NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31--Pertemuan Tak Terduga

Waktu seakan berhenti berputar di tengah dapur yang sibuk itu. Suara denting pisau koki dan desis uap kaldu mendadak memudar, digantikan oleh kesunyian yang mencekam di antara dua orang yang sedang saling melotot.

Aninda, yang tadinya sudah menyiapkan senyum termanis dan sapaan paling elegan, kini membeku dengan bibir sedikit terbuka. Alih-alih profesor agrikultur berwibawa, yang berdiri di depannya adalah sosok yang paling tidak ingin ia lihat di seluruh dunia.

"L-loh... kamu?!" pekik Aninda, suaranya pecah saking terkejutnya. "Mas-mas flanel penggila sampah?!"

Aris, yang tadinya juga berharap bertemu sosok Tuan Putri impian dari kayangan, nyaris menjatuhkan tutup boks kayunya.

 Matanya mengerjap berkali-kali melihat gadis kemeja putih tanpa cela yang kemarin menyemprotnya di KRL, dan juga sempat adu konteks mengumpulkan sampah kini berdiri dengan riasan cantik di dapur gubernur.

"Buset... Mbak-mbak KRL?!" balas Aris tak kalah kaget. "Mbak ngapain di sini? Mau ngelabrak saya karena nggak pakai masker kemarin? Atau gak terima kalah konteks adu sampah?”

Aninda merapikan rambutnya yang tadi sempat ia tata rapi dengan perasaan campur aduk. Rasa kagum dan sayang yang sempat membuncah di hatinya untuk sosok petani legendaris bernama Aris, seketika hancur berkeping-keping.

"Jangan bercanda! Keluar kamu! Ini dapur VIP, bukan tempat buat mas-mas yang hobi mandi sampah pasar!" 

Aninda menoleh ke arah Chef Haryo dengan wajah panik. "Chef! Kenapa orang ini bisa masuk? Mana Mas Aris yang asli? Yang penanam sayur ajaib itu?! MAS-MAS GANTENG DARI KAYANGAN!”

Chef Haryo mengernyit bingung, bolak-balik menatap Aninda dan Aris. "Lho, Non Anin... ya ini Mas Aris-nya. Dia yang bawa semua sayuran luar biasa ini dari Desa Sukacita."

Deg.

Jantung Aninda terasa merosot ke lambung. Ia menatap boks kayu yang baru saja ditaruh Aris.

 Tangannya yang gemetar membuka tutup boks itu sedikit, dan seketika aroma segar Cairan Dewa Tingkat 2 dari sayuran langsung menusuk hidungnya—aroma yang jauh lebih murni daripada parfum termahal miliknya. Dia itu jurusan pertanian dan fetis masalah penelitian gini, dia langsung semacam terangsang mencium aromanya. Naluri dia tahu kalau aris bawa ginian maka gak diragukan lagi ini pasti mas aris si legendaris itu.

Namun sisi gengsinya menolak!

"Gak... nggak mungkin," gumam Aninda lemas.

 "Pria psikopat yang peluk-peluk sampah kemarin ... adalah petani jenius yang aku bangga-banggain ke Papa?"

Aris, yang mulai menyadari situasi ini, perlahan menyeringai nakal. Ia melipat tangan di depan dada, menatap Aninda yang wajahnya kini sudah merah padam—bukan karena kasmaran, tapi karena malu setengah mati.

"Jadi, Mbak KRL yang judesnya minta ampun ini ternyata 'Tuan Putri' putri Gubernur?" 

Aris terkekeh, suaranya terdengar sangat menyebalkan di telinga Aninda. "Duh, tahu gitu kemarin saya minta tanda tangan di gerbong kereta. Saya ngefans sama mbak.”

"Diam kamu!" sentak Aninda, wajahnya benar-benar panas. Ia teringat betapa ia baru saja berdandan cantik demi menyambut pria yang sekarang sedang menertawakannya.

 "Itu... itu karena penampilan kamu yang nggak meyakinkan!"

"Yah, namanya juga petani, Mbak. Masa ke kebun pakai jas laboratorium," Aris melangkah maju satu tindak, membuat Aninda refleks mundur. 

"Gimana? Sayurnya masih mau dites di lab, atau mau langsung dimasak buat jamuan Papa?"

Aninda tidak bisa menjawab. Ia menatap Sawi Ungu dan Brokoli itu. Kualitasnya memang tidak bisa bohong. Secara ilmiah, sayuran ini adalah sebuah mahakarya. Tapi secara ego? Ia merasa kalah telak.

"Jangan sombong dulu!" Aninda mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya.

 "Aku bakal pastiin ini benar-benar aman. Jangan kira karena kamu sukses di pertanian, kamu bisa seenaknya di depan aku!"

"Siaaap,  Tuan Putri," Aris memberikan hormat dua jari dengan gaya slengean. "Semoga sayurannya bikin Mbak makin cantik dan nggak galak lagi, ya."

Aninda membalikkan badan dengan cepat, berjalan keluar dapur dengan langkah seribu.

 'Sialan! Sialan! Aris si mas-mas flanel itu beneran dia! Kenapa dunia harus sejahat ini sama aku?!'

 jeritnya dalam hati, sementara Aris di belakang sana hanya tertawa puas melihat target sistemnya ternyata adalah gadis yang sudah ia pancing sejak awal.

“Kita bertaruh aja tuan putri … kalau sampai tuan putri kegilaan dari sayur saya, kasih nomor tuan putri dong.”

Aris gak munafik walaupun sikapnya gitu, tapi menampilan si tuan putri ini cantik ampun. Dandannya berkelas, stylish, aroma juga wangi, terus paling penting aset dia lumayan buat pajangan, bahkan tiap mereka berdebat itu terus bergoyang-goyang.

