NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Hari ini Kimi menahan senyum sepanjang kelas berlangsung. Bagaimana tidak, ia akhirnya tahu rasa genggaman tangan Ruby. Begitu saja sudah bikin Kimi bangga setengah mati. Setidaknya sedikit rasa keponya sudah terbayar-meski baru nyicil. Cewek jenis Ruby ini benar-benar bikin kimi lupa kepo ke hal lain. Lumayan juga sih.

Di depan kelas, Pak Mahmud berdiri sambil memegang tumpukan file tebal. Ia berjalan dari meja ke meja, membagikan satu per satu file berisi angka, tabel, dan grafik yang bikin kepala pusing sebelum dibaca. Senyum Kimi langsung lenyap, firasat buruk menyeruak.

"Oke, jadi begini ya," kata Pak Mahmud sambil menepuk-nepuk file di tangannya. "Kalian akan mengerjakan tugas mandiri. Setiap orang harus menyusun laporan keuangan untuk satu departemen dari cabang yang berbeda. Mulai dari proyeksi pendapatan, pencatatan biaya operasional, sampai estimasi laba bersih dan arus kas selama enam bulan ke depan. Jangan lupa hitung juga break-even point, margin laba, dan buat analisis rasio keuangan sederhananya."

Seluruh kelas langsung bengong serentak, menatap file di meja masing-masing seperti baru menerima kiriman santet.

"Enam bulan, Pak? Gak bisa ditawar gitu?" tanya Febi dengan ekspresi antara pasrah dan harapan hidup terakhir.

"Tidak bisa, Febi," jawab Pak Mahmud kalem. "Di dunia kerja, kalian sangat mungkin disuruh menyusun proyeksi untuk satu tahun penuh."

Marey bersandar lemas. "Harusnya bapak bilang 'jangan sampai disuruh satu tahun'. Ngeri jadi doa loh, Pak,"

Pak Mahmud terkekeh kecil. "Nah, ini nanti saya laporkan ke Bu Salma. Pela jaran hari ini: profesionalisme di dunia kerja. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menolak tugas, dan tidak boleh molor dari tenggat Waktu."

Kimi yang dari tadi melongo akhirnya mengangkat tangan. "Gini, Pak. Saya baru liat filenya aja otak saya udah keriting."

Pak Mahmud tersenyum bijak. "Itu artinya kamu berpikir, kimi."

Lah, emang selama ini gak mikir, Pak? batin Kimi tersinggung tapi tak berdaya.

Desi ikut angkat tangan, "Deadline kapan, Pak?"

"Tiga hari, tanpa tawar-menawar."

"Lah, capek dong, Pak," gumam Marey lirih tapi masih cukup keras untuk terdengar.

"Memang." Pak Mahmud tersenyum lebar. "Tapi tujuan tugas ini supaya kalian ngerti alur keuangan di perusahaan sesungguhnya, mulai dari budget allocation, cost control, sampai cash flow management. Kalian bakal ngerti gimana angka-angka itu saling berkaitan dan berdampak pada keputusan bisnis."

Semua nyaris memutar mata. Hal seperti ini tentu sudah mereka pelajari di bangku kuliah. Lagipula mereka diterima di pelatihan ini bukan tanpa alasan. kecuali Kimi, sampai sekarang masih belum jelas alasannya.

Begitu tidak ada lagi yang protes, Pak Mahmud melirik jam tangannya, menutup file, lalu menyudahi kelas dengan senyum seolah memberi semangat.

Semua kelas terbuka hampir bersamaan, dan seperti biasa, para peserta langsung menyerbu kantin, kelas mereka sudah dikembalikan ke lantai atas setelah Kimi sembuh, dan tak ada yang bisa menolak pesona pemandangan dari ketinggian.

Sebelum menyusul yang lain, kimi mampir ke toilet tak jauh dari kantin. Bukan karena kebelet, tapi ingin membasuh wajah, berharap air bisa menghapus sisa mimpi buruknya di kelas barusan.

Begitu masuk, Kimi tertegun melihat Ruby sedang mencuci tangan di wastafel.

"Eh, Uby? kok bisa ketemu di sini ya?" Kimi langsung meluncur ke wastafel sebelahnya.

"Eh, Uby? kok bisa. ketemu di sini ya?" Kimi langsung meluncur ke wastafel sebelahnya.

"Kenapa heran? kita masih satu gedung."

Kimi mengangguk-angguk sambil memperhatikan Ruby yang sedang mengeringkan tangan.

"Uby, aku lagi pusing banget tau," adu kimi dengan Wajah merengut.

Ruby menatap sekilas. "kenapa?"

"Pak Mumud ngasih tugas banyak banget. Aku berasa balik lagi jadi mahasiswa."

Ruby memutar mata. "Lo pikir pelatihan ini buat orang yang mental tempe?"

Kimi melotot. "kamu ngatain aku?"

"Enggak, gw lagi ngasih motivasi. Intinya, mental lo harus kuat kalau mau kerja di Charley Group."

"Aku orangnya gak ambisius tau. Aku cuma pengen kipas-kipas doang tapi dapet duit."

"Oh, berarti lo calon tukang sate."

Kimi makin manyun. Ruby malah terkekeh, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum keluar, tangannya mengusap kepala kimi sekilas.

"Semangat, Cil."

"Aku bukan bocil!" seru kimi kesal, tapi Ruby cuma melambai sambil menutup pintu.

Setelah selesai dengan urusannya, Kimi menyusul ke kantin.

