Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Calvino
Musik hentakan keras dan suara riuh teriakan para pengunjung yang mengikuti irama mewarnai malam Atlas. Ia tampak sibuk mengamati banyak orang yang menari dan bermesraan dengan pasangan mereka.
Sebotol bir berada di tangannya, dan Atlas belum pernah merasa serileks ini dalam hidupnya. Ia tampak menikmati kekacauan yang terjadi di sekitarnya.
Mata Atlas menyapu ke kiri dan kanan, mengamati semua orang dalam pandangannya. Sebuah seringai muncul di wajahnya sampai akhirnya ia menyadari seorang pria berjanggut tebal sedang menatapnya tajam dari meja seberang.
Meski pencahayaan redup, Atlas bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu memperhatikannya.
"Siapa dia?”
Atlas berdiri sambil membawa botol bir di tangannya lalu mendekati pria gemuk yang duduk sendirian itu.
Pria itu menyambut Atlas dengan senyum hangat. "Hei, Nak, apa ada yang bisa kubantu?"
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Tuan. Aku tidak sengaja melihat kau menatapku begitu intens. Apa yang sedang kau pikirkan? Maaf, tapi aku tidak tertarik pada pria."
Pria itu tertawa kecil lalu menepuk sisi meja. "Benarkah? Jadi kau melihatku seperti itu? Duduklah, mari saling mengenal. Ada alasan kenapa aku melihatmu. Kau mengingatkanku pada seorang anak yang pernah kutemui."
Pria itu memberi isyarat agar Atlas duduk, menunjukkan keramahan dan kehangatannya. Atlas duduk di depannya, tangannya terlipat di depan dada sambil menunggu kelanjutan ucapan pria gemuk itu.
"Ngomong-ngomong, namaku Calvino. Siapa namamu, Nak?"
"Atlas."
Calvino tampak terkejut, tawanya berhenti dengan mulut terbuka selama beberapa detik. Ia lalu mendekat ke arah Atlas dan berkata, "Atlas? Apa kau berasal dari kawasan 13 di barat daya?"
"Ya."
"Ya Tuhan, Atlas. Apa yang kau lakukan di sini? Oke, mungkin kau tidak mengenaliku, tapi aku pasti mengenalmu, Atlas. Aku tahu setiap rahasia yang tersembunyi dalam hidupmu. Malam ini cukup menyenangkan. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu bocah kecil yang dulu pernah kugendong."
Atlas menghantam meja cukup keras hingga botol di atasnya terjatuh. "Jangan bermain-main denganku, Calvino. Apa maksudmu? Apa yang kau inginkan dariku?! Bagaimana kau tahu semua hal tentang diriku?!”
"Hahaha! Tenanglah, Atlas. Kenapa kau begitu terburu-buru ingin mengetahui kebenaran tentang dirimu sendiri? Kau akan mengetahuinya dengan caramu sendiri, aku tidak akan mengatakan apa pun. Aku dulu bekerja dengan Benjamin. Kau tahu pria dengan kekuasaan yang begitu besar dan kuat itu, kan?"
"Baiklah, kau sudah keterlaluan, Calvino. Apa sebenarnya yang kau ketahui tentang hidupku? Aku tidak tertarik membunuh atau menyakiti siapa pun!"
Calvino kembali tertawa terbahak-bahak, tampaknya tidak terpengaruh oleh ancaman Atlas. Tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya. Atlas yang dipenuhi rasa penasaran dan amarah tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk mendeteksi ucapan Calvino.
"Darah buas memang mengalir di nadimu. Tidak heran kenapa kau begitu cepat mengatakan ingin membunuh orang lain, haha! Tapi aku senang melihat kau tumbuh dengan sifat seperti itu. Itu membuktikan salah orang-orang yang mengatakan kau akan menjadi tidak berguna hidup di desa kecil. Kau bisa bertahan hidup dan melindungi dirimu sendiri, Atlas. Aku tidak akan memberitahumu apa pun. Jika kau memang sudah bertemu dan mengenal Benjamin, biarkan semuanya terungkap dengan sendirinya."
Atlas kembali menghantam meja, dan kali ini ia berdiri sambil menatap tajam Calvino. Ia menunjuk pria gemuk itu dan berkata, "Aku tidak akan ragu menjatuhkanmu. Kalau kau menantangku, ayo kita selesaikan di luar!"
"Seberapa pun kau mengancamku, aku tidak akan bicara. Pesanku sederhana: berhati-hatilah dengan Benjamin jika kau sudah bertemu dengannya. Saat kau menemukan kebenaran, kau harus bijak dan melindungi dirimu sendiri, Atlas. Senang bertemu denganmu.”
Calvino berjalan pergi dengan santai, menepuk bahu Atlas dan sama sekali tidak memedulikan tatapan tajam Atlas yang terus mengawasinya.
Kata-kata yang diucapkan Calvino membuat Atlas terdiam dan memunculkan begitu banyak pertanyaan. Pikirannya dipenuhi ucapan itu sampai ia bahkan tidak bisa bergerak. Matanya hanya bisa mengamati pria gemuk yang kini sudah menghilang dari klub malam.
…
Tujuh botol bir gagal menenangkan pikiran Atlas saat mengingat kata-kata Calvino. Ia ingin marah tetapi tidak tahu ke mana harus melampiaskan frustrasinya.
"Sial! Aku tidak bisa berhenti memikirkannya! Bahkan kekuatanku tidak bisa mendeteksi apa yang dia katakan! Ini membuatku sangat frustrasi!"
Di tengah kekesalannya, sepasang pasangan mabuk kehilangan kendali dan menabrak Atlas. Hal itu membuatnya segera bangkit dan meninggalkan klub malam.
Dua jam yang diharapkan membawa ketenangan ternyata justru menyerang pikirannya.
Atlas berjalan lesu menuju mobilnya.
"Kita menuju ke mana, Tuan?"
"Kembali ke hotel."
Atlas menarik napas panjang dan mencoba menenangkan kebisingan di kepalanya dengan menutup mata. Ketenangan hampir datang ke pikirannya ketika tiba-tiba mobil berhenti mendadak, membuat Atlas membuka mata.
"Apa-apaan yang terjadi?"
"Seseorang menghalangi kita, Tuan."
Sebuah mobil muncul di depan mereka, berada di deretan bangunan kosong tua tidak jauh dari klub malam yang tadi mereka datangi. Jalan malam yang sepi langsung membuat Atlas yakin bahwa mobil di depan mereka berniat melakukan kejahatan.
Pengawal itu hendak keluar ketika Atlas menghentikannya. "Jangan gegabah, apa kau ingin mati sia-sia? Kurasa kau adalah pengawal paling ceroboh yang pernah ada. Biarkan mereka yang keluar dari mobil dan mendekati kita lebih dulu!"
Pistol milik pengawal sudah siap menembak siapa pun yang keluar dan mengancam mereka. Mata mereka berdua fokus ke mobil hitam itu. Setelah hampir lima menit, dua pria bertopeng keluar dari mobil dan berlari ke arah mereka.
"Baik, bersiaplah," Atlas menepuk bahu pengawal itu.
Saat kedua pria bertopeng itu berdiri di samping pintu depan mobil, pengawal menurunkan kaca jendela, mengarahkan pistolnya dan bertanya, "Apa yang kalian inginkan?”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