Lagian ini sebagai penambahan relasi.

Aninda menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu dapur. Tubuhnya menegang. Kalimat Aris barusan terdengar seperti deklarasi perang sekaligus godaan yang sangat kurang ajar. Ia berbalik perlahan, matanya menyipit tajam menatap pemuda yang masih bersandar santai di meja dapur itu.

"Nomor HP?" Aninda mendengus sinis, meski jantungnya berdegup lebih kencang karena malu. "Dalam mimpi kamu! Dan berhenti panggil aku 'Tuan Putri'!"

"Deal ya? Kalau Mbak Aninda sampai minta nambah atau bilang ini enak banget, nomor HP meluncur ke saya," tantang Aris, mengabaikan protes Aninda dengan senyum kemenangan.

Aninda tidak menjawab, ia hanya menghentakkan kaki dan benar-benar menghilang di balik lorong.

Satu jam kemudian, jamuan makan siang pribadi Gubernur dimulai. Di atas meja makan jati yang mewah, Chef Haryo menyajikan hidangan pembuka: **Sautéed Royal Purple Mustard with Garlic-Butter Broccoli**.

Sawi ungu itu telah berubah tekstur menjadi lembut namun tetap memiliki *crunch* yang pas, warnanya tetap ungu pekat karena pigmen antosianin yang luar biasa stabil. Brokolinya dikukus sebentar, mempertahankan bentuk zamrudnya yang berkilau.

Aninda duduk di kursi makan dengan wajah yang masih ditekuk. Di hadapannya, sang Ayah—Gubernur—tampak sangat antusias. Aris sendiri diminta duduk di ujung meja sebagai tamu kehormatan dari Desa Sukacita.

"Silakan dinikmati. Saya ingin tahu apa pendapat putri saya yang paling cerewet soal agrikultur ini," ujar sang Gubernur tertawa.

Aninda mengambil garpu dengan gerakan kaku. Ia menatap potongan brokoli itu. *“Paling juga rasa sayur biasa, cuma menang warna doang,”* batinnya skeptis. Namun, aroma yang menguap dari piringnya benar-benar menyerang saraf lapar di otaknya.

Satu suapan masuk.

**DEG!**

Mata Aninda seketika membelalak. Begitu giginya memecah kuntum brokoli itu, sebuah ledakan rasa manis alami yang sangat kompleks memenuhi rongga mulutnya. Tidak ada rasa langu, tidak ada rasa getir—yang ada hanyalah sensasi segar yang seolah-olah mengalirkan energi instan ke seluruh tubuhnya.

Sawi ungunya? Jangan ditanya. Teksturnya meluncur di tenggorokan dengan rasa gurih yang sangat elegan, jauh melampaui standar sayuran organik paling mahal yang pernah ia teliti di laboratorium kampus.

"Enak, Anin?" tanya sang Gubernur, yang sendiri sudah lahap menghabiskan setengah piringnya.

Aninda tidak menjawab. Ia justru kembali menyuap dengan gerakan yang lebih cepat. Tanpa sadar, ia mulai memejamkan mata, menikmati setiap partikel nutrisi yang terasa "hidup" di lidahnya. Gengsinya mulai runtuh di bawah tekanan kelezatan yang tidak masuk akal ini.

"Mbak... pelan-pelan. Nanti keselek sawi," suara berat Aris memecah konsentrasi Aninda.

Aninda tersentak. Ia baru sadar piringnya sudah bersih tak bersisa dalam waktu kurang dari lima menit.

 Ia melihat Aris yang sedang menatapnya dengan satu alis terangkat dan sebuah ponsel di tangan.

Wajah Aninda memerah padam. Ia menatap piring kosongnya, lalu menatap Aris, lalu kembali ke piring kosongnya lagi. 

Sensasi segar di tubuhnya—dari cairan dewa tingkat 2—membuatnya merasa begitu rileks sampai-sampai ia tidak bisa lagi memasang wajah judes.

"Chef Haryo... masih ada sisanya?" tanya Aninda pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

"Ada Non, mau nambah?"

"I-iya... sedikit saja," jawab Aninda sambil menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rasa malu yang luar biasa karena baru saja menjilat ludahnya sendiri.

Sial dia kalah! Ahhh, masa dia harus kasih nomor hp dia ke pria … bejat kaya gini? Pria yang punya fetish gila sama sampah!?

Aris tertawa renyah, tawa yang kali ini terdengar sangat puas. Ia menggeser ponselnya di atas meja ke arah Aninda. 

"Nambah berarti kegilaan. Sesuai janji... ketik sendiri ya nomornya, Mbak KRL."

Aninda menggigit bibir bawahnya. Antara ingin marah tapi lidahnya masih merindukan rasa ajaib itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa malu yang mencapai puncak, ia menyambar ponsel Aris.

"Ini cuma buat urusan penelitian! Jangan harap aku bakal balas chat nggak penting!" 

ketus Aninda sambil mengetikkan nomornya dengan cepat.

[Ding!]

[Hubungan dengan Tuan Putri Meningkat Drastis!]

[Status: terobsesi dengan rasa sayur]

[Tingkat ketertarikan k host 65% meski terlihat ketus dan galak, dia cukup tertarik dengan host.]

Tingkat ketertarikan 65% lebih tinggi dari teman masa ciliknya kemudian dia menatap wajah Andina yang merah padam.

Oalah tipikal tsundere, pantes.

Aris mengambil kembali ponselnya, melihat nama yang diketik Aninda: 

"Aninda (Putri Gubernur Kota)”

1
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/💥💥
Mamat Stone
/CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!