Menu hari ini? Gorengan dalam segala bentuk kehidupan, Dari udang, cumi, ikan, ubi, singkong, pisang, bakwan, tahu, bahkan sayur pun ikut diseret ke penggorengan. Totalitas tanpa ampun, Kimi sempat berpikir, kalau ban bekas bisa, dimakan, mungkin juga sudah nongol di meja itu.

"Selamat datang, kolesterol," kata Okta sebelum menggigit udang goreng.

"Yaelah, nikmatin aja sih," sahut Agus sambil menumpuk apa pun yang bisa dimakan ke piringnya.

Kimi tidak ikut semangat. Otaknya masih berputar soal tugas. Tumben-tumbenan Pak Mahmud ngasih siksaan seberat itu. Biasanya cuma analisis dan presentasi, itu pun sudah cukup bikin tulang bahunya minta cuti. Sekarang? Laporan keuangan enam bulan penuh. Gila.

Ia mendengus, lalu melirik ke meja pojok. Ruby dan Anela lagi-lagi makan berdua. Ya, memang tiap hari juga begitu sih, tapi tetap saja, rasanya jengkelin. Kadang Kimi mikir, kapan dia bisa sebebas itu dekat dengan Ruby?

Tugas. Fokus ke tugas dulu.

Siapa yang bisa bantu? Desi, Febi, dan Marey sudah pasti sibuk. Yang lain beda kelas, mana mungkin paham laporan keuangan.

Kimi menutup wajah dengan kedua tangan, frustasi tingkat akhir. Tuhan, siapa yang bisa menolongku sekarang?

"Kim, kalau gak mau, gw abisin ya," kata Janu sambil mencomot gorengan dari piring kimi.

Kimi hanya menatapnya kosong, matanya sayu penuh penderitaan. Terserahlah. Akan ia hadapi semuanya. Walau harus mimisan di depan laptop, Kimi akan tetap maju.

Sendirian.

**

Seperti yang diduga, ternyata bukan hanya kelas keuangan yang mendapat tugas setumpuk, topi juga kelas lain. Deadline nya sama: tiga hari. Dan menariknya, selama penger jaan kelas diliburkan. Jadi sejak kemarin malam sampai malam ini, setiap kelompok kelas punya 'markas' masing-masing.

Teras asrama disi kelas marketing-karena berisik. Ruang santai jadi markas kelas IT-karena mereka butuh ketenangan.

Ruang makan ditempati kelas pemasaran-karena mereka tak bisa berpikir tanpa nyemil.

Sementara kelas keuangan?

Mereka pilih balkon lantai dua. Katanya biar 'otak encer kena udara malam yang sejuk.'

Plak!

Marey menepuk nyamuk yang hinggap di lengannya.

"Perasaan gw udah pakai lotion nyamuk, kok masih digigit ya ? Apa gak mempan?" gerutunya.

Febi menoleh dari balik layar laptop. "Kamu cuma pakai di tangan kiri. Kanannya belum."

"Serius? kok bisa tau?"

Febi hanya mengangkat bahu, kembali fokus ke layar dan tumpukan file di depannya.

Kimi menatap file miliknya. Sempat terlintas ide buat menelan kertas itu bulat-bulat. Siapa tahu data-data di dalamnya langsung terserap ke otak. Tapi ya jelas gak mungkin.

Seharian kemarin kimi sudah berusaha memahami data mentah dari cabang yang jadi bagiannya. Dan siang tadi ia sudah mulai menyusun laporan laba rugi, tapi entah kenapa hasilnya malah miring sebelah.

Meskipun tiga orang itu sudah membantu sebisanya, Kimi masih merasa tersesat di lautan angka.

"Desi," panggil kimi pelan.

Desi yang dari tadi sibuk klik sana-sini langsung bergeser mendekat. Ia tahu betul, kalau Kimi sudah memanggil dengan nada seperti itu, berarti dia sedang di ambang putus asa.

"kenapa, Kim? Mana yang nyasar?"

Kimi menunjuk layar laptop dengan telunjuk setengah gemetar. " Timpang, Des. Nih, angkanya gak balance."

"Oh "

Desi mengangguk maklum, lalu mulai memeriksa laporan kimi. Mereka. memang dapat data dari cabang yang berbeda, tapi begitu melihat angkanya, Desi langsung tahu letak masalahnya. Ia mengetik cepat beberapa baris, lalu-voilà!-langsung balance.

"Wow, hebat!" kata Kimi takjub.

"Yaelah, Kim. Kamu cuma salah dikit aja. Intinya jangan stres, nikmatin aja angka-angkanya."

"Bakal kunikmatin kalau rasanya kayak es krim."

Desi terkekeh sebelum kembali ke mejanya sendiri.

Kimi manggut-manggut penuh tekad baru, Ia menarik napas dalam, lalu kembali menatap layar. Satu jam kemudian... semangat itu resmi i punah. Tak ingin mengganggu yang lain, ia menutup laptop dan meja lipatnya dengan ekspresi kalah perang.

"Eh, mau ke mana, Kim?" tanya Febi saat melihat Kimi berdiri sambil menenteng barang-barangnya. "Aku pusing. Istirahat dulu di kamar," jawabnya lesu.

Yang lain cuma saling pandang, lalu menatap punggung Kimi yang lunglai keluar dari balkon.

Sampai di kamar, kimi langsung meletakkan semua barang di meja kerja, lalu rebahan dramatis. Kepalanya berdenyut, tapi otaknya malah menolak istirahat. Biasanya di momen begini dia bakal buka ponsel buat hiburan. Tapi kali ini...

"Aku pengen pulang aja. Padahal biasanya aku gak sebodoh ini. Kenapa sekarang lemot banget sih? Apa karena aku jenuh?" keluhnya sambil menatap langit- langit.

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!