinya bersama anak perempuannya adek tiri Roy.